Legenda Tombak Halilintar
Masihkah Ada Harapan?
”Apa yang kamu lakukan di sini, Bodoh!” teriak Evans setelah menampar pipi kanan Riki. Evans adalah teman baik Riki, dia adalah maniak game dan diajari bermain Sky Legend oleh Riki untuk pertama kali. Riki mengajari Evans, apapun! saat pertama kali membeli kapsul gamenya.
***
3,5 tahun yang lalu.
Evans ditemani Riki untuk membeli kapsul game pertamanya. Riki sudah menceritakan semua tentang Sky Legend, dan bagaimana keseruan berburu Rabbit di dalam game. Riki membuat Evans tertarik dan akhirnya membeli kapsul gamenya. Bagi Evans, membeli kapsul game tidak terlalu sulit, karena orangtuanya termasuk mampu dalam hal harta.
Riki sampai rela menemani Evans untuk memilih kapsul yang menurutnya terbaik. Mereka membeli di salah satu cabang di kota, memilih untuk Evans. Mereka pun menemukannya dan kapsul pun diantar ke rumah Evans. Evans masih saja meminta Riki, untuk menunggu dirinya untuk bermain pertama kalinya.
Ya, Evans adalah seorang yang tidak terlalu suka dengan game. Dia lebih suka berpetualang langsung di alam liar, alam terbuka. Dia tak menyukai permainan game. Namun, Riki membuatnya harus mencoba bermain Sky Legend, karena Riki selalu bercerita tentang keseruan ketika memainkan Sky Legend.
Saat kapsul tiba di rumah Evans, Riki mengajari detail dari tiap langkah dalam memainkan Sky Legend. Dan, Evans mendengarkan arahan dari Riki dengan baik. Saat itulah, saat pertama kali Evans memainkan Sky Legend. Dia masuk ke game, setelah semua yang diajarkan oleh Riki. Saat pertama kali bermain, Riki bahkan harus menunggunya di kamar Evans, karena Evans akan melihat sebentar di dalam game. Setelah itu, dia akan keluar dan menceritakan pengalaman pertamanya memasuki Sky Legend.
Namun, tiga jam berlalu ketika Evans berada di dalam game. Evans begitu senang berada di dalam Sky Legend. Dia menemukan dunianya, dunia yang diimpikan untuk berada di alam liar dan bermain di tempat terbuka. bahkan, untuk pertama kalinya, Evans bahkan tidak berburu dan hanya berjalan-jalan di hutan, melihat semua pemandangan. Dan, dia lupa kalau Riki menunggu dirinya di kamar. Menunggu tabung game.
Dan, akhirnya Evans pun keluar dari kapsul game. Dia melihat Riki masih menunggunya di kamarnya. Sejak itu, Evans sangat berhutang budi pada Riki, dan selalu menjadi temannya. Mereka juga bermain game bersama pada awal-awalnya. Hingga, Evans harus bermain sendiri karena Riki lebih mengutamakan berburu dan mencari kristal untuk dijual dan bukan menaikkan levelnya.
Persahabatan keduanya sangat erat, bahkan Evans sering datang ke rumah Riki ketika masih di kontrakan, dan memberi uang pada Ibunya Riki. Riki selalu menolaknya, tapi Evans selalu meninggalkan uang di rumah kontrakan Riki.
Riki selalu mengatakan pada Evans, cita-cita Riki sejak awal menjadi legenda di dalam Sky Legend. Hanya karena sibuk mencari uang untuk keluarganya yang miskin, Riki tidak pernah menambah levelnya dan hanya mencari uang untuk keluarganya. Evans selalu mengatakan bahwa Riki adalah legenda, dia yakin suatu hari Riki akan menjadi legenda, dan dia tidak boleh putus asa.
Mereka selalu bersahabat, Riki sendiri tidak memiliki sahabat dan hanya Evans yang selalu bersamanya. Di saat banyak temannya membully Riki karena miskin, Evans selalu membela Riki. Di sisi lain juga, Riki selalu membantu Evans saat menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Mereka teman akrab dan kali ini, Evans harus datang sendiri ke Rumah Sakit dan menampar Riki.
***
”Kamu adalah harapan bagi bencana ini! Kenapa kamu tidak bertarung!” teriak Evans marah di depan ruang ICU. Evans mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dia berdiri dan terlihat kesal. Dia lalu membelakangi Riki yang masih duduk, napasnya naik turun.
Riki merasakan sakit karena tamparan Evans cukup keras.
”Apa yang bisa aku lakukan, Evans? Tidak ada, aku hanya player biasa. Aku memiliki Ibu yang harus aku lindungi, aku tidak punya kekuatan lagi, Evans,” suara Riki terlihat lemah. Dia seperti sudah tidak memiliki semangat untuk bertarung.
”Apa maksudmu, Riki!” Evans mendekati dinding dan memukulkan tangannya ke dinding tersebut. Dia terlihat sangat kesal, ”Aku tahu bahwa kamu pasti tidak masuk ke dalam Sky Legend. Maka, aku memutuskan untuk tidak ikut masuk juga. Aku sudah berjanji untuk membuatmu memasuki game. Dunia sekarang dalam bahaya, Riki! Dunia membutuhkanmu. Aku tahu sejak awal, kamulah legenda Riki yang sebenarnya. Jadi, kamu harus bangkit, Riki! Maju dan kalahkan Guratin itu!”
Evans berbalik dan memegang kedua pundak Riki, saat itu Sendi duduk di kursi yang lain, melihat kakaknya sedang berbicara pada Evans. Sendi tahu bahwa Evans adalah teman baik kakaknya.
”Kamu harus menyelamatkan dunia ini, Riki!” suara Evans tegas dan perlahan. Dia mulai menekan emosinya. Kali ini, dia harus bisa membuat Riki bangkit dari keterpurukannya. Dia tahu, sejak kematian Suci dan juga ibunya yang sakit. Semangat Riki hancur, tapi dia adalah legenda yang sedang ditunggu.
Evans bertahan untuk tidak ikut masuk ke dalam Sky Legend dan melakukan upgrade. Dia tahu, peluangnya ada pada Riki. Dia yang mempercayai Riki selama ini. Riki harus masuk ke dalam game dan bertarung melawan Guratin.
”Kondisi sekarang sudah sangat kacau Riki, kamu bisa melihat dari tayangan yang ada. Guratin membuat kita bisa mengakses apa yang terjadi di dalam Sky Legend. Dan, dia akan menguasai segalanya bahkan dia akan menuju ke bumi kita. Sudah banyak player yang terbunuh di sana, Riki!”
Riki masih diam saja, meskipun Evans mengguncang kedua bahu Riki cukup keras.
”Aku sudah kehilangan kekuatanku, Evans. Aku kehilangan senjataku, tanpa senjataku aku tidak memiliki keahlian!”
”Senjata?” Evans mengernyitkan dahinya, dia penasaran apa yang akan dijelaskan Riki kali ini.
”Kamu harus tahu, Evans,” Riki berdiri dan melewati Evans, ”Selama ini, aku mendapatkan senjata Tombak Halilintar dengan rank item senjata adalah legendary. Aku mampu menjadi kuat karena senjata tombak tersebut. Dia menuntunku hingga mencapai level tinggi dan kemampuan hebat seperti sekarang. Dan sekarang, dia telah pergi karena dia adalah senjata ego yang ditanamkan kecerdasan buatan.”
”Senjata dengan kemampuan kecerdasan buatan?”
”Benar Evans, itulah kunci kenapa aku bisa menjadi sangat kuat. Aku mendapatkan senjata random, saat kita memasuki dungeon fire dragon waktu itu.”
Evans mulai berpikir, bahwa tidak mungkin Riki berbohong. Dia sudah mengakui bahwa dia maju dan berkembang selama ini, karena item senjata legendary.
”Tidak Riki! Aku sudah mengenalmu lebih lama dari siapapun. Bahkan, dari senjata item legendary itu. Aku tahu, kamu memang memiliki sikap dan skill yang kuat meskipun tanpa senjata itu. Jadi, kamu adalah harapan kita semua. Kamu harus bergerak Riki, bumi dalam bahaya kehancuran sekarang!”
”Apa yang dikatakan Kak Evans memang benar, Kakak,” suara Sendi yang kini melihat ke arah Riki, ”Kakak adalah segalanya bagi keluarga, tapi dunia saat ini sedang membutuhkan kakak. Jangan khawatir. Ibu, akan aku jaga dengan nyawaku. Kakak harus pergi dan bertarung melawan musuh terkuat!”
Riki tak bisa berkata apa-apa lagi, dia menatap bergantian pada Evans dan Sendi.
”Masalahnya, aku tak bisa memasuki game saat ini. Semua sistem pada kapsul sudah diblokir!” Riki tahu hal itu karena mendapatkan peringatan dari sistem, yang dibawanya hingga ke dunia nyata.
[Sistem game memblokir player yang tidak melakukan upgrade memasuki game]
”Kamu tidak boleh menyerah, Riki!” suara itu datang dari arah lain. Itu adalah dokter Prilly atau nyonya Prilly.
”Kamu hanya perlu mencoba, di Rumah Sakit ini, ada beberapa kapsul game yang tidak dimainkan. Hal itu karena player yang memasukinya adalah manusia yang sedang sakit, dan dia melakukan perawatan sehingga tidak bisa upgrade.”
Setidaknya, kata nyonya Prilly. Riki harus mencoba, bisa atau tidak itu bukan lagi manusia yang memutuskannya.
Riki pun mengangguk.
”Aku akan mengantarmu ke beberapa kapsul game di Rumah Sakit ini.”
Riki meminta Sendi menjaga Ibu. Dia pun diantar Evans dan mengikuti nyonya Prilly yang memandu mereka.
Riki memantapkan niatnya setelah sebelumnya berpamitan pada sang ibu, yang masih belum sadarkan diri. Apakah, dia akan berhasil memasuki game? Riki pun sudah bersiap dengan apapun yang akan terjadi.