Liburan di Dunia Fantasi
Penyelamatan 4
“Akyu gunain air tuk dorong Om ama Tante. Jadi kita bisa cepat sampai ke sana,” kata Daisy.
“Kelemahan wiwera gak bisa berenang walaupun bisa mengendalikan aura unsur air. Aku tgak bisa masuk ke dalam sana,’ Saciwa beluar dari permukaan air.
Di tepi sungai muncullah seorang archid berwarna hitam dan putih selayak pandang. Dia mendekat ada permukaan air untuk menawarkan diri, “Bagaimana jika aku yang masuk ke sana? Anggap saja sebagai penembusan atas kesalahanku karena tak bisa menolongnya.”
“Kau yang menjebak suamiku? Dasar makhluk kecil penipu.” Mata Saciwa mode berburu. Namun dia tak bisa bergerak lebih jauh karena ekornya dipegang Garis sang narasega. “Ada apa?” Dia berbalik arah dan melototi sang pemegang ekor.
“Sabar, maafin aja. Lagian, dia udah ngaku salah dan mau bantu,” kata Garis.
Pandangn Saciwa berubah seperti biasa. Dia mengibaskan ekornya yang telah diregangkan pegangannya oleh Garis. Namun, dia tak kembali ke tempat Daisy dan memilih untuk merebahkan diri di tepi tempat berair. “Buktiin kalau kau sungguh-sungguh,” katanya sedikit sinis.
“Baiklah,” sang archid berlari di permukaa air yang memadat. Dia memanjat tangan Garis yang telah menyambutnya dengann sebuah kehangatan.
Daisy memegang erat tubuh Garis yang telah basuh terkena air. Memang aura unsur sengaja dikurangi arah mereka bisa tenggelam. Ia mengeluarkan aura secara berputar dari telapak kaki. Ukuran terwoangan yanng teralu sempit memaksanya untuk kembali ke permukaan. Ketiganya kembali bisa menghirup udara besar.
“Udah berhasil?” tanya Saciwa.
“Lubangnya kurang gede, hehehe,” tawa Daisy.
Garis melompat keluar dari permukaan air sambil berkata, “Sebaiknya kalian berdua saja. Tubuhku terlalu besar. Yan pastinya butuh energi lebih banyak.”
“Gini aja, kamu kendaliin air dan kita akan gali lubang buat jalan keluar. Aku dulu gak bisa nolong sebab permukaannya keras,” kata archid.
“Begitu ceritanya? Mengapa tak minta bantuan duyung?” Saciwa sudah bisa berlega hati walaupun sang suami belum bisa kembali.
Tak lama kemudian muncullah sang mentor dari tanggang wasesa, Sarita. Dia berlawan di tengah sungai tanpa tenggelam sama sekali. “Bagaimana kalau kita kuras aja air di terowongan itu?” usulnya.
“Maksudnya?” Daisy menuding hidungnya sendiri.
“Terowongan ini kan airnya tenang. Jadi kita sumbat tempat air masuk dan keluar. Dengan gitu, kita bisa lewat di tempat itu.” Sarita membentuk sebuah jalan menuju ke terowongan berair. Segenap tenaga dikerahkan tetapi tak cukup untuk membuat jalur yang bisa dilewati makhluk yang tak bisa berenang.
“Gitu, ya.” Daisy melompat ke permukaan air yang dibentuk Sarita. Aura yang dipancarkan sang mentor dikoneksikan dengan auranya. Gadis itu mengendalikan air lebih dalam dan jalur hingga sampai ke dalam terowongan walaupun tak bisa mengeringkan tempat itu.
“Bagus, Sayang.” Sarita mengubah aura menjadi pembekuan air. Permukaan yang akan dilwati dibekukan terlebih dahulu. Barulah dia mendekat pada pintu gua. “Yang mau ikut, ayo cepat masuk,” imbuhnya.
Saciwa dan sang archid masuk melewati es yang mulai mengalami keretakan. Suhu nan dingin pun tak menjadi sebagai penghalang.
“Trus?” tanya Daisy.
“Kamu kendalikan air dan aku yang bekukan. Dengan gini, kita bisa buat jalan kering.” Sarita menambahkan aura pada telapak tangan sehingga es yan retas bisa tertutup lagi.
Si anak manusia itu mengendalikan air sampai jauh di dalam terowongan. Selain itu, ia juga mengendalikan air di bola air sambil merangkak di dalam lubang nan gelap dan sempit itu. Beruntung Saciwa membawa sebuah benda yang bisa menyala.
Sarita telah masuk ke dalam gua dan menutup lubanga terowongan dengan es. Daisy menambahkan air yang dikendalikan ke lubang pintu dan Sarita membekukannya. Tempat itu pun menjadi sebuah ruangan yang bisa dilalui makhluk darat.
Daisy yang bertugas menggiring nara yang berada di dalam gua. Aura di tangannya terus membentuk sebuah pembatas air. Ia mendorongnya secara perlahan, sesuai dengan langkah kakinya yang tak bisa jauh karena dilakukan dengan duduk.
“Apa gak bisa lebih cepat? Atau cara penyedot air air lebih cepat?” keluh Saciwa.
“Mungkin akan bisa lebih cepat jika disedot dari tempat lain, hihihi,” gurau archid.
Daisy mengira jika itu bukan gurauan dari archid. Gadis itu memasukkan tubuhnya ke dalam air dan bergerak sangat lincah tanpa memperhatikan keadaan belakang.
“Sy, kamu ngapain?” Sarita sang mentor mengendalikan air yang mulai menenggelamkan kedua temannya. Sebuah tembok air dibentuk walaupun tak kuat.
Daisy berenang balik ke teman yang ditinggalkannya. Kepalanya dikeluarkan air bisa berkominikasi dengan nara lain. “Bu, akyu mau nyedot air dari tempat lain. Dengan gitu air cepat surut,” ucapnya.
“Cepatlah.”
Aura disalurkan sepenuhnya pada kedua telah kaki. Gadis itu mengeluarkannya seperti sebuah pusaran yang dihasilkan mesin kapal. Ia pun bisa sampai ke tempat yang ditujunya dalam waktu singkat, bahkan lebih cepat daripada yang pernah dilalui.
Daisy bisa tahu jika tempat itu bercabng ke atas melalui cahaya yang dipancarkan kristal dari atas. Air dikendalikan dan didorong ke tempat lain. Sedikit demi sedikit air pun berkurang hingga dia bisa bernapas lega. Namun, tenaga yang dibutuhkan begitu banyak sehingga dia kelelahan.
Energi di dalam tubuh yang terkuras banyak membuat gadis itu mersakan hawa kantuk yang keluar biasa. Mulut dibuka lebar untuk mengeluarkannya. Namun tembok air yang dibuatnya mengalami kebocoran. Daisy menyadarkan diri sendiri dan mendorng aura ke arah lain. Air datang lagi, ia membentuk sebuah tembok air dengan tenaga yang tersisa. Tembok mengalami kebocoran, ia mengerahkan seluruh tenaganya hingga air mata menetes. “Tolong!” teriaknya.
Saciwa melaju dengan membawa archid dan Sarita ke tempat Daisy yang sudah leleahan dan memucat. Dia segera melemparkan si mentor ke Daisy.
Sang mentor melayang sambil membentuk aura pembeku di keempat telapak pergerakan. Dia segera membentukan air yang membentur dinding pertahanan. Namun dia sendiri tak bisa harus terus menyalurkan aura pembekuan agar keretakan bisa diatasi.
Sang archid mencoba menggali tanah di sekitar tetapi malah menemukan bongkahan kristal. Benda itu dibawa oleh Saciwa ke dekat Sarita tengah berjuang membekukan air. Dia menatanya sedemikian rupa sehingga susunan batu itu ada celah bagi yang untuk keluar.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sarita
“Kau tak mungkin bisa kuat menahan ini dalam waktu lama. Mungkin lebih baik jika kita membuat bendungan saja,” jawab Saciwa.
Itu mah bagus juga Carita masih saja menahan Tembok es yang mengalami keretakan. Sedikit saja dia mundur retakan pun semakin besar. Akhirnya dia kembali menyalurkan aura unsur pada kedua telapak tangan. Adakah ide lain,” tanyanya.
Daisy yang kelelahan dan menangis akhirnya bisa bangkit dengan sedikit amarah. “Serahkan ini semua padaku!” ia menyalurkan seluruh tenaga yang tersisa pada kedua telapak tangan. Sebuah hentakan pun dilakukan, es langsung terpecah.