Merhaba Aisyah

Rindu Yang Tak Tersampaikan

Langit Istanbul pagi itu berwarna kelabu pucat. Aisyah berdiri di balik jendela apartemen kecil yang akan ia tempati bersama Katya selama menempuh pendidikan, kota itu tampak asing, megah, dan dingin bukan hanya udaranya, tapi juga suasana di hatinya.

Ia menarik napas panjang.

 

“Syah, kamu belum unpack?” suara Katya memecah lamunannya.

Aisyah menoleh, tersenyum tipis. “Nanti aja, Kak. Masih pengin lihat luar sebentar.”

 

Katya mengangguk, paham. Ia tahu adiknya sedang tidak benar-benar melihat kota, melainkan sedang berusaha menata hati yang tertinggal ribuan kilometer jauhnya.

 

Sejak pesawat mendarat, Aisyah belum membuka kotak pemberian Raka, kotak itu masih tersimpan rapi di dalam koper, seolah ia takut jika membukanya akan membuka kembali luka yang baru saja ia tutup paksa.

Padahal, setiap malam sebelum tidur, kotak itu seperti memanggil namanya.

 

Hari-hari awal di Turki terasa begitu cepat sekaligus melelahkan. Adaptasi bahasa, budaya, jadwal kampus dan lingkungan baru menguras tenaga Aisyah, namun justru di sela-sela kesibukan itulah, nama Raka sering datang tanpa permisi.

 

Di ruang kelas, saat dosen menjelaskan dengan bahasa Inggris bercampur Turki, pikiran Aisyah kadang melayang.

Apa Raka baik-baik saja?

 

Ia segera beristighfar setiap kali itu terjadi.

“Ya Allah, jika rasa ini tidak baik, maka tolong jauhkan. Jika ini ujian, tolong kuatkan.”

Doa itu menjadi temannya setiap malam.

 

Sementara itu, di tanah air, Raka berdiri di halaman sekolah lama mereka, gedung itu kini terasa sunyi tanpa Aisyah, tidak ada lagi suara langkah tergesa yang selalu datang paling pagi, tidak ada lagi senyum teduh yang selalu ia temui di setiap rapat OSIS.

Ia menatap bangku taman tempat mereka biasa duduk.

“Kenapa baru sekarang gue ngerasa sepi, sih?” gumamnya.

 

Ilham yang berdiri di sampingnya menghela napas. “Karena lo baru kehilangan, Rak.”

Raka menoleh. “Gue nggak kehilangan. Dia cuma pergi.”

Ilham tersenyum miris. “Pergi itu juga bentuk kehilangan, kalau lo nggak sempat bilang apa-apa.”

 

Raka terdiam.

Sejak kepergian Aisyah, Raka sering membuka ponselnya, berharap ada pesan masuk. Tapi nihil. Nomor Aisyah bahkan tak tersimpan di gawainya.

Ia teringat wajah Aisyah saat mengatakan tidak menyimpan nomor laki-laki.

 

Saat itu, ia merasa ditolak secara halus bukan sebagai lelaki, tapi sebagai seseorang yang seharusnya ia jaga jaraknya.

Di kamar apartemen, Aisyah akhirnya duduk di tepi ranjang dengan kotak kecil di tangannya. Jari-jarinya gemetar saat membukanya.

 

Di dalamnya terdapat sebuah buku kecil bersampul cokelat tua dan secarik surat.

Aisyah menarik napas, lalu membuka surat itu terlebih dahulu.

 

[Syah,

Kalau kamu membaca ini, berarti kamu sedang rindu. Atau mungkin sedang lelah.

Aku nggak pandai merangkai kata. Tapi aku tahu, kamu perempuan yang selalu kuat meski sering memendam.

Buku ini isinya kosong. Aku mau kamu isi dengan cerita-ceritamu. Tentang mimpi, tentang doa, tentang perjalananmu.

Aku nggak tahu takdir kita bagaimana. Tapi aku berharap, suatu hari aku bisa membaca isinya langsung dari kamu.

Jaga diri baik-baik.]

*From Raka

 

Air mata Aisyah jatuh satu per satu, membasahi surat itu.

Ia memeluk buku kosong tersebut seakan sedang memeluk seseorang yang sangat ia rindukan.

“Kenapa kamu masih bersikap baik. Rak,” bisiknya.

Namun kebaikan itu justru membuat hatinya semakin sakit.

 

Malam itu, Aisyah menulis untuk pertama kalinya di buku tersebut.

“Hari pertama di Turki. Aku baik-baik saja. Aku belajar banyak hal baru. Tapi ada satu hal yang belum bisa kupelajari: bagaimana caranya tidak merindukan seseorang yang tidak pernah menjadi milikku.”

Ia menutup buku itu cepat-cepat, takut air matanya jatuh lebih banyak.

 

Hari berganti minggu.

Aisyah mulai terbiasa dengan ritme hidup barunya. Ia aktif di komunitas mahasiswa internasional, mengikuti kajian muslimah, dan rajin menulis, tulisan-tulisannya kembali dimuat di beberapa platform digital.

Namanya mulai dikenal.

 

Namun setiap kali mendapat kabar baik, ada satu nama yang ingin sekali ia ceritakan dan itu membuat dadanya terasa kosong.

Di sisi lain, Raka mulai berubah.

Ia lebih pendiam, sering melamun dan mudah emosi. Hawa menyadari perubahan itu.

 

“Rak, kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya Hawa saat mereka bertemu di kafe.

“Nggak apa-apa,” jawab Raka singkat.

Hawa menatapnya lama. “Kamu masih mikirin Aisyah, ya?”

Raka terkejut. “Kenapa lo nanya gitu?”

 

“Karena mata kamu beda,” jawab Hawa lirih. “Kamu ada di sini, tapi pikiran kamu ke mana-mana.”

Raka menghela napas. “Gue nggak tahu, Haw. Gue ngerasa salah, tapi gue juga bingung harus ngapain.”

 

Hawa tersenyum pahit. “Kadang kehilangan itu bukan karena orangnya pergi, tapi karena kita terlambat sadar.”

Ucapan itu menusuk Raka tepat di dadanya.

Suatu malam, Aisyah menerima pesan dari nomor tak dikenal.*62810***

[Assalamualaikum. Ini Ilham.]

 

Aisyah langsung duduk tegak, melihat pesan tersebut. 

[Waalaikumsalam, Bang. Ada apa?]

 

*62810***

[Raka sering nanyain kabar lo. Tapi dia nggak berani hubungi langsung.]

 

Aisyah terdiam lama sebelum membalas.

[Tolong bilang ke Raka, aku baik-baik saja. Fokus aja sama hidupnya.]

 

Ilham membaca pesan itu sambil menggeleng pelan.

“Lo dengar sendiri, Rak,” ucapnya.

Raka memejamkan mata. “Gue takut, Ham.”

“Takut apa?”

 

“Takut kalau gue datang, tapi ternyata gue nggak punya hak.”

Ilham menepuk bahunya. “Hak itu bukan ditunggu, Rak. Kadang harus diperjuangkan dengan cara yang benar.”

 

Malam di Turki terasa sunyi.

Aisyah berdiri di balkon, memandang bulan yang sama dengan yang mungkin sedang dipandang Raka.

“Apa kamu juga rindu?” tanyanya pada langit.

Ia tersenyum getir.

“Kalau memang kita ditakdirkan bertemu lagi, pertemukanlah kami dalam versi terbaik,” doanya.

 

Dan di saat yang sama, di tempat berbeda, Raka menengadahkan tangan dengan doa yang hampir sama.

Tak ada yang tahu, bahwa rindu yang mereka simpan diam-diam sedang diuji oleh jarak, waktu dan ketakutan untuk jujur pada perasaan sendiri.

 

Malam semakin larut, Aisyah masuk ke dalam kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya mengendap bersama doa-doa yang belum sepenuhnya terucap.

Ia sadar, pergi sejauh ini bukan untuk lari dari perasaan melainkan untuk belajar menundukkan hati, jika memang Raka bukan takdirnya, maka biarlah rasa ini menjadi jalan pendewasaan, bukan luka yang berlarut.

 

“Aku tidak ingin cinta ini menjauhkan aku dari-Mu,” bisiknya lirih sebelum terlelap.

Di belahan dunia lain, Raka masih terjaga, ia membuka buku agenda lamanya, halaman demi halaman berisi jadwal dan catatan kegiatan OSIS, di salah satu sudut halaman, ia menemukan tulisan tangan Aisyah rapi, sederhana namun penuh makna.

 

Dadanya menghangat sekaligus perih, untuk pertama kalinya, Raka benar-benar mengerti bahwa mencintai bukan soal memiliki, melainkan tentang keberanian bertanggung jawab atas perasaan sendiri. Dan ia tahu, cepat atau lambat, ia harus memilih tetap diam dan kehilangan atau melangkah dengan niat yang lurus.

 

Angin malam berembus pelan, membawa doa-doa yang melayang dari dua hati yang saling terikat dalam jarak, mereka tidak saling menghubungi, tidak saling mengucap rindu namun Tuhan menjadi saksi bahwa nama yang sama selalu hadir dalam sujud mereka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!