Liburan di Dunia Fantasi

Balapan Air

Byaka, makhluk yang mengamati Daisy kembali ke tempat para nara lain dan berkata, “Ciri-cirnya persis seperti yang diceritakan ibuku. Sebenarnya aku harus memangsanya,” katanya.

“Maron, ingatlah akan perdamaian antar nara,” kata nara bersayap kuning kecoklatan.

“Ya, aku ingat itu. Kita bertanding secara adil. Gunakan segala yang kau bisa tetapi tidak boleh menyerang yang lain. Setuju?” tanya Maron.

“Setuju,”

“Eh, aturannya gimana? Akyu gak tahu, hehehe,” tawa kecil Daisy sambil menaruh tangan kiri di belakang kepalanya.

“Ikut saja aliran sungai ini dan ambil buah berwarna merah menyala. Abis itu kembali melalui tikungan sebelah kanan dan menang,” jelas si baskara wanita.

Tiada perkenalan antar nara, mereka langsung bersiap ke tepi sungai. Alat tradisional bagi serupa papan berada telah diinjak bagi nara darat sepenuhnya. Sejumlah energi pun disalurkan pada telah anggota gerak masing-masing. Mereka telah siap dengan aura unsur yang dikuasai, perlombaan pun dimulai sesaat setelah sebuah petir menyambar di udara.

Daisy yang paling akhir bisa melaju di atas sungai dikarena ia yang paling akhir bisa mengumpulkan aura dan mengendalikan air. Gerakan tangan berputar menjadi sebuah andalan selama ini. Kecepatan yang tinggi belum terbiasa oleh gadis manusia itu. Beberapa kali ia kesulitan untuk berbelok di tikungan yang sempit. Terlebih lagi beberapa nara menaikkan air sehingga memberikan rintangan tersendiri.

Es yang tiba-tiba menghadang yang bisa lagi dihindari lagi oleh Daisy. Sebuah benturan keras pun terjadi. Ia kehilangan konsentrasi dan masuk ke dalam aliran di sungai.

Di bawah air, Daisy menemukan seekor hewan mirip ular yang berliuk di sela es ciptaan naya yang sedang beradu kecepatan. Ide pun segera diterapkan. Ia mengendalikan air sehingga membentuk sebuah selubung udara yang memiliki bentuk seperti ular. Yang sangat disayangkan kecepatan yang dihasilkan tak sesuai dengan yang diharapkan. Daisy berpikir ulang untuk kembali mengikuti pertandingan.

Ikan terbang menjadi sebuah makanan yang sangat diharapkan Daisy entah kenapa ada di sana walaupun dalam wujud yang berbeda. Sebuah ide pun tercetuskan. Kaki yang selama ini hanya digunakan untuk berjalan di atas air dimasukkan aura yang lebih banyak daripada tangan. Daisy melepaskan aura itu, ia pun terlempar tinggi di angkasa.

Di ketinggian itu, Daisy bisa melihat betapa jauhnya ia dengan peserta yang lain. Tubuhnya jatuh dengan kecepatan tinggi, ia segera mengumpulkan air. Gadis itu jatuh dengan keadaan aman di dalam gelembung air.

Cara yang biasa digunakan tangan kini diterapkan pada kedua kaki. Dua pusaran air yang ditimbulkan bersatu menjadi sebuah pusaran air yang mendorong kedua telapak kaki melaju ke depan. Daisy mendorong tubuhnya hingga seikit di permukaan air. Kedua tangan dilebarkan sebagai bentuk keseimbangan.

Sebuah pohon menjadi sebuah rintangan bagi peserta lomba di dalam air tersebut. Daisy dengan mudah menghidarinya. Bongkahan es berada di depan mata tak menjadi sebuah penghalang yang berarti. Gadis itu menggunakan air sebagai alat berbelok secara otomatis.

Daisy menjumpai jalan buntu. Namun gadis itu tak mundur sama sekali. Aliran air mendorongnya hingga sampai ke atas bongkahan es. Ia kembali melaju dengan memanfaatkan air beku itu. Kecepatan yang dihasilkan pun sangat tinggi walaupun energi yang dikeluarkan lebih kecil. Ia segera menyusul ke peserta yang lain.

Bongkahan es telah berakhir, rupanya di sana terdapat air terjun sehingga seratus kilometr. Daisy tak gentar akan hal itu. Justru ia menemabah kecepatan untuk turun.

“Byur,” Tubuh anak manusia masuk hingga menyentuh dasar sungai berbatu cahaya. Pusaran air kembali dibentuk dengan ukuran yang lebih kecil tetapi lebih efektif. Ia seolah bisa terbang di atas sungai walaupun sebagian tubuhnya masih menyentuh jalur air itu.

Duyung yang menjadi idaman selama ini telah didekati Daisy. Namun gadis kecil itu belum juga bisa menyusulnya. Aliran udara yang berasal dari makhluk itu menyusahkannya untuk menyalip. Ia memilih untuk memasukkan tubuh ke dalam air.

Pergerakan udara membuahan sebuah gelombang sampai di dalam air/ namun tidak dengan dasar sungai. Gadis manusia itu melaju cepat tanpa hambatana berarti dan langsung melaju mendahului beberapa peserta yang lain. Ia kembali ke permukaan tepat di depan byaka.

“Tak semudah itu, manusia,” Maron sang byaka mengumpulkan angin ke arah Daisy.

Si anak manusia itu tak siap untuk menghindari angin yang dilepaskan byaka dan telampar jauh ke depan. Bahkan ia pun bisa menyalip peserta yang berada paling depan. Sayang, aura air yang dibawanya sambil bertahan tak bisa menghentikan laju tubuhnya. Ia mendapat dengan sebuah gelembung air jauh di belakang pohon yang dimaksud. “Kadal, jangan curang amu!” teriaknya.

Walaupun berada di barisan pali ng depan, ternyata Daisy tak bisa melanjutkan pertandingan. Tenaga yang digunakan terlalu banyak. Ia beristirahat dahulu sambil mengatur napas. Buah yang terdekat segera dimasukkan ke dalam mulut.

Hmmm, kadal itu ngapain main curang? Pa boleh akyu ikutan curang? Gaklah, Om pasti marah. Lum lagi mereka ngirain kalau akyu Dev. Main kaya biasa aja deh. Daisy bangkit dan mengambil buah merah yang menjadi sebuah prasyarat untuk bisa menang.

Benda berbentuk seperti bola ditaruh di dalam bajunya. Daisy hendak kembali melanjtkan lomba tetapi mengurungkan dulu niatnya. Ia lebih memilih mengamati beberapa peserta yang melanjutkan perlomba.

Ia teringat pernah belajar selancar air bersama sang paman. Walaupun waktu itu sangat singkat, tetapi tak bisa dilupakan begitu saja. Gadis kecil itu mengambil selembar daun yang bentuknya memanjang dan kaku seperti papan seluncur.

Apa yang dilakukan Daisy sama sekali tak membuahkan hasil. Pergerakannya malah semakin lamban walaupun tenaga yang dikeluarkan berkurang drastis. Terlebih lagi harus melawan arus. Ia pun merasa kesal dan meluapkan berupa aura unsur air. Sebuah ombak besar terjadi, Daisy terseret dan masuk ke dalam air.

Gadis kecil itu tak mau menyerah walaupun tubuh sudah tenggelam di dalam ombak. Sejumlah energi dikumpulkan pada keempat telapak kaki dan tangan. Aura yang sangat besar pun dihasilkan sehingga menarik air dalam jumlah lebih banyak daripada sebelumnya.

Perkumpulan air yang sangat besar menciptakan tekanan besar sehingga tubuh Daisy terlontar dengan kecepatan tinggi. Ia tak bisa mengendalikan diri walaupun aura di tangan dan kaki bisa membelokkan arah gerak. Sebuah tebing pun ditabrak dan ia kembali masuk ke dalam air.

Kulit kening yang terbuka mengeluarkan cairan tubuh sekaligus memberikan rasa sakit tersendiri. Daisy tak tahan lagi atas apa yang dideritanya. Air mata keluar bersamaan kesedihan yang menyelam sampai ke dasar lautan hati terdalam. Pikiran telah mulai gelap dan tak bisa lagi dikendalikan. “Huhuhu!” tangisnya sambil mengeluarkan aura yang begitu dahsyat.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!