Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Ruang Bawah Tanah

Napas Alya tercekat. Bukan karena bau apek ruang bawah tanah, melainkan karena suara beep dari koper perak di hadapannya. Bunyi itu, awalnya pelan dan ritmis, kini berdetak bagai jantung yang panik, memotong keheningan pasca-tembakan di lantai atas. Suara itu adalah pengumuman: Waktunya habis.

Dia tidak bisa lari. Kakinya terpaku. Di satu sisi, tangga gelap menuju kebebasan, di sisi lain, kursi roda bergetar dan koper yang berkedip-kedip. Santoso telah memaksa Alya untuk memilih: Hidupnya, atau kebenaran yang terbungkus dalam kain kasa dan logam.

Tanpa membuang sedetik pun untuk analisis, naluri seorang istri dan sekarang, naluri seorang pejuang, mengambil alih. Alya tidak berlari menuju pintu tersembunyi. Dia melompat ke arah kursi roda.

"Bertahanlah!" teriak Alya, suaranya parau.

Dia menyambar pegangan kursi roda itu. Roda tua itu berderit memprotes saat Alya menariknya dengan brutal. Dia harus menyeret tubuh kecil itu keluar dari radius ledakan. Hanya ada satu jalan keluar: Lorong sempit di belakang rak-rak buku usang yang membentang di sepanjang dinding.

Alya mendorong kursi roda itu sekuat tenaga. Tubuh kecil yang diikat di kursi roda itu tersentak, tetapi Alya tidak melambat. Di tengah aksi itu, matanya sempat menangkap sekilas koper perak. Di atas koper itu, sebuah layar digital merah menyala: 00:00:09.

Sembilan detik.

Beep... Beep... Beep...

Lorong itu tampak tanpa ujung. Rak-rak buku seolah menjulang, menghalangi cahaya. Tangan Alya sakit karena mencengkeram pegangan kursi roda. Dia menoleh ke belakang. Koper itu tinggal beberapa langkah di belakang, bergetar di tengah kegelapan yang pekat.

00:00:05.

Ia menarik napas terakhirnya.

Di ujung lorong, ada sebuah lubang kecil di dinding. Mungkin bekas ventilasi udara yang sudah lama tertutup. Terlalu kecil untuk kursi roda, tapi cukup besar untuk tubuh orang dewasa.

Alya berhenti tiba-tiba. Dia berbalik, tangannya dengan cepat menggapai tali pengikat di kursi roda. Tali itu sudah usang, dia mengoyaknya dengan pisau lipatnya yang baru saja dipakai menggerus tali peti mati.

"Maafkan aku," bisiknya, tak peduli apakah orang di kursi roda itu bisa mendengarnya.

00:00:03.

Tangan kirinya meraih tubuh kecil itu, menariknya dari kursi roda. Tubuh itu terasa ringan, layu, tetapi masih hangat. Alya merangkulnya erat-erat di dadanya, lalu berbalik dan menendang kursi roda kosong itu kembali ke lorong, menjauhi dirinya.

00:00:01.

Alya menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia menutupi tubuh orang itu dengan tubuhnya sendiri, memeluknya di tanah, dan membiarkan punggungnya menahan ledakan yang akan datang. Matanya terpejam, dan yang terakhir ia dengar adalah suara desisan yang mengerikan—seperti percikan air di minyak panas, diiringi oleh jeritan memekakkan Santoso dari lantai atas.

Kemudian, sebuah ledakan.

Bukan ledakan yang menghancurkan bangunan, melainkan ledakan yang memekakkan telinga. Dinding batu bata di sekeliling Alya bergetar hebat. Udara panas dan berbau mesiu menyambar, diikuti oleh hujan puing dan debu. Telinganya berdenging, pandangannya buram, dan rasa sakit menusuk di punggungnya.

Alya terbatuk-batuk, mengeluarkan debu dari paru-parunya. Dia merangkak berdiri, masih memeluk tubuh yang diselamatkannya.

"Kau baik-baik saja?" bisiknya.

Tubuh kecil itu hanya bisa bergetar.

Alya menggerakkan kepalanya, merasakan butiran pasir di rambutnya. Ia melihat ke belakang. Koper perak itu menghilang. Yang tersisa hanyalah lubang hitam hangus di tengah lantai, dari mana asap tebal mengepul. Kursi roda yang ia tendang kini terbalik, seolah membeku sesaat sebelum dihantam ledakan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara lain. Bukan dari ledakan, melainkan dari lantai atas. Suara benturan logam, diikuti oleh derap kaki yang tergesa-gesa.

"Dia di bawah! Dia kabur ke lorong! Kejar!" Raungan Santoso, kini terdengar lebih panik dan penuh amarah.

Alya menyadari: Dia tidak membeli waktu, dia memicu jebakan yang lebih besar.

Dia memutar tubuhnya. Lubang ventilasi itu adalah harapan satu-satunya. Dengan susah payah, ia menyeret tubuh itu ke lubang tersebut. Tubuh itu pas-pasan. Dia harus mendorong bahu kecilnya, lalu menariknya dengan sekuat tenaga melalui celah sempit itu.

"Sabar, sebentar lagi..."

Tiba-tiba, tangan Alya menyentuh sesuatu yang lembut di balik kain kasa di wajah orang itu. Cairan kental. Darah.

"Ya Tuhan!"

Alya menarik orang itu keluar. Mereka terlempar ke sebuah ruang kecil, di mana aroma tanah basah dan air hujan membelai indra penciuman Alya. Sebuah lorong pembuangan air yang sempit, dengan langit-langit rendah dan lumut hijau di dindingnya.

Alya berbalik, hanya beberapa detik sebelum dua preman Santoso, dengan topeng ski hitam mereka yang kotor, muncul di hadapannya di ujung lorong di mana ledakan tadi terjadi.

"Di sana!" teriak salah satu preman itu, mengangkat senapannya. "Tembak!"

Alya tidak menunggu. Dia menarik tubuh di pelukannya, berlari sejauh mungkin ke dalam kegelapan lorong pembuangan itu. Dia hanya berharap lorong itu tidak buntu. Air setinggi mata kaki memperlambat langkahnya, tetapi dia terus berlari.

Di belakangnya, suara tembakan bergema di dalam lorong sempit. Peluru memantul di dinding, menghasilkan serangkaian dentuman tajam yang menyakitkan telinga.

Alya merasakan sakit di betisnya, sebuah nyeri seperti terbakar. Dia tahu dia tertembak, tetapi adrenalin menenggelamkan rasa sakit itu. Dia harus berlari.

Setelah sekitar satu menit berlari tanpa arah, lorong itu tiba-tiba terbuka ke ruang yang lebih besar. Sebuah sistem drainase tua, air mengalir deras dari sebuah lubang beton besar. Di tengah ruangan, sebuah tangga besi berkarat menunjuk ke atas, ke arah cahaya bulan yang remang-remang.

Kebebasan.

Alya meraih tangga itu. Dia harus memanjat sambil membawa tubuh kecil itu. Misi yang nyaris mustahil dengan kondisi bahu dan kakinya yang terluka.

"Kita akan berhasil, kita akan berhasil," dia bergumam, menguatkan dirinya.

Saat dia mulai memanjat, dia mendengar langkah kaki di belakangnya. Santoso.

"Kau tidak akan ke mana-mana, Alya!"

Alya menoleh ke bawah. Santoso berdiri di ambang lorong, jas abu-abunya kini kotor dan wajahnya memerah karena amarah. Di sebelahnya, Nyonya Wiryawan masih diikat, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam, tetapi pandangannya tertuju pada tubuh kecil yang dipeluk Alya.

"Putriku," desis Santoso, suaranya dipenuhi kebencian, "Kau telah menghancurkan segalanya! Ratna berkhianat, dan sekarang kau! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali apa yang aku ambil darimu!"

Alya menatap Nyonya Wiryawan. Di mata wanita tua itu, ada isyarat. Sebuah isyarat yang jelas. Lihat ke atas!

Alya menuruti isyarat itu. Ia melihat ke atas, ke arah cahaya bulan. Tepat di tepi lubang, di atas bibir beton, tergantung sebuah tali tambang hitam yang kuat. Tali itu bergerak-gerak.

"Soni," bisik Alya, rasa lega membanjiri dadanya.

Santoso melihat pandangan mata Alya. Ia mendongak. "Tali itu... Soni! Kau pikir kau bisa menghentikanku?"

Santoso mengeluarkan pistol perak dari balik jasnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!