Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Komplikasi

Tiga bulan berlalu dalam ritme yang damai, tetapi kedamaian tidak berarti kemudahan. Kehidupan nyata, bahkan yang sudah bebas dari bayang-bayang kejahatan, memiliki kompleksitasnya sendiri.

Pagi itu, Butik "Benang Emas" milik Alya tampak berantakan, bukan karena kekacauan, tetapi karena badai kreativitas yang terhenti. Tiga meter sutra Italia terbaik terhampar di meja potong, dipotong, dijahit, dan kemudian dibongkar kembali—tiga kali.

Alya menatap gaun pengantin A-line yang seharusnya menjadi mahakarya terbarunya. Kliennya adalah Elena Savitri, seorang sosialita muda, ahli waris perusahaan real estate besar, dan secara definitif, wanita paling perfeksionis yang pernah ditemui Alya.

"Tidak, Alya. Garis leher ini, meskipun sesuai dengan sketsa, terlalu konvensional," suara Elena terngiang di benak Alya. "Aku ingin keunikan. Sesuatu yang 'berteriak' di lorong katedral, tetapi berteriak dengan keanggunan."

Alya menghela napas. Ia seorang desainer ulung, terlatih dalam membuat detail yang rumit, tetapi permintaan Elena terasa seperti kode rahasia yang terus berubah. Ia meraih secangkir teh hijau dingin, mencoba menenangkan sarafnya.

"Aku bisa mengatasi Santoso, menghadapi jaringan kriminal, tapi satu kerutan ekstra di korset gaun pengantin bisa membuatku dipecat," gumamnya pada manekin di hadapannya.

Ia kembali pada kain. Ia harus menggunakan teknik draping yang lebih ekstrem, membuat lipatan sutra tampak mengalir seperti air terjun yang membeku—sebuah tantangan teknik yang luar biasa. Ia mengaktifkan mode fokus yang sama yang ia gunakan saat menyusup ke Panti Asuhan, tetapi kini, ia mengarahkannya pada benang emas.

Suara notifikasi pesan masuk dari Rayhan muncul di ponselnya.

> Lama sekali aku tidak mendengar kabar darimu. Komplikasi di ruang operasi? Kirimkan aku foto korset itu. Aku yakin itu sempurna.

Alya tersenyum. Rayhan. Ia segera membalas:

> Komplikasi sekelas Jaga. Klien ini mengubah pikirannya setiap jam. Gaun ini sudah dibongkar tiga kali. Jantungku berdetak lebih kencang daripada saat menghadapi penculik. Selamatkan aku dengan cinta, Dokter.

Ia meletakkan ponselnya, mengambil jarum, dan mulai menjahit dengan tangan. Teknik haute couture menuntut kesabaran, presisi, dan yang terpenting, ketenangan. Ia harus membuktikan pada Elena, dan pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa menciptakan keindahan yang abadi, bukan sekadar pelarian yang cepat.

Di Rumah Sakit Pusat, Rayhan menghadapi komplikasi yang jauh lebih berbahaya daripada kerutan sutra. Pasiennya, seorang pria paruh baya yang seharusnya menjalani prosedur stent rutin, mengalami ruptur aorta mendadak.

Alarm monitor berbunyi nyaring. Rayhan, yang baru saja selesai makan siang, berlari ke ruang operasi. Keadaan darurat ini menuntut tindakan cepat, keputusan sepersekian detik, dan ketenangan yang mematikan.

"Tekanan darah turun! Kita kehilangan dia, Dok!" teriak perawat anastesi.

"Siapkan forsep bedah. Kita harus buka! Cepat!" perintah Rayhan, suaranya tegas dan tanpa getaran.

Dia memimpin tim operasi dalam tindakan penyelamatan yang brutal dan mendadak. Matanya menatap tajam ke dalam rongga dada yang terbuka, mencari sumber perdarahan. Otot-ototnya tegang, tetapi tangannya stabil, memegang pisau bedah dengan presisi yang hanya dimiliki oleh beberapa ahli bedah terbaik.

Selama operasi, pikirannya hanya terfokus pada anatomi di hadapannya. Tidak ada ingatan tentang Ratna, Alya, atau bahaya masa lalu. Hanya detak jantung yang harus diperbaiki.

Ia menemukan sobekan kecil di aorta, dekat dengan pembuluh darah utama. Itu adalah jahitan yang sangat sulit, membutuhkan benang bedah yang sangat halus dan fokus laser.

"Hisap darahnya. Tenangkan dia," gumam Rayhan, saat ia mulai menjahit.

Setiap jahitan adalah sebuah janji. Janji kehidupan. Ia menjahit pembuluh darah itu dengan cara yang ia pelajari dari masa lalunya—dengan keyakinan bahwa setiap detail, sekecil apa pun, dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Setelah hampir dua jam pertempuran, kebocoran berhasil ditutup. Detak jantung pasien, yang sempat merangkak rendah, mulai berdetak dengan ritme yang lebih kuat dan teratur.

"Selesai," kata Rayhan, membuang napas panjang. Kemeja bedahnya basah oleh keringat, namun rasa lelah itu bercampur dengan kepuasan yang mendalam. Ia telah memberikan kesempatan hidup sekali lagi.

Malam itu, Rayhan kembali ke rumah, wajahnya pucat karena kelelahan, tetapi matanya bersinar. Ia mendapati Alya sedang tidur di sofa studio, dikelilingi oleh kain sutra dan benang perak. Di sebelahnya, tergantung Gaun Elena yang sudah hampir selesai—karya seni yang mengalir, dengan garis leher yang berteriak dengan keanggunan seperti yang diinginkan kliennya.

Rayhan tersenyum. Ia menanggalkan jasnya dan berjalan pelan, tidak ingin membangunkannya.

Di meja, ada catatan kecil dari Alya:

> Selamat datang, Pahlawan Penyelamat Jantung. Aku memindahkan Ratna dan Rendra ke kamar mereka agar kau bisa tidur di sini, di bawah perlindungan Manekin dan Sutra. Butuh waktu 12 jam, 4 kali dibongkar, dan 2 cangkir kopi untuk membuat garis leher itu "berteriak". Aku harus tidur. Jaga aku.

Rayhan dengan lembut mengangkat Alya, membawanya ke kamar mereka. Ia membaringkannya perlahan, menarik selimut ke tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, ia kembali ke studio, mengambil Gaun Elena, dan mempelajarinya di bawah cahaya redup. Ia melihat detail-detail kecil: lipatan yang nyaris tidak terlihat namun memberikan volume luar biasa, jahitan yang sangat rapi sehingga tampak tidak ada jahitan sama sekali. Itu adalah pekerjaan yang perfeksionis. Sama seperti pekerjaannya.

Ia mengambil surat itu dan membacanya lagi. Jaga aku.

Rayhan tahu. Meskipun mereka telah meninggalkan bayangan Santoso dan Jaga, tantangan hidup selalu ada. Bagi Alya, itu adalah klien yang cerewet dan sutra yang sulit. Baginya, itu adalah pembuluh darah yang rapuh dan komplikasi yang mendadak. Namun, sekarang mereka menghadapi semua itu bersama-sama.

Ia kembali ke kamar, berbaring di samping Alya. Alya terbangun sedikit dan memeluknya.

"Bagaimana jantungnya, Sayang?" bisik Alya, matanya masih tertutup.

"Jantungnya berdetak kuat. Komplikasi teratasi. Aku menjahitnya seperti aku menjahit masa lalu kita. Dengan presisi dan tanpa meninggalkan jejak," jawab Rayhan, mencium puncak kepala Alya. "Bagaimana dengan gaunnya? Apakah dia 'berteriak' dengan cukup elegan?"

Alya tertawa pelan. "Gaunnya sempurna. Aku menemukan celahnya. Kelemahan terbesarnya adalah keinginannya untuk dilihat, bukan hanya diakui. Aku memberikan gaun yang tidak hanya cantik, tetapi juga bercerita."

Mereka berpelukan erat. Di luar, aroma melati yang selalu ada memenuhi ruangan. Mereka adalah dua profesional yang berada di puncak karier mereka, menghadapi tekanan yang berbeda, tetapi berbagi satu tujuan: menciptakan kehidupan, dalam bentuk yang paling murni dan paling indah.

Mereka telah memilih untuk berdiri di atas panggung kehidupan, bukan di balik layar rahasia. Rayhan adalah seorang ahli bedah yang memperbaiki jantung yang rusak. Alya adalah seorang desainer yang menenun keindahan dari benang. Keduanya, dengan cara yang berbeda, adalah penyelamat yang memilih cinta sebagai alat utama mereka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!