Liburan di Dunia Fantasi

Makhluk Terindah yang Pernah Kutemui

“Pi, tuh bukan hiu.” Daisy meneteskan air mata.

“Gak da beda mau macan apa hiu.” Centarian merendahkan tubuh mengamati setiap kemungkinan serangan dari hewan tak biasa itu.

Si loreng putih-biru kehijauan mengayunkan cakar tangan kiri, Centarian mundur beberapa langkah dalam formasi bertahan. Sebuah batu diinjak sambil menghindari terkaman dari penghuni hutan tersebut. Sebuah batu kilau diambil sebagai sebuah serangan balasan.

Centarian melompat dari satu batu ke batu yang lain untuk bertahan hidup menghadapi serangan dari loreng. Namun, dia kurang waspada pada cakaran si loreng yang tak bisa dihindari. Tali pengikat keponakan terputus, dia memegang dengan tangan kiri. Kaki melompat pada sebuah batu yang licin. Dia terpeleset bersama dengan keponakannya.

Di dalam air berarus deras, Centarian dan Daisy saling berpegangan tangan. Kaki Daisy yang sakit malah bisa digerakkan mengikuti sebuah arus yang entah kenapa malah mengalir ke atas menuju ke sebuah gunung. Gadis itu berenang menepi. Sebuah ranting dipegang dan ia merambat ke daratan.

“Huh, tadi tuh nyenengin banget. Iya gak, Om.” Daisy memandang ke sungai berarus deras. Tiada apapun di sana. Bahkan batang yang hanyut tak tampak sama sekali. “Om!” teriaknya sekencang mungkin.

Daisy kembali memasuki sungai berarus deras dan mengikuti gerak air. Kedalaman sungai sudah dijelajahi hingga sejauh satu kilometer. Sayang, tiada hasil sama sekali. Yang ditemukan hewan air nan eksotis bermandikan cahaya.

“Om!” teriaknya berkali-kali. Daisy merambat ke daratan dengan kedua tangan. Ketiadaan orang dewasa membuatnya ketakutan. Air mata keluar membasahi wajah tanpa riasan. Nama sang paman masih selalu disebut.

Beberapa makhluk kecil seperti angka tiga datang menghinggapi tubuh Daisy dan menyedot nutrisi melalui kulit. Gadis itu tak tahan, dia memukul hewan tersebut. Hewan tersebut berdatangan semakin banyak, Daisy tak bisa mengatasi semua. “Tolong!”

Sebuah angin datang di tempat Daisy duduk. Hewan seperti angka tiga berwarna merah terbawa arus angin. Terlebih lagi setelah cahaya berwarna ungu menempa tubuh Daisy yang berada di bawah sebuah pohon.

Tak lama kemudian muncullah sesosok makhluk seperti anak sebaya dengan Daisy tapi bersayap empat hampir tak terlihat. Dia mengenakan baju bermotif alam menutupi tubuh bagian tengah yang berwarna coklat kehijauan. Di kepalanya terdapat sepasang antena yang menyala berkedip. Di tangan kiri terdapat sebuah tongkat bercahaya.

“Makasih ya. Kalau boleh tau, amu capa?” tanya Daisy setelah sinar ungu hilang dari tubuhnya.

“Ma, ada hewan bisa bicara!” Makhluk setinggi satu meter lebih sedikit mengepakkan sayap menghilang dari pandangan Daisy.

“Tunggu, nanti akyu ama capa?” Daisy merasa kesepian dan kembali meneteskan air mata. Ia merangkak untuk menyusul tapi tidak tahu kemana.

Sebuah cahaya putih menyinari wajah Daisy hingga menglihatan mata terganggu. Gadis tersebut bergerak menghindari cahaya asing itu. Namun cahaya lain datang dari berbagai arah. Tiada lagi yang bisa dilakukan dalam keadaan buta. “Hu, jangan bunuh akyu!” Tangisnya sambil mengangkat kedua tangan.

Cahaya telah hilang, Daisy bisa melihat lagi. Di sanalah beberapa makhluk bersayap transparan turun mengepung gadis itu.

“Naka, ini bukan hewan tapi manusia,” kata makhluk dengan bentuk dada menonjol tapi tetap terbungkus kain.

“Manusia itu apa, Ma?” tanya si anak.

“Nanti kujelaskan. Nak, jangan menangis ya. Kau sama siapa?” Tahan kiri sang induk makhluk tersebut mendekat pada wajah Daisy.

Takut akan makhluk asing, Daisy menggeserkan tubuh dan mundur secara perlahan. Namun dia tak bisa menjauh lagi karena sudah tersudut. “Jangan bunuh akyu,” katanya dalam sebuah tangisan.

“Kami bukan pemangsa manusia. Kamu di sini kenapa?” sang ibu makhluk bersayap empat mendekatkan tangan pada wajah Daisy. Kini dia bisa menyentuh gadis bermata merah itu.

“Akyu... ilangan Om...,” Daisy mengeluarkan air mata tak terkira. Pernapasan juga mulai tersendat-sendat.

“Kakimu sakit. Kamu ikut kami dulu, baru cari Om.” Keempat jari makhluk itu mengusap air mata di pipi Daisy.

Tiada pilihan lain, Daisy mengganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.

Sang ibu dari makhluk tersebut membawa Daisy ke punggungnya. Keempat sayap dikepakkan dengan sayap kuat. Dia terbang melewati ranting kepohonan dengan kecepatan tinggi. Manuver yang dilakukan sungguh luar biasa hingga bisa melalui cepat sempit dan berbelok secara mendadak.

“Namaku Rasti, sering dipanggil mamanya Rinaya dari nara merikusuma. Siapa namamu, Sayang?” Sang ibu bergiwang putih terbang miring menyesuai dengan keadaan tubuhnya yang menggendong seorang anak manusia.

“Aku Daisy si manusia,” jawab Daisy.

“Daisy, nama yang cantik seperti matamu.” Rasti hingga di sebuah pohon raksasa. Di sanalah terdapar rumah yang berada di dalam batang pohon hidup.

“Kenapa namanya aneh untuk anak laki-laki?” Naka menyusul sang ibu.

“Akyu cewek lah,” geram Daisy.

“Mana buktinya? Giwang aja gak ada di telinga,” Naka memasuki rumah bersama dengan Daisy.

“Akyu lepas saat mau pergi biar gak hilang. Emangnya cewek kudu make giwang apa?” Diasy kesal terhadap lelaki muda di dekatnya.

“Itu benar, Sy. Cewek di sini wajib gunakan giwang,” Rasti menurunkan Daisy di kursi panjang. Kedua kaki diluruskan agar tidak lalu. Dia terbang ke sebuah kamar yang sangat tinggi.

“Tuh kan, apa kata Mama.” Lelaki bersayap empat mendekat pada Daisy.

“Makasih sebelumnya. Amu capa?” Daisy menekan rok menutupi bagian vital.

“Namaku Naka si merikusuma. Aku pulang karena kau buruanku,” Naka terbang mengelilingi gadis muda tak bersayap itu.

Sang ibu keluar dari kamar dengan membawa beberapa barang. Dia turun tepat di hadapan Daisy dan menyerahkan benda itu.

Sepasang giwang dengan bantul berwarna biru dikenakan pada kedua telinga Daisy. Gadis itu sangat suka ketika dihadapkan ke sebuah cermin. Namun dia sedikit keheranan ketika diberi baju dengan bagian punggung berlubang. “Apaan nih?”

“Naka, pergi belajar bersama ayahmu, biar Daisy kuurus saja,” usir paksa sang ibu secara halus.

Lelaki muda itu pergi tanpa suara.

“Nih pasti rusak, pi gak papa” Daisy memeriksa yang lain, ternyata hanya baju yang berlubang di punggung.

“Merikusuma kan punya sayap. Lubang tuh buat sayap bisa bergerak. Tengok ini,” Rasti menempelkan keempat sayap di belakang punggung. Lubang pada pakaian pun diperlihatkan.

“Akyu reti.”

Di saat Rasti sedang terbang ke dapur, Daisy menggantikan kain yang basah dengan pemberian dari merikusuma. Kain yang masih basah dibuang begitu saja karena bingung mau berbuat apa. Dia berbaring di atas kursi panjang itu.

Rasti telah kembali dengan membawa makanan dan minuman berbentuk aneh. Meja terdepat menjadi mendarat sajian itu. “Daisy, jangan buang pakaian sembarangan. Apa kau tak pernah diajari ibumu?” dia mengumpulkan pakaian yang tercecer dan membasahi lantai.

“Akyu gak tahu kudu ngatain. Kaki aja gak bisa gerak,” Daisy mengangkat kepala dan melihat sajian yang ada di meja. Namun dia hanya menunjuk saja. “Ini gak beracun kan?”

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!