Menjalin Hubungan dengan Sugar Daddy
Aku Cinta Tapi Aku Memilih Pergi
"Omaigaat! Sekarang gue pengangguran woooy!! " teriak Karra. Beberapa sorot mata pengunjung kafe melihat cewek yang lagi duduk bareng dua teman cowoknya.
“Ya elu sih pake resign!" jawab Dael sambil menghembuskan vapenya. Aromanya agak menyengat namun sedikit harum buah-buahan.
"Ya gimna? Gue udah ga kuat. Batunya atasan, bisa gue hadapin, kerasnya hati doi, bikin hati Gue berkalang darah, nyess! Tuhannn tolong gue... " ucapnya merengek.
"Gue tuh bilang sama temen deket gue kalo gue suka sama dia. Malah makin hari dia yang lengket kayak lem! Comblangin gue nape?!" sambung cewek ramping memakai jilbab polos coklat.
"Itu mah elunya aja yang ngerasa deket, dianya kagak.” ucap Dael bar-bar.
Dua teman cowok Karra fokus menatap wajah murungnya. Teman sebelah Dael yang berambut ikal sedikit gondrong terperangah Ketika makanannya diantar pramusaji. Pramusaji tersenyum, dan memberikan makanan pesanan mereka.
“Minumnya?” ucap Dael pada pramusaji.
“Sebentar ya, Kak.” pramusaji langsung melengos tanpa senyum ramah.
“Ga ditraining ape gimane sih ah?! Dulu Gue waktu sekolah jurusan perhotelan itu dikasih tau, kalo myajiin makanan itu yang utama minumnya dulu. Kalo lu download game masak-masak juga kek begitu tuh!”
“Mendingan kalo cape cuti kerja gih, dari pada mukanya ga ramah gitu. Kan jadinya kita yang sewot ya. Mana laperr! Jadi baperr!” jawab Seon berambut ikal sedikit gondrong memakai kemeja flannel gelap.
“Kita nih di sini ga Cuma numpang makan, bayar! Lagian kalo pelanggan kecewa males dating lagi, kan rugi juga. Demi berlangsungnya bisnis kafe ini juga kan.” Dael ngedumel lagi.
“Di mah ga mikirin, kafe tutup cari kerja laen!” sahut Seon sambal makan sate pisang dibalur glaze matcha dan topping kacang.
“Lama, laperr, aus. Seret!” Dael berusaha menelan ayam bakarnya.
“Iya nih, perasaan lagi curhat jugak!” Karra ikutan sewot.
" Elu mah gitu!" Karra protes ke Dael.
"Mending gue jujur. Dari pada gue bilang ngebuat lu seneng tapi ga sesuai fakta? Itu sama aja menunda rasa sakit bestaiik!" Dael sedikit ketawa sambil menggigit ayam bakarnya.
“Nying lu! Masih makan jugak!” Karra protes.
“Istighfar Karra… liat noh jilbab lu.”
“Gegara main ame lu pade nih.”
“Nah, kita pulak.” Seon menggeleng.
“Trus gue gimane…? Ga mau jadi beban keluarga.. Hiks hiks.” Karra tidak bisa lagi membendung air matanya. Seon meski cowok pun, dia cukup berempati. Ia menyodorkan tissue dari meja kafe. Dael tidak seberapa memperhatikan Karra, dari jarak beberapa meter Dael sedang memperhatikan tiga orang yang duduk makan bersama. Dua pria dan satu gadis kecil usia sekolah dasar.
“Nah nah tuh ada bule tuh…” Dael semangat kasih tahu Karra, sambal menepuk meja kafe.
***
Di meja lain tak jauh dari Karra, Seon, dan Dael duduk, terdengar ucapan bapak berkemeja merah sedang mengiris steak dan berbincang dengan teman laki-lakinya yang terlihat lebih tua darinya. "
"Saya mencari guru les buat anak saya. Dia belum lancar bahasa Indo. " ucap bule itu yang masih kaku bahasa Indonesianya.
Tiba-tiba Dael teriak.
"Serrrr!!” Dael menempelkan kedua tangannya di dekat mulut, seperti corong agar suaranya terdengar lebih keras. Lalu Dael melambaikan tangannya kepada dua bapak-bapak itu.
“I hep ma pren, she ken tich your daighterrr! (Sir, I have my friend, she can teach your daughter!)” teriak Dael dengan logat medhok.
"Are you … serious??" sahut bapak muda itu.
"Of kors-of kors! (Of course- of course!)” teriak Dael sambal menunjuk Karra.
Lalu bapak beranak satu yang anaknya duduk di sebelahnya itu memanggil mereka bertiga untuk pindah duduk satu meja dengan mereka.
Karra side eye ke Dael. Dael masih masang wajah antusias tanpa dosa. Seon jadi tim follower aja.
Mereka akhirnya duduk semeja dengan Mr.-Mr. itu.
"Siapa nama you? "
"Me, Dael. Daelio Daeleili.. "
"Ehhh mirip kayak Ilmuwan Italy ya bree " ucap bapak yang lebih tua mengenakan jas hitam.
"Iya karna ayah itu kepengen banget anaknya jenius. Suka eksak kayak math, fisika, astronomi. Tapi sayang anaknya sukanya di art. Tapi untung ayah ga ngelarang sih. Tapi itu bukan nama asli. Nama panggung. " Ucap Dael sambil senyum secemerlang model pasta gigi close up.
"You?" Bapak Indo itu mengarahkan telunjuknya ke sosok putih tapi matanya belok, berkemeja flannel gelap.
" Seon Pak. Seon Jupiter. "
"Nama panggung juga? " Ucap bapak indo itu.
"Nehi pak.. Jadi itu nama asli beli di aplikasi pak. "
"What? " Sambung bule beranak satu. Anaknya pun ikut bingung.
"Bapak kamu, jualan motor ya? "
"Kok tahu? Ya bukan donk pak!"
"Jadi waktu itu ada lelang nama gitu di tiktok. Nah my mom itu ngidam banget nama yang dikasih dari orang di tiktok itu. Jadi relain deh keluar uang buat lelang nama itu. Yah namanya orang ngidam, suka kayak ga beralasan aja gitu dia kepengen something.” cerita Seon.
"Anak tiktok rupanya! " ucap kedua bapak itu. Sementara anak perempuan bule itu menahan tawa meski tidak seberapa mengerti.
"Dia ini blasteran china, Lampung, India. Makanya kulitnya putih matanya gueddde Pak!" Ucap Dael.
Lalu ke dua bapak itu mengarah pandangnya ke perempuan satu-satunya yang ada di sana.
"Saya Karra, Sir, Pak.. "
"Sun? "
Karra mengernyitksn dahi.
"Nama saya Karra. " Karra mengulangi lagi.
"Sun...? " (Sun kadang diartikan dengan cium)
"Bapak inget umur pak! "
Karra panik.
"Ini nih anak jaman sekarang.. Tidak tau jokes bapak-bapak. "
Dael dan Seon saling mengerling.
"Kamu beneran ga tau apa itu Sun? " ucap bule beranak 1 yang tampah rupawan.
Karra masih memutar otak.
"Sun Karra. Itu coconut milk, biasa pakai buat opor.. " ucap bule itu, yang masih kental dengan aksen Inggrisnya.
" Oh.. Saya pakenya rose brand, Pak."ucap Karra meringis.
" Gue si beli di pasar pagi tanpa merk. " ucap Dael.
"Gue mah makan aja udah. Bersyukur mommy liat anaknya mau makan. "
Seketika Dael dan Karra melihat ke arahnya, memang badannya beneran cungkring, kayak burung kutilang alias kulit tinggal tulang.
"Ape luhh liat-liat, Njir!" ucap Seon setengah berbisik cuma mulutnya yang keliatan komat-kamit.
"Mungkin kamu bisa ajarin anak aku, belajar bahasa Indonesia. Sedikit bahasa sehari-hari juga like Javanese, Sundanese, biar dia tahu bahasa sehari-hari orang sini. "
"Ini beneran, Sir? "
"Ya, serious. Tapi dia ini anaknya tidak mudah akrab sama orang. Intovert. Jadi aku pusing carikan dia guru privat (baca: praivet). Suka tidak cocok. "
Karra menelan ludah.
"Chatharine!" ucap bocah cilik sekelas 5 SD memperkenalkan dirinya.
“Nice to meet you. I hope we can collab together nicely.”
“Collab apa broh? Dikate bikin konten?” ucao Seon berbisik
“Makanya belajar yang bener lu!” ucap Karra menyenggol kakinya yang tersembunyi di bawah meja.