Liburan di Dunia Fantasi

Akibat Kecurangan 2

Kerumuhan para pengguna aura unsur membuat Daisy kembali marah. Gadis itu mengumpulkan tenaga pada kedua telapak tangan sehingga air tersedot ke sana. Namun niat itu yang jadi dilaksanakan karena sang paman memegang tangan gadis itu.

“Sayang, gak semua bisa selesai ama kekuatan aja. Biarin Om yang nyelesaiin ini,” Centarian menatap iris mata Daisy yang sudah berubah menjadi merah.

“ Pi...,” Daisy menatap balik sang paman.

“Gapapa, Sayang.” Centarian menyentuh kening Daisy dengan ujung jari telunjuk kanan. Dia menurunkan jari hingga sampai ke mulut manis si keponakan. Lelaki itu menjauhkan jari dan berbalik arah ke para nara yang menyerangnya. Tubuh keponakan disimpan di balik tubunya sendiri. “Dengar semua, kita selesaiin nih cara biasa. Sy, simpan kekuatan amu,” imbuhnya.

Daisy mematikan sumber aura unsur. Gelombang air pun sirna.

“Enak aja, kalah jumlah tinggal bilang nyerah biar diampuni. Harusnya kamu berdua dimatiin,” tolak seorang prajurit dengan suara lantang.

Seorang prajurit narasima yang menaiki kalamekar turun dan menancapkan senjata berupa tombak cahaya ke dalam tanah. Senjata kecil yang lain pun dibuang. “Jika dia menawarkan bicara baik-baik, sebaiknya kita terima saja. Lebih baik berdamai daripada timbul korban jiwa,” katanya.

“Hei, jangan lemah karena anak pengguna aura unsur. Kita basmi aja mereka.” Sang prajurit byaka berlari mendatangi prajurit narasima yang sudah tak bersenjata lagi. Tangan kiri memegang leher si narasima, tangan kanan mengepal bersiap untuk memberikan tinjuan.

“Jangan remehkan dia. Meski gak gunain aura unsur, dia sangat hebat dalam bertarung. Kalamekar aja gak bisa nandingin.” Sang prajurit narasima mengangkat kedua tangan.

Kepalan tangan si byaka hendak menuju ke wajah prajurit narasima. Namun, tangan itu tertahan oleh sang tetua byaka. “Jika kau lakukan itu kau harus mengorbankan dirimu atau perang kembali terpicu,” kata sang tetua byaka.

“Baiklah.” Sang prajurit byaka melepaskan gengaman tangannya dan memudarkan kepalan tangan. Baru dia dilepaskan oleh sang tetua.

“Aku yang mengajari manusia maka aku inginkan perdamaian ini. Turunkan senjata.” Gusti sang minagiri menyingkirkan air yang dikendalikannya. Para minagiri pun meletakkan aura unsur dan senjata mereka masing-masing.

. Tetua yang lain pun menurunkan senjata dan unsur yang mereka kendalikan, prajurit dan petarung yang lain melakukan hal yang sama.

Senjata telah tiada, semua nara yang terikat dengan lomba berkumpul di tepi sebuah sungai yang telah porak poranda akibat ulah dari Daisy. Centarian, wali bagi Daisy sekaligus perwakilan manusia berdiri mendampingi sang keponakan. Penghoramatan dilakukan lelaki itu u dengan adat yang bisa dikuasainya. “Izinkan hamba bertanya, apakah gerangan Daisy tidak bisa juara padahal dinyatakan mendapatkan marka tertinggi?” tanyanya.

Sang tetua byaka mengangkat tangan kanan, sebuah penghormatan pun diberikan kepada manusia. “Izinkan hamba menjawab, ananda Daisy adalah manusia tanpa ada wali dari nara yang sama. Jadi, sebagian dari kami tetap mengizinkannya ikut berlomba tetapi kita membiarkannya meraih sesuatu yang bukan menjadi hal miliknya,” jawabnya.

“Hanya karena manusia? Ataukah karena rasa benci terhadap manusia? Mohon jawab sedalam hati saudara.” Centarian kembali memberikan penghormatan.

Sang tetua byaka dan narasima terdiam diri saat mendengarkan perkataan itu. Mereka menyimpan amarah kepada manusia yang sulit untuk ditaklukkan. Aura unsur telah berkumpul di tangan, mereka pun hendak menyerang tapi ditunda.

Sang tetua minagiri maju beberapa langkah dengan mengangkat tangan yang mengendalikan air. Sebuah penghormatan diberikan kepada kedua manusia itu. “Kisana, bukan maksud kami melarang Daisy mengikuti perlombaan tetapi ananda yang bersangkutan telah melakukan kecurangan dengan memakai atrikut yang berlebihan. Mohon sekiranya pertimbangkan ini,” katanya.

“Om, akyu cuma dijebak ama Nenek tuh. Bilangnya sih biar cantik. Sumpah Om, akyu gak tau apa-apa,” kata Daisy.

“Benarkah yang dikatakan Daisy?” tanya Centarian.

Terdiam, para tetua tak bisa menjawab pertanyaan itu. Sang tetua yng merawat Daisy hanya terpaku tanpa bisa memberikan sebuah jawaban. Dia menyalakan aura secara samar dan telah mengendalikan sedikit tumbuhan.

Angin bertiup sepoi di tempat para berkumpulnya beberapa nara yang sedang bertikai dalam sebuah keputusan perlombaan. Mereka saling menatap mata dengan mempertahankan pendapat masing-masing sebisa mungkin. Centarian sang wali dari Daisy kembali membuka suara, “Katakanlah yang sejujurnya atau perang antar nara kembali terjadi.”

“Ya, akulah yang menjebak agar Daisy tak juara. Aku tak seperti byaka, sengaja kupilih manusia ikut pertandingan supaya bisa dipermalukan di depan umum. Aku hanya ingin manusia itu kalah!” Sukma melepaskan aura yang terbelenggu di dalam tangan.

Dua kalamekar merespon panggilan itu dengan langsung mneyerang manusia di saat julur tumbuhan bergerak. Tumbuhan terhalangan tembok tanah yang dibuat dari tanah, sedangkan satu kalamekar ditahan Centarian dengan kayu seadanya. Angin yang berhembus menghentikan kalamekar yang lain.

“Apa? Bagaimana ini bisa terjadi?” Sukma keheranan.

“Kekuatan bukan segalanya, narasima.” Centarian menggerakkan tubuh sambil menahan cakaran dari kalamekar. Dia melewati setiap julur tumbuhan yang mengalar kepadanya. Satu julur tumbuhan dipegang, lelaki itu melewati julur lain. Sebuah simpul dibuat untuk menghalangan serangan makhluk peliharaan narasima. Dia melompat dari julur satu ke julur yang lain. Sebuah pendaratan pun dilakukan tepat di punggung salah satu kalamekar.

Kalamekar terus saja bergerak tak terkendalikan. Hampir saja Centarian terjatuh dari tubuh hewan itu. Julur pada leher kalamekar dipegangnya, dia menarik dengan kencang sehingga kalamekar berhenti bergejolak. Akhirnya Centarian bisa mengendalikan hewan itu dan segera berlari ke tempat Daisy berdiri. Setiap julur tumbuhan yang mendekat pada keponakannya dibabat.

“Apakah itu benar-benar manusia? Mana mungkin bisa seperti ini? Sulit dipercaya.” Sang tetua baskara bersayap putih mengepakkan kedua sayap. Sebuah pusaran api terbentuk membakar setiap sulur yang dilewatinya. Dia terbang sebentar dan mendarat di depan Centarian sambil memberikan sebuah penghormatan. “Bisa hentikan pertarungan ini?”

“Tentu saja iya.” Centarian mengarahkan kalamekar ke arah lain sebelum dia sendir melompat ke dekat sang tetua baskara.

“Geniwasa, kau jangan berpihak pada manusia. Katakan alasanmu.” Sukma mengumpulkan tumbuhan untuk membentuk sebuah makhluk berukuran besar.

“Tidakkah kau melihatnya? Dia tanpa pengendalian aura unsur dan senjata sama sekali tetapi bisa mengendalikan kalamekar. Bagaimana jika dia menggunakan senjata. Apa yang akan terjadi dengan orang yanag ada di sini? Lebih baik kita bicarakan dengan otak daripada otot. Ingatlah, kita panutan di sini, bukan sekedar pemimpin saja.” Sang tetua baskara menutup kedua sayap.

“Aku juga setuju. Berdamai dengan makhluk licik jauh lebih baik daripada banyak korban yang akan berjatuhan. Lagian, semua ini salah kita juga.” Gusti turut mendekat pada manusia, begitu juga para minagiri yang lain.

Sebuah gempa terjadi di sana. Itu bukanlah sebuah bencana alam tetapi ulah dari makhluk yang berukuran lebih dari enam meter dengan bulu berwarna ungu. Tubuhnya yang kuat dan besar menggetarkan tempat itu dalam sebuah lompatan tinggi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!