Liburan di Dunia Fantasi
Kehangatan Archid
“Di sanalah tempat tinggal byaka, musuh bebuyutan kami. Pokoknya jangan ke sana,” larang Masura.
“Ok, akyu nurut amu aja,” Utari berjalan mendekat pada Masura. Langkahnya semakin cepat ketika melihat lubang bercahaya.
Rombongan archid terlebih dahulu keluar dari terowongan tanah. Mereka berbaris rapi menyambut kehadiran manusia yang dikenalnya melalui sebuah dongeng. Tak sedikit dari mereka yang mendekat karena merasa kagum sekaligus penasaran.
Utari menerunkan si anak, Zain. Lelaki kecil itu langsung bergabung dengan kerumunan archid walaupun langkah kaki masih belum sempurna. Seorang archid diangkatnya dengan senang hati. Bobot yang tak terlalu berat membuatnya mudah membawa makhluk tersebut meskipun telah ditambah beberapa makhluk kecil yang sejenis. Ia pun tertawa riang hingga lupa akan rasa sakitnya.
“Kakak namanya siapa?” tanya si archid berbulu tiga warna yang memiliki pola sama tetapi menggunakan pakaian yang berbeda.
“Nama akyu Zain. Akyu anak manusia,” jawab Zain.
“Nama yang gak biasa tapi ganteng. Oh, aku suka,” puji seorang anak perempuan archid.
Kedua tangan Zain ditarik para archid kecil yang mengagunminya. Ia pun mereka permintaan mereka yang mana mereka juga mengarah pada tempat yang sama dengan sang ibunda. Sayang, luka dikakinya kembali kambuh sehingga membuatnya terjatuh hanya karena menginjak sebuah benda kecil. Luka pun menyentuh tanah yang keras. “Hu!” tangisnya yang membuat para archid kecil ketakutan.
“Sayang, amu gapapa.” Utari berlari ke tempat si anak terkapar tetapi harus berhati-hati agar tidak menginjak makhluk kecil di sana. “Minggir!” teriaknya.
Masura ikut turun tangan bersama dengan beberapa archid dewasa mengamankan anak-anak yang berkeliaran.
Jalanan telah aman, Utari bebas melangkahkan kaki ke tempat si kecil tak tak bisa bangun. Ia langsung mendirikan anak itu dan membersihkan tubuh yang terkena kotoran. “Ada dokter atau dukun di mari?” tanyanya sambil memandangi makhluk dengan tinggi tak sampai sepertiga tinggi sang ibu itu.
Para archid menoleh satu sama lain karena kebingunan dengan apa yang dibicarakan Utari. Mereka pun saling berbisik sehingga tempat itu menjadi ramai seperti pasar.
“Apa tuh? Buat apa pula?” tanya Masura mewakili archid di sana.
“Dokter atau dukun tuh yang ngobatin orang luka. Ada gak di mari?” Utari mengangkat si anak setinggi dadanya.
“Maaf, kami gak butuh itu. Kami bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu atauu dua hari,” kata Masura. Archid yang lain pun membenarkan perkataan itu.
“Gapapa, akyu bisa ndiri. Izin pinjam rumahnya.”
Tempat tinggal para archid tak seperti yang dibayangkan Utari maupun Zain. Memang ada bangunan di sana dengan ketinggian lebih dari lima meter. Namun, pintunya hanya muat untuk archid berdiri. Terlebih lagi ruang di sana terlalu sempit untuk dimasuki manusia dewasa.
“Hmmm, akyu ama Zain tinggal di gua aja. Maaf jika nyakitin ati kalian.” Utari berbalik arah menuju ke terowongan.
“Itu akses umum bagi archid.” Masura berlari mendahului Utari tetapi tidak bisa menghentikan laju wanita dewasa itu.
“Gapapa, yang penting sedikit aman dari angin malam,” Utari menghindapi setiap archid yang menghadangnya.
Sang ibunda Zain membaringkan tubuh si kecil pada tepi terowongan. Dia pergi mengambil beberapa lembar dedaunan untuk ditempelkan pada tubuh Zain. Beberapa tangkai daun besar disatukan menjdai sebuah sapu guna membersihkan area di sekitar sana.
“Bu, bolehkah kami membantu membersihkan tempat ini?” pinta gadis archid setinggi enam belas inchi.
“Makasih, pi akyu bisa ndiri.” Utari mengarahkan sapu ke tempat lain. Dikarenakan terlalu banyak archid di sana, dia pun mengurungkan diri. Ikatan pada sapu dibuka, tangkainya diberikan pada setiap archid.
Tak hanya dibantu kebersihan lokasi saja, Zain juga ditempatkan di atas lembaran daun yang disusun rapi. Lelaki kecil itu juga mendapatkan berbagai jenis makanan dengan ukuran kecil tetapi sangat nikmat. Ia terus makan hingga hampir melahap archid terdekat.
“Hai, kamu bisa mengigitku,” protes archid kecil.
“Sorry, amu gak keliatan sih,” alasan Zain.
Tak hanya makanan saja yang diberikan oleh para anak archid. Makhluk berukuran kecil tersebut membawakan beberapa benda yang terlihat seperti bola. Benda itu diletakkan pada tangan si anak manusia. Jumlah tak muat dalam sebuah genggaman.
“Paan nih?” tanya Zain.
“Bola Kak, ayo kita main,” ajak archid setinggi jengkal orang dewasa.
“Akyu gak bisa main. Kaki akyu masih akit,” tolak Zain.
“Yah, gak bisa main. Gimana dong?” tanya si archid terkecil.
“jangan khawatir, Dik. Kita main dulu, biar Kakak manusia tahu aturan mainnya.” Archid berbulu hitam merangkul archid terkecil. Bola yang berada di dekat Zain diambil.
Permainan bola antar archid ternyata berbeda dengan apa yang pernah dimainkan Zain. Aturan tak biasa serta cara main yang berbeda membuat anak manusia itu butuh mempelajaran ekstra agar bisa memahaminya. Namun ia bisa menikmati permainan itu walaupun tak ikut terlihat secara langsung.
Mentari elah masuk ke dunia sebelah barat. Kegelapan pun memenuhi langit bertabur bintang. Angin dingin ikut berhembus di saat itu. Sesuatu yang telah dihitung Utari ternyata salah. Hanya dingin masih menyentuh dirinya dan si anak. Lembaran daun yang dikumpulkan tak cukup untuk menahan segala gerakan udara dingin.
Pandangan mata mengarah ke anak yang menggigil. Tiada rasa tega ibu terhadap si anak. Dia melepaskan lembaran daun diselimutkan pada Zain. Sayang, angin malam menerbangkan lembaran daun yang sudah mengering. Utari berusaha mengejarnya tetapi terhalang pandangan mata. Tiada satu benda pun yang bisa dilihatnya. Dia pun kembali ke tempat si anak dan hendak melepaskan pakaian luar.
“Maaf mengganggu, kami hanya mau berikan ini.” Seorang archid menyodorkan sebuah kain.
Tangan Utari menutupkan ujung baju sehingga pakaiannya menjadi rapi. Tangan kanan mengambil kain yang diberikan archid dan diletakkan pada kaki si buah hati. Hanya bagian dada yang bisa ditutupi kain selebar setengah meter itu.
“Wah, masih kurang besar. Bentar, aku ambilkan lagi,” si ibu archid berbalik arah.
“Tidak perlu. Kita yang akan bantu.” para archid lain datang ke tempat Utari dengan membawakan lembaran selimut. Mereka segera menaruh pada tubuh anak manusia yang sudah mulai menggigil.
Malam semakin larut, angin pun semakin kencang. Utari dan para archid mengumpulkan ranting dan membawanya ke dalam terowongan yang sekitarnya angin tak bisa masuk dengan mudah. Tumpukan kayu tersebut dibakar sebagai sumber panas sekaligus sumber cahaya. Di sanalah mereka berkumpul sambil membakar beberapa jenis serangga.
“Baru kali ini aku bisa merasakan kehangatan seperti ini. Apakah setiap malam manusia melakukan ini?” Masura mengambil daging serangga yang telah matang dan diberikan kepada Utari.
“Terima kasih sebelumnya. Apakah ini tidak beracun?” tanya Utari.