Liburan di Dunia Fantasi

Kompetisi Anak Nara

“Nilai macam gitu udah termasuk tinggi pa lum?” Daisy menoleh ke salah satu tetua, Gusti.

“Iya, karena juri yang dipilih tidak main-main. Penilaiannya obyektif dan seleranya sangat tinggi,” jawab Gusti.

“Hmmm, akyu jadi penasaran,” kata Daisy.

Peserta yang lain memasuki arena kompetisi. Penghormatan diberikan kepada seluruh orang yang hadir di sana. Ia langsung menunjukkan kemahirannya dalam menggunakan aura unsur. Namun hal itu memberikan sebuah kebosanan karena hanya mengandalkan kekuatan tanpa adanya seni sedikit pun. Ia pun mendapatkan nilai yang buruk serta ulasan yang menyayat hati dari para dewan juri.

Peserta lain masuk satu per satu. Mereka mulai menunjukkan kemahiran yang dikuasai dan dipelajari. Namun banyak dari mereka yang mendapatkan ulasan buruk walaupun penampilan dinilai bagus oleh para penonton. Bahkan ada dari peserta yang menangis dan mundur dari kompetesi.

“Peserta berikutnya, ia anak dari manusia. Kita sambut dengan meriah, Daisy!” kata pembawa acara.

Gadis yang berpakai rangkap banyak itu menaruh boneka kembar pada tempat duduknya dan mulai berjalan menjauhi para tetua duduk. Berat pakaian yang dikenakan membuatnya kesulitan untuk berjalan. Daisy menyingsingkan rok panjang untuk memudahkan langkah kakinya. Meski pelan dan banyak mendapatkan sorak para penonton, akhirnya ia sampai ke panggung kompetisi.

Salam penghormatan diberikan kepada seluruh orang yang ada di sana dengan cara yang berbeda. Daisy menempelkan telapak tangan pada lantai panggung. Rasanya benda itu ada yang basah. Ia menyalurkan aura sebanyak mungkin.

Air yang berada di bawah panggung tertarik pada aura yang dikeluarkan Daisy. Alhasil, air bermunculan mengarah ke atas. Tubuh Daisy pun kebasahan akibat hal itu.

Kain pemberat yang basah dimanfaatkan Daisy sebagai jumpai tambahan. Ia menari sambil menggerakkan pakaian serta air yang mengelilingi tubuhnya. Perhiasan yang menyelimuti seluruh tubuh sengaja dipantulkan pada cahaya mentari. Kesan cantik anak manusia itu pun semakin bertambah.

Daisy telah sampai di tepi panggung. Air yang dikendalikan semakin banyak, malah panggung itu seolah akan tenggelam. Ia membentuk sebuah bola air berukuran besar dan digunakan untuk bergerak lebih leluasa di saat rok yang dikenakan tak memberikan langkah yang lebih.

Bola mengecil, Daisy mengalihkan pada aliran air yang mengelilingi tubuh mengikuti setiap jumpai kain basah yang digerakkan dengan aura. Tangan mengarah ke bawah, air pun berkumpul pada bawah tubuh Daisy sehingga tubuh gadis itu terangkat ke atas. Tangan berputar mengelilingi tubuh, jadilah badai kecil di tempat itu. Air di arahkan ke atas, jadilah hujan kecil bermandikan cahaya yang mengakhiri pertunjukan dari anak manusia itu. Daisy memberikan penghormatan kepada semuanya di bawah hujan buatannya sendiri.

Skor tinggi diberikan oleh para dewan juri, kecuali dari byaka. Daisy melompat kegirangan di tengah riuh tepuk tangan para penonton. Lambaian tangan dan senyuman pun diberikan saat ia berjalan ke tepi panggung kompetisi. Rok disingsingkan, ia mempercepat langkah kakinya.

Pertunjukan kemahiran gadis itu dirasakan sudah cukup. Daisy membuang segala air yang masih melekat pada tubuhnya. Ia melangkahkan kaki menuju ke tempat duduk semula. Kedua boneka dipanggung, Daisy merebahkan tubuhnya yang terasa semakin ringan. “Nek, makasih udah dipinjamin baju ini,” ucapnya dengan penuh senyuman.

“Sama-sama, hehehe,” tawa Sukma sedikit gelisah. Dia membuang wajah dari gadis itu. Huh, padahal sudah aku kasih pemberat. Kok malah bocah ini mendapatkan nilai yang bagus. Kalau terus begini usahaku bisa gagal.

Kini, giliran anak narasima yang memasuki panggung. Penghormatan seperti yang lain diberikan kepada semua yang hadir di sana. Namun ia tak mempersiapkan pertunjukan. Tangan kanan berbulu emas itu diangkat ke atas.

“Kau sedang apa?” teriak Sukma.

Sebuah alat mengeras suara dibawakan ke anak yang memiliki ciri fisik seperti singa. “Maafkan saya, Tetua. Bukan maksudku ingin mengundurkan diri tetapi yang dilakukan manusia itu terlalu bagus. Lebih baik mundur saja daripada kalah memalukan,” katanya.

Gusti mengambil mengeras suara dan berkata, “Janganlah mundur hanya karena temanmu bagus. Majulah sebagai prajurit walaupun itu tindakan terakhir. Besemangatlah.”

“Tapi...,” anak narasima menundukkan kepala.

Pengeras suara direbut Sukma. “Hei, cepat lakukan itu atau kamu akan aku hukum!” ancamnya.

Pengeras suara dikembalikan pada pembawa acara. Anak narasima itu mengalukan sebuah pertunjukan walaupun penuh dengan tekanan. Aura yang dikeluarkan tak seimbang, pertunjukan pun berantakan.

Pertunjukan telah usai, para dewan juri memberikan nilai dan ulasan yang buruk. Anak narasima itu menutup wajah yang dipenuhi air mata. Ia berlari menjauhi panggung bersamaan dengan sorak sorai yang menjatuhkan mentalnya.

“Kemarin sok-sokan kuat. Dapat nilai burik langsung nangid. Payah banget amu. Mending Insian aja deh,” komentar Daisy yang duduk di samping Gusti.

“Diam kau!” Sukma menuding Daisy dengan cakar yang tajam. Raut wajah menandakan sebuah ketidaksenangan. Dia menoleh ke kanan dan kiri, pandangan para tetua tertuju padanya. Cakar pun disimpan dan emosi diredam sebisa mungkin.

Bajra si archid yang menjadi penutup kompetisi anak-anak antar nara. Walaupun kecil, ia menjadi pusat perhatian. Gerakan yang lincar dipadukan dengan pancaran cahaya yang berkilau membuat para penonton terkesima. Bahkan Daisy yang dalam dari dunia manusia modern merasakan archid seperti memainkan sesuatu dari teknologi masa depan.

Gerakan makhluk tak sampai setengah meter itu tak hanya di lantai. Ia memanjat sebuah tempat yang digunakan anak lain untuk melakukan pertunjukan. Kedua kaki memancarkan energi listrik hingga daya dorongnya semakin tinggi. Bajra menyeluarkan sejumlah energi listrik hingga membentuk sayap bercahaya yang sangat memukau. Lelaki itu kecil itu seolah bisa terbang di udara.

Pertunjukan dari nara kecil itu mengakhir pertunjukkan dengan mengarahkan aliran petir ke udara. Terbentuklah sebuah tulisan dalam huruf tertentu yang tak bisa dibaca sebagian nara. Penghormatan terakhir pun diberikan kepada semua yang hadir di sana. Ia berjalan seirng tepuk tangan yang meriah walaupun skor yang didapatkan tak lebih tinggi daripada Daisy.

Kompetisi di waktu itu sudah selesai. Para peserta dikumpulkan di tengah panggung pertunjukan di dampingi salah satu wali, kecuali untuk Daisy yang hanya seorang gadis manusia tanpa ada manusia dewasa yang mendampingi. Dia berdiri di sela para peserta yang lain. Gadis itu menoleh ke belakang, ayahnya Rikma memberikan sebuah lambaian tangan.

Hai Sy, aku mendampingi Rikma untuk maju dan menyaksikan memberian gelar juara,” sapa narasima.

Hai Paman, Oomku udah ketemu apa belum?” tanya Daisy.

Belum, manusia itu sulit dicari. Pertunjukanmu sangat bagus. Tak heran jika kamu mendapatkan juara,” pujinya.

Ini gak seberapa kok. Kak Rikma juga bagus,” puji balik Daisy.

Seorang pembawa acara memegang pengeras suara berjalan ke hadapan para peserta lomba. Di tangan yang lain terdapat sebuah kertas catatan kecil dengan huruf yang tak semua nara bisa membacanya. Dia menghdapa ke para penonton sambil berkata, “Terima kasih sudah berusaha mengikuti pertandingan ini. Meskipun berat, saya apresiasi atas pencapaian tertinggi yang telah kalian buat. Jangan kecewa walaupun tidak memang. Kalianlah yang akan menjadi penjaga perdamaian di pulau ini. Namun pemenang pertandingan tetap satu. Pemenang pertandingan untuk musim ini adalah....”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!