Legenda Tombak Halilintar
Raid Bersama Dark Shadow, Sky Lord
Riki berada di kampus lebih awal, persiapan akhir kuliah juga sudah dilakukannya. Dia ingin menyelesaikan administrasi kuliahnya. Setelah selesai melakukan administrasi dan juga berkas pengajuan tugas akhir, Riki kembali ke kelas. Hari ini ada jadwal kuliah metodologi penelitian.
Saat berada di kelas, Evans terlihat baru datang.
”Halo Riki!” suara Evans sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia baru saja datang, dan melihat Riki sudah duduk di kursi kelasnya.
Evans segera duduk di kursinya di samping Riki, ”Kamu tahu sekarang aku level berapa? Aku sangat senang karena aku telah naik level lebih cepat, seperti mengikuti saranmu. Aku tidak lagi menggunakan kristal darkness, tapi aku fokus pada pelatihan di dunia nyata.”
”Benarkah?” tanya Riki antusias. Saran dari Riki tempo hari untuk meningkatkan kemampuan fisik di dunia nyata, karena itu akan mempercepat kekuatannya di dalam game.
”Aku telah mencapai level 72, itu luar biasa, Riki!” wajah Evans terlihat sangat bangga.
”Kamu hebat, Evans. Itu baru Evans yang aku kenal, Evans yang selalu semangat!”
Evans fokus pada kekuatan fisik di dunia nyata, dia juga fokus ke permainan. Dia konsentrasi penuh, untuk meningkatkan kemampuannya di game Sky Legend. Bahkan, dia tak peduli dengan Player lainnya, kecuali melihat berita tentang top rank global. Persiapan lomba turnamen akan menjadi pusat informasinya, dan hanya itu berita yang dia ikuti.
Riki pun tersenyum, dia juga tak memberitahu tentang ranknya saat ini. Hal itu lebih mudah dilakukan, dia bisa menyembunyikan hal itu. Dia ingin memilih leveling di kesunyian, dan akan mencapai puncak dengan berada di kesunyian. Tidak peduli dengan omongan orang ataupun pujian orang lain, dia akan melaju dan menjadi legenda.
[”Temanmu itu terlalu bahagia tentang kenaikan levelnya, mereka orang biasa yang mudah terombang-ambing dalam hasil sementara. Mereka kebanyakan sudah merasa puas dengan pencapaian mereka, padahal di mata yang lain hal itu sangat kecil.”] kata Tombak Halilintar.
Apa yang dikatakan oleh Tombak Halilintar memang benar. Kebanyakan orang memang terpengaruh dengan pujian, sehingga mereka sudah merasa puas akan hasil yang diperolehnya. Namun, Riki tidak mau merusak suasana bahagia Evans. Sebagai teman, Riki ingin menghargainya semata, dan tidak mau menjatuhkannya.
”Jika aku sudah bisa mencapai level 100, aku akan menghasilkan banyak uang Riki. Setelah itu, uangku banyak dan aku akan membeli mobil dan rumah mewahku sendiri!” Evans terus bermimpi., dan memandang ke atap kelasnya.
Riki melihat hal itu, mimpi manusia itu terkadang sangat sederhana. Dia ingin memiliki kemewahan, itu merupakan cita-cita Riki dahulu. Riki sangat ingin membebaskan keluarganya dari lilitan ekonomi. Cukup dengan mendapatkan uang, dan hidup keluarganya terjamin.
Tidak untuk sekarang, ketika sudah mendapatkan uang yang banyak. Riki berpikir berbeda, mimpinya sejak awal bermain Sky Legend. Untuk menjadi legenda. Dan, Riki tidak akan tergoyahkan akan hal itu.
”Kamu sekarang di level berapa Riki” tanya Evans pada akhirnya, tapi dia juga terlihat ragu bertanya hal itu.
Riki diam sejenak, Evans segera tahu dan dia pun takut menyinggung perasaan sahabatnya itu.
”Baiklah, tidak perlu kamu mengatakannya. Pak Dosen sudah datang!” Evans segera mengalihkan pembicaraan. Dia memang lupa bahwa temannya itu hanya mencari kristal, di level berburu rendah. Dia takut menyinggung sahabatnya itu, dia sadar dan melihat pak Dosen sehingga segera mengalihkan pembicaraannya.
Riki segera paham dan tersenyum. Tidak ada yang mengenalnya saat ini, hal itu akan membuatnya bebas bergerak.
Dosen datang dan semua mahasiswa mendengarkan. Nadya dan Ratmi selalu bosan dengan pembicaraan Riki dan Evans, yang kini duduk di belakang mereka. Mereka berdua payah, bahkan kini kedua kedua wanita itu sudah mendekati level 100. Jadi, mereka tak peduli dengan perkataan Evans dan Riki di belakang mereka.
”Oh ya, Riki. Aku sempat mendengar ada salah satu berita, tentang menara yang sudah diselesaikan oleh seorang Player. Dia mendapatkan gelar sebagai Raja Menara.”
Riki melihat ke arah Evans, apakah temannya itu tahu tentang dirinya?
”Aku sekilas mendengar berita terbaru dari chat yang ramai beredar. Sosok Player yang menyelesaikan menara itu memakai tombak yang kuat. Namanya bahkan sama denganmu, Riki. Ha.. ha.. ha.., aku ingat kalau kamu memakai akun Penghancur Semesta. Aku sempat mengira itu adalah kamu. Jadi, lupakan itu. Beruntungnya Player itu, pasti dia akan menjadi sosok kuat di masa depan dunia Sky Legend!”
Evans mengalihkan pandangannya kembali ke Dosen di depan kelas. Riki yang dia tahu memakai pedang, dan betapa banyak nama Riki di dunia ini.
”Tapi ..., Riki. Ada juga Top Player Indonesia, yang kini sedang menjadi kandidat di Turnamen seluruh kota. Mereka adalah ...!”
”Diam Evans! Kamu selalu berisik, apa kamu mau keluar kelas sekarang!” kata Dosen yang sudah tak sabar melihat keributan Evans.
”Maaf Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi!”
Evans langsung diam, dan segera tak berkutik. Dia menghadap ke depan, dan tak lagi menengok ke arah Riki. Riki pun demikian. Mereka akan meneruskannya nanti, pak Dosen sedang marah sekarang!
***
”Jadi ..., apa keputusanmu, Riki?” tanya wanita berkerudung biru. Dia adalah Suci, wanita yang baru saja meminta Riki untuk bicara sebentar di kantin kampusnya.
Riki menaruh jus jeruknya, menggeser ke tengah meja. Dia bersiap menjelaskan apa yang sudah diputuskan oleh dirinya, dan juga Ibunya.
”Aku setuju untuk menikah, tapi ...,”
”Tidak masalah!” Suci memutus penjelasan Riki, ”Kita hanya menikah, dan kamu berhak untuk melakukan apapun. Bahkan, jika kamu harus mengkhianatiku, ataupun kamu mencintai wanita lain. Aku hanya ingin lepas dari Bibiku.”
”Bukan begitu ..., tapi setidaknya kita harus saling mengenal dulu.”
”Baiklah kalau begitu, kita akan bertemu dalam game nanti. Aku akan menemanimu leveling!”
Riki tak bisa berkata apa-apa lagi. Hal itu karena Suci langsung pergi meninggalkan Riki, lalu Suci berpamitan undur diri. Dia berhenti sejenak dan mengucapkan terima kasih untuk bantuannya. Selanjutnya, Riki akan ditunggu datang ke rumahnya untuk melamar.
Riki pun hanya bisa memandangi perginya wanita itu. Entah apa yang menjadi keputusannya ini tepat atau tidak. Namun, dia melihat bahwa wanita itu juga memiliki sesuatu yang unik dan dia terlihat tegar. Dia hanya seorang diri, ditinggalkan orangtuanya. Dan, Riki merasa kasihan padanya.
Selain itu, wanita itu sebenarnya sangat cantik. Entahlah, Riki hanya mengikuti kata hatinya.
***
”Kamu sudah tidak waras, Riki!” teriak Dark Shadow yang kaget dengan keputusan Riki. Dia hendak memasuki Dungeon tersembunyi, yang belum pernah diselesaikan oleh Player manapun. Dungeon Sky Lord.
Awalnya, Dark Shadow atau Suci hanya ingin menemani Riki untuk leveling. Dia menyanggupi syarat Riki untuk saling mengenal lebih dulu. Nyatanya, dia dibawa ke dungeon yang menakutkan dan belum pernah diselesaikan oleh Player manapun.
”Apa kamu mau menyerahkan nyawa begitu saja?” Dark Shadow tampak khawatir, dua pedangnya masih di belakang punggungnya.
Riki tersenyum, ”Jika kamu takut, pulanglah! Aku akan masuk sendiri,” Riki mencoba melakukan penekanan pada Suci. Di dalam Game, semua hal menjadi mungkin dan dia akan menunjukkan karakternya. Jika Suci melihat bahaya, maka mungkin dia akan khawatir pada Riki, atau bahkan mundur setelah tahu tujuannya.
”Baiklah, Aku ikut! Sudah lama rasanya aku ingin masuk dungeon mengerikan ini. Hanya saja, selama ini aku hanya sibuk leveling. Aku akan masuk, hadiah dan item di dalamnya kita bagi rata!”
”Tentu saja!” Riki masuk dan tersenyum. Dark Shadow mengikuti Riki, mereka memasuki sebuah gerbang yang tertulis Sky Lord. Dungeon itu selalu terbuka, siapa saja Player bisa memasukinya jika levelnya di atas 100.
Sayangnya, apa yang ada di dalamnya tersembunyi. Dan, belum pernah ada seorang Player pun yang memasukinya, kemudian dapat menyelesaikannya.
Apa yang akan terjadi pada Riki dan Dark Shadow di dalam Sky Lord. Terlepas dari itu semua, Tombak Halilintar merasa sangat senang. Dia bisa menemukan sesuatu yang dirasakan itu bagian darinya. Bagian dari serpihan kekuatannya.
Ini adalah waktu yang sudah dinantikannya. Akhirnya ... dia akan mendapatkan kekuatan jarum keempatnya! Tombak Halilintar sangat menantikan itu, kekuatan keempat sudah dekat!