Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Misi Penyelamatan

"Aku akan kembali, Rayhan," bisiknya. "Aku akan membawa adikku pulang."

Mobil bak terbuka itu melesat kembali ke pusat kota, menuju kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Gudang Timur. Kawasan itu berada di dekat jalur rel kereta api tua, diapit oleh pabrik-pabrik tekstil yang mangkrak dan penuh grafiti. Udara di sini berbeda dengan pegunungan—bau minyak, karat, dan kelembaban.

Alya dan Soni memarkir mobil mereka di balik tumpukan kontainer besi yang berkarat. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

"Kita harus berasumsi bahwa Santoso juga tahu tentang Gudang Timur," bisik Soni, mengeluarkan pistolnya dan mengecek magasin.

"Tidak," jawab Alya, menggeleng pasti. "Santoso mengira dia sudah menangkap 'kunci' di Panti Asuhan. Dia hanya fokus pada Surat Adopsi dan gudang palsu itu. Dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah kunci yang sesungguhnya. Dan dia juga tidak tahu Ratna yang pertama meninggalkan petunjuk untukku."

Mereka sampai di Gudang Timur. Sebuah bangunan besar dengan atap seng yang sudah berlubang di sana-sini. Gerbang utamanya terbuka sedikit, berderit-derit ditiup angin malam.

"Andra," bisik Soni, melihat sekeliling. "Dia seharusnya ada di sini."

Mereka masuk. Bagian dalam Gudang Timur gelap, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk melalui lubang-lubang di atap. Debu tebal menyelimuti lantai beton. Tumpukan peti kemas kayu dan karung goni memenuhi sekeliling, menciptakan labirin bayangan yang membingungkan.

Di tengah gudang, Alya melihatnya.

Sebuah pemandangan yang menyayat hati, namun membawa kelegaan yang besar.

Andra.

Dia terbaring tak bergerak di samping sebuah peti kemas kayu besar. Pistolnya terlepas dari genggamannya, wajahnya menghitam karena asap dan debu, dan sebuah luka tusukan yang besar menganga di perutnya.

"Andra!" Alya berteriak, berlari ke arahnya.

Soni mengikutinya, berjongkok di samping Andra. "Jaga?"

Andra membuka matanya perlahan. Senyum tipis, menyakitkan, merekah di bibirnya. "Alya... kau berhasil." Dia terbatuk, darah kental keluar. "Jaga... dia bukan musuh yang mudah. Aku... aku berhasil membuatnya menjauh. Aku mengalahkannya. Tapi itu butuh waktu lama."

"Gudang Timur, Andra. Di mana adikku?" desak Alya, air mata membasahi pipinya.

Andra memegang tangan Alya dengan erat. "Peti yang kupakai sebagai umpan. Peti mati itu... Santoso mengira dia sudah tahu segalanya. Tetapi dia hanya tahu setengah kebenarannya."

Andra menunjuk ke peti kemas besar di sampingnya. Peti itu diikat dengan rantai tebal, tetapi sudah terbuka di bagian engselnya, persis seperti peti di Panti Asuhan.

"Di balik peti itu, Alya. Pintu rahasia. Kuncinya... di dalam cincinmu." Andra menunjuk ke tangan Alya.

Alya menatap peti itu. Sebuah peti yang sama persis dengan yang ada di Panti Asuhan, tetapi jauh lebih besar. Santoso telah menggunakan formula yang sama dua kali: Peti, kunci, dan kebenaran yang tersembunyi.

Alya segera mengeluarkan cincin kuncinya. Dia menoleh ke Soni. "Jaga Andra. Aku harus masuk."

Soni mengangguk, matanya fokus pada Andra. "Cepat, Alya. Aku akan menjaganya."

Alya mendorong peti itu. Peti itu berat, dan suara gesekannya bergema di gudang yang sunyi, tetapi ia tidak peduli. Dia mendorongnya dengan seluruh kekuatan yang tersisa.

Di balik peti itu, sebuah pintu baja tersembunyi. Tidak ada pegangan, hanya sebuah lubang kunci kecil yang pas dengan cincin kunci yang dipegang Alya.

Dia memasukkan cincin itu dan memutarnya. Klak!

Pintu baja itu terbuka, mengeluarkan suara mendesis karena udara vakum. Bau yang familiar menyambutnya: Bau kain bersih, sabun, dan aroma teh melati yang lembut. Bukan bau darah, bukan bau besi tua, melainkan bau yang hangat, bau rumah.

Alya melangkah masuk, meninggalkan kegelapan dan kekerasan di belakangnya.

Ruangan itu kecil, tetapi nyaman. Dindingnya dicat putih gading, dan sebuah tempat tidur kecil di sudut, ditutupi selimut bordir tebal. Sebuah meja kayu di sebelahnya, dengan buku-buku cerita anak-anak, dan di atasnya, sebuah teko teh melati yang masih mengepul.

Dan di sana, di tempat tidur itu, duduk seorang gadis muda, sekitar usia dua puluh tahun, dengan rambut hitam pendek sebahu, mengenakan piyama katun putih. Dia sedang membaca buku cerita yang berjudul Putri Tidur.

Gadis itu mendongak. Matanya besar, cokelat, dan cerah—mata yang sama persis dengan mata Alya.

Gadis itu tidak terkejut melihat Alya. Dia hanya tersenyum dengan lembut.

"Kau datang, Kakak," katanya, suaranya halus, tidak ada nada ketakutan, hanya kelegaan.

Alya berjalan mendekat. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia berlutut di samping tempat tidur.

"Ratna Santoso," bisik Alya. "Kau... kau adikku?"

Gadis itu mengangguk. "Ya. Ratna adalah nama yang dipilih Ibumu untukku. Untuk membuatku aman dari Ayah."

"Ibu... Ratna yang pertama... dia menyembunyikanmu di sini?"

"Dia bilang, ini adalah tempat teraman di dunia. Dia menciptakan ruang ini, di jantung kekacauan Ayah, di dalam gudang yang akan selalu menjadi pusat perhatian. Dia bilang, 'tempat yang paling terlihat adalah tempat yang paling tidak dicari.'"

Ratna mengulurkan tangannya. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah gelang rantai perak tipis dengan liontin kecil berbentuk kupu-kupu. Liontin yang sama persis yang pernah dilihat Alya di album foto Ratna yang pertama.

"Ayah tahu Ibu menyembunyikanku. Dia hanya tidak pernah tahu di mana. Dia selalu berpikir Ibu menyembunyikanku di Panti Asuhan. Karena itu Titik Nol. Tapi Titik Nol yang sesungguhnya adalah aku. Aku adalah kunci untuk semuanya."

Ratna meraih sebuah koper kecil yang tersembunyi di bawah tempat tidurnya. Bukan koper perak berisi bom, melainkan koper kulit tua.

"Ayah tidak menginginkan sertifikat adopsimu, Kakak. Ayah menginginkan ini."

Ratna membuka koper itu. Di dalamnya, bertumpuk dokumen dan berkas lusuh. Bukan surat wasiat. Itu adalah buku besar rahasia.

"Ini adalah catatan semua operasi ilegal Ayah," jelas Ratna. "Termasuk penipuan pajak, perdagangan senjata, dan... pembunuhan. Ibu mencurinya darinya. Itu adalah alasan mengapa Ayah mengambilmu, Kakak. Sebagai ganti, Ayah ingin Ibu mengembalikan buku besar ini."

Alya memegang buku besar itu. Tulisan tangan yang teliti, detail yang mengerikan. Ini bukan hanya sebuah buku besar. Ini adalah peluru yang akan menghancurkan Santoso untuk selamanya.

Ratna menatap Alya dengan mata berbinar. "Ibu bilang, hanya kau yang bisa membawanya keluar. Karena kau... kau adalah putrinya, dan kau adalah putri Santoso. Kau adalah satu-satunya yang akan dia biarkan pergi, karena di matanya, kau adalah miliknya."

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar.

DOR! DOR!

Alya dan Ratna saling pandang. Mereka mendengar teriakan Soni yang parau.

"Santoso!" bisik Alya.

Alya meraih buku besar itu, memasukkannya ke dalam jaketnya. Dia menarik Ratna dari tempat tidur. "Kita harus pergi. Sekarang!"

Alya membuka pintu baja itu sedikit. Di luar, Soni bersembunyi di balik peti, menembakkan sisa peluru terakhirnya ke arah bayangan gelap yang bergerak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!