Merhaba Aisyah
Mengikuti Open Meeting
Hari-hari Aisyah di Turki perlahan menemukan ritmenya sendiri, jika pada minggu-minggu awal ia masih sering berdiri lama di balik jendela apartemen, menatap kota asing dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang, kini langkahnya mulai ringan, setiap pagi ia bangun lebih awal, menyiapkan diri dengan ransel berisi buku, laptop dan catatan kecil tempat ia menyimpan target-target sederhana yang ingin ia capai.
Kampus tempat Aisyah belajar terletak tak jauh dari pusat kota Istanbul. Bangunannya tua dan syarat sejarah, namun suasananya hidup oleh semangat muda para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Di lorong-lorong kampus, suara bahasa Inggris bercampur dengan Turki, Arab, Prancis, bahkan bahasa yang tak pernah Aisyah dengar sebelumnya. Tawa, diskusi dan perdebatan ringan sering berlanjut hingga ke luar kelas.
Di tempat itulah Aisyah mulai memahami satu hal penting hidupnya sedang bergerak dan ia tak perlu berhenti hanya karena sedang berada jauh dari rumah.
“Syah, duduk sini!” seru seorang gadis sambil melambaikan tangan.
Aisyah menoleh, lalu tersenyum dan menghampiri. “Iya, bentar.”
Gadis itu bernama Zehra, mahasiswa asal Ankara. Ia mengenakan kerudung krem yang dililit sederhana, senyumnya mudah merekah, dan caranya berbicara selalu membuat suasana terasa hangat. Sejak masa orientasi mahasiswa baru, Zehra sering bersama Aisyah, dia selalu menemani saat di kelas, menunjukkan kantin halal, hingga mengajaknya berkeliling kampus.
Zehra bukan tipe orang yang banyak bertanya soal masa lalu. Ia lebih suka membicarakan hal-hal kecil jadwal kuliah, cuaca Istanbul atau rekomendasi perpustakaan favorit, bagi Aisyah, kehadiran Zehra terasa menenangkan.
Selain Zehra, ada Mariam, mahasiswi asal Bosnia yang lembut dan religius. Ia hampir selalu mengenakan hijab hitam polos dan berbicara dengan nada pelan. Mariam sering mengingatkan waktu salat dan mengajak Aisyah ke kajian kecil yang diadakan mahasiswa muslimah.
Ada pula Naila, perempuan Indonesia yang sudah satu tahun lebih dulu tinggal di Turki, gayanya sederhana, kerudungnya selalu rapi dan tutur katanya hangat seperti kakak sendiri. Dari Naila, Aisyah banyak belajar soal hidup mandiri di negeri orang.
Di sisi lain, Aisyah juga berkenalan dengan beberapa mahasiswa non-muslim. Ada yang tidak mengenakan kerudung, berambut panjang pirang atau cokelat kemerahan khas perempuan Eropa. Meski berbeda keyakinan, mereka saling menghormati. Kampus internasional itu menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang agama, budaya dan cara pandang yang hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.
Lingkar pertemanan kecil itu membuat Aisyah merasa hidupnya kembali bernapas.
Sementara itu, Katya mulai tenggelam dalam kesibukan yang tak kalah padat. Selain mengajar, Katya kini juga menerima beberapa pekerjaan lepas. Kadang ia menjadi pengajar bahasa, kadang pula diminta membantu rombongan wisatawan muslim sebagai pendamping perjalanan.
Suatu malam, Aisyah menemukan dapur dalam keadaan sepi. Tak ada aroma masakan seperti biasanya.
“Kak?” panggilnya pelan.
Katya baru saja masuk dengan wajah lelah, tas selempang masih tergantung di bahunya. Hijabnya belum sempat dilepas.
“Maaf ya, Syah,” kata Katya sambil tersenyum letih. “Hari ini Kakak pulang agak malam. Kayaknya kita harus pesan makanan lagi.”
Aisyah tertawa kecil. “Nggak apa-apa, Kak. Aku malah senang lihat Kakak sibuk.”
Katya menghela napas sambil duduk.
“Kadang capek, tapi aku belajar banyak. Ketemu orang-orang baru, dengar cerita hidup mereka… rasanya bikin aku lebih bersyukur.”
Aisyah mengangguk. Ia memandang kakaknya dengan rasa kagum. Katya bukan hanya sedang bekerja ia sedang membangun dirinya sendiri.
Mereka berdua memang terpaut dua semester, tapi kedewasaan Katya terasa jauh melampaui jarak usia itu. Di negeri orang, Katya menjadi rumah pertama bagi Aisyah.
Suatu siang, setelah kelas selesai, Zehra menghampiri Aisyah dengan wajah penuh semangat.
“Syah, kamu ikut organisasi kampus, nggak?” tanyanya.
Aisyah mengernyit pelan. “Belum. Kenapa?”
Zehra duduk di sampingnya. “Aku ikut organisasi mahasiswa internasional. Kita sering bikin event budaya, diskusi lintas negara, juga kegiatan sosial. Kayaknya kamu cocok.”
Aisyah terdiam sejenak. Ia teringat masa-masa aktif berorganisasi di sekolah dulu. Rapat panjang, kerja tim, lelah yang justru terasa menyenangkan.
“Aku belum kepikiran sih,” jawabnya jujur.
“Besok ada open meeting. Datang aja dulu, nggak harus daftar,” kata Zehra meyakinkan.
Malam itu, Aisyah memikirkannya cukup lama. Ia tahu, kesibukan bukan solusi untuk lari dari apapun namun ia juga sadar, mencoba hal baru adalah bagian dari bertumbuh.
Akhirnya, ia memutuskan untuk datang. Open meeting itu diadakan di salah satu aula kampus lantai dua, ruangan cukup luas, kursi-kursi disusun setengah melingkar dan hampir seluruhnya terisi.
Aisyah duduk di barisan tengah bersama Zehra dan Mariam, di sekelilingnya tampak mahasiswa dari berbagai latar belakang sebagian mengenakan kerudung dengan gaya dan warna berbeda, sebagian lain tidak, dengan rambut panjang tergerai khas mahasiswa Eropa. Kampus internasional itu benar-benar menjadi ruang pertemuan banyak budaya dan keyakinan.
Seorang perempuan senior berdiri di depan ruangan. Ia mengenakan kerudung hitam dan blazer abu-abu, sikapnya tenang namun berwibawa.
“Welcome, everyone. Terima kasih sudah datang ke open meeting organisasi mahasiswa internasional,” ucapnya dalam bahasa Inggris yang fasih.
Satu per satu para senior memperkenalkan diri dan divisi masing-masing, ada divisi acara, hubungan internasional, sosial, hingga literasi dan media. Mereka menjelaskan kegiatan yang pernah dilakukan mulai dari festival budaya, diskusi lintas negara, sampai kegiatan sosial untuk masyarakat sekitar.
Saat sesi perkenalan peserta dimulai, Aisyah sempat merasa gugup. Namun ketika mikrofon berada di tangannya, ia menarik napas dan tersenyum.
“Halo, aku Aisyah. Mahasiswa baru dari Indonesia,” ucapnya.
Beberapa senior mengangguk, mencatat namanya.
Open meeting itu semakin ramai ketika para peserta mulai berdiri dan berpindah tempat sesuai arahan panitia. Aula yang tadinya tertata rapi mendadak dipenuhi langkah kaki dan suara kursi yang bergeser, Aisyah terpisah dari kedua temannya karena beda divisi dia berdiri sambil memegang map tipis berisi formulir pendaftaran.
Tanpa disadari, seseorang di belakangnya bergerak terlalu cepat.
Bruk.
Lengan Aisyah tersenggol cukup keras hingga map di tangannya hampir terlepas. Ia refleks mundur satu langkah, napasnya tercekat sesaat.
“Ah—sorry,” ujar seorang mahasiswa laki-laki sambil tertawa kecil. “Ramai banget ya. Kamu nggak apa-apa?”
“Iya,” jawab Aisyah pelan, berusaha tetap tenang.
Beberapa lembar kertas justru jatuh ke lantai.
“Waduh, jatuh semua,” mahasiswa itu tertawa lagi, nada suaranya sedikit menggoda. “Biasanya sih, yang kejadian begini malah betah di organisasi.”
Aisyah berjongkok, tapi sebelum tangannya menyentuh lantai, ada tangan lain yang lebih dulu mengambil kertas-kertas itu.
“Biar saya bantu.”
Suara itu rendah, tenang, tanpa nada bercanda.
Aisyah mendongak. Seorang senior berdiri di hadapannya. Pakaiannya sederhana, rapi, dengan syal tipis melingkar di lehernya. Wajahnya datar, tapi sorot matanya menunjukkan perhatian yang tulus.
“Terima kasih,” ucap Aisyah spontan.
Senior itu menyerahkan kertas-kertas dengan rapi. “Open meeting memang selalu ramai. Hati-hati.”
Mahasiswa yang tadi menyenggol Aisyah terkekeh. “Santai aja, Kak. Aku cuma bercanda.”
Senior itu menoleh sekilas. “Bercanda boleh,” katanya singkat, “asal tahu batas.”
Nada suaranya tidak keras, tapi cukup membuat suasana berubah. Mahasiswa itu hanya tersenyum kecil lalu pergi.
Aisyah menghela napas lega. “Terima kasih sudah menolong,” katanya lagi.
Senior itu mengangguk. “Kamu mahasiswa baru?”
“Iya. Dari Indonesia.”
“Pantas,” katanya ringan. “Aku Arman ketua divisi literasi dan media.”
Aisyah tersenyum kecil. “Wahh kebetulan sekali, aku tertarik ke divisi itu.”
“Bagus,” jawab Arman. “Nanti saat pemilihan divisi, kamu bisa ikut diskusinya, jangan sungkan bertanya.”
“Iya, Kak. Terima kasih.”
Arman tersenyum tipis sebelum kembali ke barisan panitia.
Aisyah menatap punggungnya sesaat, lalu menunduk sambil merapikan map. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat bukan karena perasaan yang rumit, melainkan karena kebaikan sederhana yang datang di waktu yang tepat.
Di tengah aula penuh wajah asing dan bahasa yang beragam, Aisyah merasa tidak takut lagi karena banyak yang berasal dari negara yang sama.
Setelah sesi perkenalan, peserta dibagi untuk diskusi singkat dengan senior sesuai minat. Aisyah berbincang dengan dua senior divisi literasi, mereka menanyakan pengalaman, kebiasaan menulis dan alasannya tertarik bergabung.
Open meeting itu menjadi awal dari rutinitas baru Aisyah. Ia bergabung di divisi literasi dan media, kemampuannya menulis membuatnya cepat beradaptasi, ia membantu menyusun artikel, membuat konten media sosial, hingga terlibat dalam konsep acara lintas budaya.
“Aisyah, tulisan kamu enak dibaca,” puji Mariam suatu sore.
Aisyah tersenyum kecil. “Aku cuma nulis apa yang aku pahami.”
Open meeting ditutup dengan doa singkat. Aisyah keluar dari aula dengan perasaan campur aduk lelah, gugup, tapi juga bersemangat.