Liburan di Dunia Fantasi

Mentor Untuk Daisy

Unsur air yang dikendalikan Daisy menimbulkan gelombang tandingan tetapi tetap tak mampu membendung gelombang besar itu. Kapal yang ditumpangi tetap saja hanyut dan ia ikut terseret arus. Pengendalian unsur air tak bisa dihentikan meskipun kedua tangan memegang pagar pembatas. Gelombang lebih besar terjadi, kapal terlempar tinggi di angkasa.

Kapal mendapat dalam keadaan terbalik di sebuah tempat nan sepi tanpa vegetasi yang menghiasi alam sekitar. Daisy merambat keluar dari reruntuhan itu. Pakaian yang terkena debu dibersihkan, ia bergegas mencari kru kapal. “Om, Tante!”

“Kami ada di sini.” beberapa kru kapal datang kapada gadis kecil itu.

“Syukurlah.” Daisy mengurungkan niatnya untuk mendekat pada kru kapal setelah melihat tubuh mereka berubah menjadi naga seukuran dengan manusia dewasa. “Naga? Tidak!” Ia menggerakkan kedua tangan untuk mengendalikan unsur air yang ada di sana. Sayang, tiada apapun yang bisa digunakan untuk melindungi diri.

Sesuatu yang ditakuti Daisy malah mendekat dan membentuk sebuah lingkaran. Ia tak tahu lagi harus bagaimana dan lari kemana, terutama setelah seekor naga memegang kedua tangannya.

“Daisy, kemarilah Sayang. Jadilah makananku,” kata seekor naga.

“Gak, jangan makan akyu!” teriaknya sekencang mungkin.

Satu per satu naga menghilang dari pandangan gadis itu. Kegelapan pun menyelubungi area di sekitar sana sesaat sebelum suara memanggil namanya terdengar samar. “Sy, bangun!”

Daisy membuka kedua mata dan baru sadar jika itu hanya bunga tidur saja. Ia kembali terkejut ketika melihat wajah menyeramkan di depannya. Sayang, tiada apapun yang bisa digunakan untuk membela diri.

“Sy, lihatnya sekitarmu,” tunjuk kepala keluarga narasega ke dinding rumah yang basah.

“Paan nih?” Kelapa Daisy terasa sedikit pusing akibat bangun secara mendadak.

“Semalam hujan deras, kamarmu bocor. Kamu mengendalikan air sambil tidur. Sebab itulah aku memegangmu agar tak parah.” Sang ibu narasega melepaskan genggamannya dari kedua tangan Daisy dan pergi dari tempat yang basah itu.

“Akyu minta maaf. Nanti biar akyu beresin.” Daisy membungkukkan tubuh ke hadapan narasega.

“Syukurlah kalau kau sudah sadar.” Sang pemilik rumah membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu.

Huh, Daisy menghela nafas beberapa saat. Namun ia merasa bersalah telah membuat tempat itu menjadi basah. Kedua tangan bergerak ke depan, luka bekas cakar yang terukir di dekat pergelangan sebagai sebuah peringatan baginya. Tangan kiri menyentuh ranjang, sejumlah energi disalurkan. Tarian jemari nan indah menyedor cairan yang terdapat pada benda itu. Ranjang pun menjadi kering seketika.

Diasy tak hanya membersihkan air di ranjang saja tetapi juga yang ada di dinding dan lantai. Segala air yang tertarik pada aura yang dikeluarkan dibuang ke luar melalui sebuah jendela. Beruntung tak ada aroma sisa air seni. Ia juga merapikan menata ranjang sehingga tampak tersusun rapi. Lak lupa beberapa benda lain disusun ulang.

Ibu dari narasega kembali lagi dengan membawa kain kering. Namun dia tak jadi mengelap bagian yang basah. “Sy, apa ini?” tanyanya.

“Kata Tante akyu kudu beresin kacauan yang akyu buat ndiri. Pi, gak ada sapu. Maaf.” Daisy berhenti menata sisa barang yang tak sempat disusun ulang. Tubuh kembali dirundukkan kepada sang pemilik rumah.

“Gak papa. Mari kita bersihkan bersama.”

Mentari telah terbit dari ufuk sebelah timur. Daisy meninggalkan kediaman bersama sang kepala keluarga Garis. Mereka mengayunkan kaki menuju melewati pepohonan yang tinggi menjulang ke langit. Tanah sisa rutinitas air langit tak menghalangi perjalanan mereka di bawah tarian makhluk penerbang kecil yang menyambut dengan penuh kehangatan di pagi itu.

“Sy, apakah di tempatmu ada yang bisa menggunakan aura unsur?” tanya Garis saat bermanuver di sebuah pohon.

“Gak tau,” jawab Daisy.

“Hmmm.” Sebuah aroma makhluk lain sampai pada sensor pendeteksi aroma narasega. Garis mempersiapkan cakar pada kedua tangan. “Darimana kamu berlajar itu? Istriku saja sampai kewalahan menghadapimu?” tolehnya pada gadis manusia. Sensor pendeteksi suara bersiaga jika ada serangan mendadak.

“Jadi nih,” Daisy memandangi luka cakar pada kedua lengan.

“Istriku gak sengaja mengeluarkan cakar. Maafkan kami semua.”

“Akyu yang minta maaf. Sebab akyu yang nyebabin nih semua.”

Aroma daging panggang kembali tercium walaupun mereka masih butuh waktu lima belas menit berjalan. Garis tak lagi memasang cakar dan sifat waspada. Pendeteksi sensor suara juga sudah seperti biasa. Sikap kewaspadaan pun turun seketika.

Belasan menit telah mereka lalui di dalam hutan dengan lantai tak rata. Asap pembakaran mulai terlihat jelas seiring dengan aroma selayak sate yang bisa sampai pada deteksi aroma gadis kecil. Mereka mempercepat langkah kaki di atas tanah berseling akar yang muncul di permukaan. Terlihat seorang kakek sedang membakar ikan besar.

“Hah, ikan makan ikan?” Mulut Daisy terbuka lebar melihat minagiri sedang membakar ikan besar.

“Hush, jangan sembarangan. Beliau salah satu orang penting di sini. Beliau seorang pengguna aura unsur air dari minagiri.” Tangan kiri Garis menutup mulut Dasiy, sedangkan tangan kanan memberikan sebuah tanda kehormatan. Tak lupa dia menyuruh Daisy membentuh sebuah simbol penghormatan dengan kedua tangan

“Kalian, ayo ke sini.” Gusti sang kakek minagiri melambaikan tangan kiri sebelum berdiri dan memberikan penghormatan cara Daisy.

Garis menarik tangan Daisy secara lembut mendekat pada sang kakek. “Mengapa Anda memberikan penghormatan seperti itu?” tanya Garis.

“Sebab engkaulah yang memulai. Mari kita makan dahulu.” Formasi penghormatan dilepaskan, sang kakek memamerkan ikan bakar.

Daisy hendak maju ikut menyantap makanan beraoma sedap itu. Namun ia tertahan oleh tangan sang narasega. Gadis kecil itu berhenti walau mata tak bisa menghindar dari makanan yang lezat itu.

“Terima kasih, kami sudah makan,” kata Garis.

Gadis kecil itu sebenarnya menyesal tidak bisa menikmati salah satu makanan kegemaran yang sering diberikan oleh keluarganya. Namun ia menahan itu demi menjaga kehormatan walaupun mulut tak bisa menahan lagi pandangan yang begitu sedap.

Sisa dari ikan panggang dimasukkan ke dalam api yang masih membara sebelum sang kakek mengendalikan air untuk memadamkan sumber panas itu. Kaki berbentuk seperti itik menjejak pada tanah yang belum kering terguyur tetesan air langit. Dia mengajak kedua orang itu berjalan melewati vegetasi yang menakjubkan.

Tempat yang dituju Daisy tak seperti yang diberitahukan Rikma sebelumnya. Ia berjalan jauh menelusuri sungai di dekat pepohonan besar. Di sanalah terdapat beberapa makhluk kecil yang sedang menari di atas air. Tangan kanan dicelupkan pada tepi sungai, segenap energi disalurkan. Namun dia tak berhasil mengendalikan air. Ternyata sang kakek yang menghentikan aliran energi itu.

“Nak, jangan lakukan itu. Tidak baik mengganggu orang lain,” nasehat sang kakek.

“Pa salah? Akyu cuma main-main aja,” Daisy menoleh pada minagiri berwarna merah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!