Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Pertemuan dengan Ibu Mertua
Alya terbangun dari tidurnya yang pulas, merasakan sinar matahari menembus tirai jendela yang tipis. Ia mengucek matanya, masih merasa takjub. Ranjang yang ia tiduri terasa sangat nyaman, seprai satinnya selembut sutra. Ia bangkit, melangkah ke jendela, dan menatap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil yang tampak seperti semut, dan hamparan langit biru yang cerah. Alya tersenyum, ia merasa seperti hidupnya telah berubah 180 derajat.
Alya berjalan ke kamar mandi, mengambil sikat gigi dan handuk baru yang sudah disediakan. Ia membersihkan diri, lalu keluar. Di atas ranjang, sudah ada beberapa pasang pakaian baru. Gamis-gamis longgar, yang warnanya lebih cerah dan bahannya jauh lebih baik dari yang ia miliki. Ada juga kerudung-kerudung baru dan sepasang sandal. Alya tersenyum. Rayhan memang menepati janjinya.
Setelah bersiap-siap, menggunakan riasan gelap untuk menyamarkan warna kulitnya yang putih, dan tidak lupa menempelkan tahu lalat palsu, Alya keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke ruang tamu, mencium aroma masakan dari dapur. Rayhan sedang memasak, membelakangi Alya. Ia mengenakan kaus polos dan celana pendek, terlihat lebih santai dari biasanya. Alya melangkah perlahan, tidak ingin mengganggu. Ia duduk di meja makan, menunggu. Rayhan menoleh, matanya menatap Alya dari atas sampai bawah.
“Pakaian itu cocok,” katanya tanpa ekspresi. Lalu memindai seluruh tubuh Alya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, lalu berhenti pada wajahnya. “Tapi, masih kurang meyakinkan.”
Alya menatap dirinya di cermin. Ia masih mengenakan kacamata tebal dan tahi lalat palsu. Alya bingung. “Kurang meyakinkan bagaimana, Pak?”
Rayhan berjalan ke meja makan, membawa piring berisi roti panggang dan telur mata sapi. Ia meletakkan piring itu di hadapan Alya. “Panggil saya Rayhan. Bukan Pak,” koreksinya. “Di depan Ibu, jangan panggil saya Pak. Itu akan membuat beliau curiga.”
Alya mengangguk. “Baik, Rayhan.”
“Soal penampilan… Ibu saya akan tahu kalau ini hanya topeng,” lanjut Rayhan, mengambil piringnya sendiri. “Beliau sangat peka. Dia akan tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Kamu harus terlihat benar-benar culun, tapi tidak menutupi kecantikan alami.”
“Maksudnya?” tanya Alya, bingung.
“Maksud saya, kamu tidak perlu menutupinya,” jawab Rayhan. “Hanya saja, perlihatkan sisi sederhana dan polosmu. Hilangkan riasan anehmu itu. Buka kacamata itu. Tapi, pakailah gamis yang longgar, dan kerudung yang menutupi leher. Itu akan membuatmu terlihat anggun, tapi tidak menarik perhatian.”
Alya menelan ludah. Ia tidak percaya. Rayhan memintanya untuk menunjukkan kecantikannya. Ia selalu diajarkan untuk menyembunyikannya. “Tapi… keluarga saya… mereka bilang itu kutukan.”
“Itu hanya akal-akalan mereka saja,” kata Rayhan. “Kecantikan itu anugerah. Tergantung bagaimana kamu menggunakannya. Sekarang, lepaskan kacamata dan tahi lalat palsumu. Cuci muka. Dan makan sarapan ini.”
Alya ragu, tetapi ia menuruti perintah Rayhan. Ia kembali ke kamar, mencuci mukanya, dan membuka tahi lalat palsunya. Ia menatap dirinya di cermin, melihat wajahnya yang putih bersih dan mata indahnya. Ia tersenyum. Seumur hidup, tidak pernah melihat dirinya sejelas ini. Alya kembali ke meja makan.
Rayhan menatapnya, ada sedikit ekspresi terkejut di wajahnya. Mata Rayhan melebar sedikit, ia memandang Alya tanpa berkedip. Ia seperti melihat sosok yang berbeda. Alya menunduk, malu.
“Sudah, makan,” perintah Rayhan, suaranya kembali dingin dan datar. Ia kembali fokus pada makanannya, seolah ia tidak terkejut sama sekali.
Setelah sarapan, Rayhan membawa Alya ke sebuah boutique mewah. Rayhan menyuruh Alya memilih gamis-gamis terbaik yang ada di sana. Alya memilih beberapa gamis dengan warna-warna netral dan model yang sederhana. Ia juga memilih kerudung-kerudung dengan warna senada. Setelah selesai, mereka pergi ke sebuah klinik kecantikan. Rayhan menyuruh Alya untuk melakukan perawatan wajah dan rambut. Alya menolak, tetapi Rayhan bersikeras.
“Kita akan bertemu Ibu saya nanti sore,” kata Rayhan. “Saya tidak mau beliau curiga. Kamu harus terlihat segar, sehat, dan terawat. Itu akan membuat beliau senang.”
Alya akhirnya setuju. Ia duduk di kursi, membiarkan para terapis melakukan pekerjaan mereka. Setelah selesai, Alya melihat dirinya di cermin. Ia merasa seperti seorang putri. Wajahnya bersinar, rambutnya yang lembut terurai indah, dan matanya yang indah terlihat menawan. Ia tidak bisa berhenti tersenyum.
Sore harinya, mereka menuju sebuah rumah mewah di kawasan elite. Alya menatap rumah itu dari jendela mobil. Luas dan asri, dengan taman yang hijau dan kolam renang. Rayhan memarkirkan mobilnya di garasi, lalu mengajak Alya masuk.
“Ingat,” kata Rayhan, sebelum mereka masuk. “Kamu adalah istri saya. Kita sudah menikah selama sebulan. Kita jatuh cinta pada pandangan pertama. Paham?”
Alya mengangguk. Jantungnya berdebar kencang. Ia takut, tetapi ia juga bersemangat.
Mereka masuk, dan disambut oleh seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun dan hangat. Wanita itu memakai blouse dan rok panjang berwarna cerah. Senyumnya ramah, matanya memancarkan kasih sayang. Dialah Ibu Wiryawan, ibunda Rayhan.
“Rayhan!” seru Ibu Wiryawan, memeluk putranya dengan erat. “Kenapa lama sekali? Ibu sudah menunggu dari tadi.”
Rayhan tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga membuat Alya terkejut. “Maaf, Bu. Kami ada urusan sedikit.” Rayhan menoleh ke Alya. “Bu, ini Alya, istri Rayhan.”
Alya tersenyum, menyalami tangan Ibu Wiryawan. “Assalamualaikum, Ibu.”
Ibu Wiryawan memeluk Alya dengan hangat. “Waalaikumsalam, sayang. Akhirnya, Ibu bisa bertemu denganmu. Rayhan selalu menceritakanmu. Kamu cantik sekali.”
Alya menunduk malu. “Terima kasih, Bu.”
Mereka duduk di ruang tamu. Ibu Wiryawan terus memandangi Alya, seolah ia tidak bisa percaya. “Ibu senang sekali melihat Rayhan akhirnya menikah. Rayhan… dia memang keras kepala. Tapi Ibu senang akhirnya dia menemukanmu.”
“Rayhan pria yang baik, Bu,” jawab Alya, jujur.
“Dia tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain, Bu,” timpal Rayhan, entah kenapa nadanya terdengar sedikit bangga. “Tapi, Alya berbeda. Dia membuat Rayhan jatuh cinta. Dia adalah jodoh Rayhan.”
Alya melirik Rayhan, terkejut. Kata-katanya sangat meyakinkan. Alya berpikir, apakah dia seorang aktor?
Ibu Wiryawan menghela napas. “Rayhan… kenapa kamu tidak membawa Alya ke rumah dari dulu? Kenapa kalian menikah diam-diam?”
Rayhan terdiam. Pertanyaan ini adalah salah satu yang ia khawatirkan. “Kami… kami ingin menikah diam-diam, Bu. Kami tidak ingin terlalu banyak orang tahu. Kami ingin privasi.”
Ibu Wiryawan mengangguk, tetapi ia masih terlihat tidak puas. “Tapi, Rayhan… kalian harus mengadakan resepsi. Ibu ingin mengundang semua teman-teman Ibu. Ibu ingin dunia tahu, Rayhan sudah punya istri.”
“Nanti, Bu,” jawab Rayhan. “Kita akan bicarakan itu nanti.”
“Tidak bisa nanti, Rayhan,” Ibu Wiryawan bersikeras. “Kalian harus melakukannya secepatnya.”
Rayhan menghela napas, ia tampak frustrasi. Ia menatap Alya, meminta bantuan. Alya memikirkan cara untuk membantu Rayhan. Ia merasa tidak bisa membiarkan Rayhan berjuang sendirian.