Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Diam-diam Kabur
"Alya! Kamu sudah siap?" Ratna berteriak dari luar pintu, "Cepat!"
Alya membuka pintu, keluar dari kamarnya. Ratna menatapnya dengan mata melotot, ekspresinya dipenuhi kebingungan.
"Alya... apa-apaan ini?" Ratna menunjuk pakaian yang dikenakan Alya.
Alya memakai gamis kedodoran, kacamata tebal yang membingkai mata indahnya. Sengaja dia menggunakan make up warna gelap untuk menutupi kulit aslinya yang putih bersih. Sebuah tahi lalat buatan yang cukup besar juga menempel di pipi kirinya sehingga tampak seperti wanita culun.
Alya tersenyum puas menatap ibu angkatnya yang shock. Ia sudah siap untuk melawan, tidak akan pernah membiarkan dirinya menjadi boneka lagi.
"Ini... aku tidak mau pakai pakaian yang ketat, Bu," jawab Alya dengan suara yang disamarkan, "Aku tidak suka."
"Apa-apaan ini?!" Ratna berteriak, "Kamu gila, Alya?!"
Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menghindari tatapan mata Ratna.
"Kamu pikir kamu bisa menipu Pak Soni?!" Ratna menjambak kerudung yang menutupi kepala Alya, "Ganti pakaianmu sekarang!"
"Tidak," jawab Alya, "Aku tidak akan ganti."
Ratna menampar Alya. Tamparan itu terasa begitu menyakitkan, tetapi Alya tidak menyerah.
"Ganti, Alya!" Ratna berteriak, "Sekarang!"
"Tidak," jawab Alya, "Aku tidak akan ganti."
Ratna menatap Alya dengan mata yang penuh kebencian. Ia menarik tangan Alya, membawanya ke ruang tamu.
"Pak Soni... maafkan Alya," ucap Ratna, "Dia sedang tidak enak badan."
Pak Soni menatap Alya dari atas sampai bawah. Ia tertawa, tawa yang terdengar mengerikan di telinga Alya.
"Alya... kamu pikir kamu bisa menipu saya?" bisik Pak Soni, "Saya tahu kamu cantik."
Pak Soni memegang dagu Alya, memaksanya untuk menatapnya. Ia tersenyum, senyum yang membuat Alya merinding.
"Kita lihat saja nanti, Alya," bisik Pak Soni, "Kamu tidak akan bisa lari dari saya."
Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap Pak Soni dengan mata yang penuh ketakutan. Ia tahu, Pak Soni tidak akan menyerah. Ia tidak akan bisa lari dari takdir ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, tetapi ia tahu, ia tidak akan menyerah.
Alya merasa seperti seekor tikus yang terjebak di dalam labirin, tidak tahu jalan keluar. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, tetapi ia tahu, ia harus lari. Ia tidak akan membiarkan hidupnya berakhir di tangan Pak Soni. Ia akan lari. Ia akan berjuang. Ia akan...
Pria bertubuh tambun dengan perut buncit itu keluar dengan membawa kemarahan. Sedangkan Alya tersenyum diam-diam. Gadis itu segera masuk kamar dan menghiraukan Omelan Ratna. Tepat saat malam telah larut, Alya megalbil tas ransel lusuhnya. Memasukkan dua setelah pakaian dan dokumen penting miliknya. Membuka pintu dengan sangat hati-hati. Semua lampu telah mati, tandanya Ratna dan suami telah tidur.
"Ya Allah, lindungilah hamba," ucap Alya dalam hati. Ia berjalan mengendap-endap dan berhasil keluar.
Udara malam menusuk tulang. Alya berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal. Langkahnya cepat dan tak beraturan, diwarnai rasa takut yang mencekam. Tangan kanannya erat memegang tali ransel lusuh yang menggantung di bahu, sedangkan tangan kirinya memegangi kerudung yang nyaris terlepas. Ia melaju tanpa arah, hanya mengikuti naluri untuk menjauh dari rumah keluarga angkatnya. Jantung Alya berdegup kencang, memompa adrenalin yang membuatnya terus melaju, meninggalkan bayangan Ratna dan Pak Soni yang mengerikan.
Alya terus berlari, menembus gang-gang sempit yang gelap. Di ujung gang, terlihat jalan raya yang ramai. Alya ragu sejenak. Jika ia terus di sini, Ratna dan Pak Andi pasti akan menemukannya. Dengan tekad bulat, ia melesat keluar, menyeberangi jalan raya yang ramai dengan lampu-lampu kendaraan yang membutakan mata. Klakson-klakson berbunyi nyaring, memprotes tindakannya yang nekat. Alya tak peduli, ia terus berlari, menyusuri trotoar yang basah oleh sisa hujan sore.
Di kejauhan, Alya melihat sebuah taman kota. Pikirannya kosong, satu-satunya tujuan adalah menemukan tempat bersembunyi. Alya segera melesat ke arah taman, napasnya terputus-putus. Ia menyusup di balik semak-semak yang rimbun, tubuhnya bergetar kedinginan. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghalau rasa dingin yang mulai merasuk. Suara-suara kota yang ramai terdengar jauh, digantikan oleh suara jangkrik dan angin malam yang berdesir pelan. Alya menyandarkan punggungnya di batang pohon, memejamkan mata. Otaknya terus memutar kembali adegan menakutkan yang baru saja terjadi: tatapan penuh nafsu Pak Soni, tamparan Ratna, Tatapan kebencian Pak Andi, dan rasa putus asa yang nyaris membuatnya menyerah.
“Tidak… aku tidak boleh menyerah,” gumamnya lirih, air mata menetes di pipinya. “Aku harus kuat.”
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki. Matanya terbuka lebar, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia mengintip di antara dedaunan. Sesosok pria tegap berjalan santai, mengenakan kaus polo berwarna gelap dan celana jins. Wajahnya yang tampan tampak serius, matanya menatap lurus ke depan seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Langkahnya terhenti di sebuah bangku di bawah lampu taman. Ia duduk, menyandarkan punggung, dan menghela napas panjang, seolah memikul beban yang sangat berat.
Alya mengamati pria itu. Wajahnya tidak asing, ia sering melihatnya di majalah-majalah. Dia adalah dr. Rayhan, dokter muda jenius yang terkenal, pewaris tunggal keluarga Wiryawan. Namun, gosipnya, dr. Rayhan sangat tertutup, dingin, dan tidak pernah dekat dengan wanita. Banyak yang bilang ia trauma dengan wanita. Alya menelan ludah, berusaha menarik napas dalam-dalam. Ia tidak punya pilihan lain.
Dengan hati-hati, Alya keluar dari balik semak-semak. Ia melangkah mendekati dr. Rayhan, kakinya terasa seperti jeli. Setiap langkahnya terasa berat, diselimuti rasa takut dan keraguan. Pria itu menoleh, alisnya terangkat sedikit saat melihat sosok Alya. Tatapannya dingin, tanpa emosi.
“Maaf… maaf mengganggu,” bisik Alya, suaranya parau.
Dr. Rayhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Alya dari atas sampai bawah. Matanya memindai gamis kedodoran, kacamata tebal, dan tahi lalat buatan yang menempel di pipi Alya. Sebuah ekspresi aneh, campuran antara kebingungan dan ketidakpedulian, melintas di wajahnya.
“Anda butuh sesuatu?” tanyanya, suaranya datar dan dingin.
Alya ragu sejenak, menunduk. Ia merasa malu, tetapi situasi ini memaksanya. “Saya… saya butuh pertolongan.”
“Pertolongan apa?” tanya dr. Rayhan, tanpa sedikit pun nada empati.
Alya mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap dr. Rayhan. “Saya… saya melarikan diri. Saya tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang.”
Dr. Rayhan mendengus, seperti orang yang muak. “Ini taman, bukan tempat penampungan. Anda bisa pergi ke panti sosial.”
Kata-katanya seperti es yang menusuk, membuat Alya tersentak. Hatinya mencelos. Ia seharusnya tidak mengharapkan apa-apa dari pria ini. Dr. Rayhan bangkit dari bangku, bersiap untuk pergi. Alya panik. Ia tidak punya pilihan lain selain memohon.
“Tunggu!” Alya berteriak. Ia melangkah maju, tangannya tanpa sengaja menyentuh lengan dr. Rayhan.
Dr. Rayhan tersentak, tatapannya langsung menajam. Ia menepis tangan Alya dengan gerakan kasar, seolah Alya adalah sesuatu yang menjijikkan. “Jangan sentuh saya.”
Alya menarik tangannya dengan cepat, terkejut. Matanya berkaca-kaca, ia merasa harga dirinya jatuh. Pria itu berbalik, siap untuk pergi. Alya merasa putus asa, ia tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.