Liburan di Dunia Fantasi
Aura unsur alam
Rikma tak mampu menjelaskan konsep yang salah tentang nara dan unsur aura kepada Daisy meskipun dibantu Gusti, sang kakek minagiri. Semakin dijelaskan malah semakin membuat gadis yang berada di air semakin bingung dan bertanya semakin detail.
Sang kakek tak lagi menjelaskan konsep itu. Dia menapakkan kaki berbentuk dayung ke permukaan air dan berjalan mendekat ke anak manusia seolah berjalan di atas air.
“Wah, Kakek hebat,” Daisy bertepuk tangan.
“Cobalah tunjukkan kelebihanmu kepada Kakek ini.” Sang kaki duduk memperhatikan setiap aliran energi yang berada diujung telapak anak manusia.
Segala permintaan dari sang kakek dituruti Daisy, mulai dari berenang biasa hingga bergaya selayak hewan perenang. Bahkan dia sanggup melompat seperti lumba-lumba. Gadis kecil itu pun mendekat pada sang kakek yang sedang bertapa di atas air. “Udah pa lum?” tanyanya.
“Bicaralah seperti yang lain. Bahasamu sulit untuk kucerna.” Gusti menggerakkan tangan kiri yang membuat air di bawah Daisy bereaksi mengangkat tubuh anak manusia.
“Maksudku sudah atau masih ada yang lain. Maaf, biasa akyu ngomong macam tuh.” Daisy tak tahu harus bagaimana lagi. Memilih bergerak dari tempat itu atau menikmati saja duduk di atas air. Namun ia juga merasa kagum bisa berada di tempat itu.
“Celupkan jarimu dan buatlah sebuah lingkaran. Terus angkat perlahan ke atas,” kata Gusti.
Jari telunjuk masuk ke dalam air pijakan Daisy dan memutar sesuai dengan yang diperintahkan sang kakek. Ia menarik jari ke atas, hanya sebagian kecil air yang mengikutinya.
“Hahaha, ada-ada aja kamu ini. Gak ada bakat sama sekali,” cela Rikma.
“Engkau salah. Justru anak ini sangat berbakat. Siapa namamu, Nak?” tanya Gusti.
“Daisy.” Gadis kecil itu menghentikan putaran tangan dan air berhenti mendekat kepadanya.
“Daisy, nama yang cantik seperti dirimu. Pusatkan tenaga ke telapak tanganmu dan doronglah dengan kuat.” Minagiri memperkecil kendali air hingga tersisa tempatnya duduk.
Daisy kembali masuk ke dalam sungai secara mendadak yang membuatnya tak sempat berpikir. Tenaga yang seharusnya disalurkan ke tangan malah tersalurkan ke kaki dan dilepaskan sepenuhnya.
Air yang tertarik di telapak kaki terdorong oleh energi yang dilepaskan anak manusia. Namun tekanan air yang dihasilkan malah membuatnya terdorong ke atas. Daisy terlempar lebih dari sepuluh meter. Dia panik, aura unsur air yang dikeluarkan tak teratur. Alhasil, beberapa makhluk kecil yang melintas terkena percikan air sebelum si kecil kembali masuk ke dalam sungai.
“Berbakat? Berbakat merusak pastinya.” Rikma melepaskan pakaian yang sekiranya menghalangi tubuh ketika berada di dalam air. Dia juga ikut membasahi tubuh ke dalam aliran air.
“Untuk awal kau sudah cukup baik. Coba berenang tanpa menggunakan kaki dan perhatikan gerakan air di tanganmu.” Sang minagiri berwajah selayak ikan darat menjatuhkan diri ke aliran sungai.
“Baiklah.” Daisy tak lagi menggerakkan kaki, melainkan kedua tangan. Setiap aliran air yang berada di ujung tangan diperhatikan. Baru ia menyadari mengapa bisa berenang cepat selama ini. Bahkan orang dewasa pun mampu dikalahkan dalam hal kecepatan. Kedua tangan digerakkan secara memutar. Pusaran air selayak mesin turbo terbentuk. Daya dorong besar dihasilkan, ia melaju seperti kapal bermesin. “Yuhuy!” teriaknya kegirangan.
“Apa?” Taring narasega kembali diperlihatkan. Rikma tak percaya atas apa yang ada di depan mata.
“Itulah pengendali lautan sesungguhnya. Tinggal sedikit dipoles maka dia akan menjadi salah satu pengguna aura unsur terbaik. Mungkin saja menjadi salah satu dev yang sangat mengagumkan,” kata Gusti.
“Dev? Paan tuh?” Daisy menghilangkan pergerakan air yang mendorong tubuhnya dan berada di antara Rikma dan Gusti.
“Itu tidak penting. Apa yang kau pelajari dari ini semua?” tanya Gusti.
“Gak tau. Akyu cuma tau kalau berkah Kakek, akyu makin cepet renang,” jawab Daisy.
“Engkau masih hijau daun. Aura unsur air di dalam dirimu lebih efesien dibandingkan pada tubuh tua ini. Anggaplah ini sebagai bentuk kekagumanku kepadamu.” Energi yang dikeluarkan Gusti jauh lebih hebat daripada yang sebelumnya. Seekor ikan besar tersedot dan diarahkan ke Daisy.
“Pa nih?” Daisy panik dan langsung mengeluarkan tenaga cukup besar. Ikan yang hampir mengenai wajahnya terlempar ke Rikma.
“Kau nih.” Emosi Rikma sedikit naik walaupun dia juga senang mendapatkan ikan besar.
Waktu yang sangat singkat digunakan Gusti untuk mencurahkan segala mengetahui tentang penggunaan aura unsur air. Setiap detail pergerakan energi pada tubuh Daisy menjadi perhatian khusus. Dia sendiri kerap merubah metode pengajaran untuk menyesuaikan dengan teknik yang digunakan si kecil.
Mentari semakin dekat dengan cakrawala. Segala makhluk yang memiliki intelektual pergi dari sungai itu. Sebagian masuk ke dalam pohon besar yang berdiri tegak menjadi ciri khas tempat air mengalir.
“Sayang, lusa nanti tampilkan di kompetisi dan perlihatkan kemahiranmu. Besok datang lagi ke sini untuk persiapan,” kata Gusti.
“Makasih, Kek. Pi, ngapain mau latih akyu?” Daisy memberikan sebuah penghormatan yang dipelajari dari sepupu. Kedua telapak tangan saling bertemu di depan wajah. Kepala dianggukkan bersama dengan tubuh sedikit merunduk.
“Sudah menjadi sebuah kesenangan untuk bisa melatih calon pengguna unsur air terhebat,” Gusti mengikuti penghormatan yang sama dengan Daisy.
Sang minagiri pergi meninggalkan kedua gadis belia beda spesies. Rikma pun melangkahkan kaki meninggalkan tepi sungai itu. Tak lupa juga dia mengajak Daisy untuk berjalan kembali ke kediaman para narasega.
Ikan pemberian dari minagiri masih dalam proses pematangan. Segenap anggota keluarga menunggu di ruang makan, kecuali sang ibu dan Rikma yang mengolah hadiah itu.
Baru kali ini Daisy merasakan kerinduan luar biasa terhadap manusia yang lain, terutama pada sang paman. Jari telunjuk diputar di bibir gelas agar rasa itu segera menghilang dari benak hati.
“Sy, lihat gelasmu,” kata kepala keluarga narasega, Garis.
Pandangan si anak manusia mengarah ke bawah. Gelas kosong dikarenakan air sudah terbang mengelilingi pergelangan tangan. “Wa!” terkejutlah ia. Energi ditiadakan dan air membasahi meja. “Maafkan akyu.”
“Ini malah bagus. Setidaknya kamu bisa ikut kompetisi antar nara. Ya, sebagai perwakilan manusia.” Garis mengambil lap tetapi tak sempat membersihkan meja karena air sudah hilang tersedot aura dari tangan Daisy.
“Apa manusia....” Daisy membatalkan pertanyaan itu. Fokus dialihkan ke air.
“Kau bukan yang pertama ke sini. Dahulu pernah ada manusia juga tetapi tak tercatat. Mereka ada yang baik dan jahat. Yang baik menang dan menata agar kita bisa hidup berdampingan.” Garis mengelilingi meja dan berhenti ketika berada di belakang Daisy. Tangannya di taruh pada ujung kursi. “Tapi itu hanya dogeng aja. Kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
“Jadi, akyu gimana?” Daisy menunjuk pada diri sendiri.