Liburan di Dunia Fantasi
Penyelamatan
“Sayang, gak sopan nunjuk tetua kayak gitu,’ Centarian menurunkan jari telunjuk Daisy.
“Tidak apa-apa, dia masih keceil. Bisakah tunjukkan di mana letaknya?” tanya sang tetua wiwera.
“Akyu agak lupa sebab ngikutin Om Garis si narasega ama Kakek Gusti si minagiri. Yang akyu ingat cuma sungainya aja,” jawab Dasiy.
“Aku tahu rombongan narasega pergi. Izinkan kami turun membantu,” pinta Bajra si archid petir.
“Narasega tuh geraknya cepat banget. Maaf, amu sedang akit.” Daisy menurunkan tembok air yang dibuatnya hanya dengan sebuah gerakan.
Tetua wiwera langsung berlari ke arah sekiranya para narasega bergerak. Daisy pun hendak menyusul tetapi ditahan oleh sang paman. Matanya menatap ke lelaki dewasa itu.
“Sy, tunggu aja di mari ama yang lain. Kita butuh cepat, gak cuma barengan aja,” kata Centarian.
Daisy menganggukkan kepala.
Sembari menunggu sang paman, Daisy berjalan menuju ke tempat archid berdiri. Namun, ia tak bisa menemui mereka karena telah masuk ke dalam tanah. Akhirnya ia berjalan menuju ke wiwera yang sedang berteduh di bawah sebuah pohon.
“Sy, kamu gak takut pada kami. Kami nih mirip naga lho,” goda salah satu anak wiwera, Sanaka.
“Amu bukan Nangisan, jadi gak bsa nyemburin api. Yuk kita main,” kata Daisy.
“Main boneka mau?” Sanaka mengangkat dua boneka kayu kembar.
“Suta dan Tasu, gimana amu dapatiin nih barang?” Daisy ingin meraih boneka pemberian dari duyung tetapi sungkan terhadap para nara di sana.
“Eh, ini aku jumpa di sungai. Jangan main klaim saja.” Sanaka menarik kembali bonekanya dan memeluknya dengan erat.
Daisy teringat pesan sang bibi untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Ia tak jadi mengambil boneka tersebut dan memilih untuk menjauh dari tempat tersebut walaupun hari sedang terik. Gadis itu pergi ke tepi sebuah sungai.
Air kembali dikendalikan Daisy menurut pola aura yang dikeluarkan. Namun, gadis itu merasa sebuah kesepian tanpa adanya yang menemani bermain air. Sebuah bola air dibentuk kan dilemparkan ke atas. Hujan kecil pun terjadi, lumayan untuuk menyejukkan badan yang tertimpa terik mentari.
Pelangi yang terbentuk membuat Daisy tersenyum cerah walaupun tak berani kembali ke tempat wiwera berkumpul. Bola air dibentuk dan kembali dilemparkan ke atas. Hujan butan pun semakin deras, pelangi yang terbentuk semakin jelas.
“Daisy!” sebuat suara memanggil gadis yang bermain air tersebut. Ia menoleh ke belakang, beberapa anak wiwera pun datang kepadanya.
“Kalian, mau aapa?” tanya gadis bermata merah menyala.
“Kita main sama-sama.” Sanaka dan beberapa wiwera yang lain memperlihatkan boneka dengan berbagai bentuk.
“Ayo.”
Para anak perempuan berkumpul di bawah sebuah pohon di dekat sungai. Air kembali dikendalikan Daisy untuk membasahi boneka. “Manteman, tengok nih,” ia mengawlurkan aura pada boneka. Benda tersebut pun bergerak walaupun tak dipegang Daisy secara langsung.
“Wah, kamu hebat. Bagiamana cara melakukan ini?” puji para anak wiwera.
“Akyu gunain aura unsur tuk ngendaliin air biar bisa nggerakin boneka,” kata Daisy.
“Bisa gak gerakin bonekaku.” Anak wiwera berkulit kuning.
Anak wiwera lain mengerumuni gadis itu sambil menyerahkan boneka kesayangan.
“Waduh, banyak amat.” Daisy kebingungan harus pilih yang mana.
Agar tak mengecewakan semua anak, Daisy memilih bermain boneka dengan cara yang bisa. Ia menggunakan boneka merikusuma yang bisa mengeluarkan cahaya. Beberapa batang kayu digunakan sebagai asesoris.
Di saat sedang asyik bermain, rombongan orang dewasa mendatangi tempat anak-anak bermain. Mereka langsung mengajak mereka untuk kembali ke rumah. Anak wiwera berhenti bermain dan mengikuti orang tua dan wali mereka masing-masing. Tak ketinggalan, boneka dan alat permainan yang lain dibawanya.
Hanya Daisy saja, anak yang masih tinggal di sana. Ia dikelilingi oleh beberapa nara dewasa. Tangan kanannya memegang tangan sang paman. “Om, bisa antarin akyu ke tempat akyu kenajubakan dulu?” tanyanya kepada nara yang memiliki bentuk seperti serigala bisa berdiri.
“Kamu yakin?” tanya Garis.
“Iya, Om. Akyu ingat kalau itu mirip ada tetua wiwera. Pi gak tau pasti iya pa bukan,” jawab Daisy.
“Garis, pimpin kami menuju ke sana.” Centarian merundukkan badan di depan keponakannya.
Daisy sudah naik di punggung pamannya.
Persiapan dirasakan sudah cukup. Mereka langsung berlari mengikuti arah dari narasega. Hutan lebat penuh vegetasi alami pun mereka lalui. Medan dengan permukaan naik turun tak menjadi halangan. Mereka berkelak-kelok menghindari pohon yng tumbuh tak teratur.
Sekumpulan kalamekar menghadang perjalanan mereka. Selain itu, tumbuhan yang ada di sekitar pun membentuk sebuah pola aneh sehingga rombongan itu terjebak. Centarian dan teman-temannya mempersiapkan diri untuk bertahan hidup.
“Wiwera, kapan temanmu hilang?” Centarian memperbaiki gendongan terhadap keponakan.
“Suamiku hilang sekitar seminggu yang lalu,” jawab seorang wanita wiwera. Di telinganya terdapat antiing yang bisa menyala.
“Bawalah anakku bersama dengan Gusti. Urusan disini biar kutangani.”Centarian mnyerangkan si keponakan kepada wiwera itu.
“Kau jangan gila. Manusia tak memiliki senjata alami sepert nara di sini. Yang kau lawan adalah pengguna aura unsur tumbuhan.” Sang wiwera merundukkan kepala menghindari serangan kalamekar.
“Jangan hiraukan itu. Aku seorang pelaut sekaligus petarung yang tak semudah itu kalah.” Centarian melemparkan batu guna mengalihkan perhatian kalamekar. Dia pun bergerak menjauhi si keponakan.
“Om, akyu gak mau kita pisah lagi,” Daisy memandang sang paman. Tangann kanann ya ngin meraih lelaki itu tetapi terlalu jauh.
Di tengah kalamekar dan tumbuhan yang bergerak tak alami, muncullah narasega yang dipimpin langsung oleh Sukma. Mereka mengepung rombongan Centarian dari berbagai arah.
“Pertemuan keluarga yang manis. Sayang, ini hanya berlangsung sebentar. Musnahlah manusia di sini,” kata Sukma.
“Jangan kau pikir bisa mengendalikan aura unsur bisa menang dengan mudah. Pejuang sejati tak akan mudah kalah. Gusti, bawa Daisy menjauh dari sini dan selamatkan wiwera yang terjebak.” Centarian menghindari sulur tumbuhan yang mengarah kepadanya. Lompatan ke sana dan kesini terlihat sangat lincah seorang sedang bergerak di atas tanah tak rata. Pedang yang dilempar kepadanya digunakan untuk membersihkan sulur yang mendekat sekaligus pertahanan terhadap serangan dari kalamekar. Sulur besar dilompati, dia membelah sulur yang menuju ke wiwera.
Sebuah peluru melesat mengenai kaki kalamekar yang akan menyerang Centarian dari belakang. Peluru yang lain juga melesat tetapi tak bisa menghentikan pergerakan sulur yang menuju ke nara lain. Centarian mengambil peluru, ciri fisiknya menandakan jika senjata itu digunakan untuk berburu ikan. Dia pun memandang ke tempat sekiranya peluru berasal. Sesosok lelaki dengan berwajah sangar dengan sejumlah luka berdiri di sana.
“Centarian, ngapa amu gak bilang kalau ada pesta?” Lelaki itu berlari sambil menebaskan pedang membabat apa saja yang menghalangi lajunya.