Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Gaun Sang Diva

Penerbangan kembali dari Milan ke Jakarta terasa seperti loncatan waktu, sebuah fade out dari ketenangan Eropa ke flash yang menyilaukan dari realitas Asia. Ketika Rayhan dan Alya melangkah keluar dari Terminal Kedatangan Internasional, udara panas dan lembap Jakarta langsung memeluk mereka, membawa serta aroma bensin, knalpot, dan rempah-rempah yang familiar.

"Kita kembali, Dokter," bisik Alya, memeluk lengannya, sedikit gentar menghadapi hiruk-pikuk yang sudah lama tidak mereka hadapi.

Rayhan, meskipun sudah kembali mengenakan kemeja yang lebih formal, masih memancarkan aura relaksasi dari Tuscany. "Dua minggu penuh penghilangan total. Itu adalah dosis istirahat terbaik yang pernah kurasakan," jawabnya, menarik napas dalam. "Tidak ada suara monitor jantung yang mengganggu."

Mereka berencana untuk mengambil cuti tambahan satu hari, sekadar untuk membongkar koper, mengatur ulang ritme tidur, dan mungkin menikmati satu hari penuh tanpa perlu membuat keputusan penting—hanya bermalas-malasan.

Namun, Jakarta tidak menunggu.

Begitu mobil mereka memasuki gerbang penthouse mereka, asisten pribadi Alya, Maya, sudah berdiri di lobi, tampak tegang dan memegang tablet seolah itu adalah perisai.

"Nyonya Alya! Selamat datang kembali! Maaf, aku tahu ini keterlaluan, tapi..." Maya bahkan tidak memberi waktu Alya untuk mengambil napas.

"Ada apa, Maya? Ada bencana kain yang tak terduga?" tanya Alya, mencoba mempertahankan ketenangan yang ia dapat dari Danau Como.

"Lebih buruk dari itu. Ada Diva yang tak terduga. Diva besar. Bintang film Indonesia-Hollywood, Bunga Rinjani. Ia akan menghadiri Gala Amal Asia bulan depan. Dia sudah menjadwalkan pertemuan selama dua minggu, tapi baru berhasil mendapatkan slotnya sekarang. Dia hanya punya waktu malam ini. Ini sangat mendesak. Gaunnya harus masterpiece!"

Rayhan menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepala pada Alya, tetapi ada senyum geli di sudut bibirnya. "Selamat datang kembali ke medan perangmu, Sayang."

Alya melirik Rayhan, senyumnya kini campur aduk antara lelah dan antusiasme yang tak terhindarkan. "Baiklah, Maya. Atur ulang ruang studio. Siapkan semua sketsa Eropa. Dan buatkan aku kopi terkuat yang ada. Misi 'Istirahat Total' ditangguhkan."

Alya bergegas menuju studio desainnya. Dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah mandi, mengenakan blus sutra yang elegan, dan mengelilingi dirinya dengan kain chantilly dan organza. Jantungnya, yang baru saja diperbaiki oleh Rayhan, kini kembali berdetak dengan ritme kreativitas yang cepat.

Sementara itu, Rayhan baru saja selesai mandi ketika ponsel khususnya berdering. Itu adalah nomor dari Rumah Sakit Bhakti Nusa. Biasanya, ia akan mengabaikannya, tetapi ini adalah saluran darurat.

"Rayhan," suara Direktur Rumah Sakit, Dr. Baskara, terdengar serius. "Kau di Jakarta?"

"Baru saja sampai, Baskara. Kenapa?"

"Kita punya masalah besar. Sebuah kecelakaan beruntun di tol. Salah satu korbannya adalah seorang remaja, kecelakaan terparah. Robekan aorta, kondisi sangat kritis. Kita membutuhkan tangan terbaik, Rayhan. The Golden Hand. Aku tahu kau cuti, tapi..."

Rayhan memejamkan mata. Ia bisa saja menolak. Ia bisa saja mengatakan ia masih jet lag. Tetapi kata-kata Alya di Tuscany kembali terngiang: "Kita tidak bisa menghapus naluri penyelamat kita."

"Aku datang, Baskara. Siapkan ruang operasi. Aku butuh tim kardiotoraks terbaik."

Ia menutup telepon dan menatap pintu studio Alya. Dari celah pintu, ia bisa mendengar samar-samar suara Alya sedang menjelaskan visinya tentang gaun yang "mengalir seperti air danau". Ia tersenyum sedih. Mereka bahkan belum sempat makan malam bersama setelah pulang.

Rayhan mengetuk pintu dan masuk. Alya sedang berdiskusi intens dengan Maya, memegang pensil sketsa dengan tangan bersemangat yang sama seperti saat memegang pensil di Venesia.

"Sayang," panggil Rayhan, suaranya berusaha selembut mungkin.

Alya menoleh, matanya masih memancarkan nyala inspirasi. "Ya? Kenapa terburu-buru ganti baju lagi?" Rayhan sudah mengenakan celana bahan gelap dan scrub bersih yang selalu ia simpan di dalam koper daruratnya.

"Aku minta maaf. Aku harus pergi."

"Ada apa? Pasien Dio?"

Rayhan menggeleng. "Bukan. Kecelakaan beruntun. Robekan aorta. Anak itu hanya punya sedikit waktu, Alya. Aku harus menyelamatkan jantungnya."

Mata Alya melunak. Ia meletakkan pensilnya. Semangatnya tidak hilang, tetapi kini berubah menjadi kepedulian yang mendalam. Ia berjalan ke arah Rayhan, membenarkan kerah scrub suaminya.

"Pergilah. Perbaiki jantung itu, Dokter. Jangan pikirkan aku. Aku akan berhadapan dengan drama diva yang lain di sini." Alya berjingkat dan mencium Rayhan. Ciuman itu cepat, tetapi penuh dengan dukungan tak terucapkan. "Hati-hati, Rayhan. Aku akan menunggumu pulang, tidak peduli jam berapa."

"Aku janji, begitu aku pulang, kita kembali ke Tuscany. Tidak ada ponsel, tidak ada gaun, tidak ada aorta," balas Rayhan.

Ia bergegas keluar. Dua menit kemudian, sirene mobil yang sudah disiapkan rumah sakit menderu pelan meninggalkan penthouse.

Alya kembali ke studionya, tetapi ritmenya sedikit terganggu. Ia melihat sketsa yang baru saja ia buat—gaun yang terinspirasi oleh air danau yang tenang, kini terasa ironis di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Pintu studionya terbuka, dan Diva Bunga Rinjani masuk, diiringi oleh manajer dan dua pengawal. Bunga Rinjani adalah sosok yang menawan, tetapi aura perfectionist yang kejam melingkupinya.

"Selamat datang kembali, Alya. Aku dengar kau baru dari Eropa. Kuharap kau membawa pulang inspirasi, bukan hanya jet lag," kata Bunga, suaranya dingin dan bernada memerintah.

Alya menarik napas, mengenakan topeng profesionalnya. "Tentu, Nyonya Bunga. Inspirasiku utuh. Aku sudah membuat beberapa ide di Venesia dan Como. Malam ini, aku akan membawamu ke sana."

Selama empat jam berikutnya, Alya tenggelam dalam drama mode. Bunga Rinjani adalah klien yang paling menuntut. Ia tidak hanya menginginkan gaun, ia menginginkan pernyataan yang menghancurkan.

"Gaun ini harus berteriak, Alya! Ia harus berteriak 'aku adalah bintang yang paling bersinar di gala itu' tanpa perlu satu pun payet murahan," tuntut Bunga, menolak dua sketsa awal Alya.

Alya merasa energinya terkuras, tetapi ia tidak menyerah. Ia teringat Rayhan di meja operasi, berjuang melawan waktu. Jika Rayhan bisa bertarung untuk kehidupan, ia bisa bertarung untuk sebuah masterpiece.

Alya mengambil buku sketsa dari Tuscany. Ia tidak menunjukkan gaun itu, tetapi menunjukkan sketsa dinding lapuk di Venesia dan siluet pohon zaitun.

"Nyonya Bunga," kata Alya, suaranya mantap. "Keindahan sejati adalah yang abadi, bukan yang berkilauan. Saya akan mendesain gaun yang memiliki kekuatan diam, ketenangan yang mendalam. Sebuah gaun yang tidak perlu berteriak, karena ia memancarkan otoritas. Warnanya akan mengambil dari abu-abu danau di bawah langit malam Lombardy—warna yang sulit dideskripsikan, tetapi mustahil untuk dilupakan."

Diva itu terdiam. Ia menatap Alya, lalu menatap sketsa pemandangan. Perlahan, senyum Bunga Rinjani yang langka muncul.

"Aku suka 'kekuatan diam' itu, Alya. Kau mendapatkanku. Desainlah. Tapi pastikan, gaun ini adalah yang terakhir yang pernah kau buat," kata Bunga dengan nada mengancam yang khas, sebelum ia pergi, meninggalkan Alya dan Maya dalam kelelahan yang luar biasa.

Alya menjatuhkan diri di sofa studio. Pukul 02.00 dini hari. Ia memeriksa ponselnya, tidak ada kabar dari Rayhan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara kunci diputar di pintu depan.

Rayhan masuk. Ia masih mengenakan scrubnya, tetapi wajahnya tampak kelelahan. Alya bangkit dan bergegas menghampirinya.

"Rayhan! Bagaimana?"

Rayhan memeluknya erat, kehangatan tubuhnya yang lelah adalah satu-satunya jawaban yang Alya butuhkan.

"Berhasil, Alya. Kita berhasil," bisik Rayhan. "Aorta berhasil dijahit. Anak itu akan hidup. Jantungnya berdetak kembali."

"Terima kasih, Dokter. Kau selalu pulang sebagai pahlawan," balas Alya, memeluknya lebih erat.

Mereka berdiri di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh koper yang belum dibongkar dan aura dari dua medan perang yang berbeda—ruang operasi dan studio desain.

"Bagaimana dengan Divamu?" tanya Rayhan, melepaskan pelukan.

"Gaun itu sudah disetujui. Gaun yang mengambil inspirasi dari air danau dan keindahan yang abadi," jawab Alya, tersenyum. "Ia menyebutnya 'kekuatan diam'."

"Bagus," kata Rayhan, memejamkan mata. "Sekarang, kita butuh kekuatan diam. Aku akan mandi, dan kemudian, kita akan membuka arsip kita, Alya. Arsip masa lalu, di mana kita masih bisa menjadi kita, tanpa gaun dan tanpa pisau bedah."

Mereka memasuki kamar tidur. Rayhan mengeluarkan kotak beludru dari tasnya. Bukan cincin, tetapi USB flash drive yang berisi rekaman video yang ia buat di bawah pohon zaitun di Tuscany.

Mereka berdua berbaring di tempat tidur, menonton ulang rekaman pendek itu. Mendengar kembali janji yang mereka ucapkan, melihat kembali wajah mereka yang damai di Tuscany.

Ketika rekaman selesai, Rayhan mematikan TV.

"Kita sudah pulang, Alya," bisik Rayhan, memeluk istrinya, merasakan detak jantung Alya yang teratur.

"Ya, Rayhan. Tapi kali ini, kita pulang sebagai tim. Kau adalah jantung yang menyelamatkan nyawa, dan aku adalah jantung yang menciptakan keindahan," balas Alya, tertidur dalam pelukan Rayhan.

Meskipun lelah, mereka tahu. Mereka adalah Rayhan dan Alya. Terikat pada panggilan mereka, terikat pada cinta mereka. Dan di tengah semua drama Jakarta, mereka telah menemukan keseimbangan yang abadi. Bulan madu telah berakhir, tetapi kisah mereka baru saja dimulai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!