Merhaba Aisyah
Kenyamanan Yang Mulai Tumbuh
Hari itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya, poster-poster kegiatan menempel hampir di setiap sudut papan pengumuman, berlapis-lapis seolah saling berebut perhatian. Mahasiswa berlalu-lalang dengan langkah cepat, sebagian menggenggam kopi panas, sebagian lain sibuk dengan ponsel di tangan.
Aisyah berjalan menyusuri koridor sambil memeluk map berisi catatan rapat, di dalamnya tersimpan draf revisi terakhir agenda diskusi literasi sore nanti, bahunya terasa sedikit pegal, tapi langkahnya tetap ringan, ada rasa lelah yang wajar, bercampur dengan kepuasan yang pelan-pelan tumbuh sejak ia benar-benar terlibat aktif di organisasi kampus.
Sejak hari open meeting itu, hidup Aisyah tidak lagi sesederhana datang ke kelas, mencatat, lalu pulang ke apartemen, ada rapat yang tak terhitung, diskusi yang kadang berlarut dan tanggung jawab yang menuntutnya hadir bukan hanya secara fisik tapi juga pikiran. Namun anehnya, ia tidak merasa terbebani.
“Aisyah.”
Suara itu membuat langkahnya terhenti. Aisyah menoleh. Arman berdiri beberapa meter darinya, ransel hitam tersampir di bahu, ekspresinya tenang seperti biasa, Aisyah menyadari jika akhir-akhir ini dia selalu bertemu dengan cowok itu.
“Iya, Kak?” jawab Aisyah.
“Kamu bawa draft terakhir?” tanya Arman sambil mendekat.
Aisyah mengangguk dan menyerahkan map di tangannya. “Ini yang sudah aku revisi semalam, aku fokusin ke alur diskusi dan pembukaan.”
Arman membuka map itu, membaca cepat beberapa halaman. Matanya bergerak gesit, sesekali berhenti di satu paragraf. “Kita bahas di ruang baca, ya. Di sini agak berisik.”
Aisyah mengiyakan, mereka berjalan berdampingan menuju ruang baca kecil di lantai dua, tidak ada percakapan basa-basi, hanya langkah yang beriringan dan keheningan yang terasa nyaman tidak canggung.
Begitu duduk, Arman langsung masuk ke pembahasan. “Di bagian pembuka, kamu pakai pendekatan naratif, kenapa memilih itu?”
Aisyah meluruskan punggungnya. “Karena audiens kita bukan cuma mahasiswa Turki, banyak mahasiswa internasional yang lebih mudah terhubung lewat cerita sebelum masuk ke data.”
Arman mengangguk pelan. “Itu poin yang kuat.”
Ia berhenti sejenak, lalu beralih menggunakan bahasa Turki dengan nada yang tetap tenang.
“Bu yaklaşımı neden seçtiğini güzel anlatıyorsun. Türkçen de gelişmiş.”
(Kamu menjelaskan alasan pendekatan ini dengan baik, bahasa Turki mu juga berkembang.)
Aisyah sempat terkejut, namun ia tidak ingin mundur, ia menjawab dengan bahasa yang sama, meski artikulasinya masih sedikit berhati-hati.
“Teşekkür ederim, Kak. Hâlâ öğreniyorum… bazen kelimeler karışıyor.”
(Terima kasih, Kak. Aku masih belajar… kadang kata-katanya tercampur.)
Arman tersenyum tipis. “Normal.” Ia kembali ke bahasa Indonesia. “Yang penting kamu berani berbicara nanti juga akan terbiasa, bahasa itu soal proses.”
Ucapan itu membuat Aisyah merasa dihargai, bukan sekadar dinilai tapi diberi ruang untuk bertumbuh. Arman tidak mengoreksi kesalahannya secara langsung, tidak pula membuatnya merasa kecil. Ia hanya membuka jalan.
Diskusi berlangsung hampir satu jam. Mereka membedah struktur tulisan, menyepakati beberapa perubahan kecil, dan membagi tugas untuk minggu depan. Ketika pembahasan selesai, Aisyah menutup laptopnya dengan napas lega.
“Terima kasih, Kak. Masukannya membantu,” katanya tulus.
“Sama-sama,” jawab Arman. “Kalau nanti ada bagian yang kamu ragu, kirim saja. Kita bahas bareng.”
Aisyah mengangguk, tidak ada kalimat tambahan, tidak ada nada personal, semuanya tetap berada dalam batas yang jelas. Aisyah mengecek ponselnya terdapat pesan dari Raya yang sedang sibuk jadi chef di restorannya. Perlahan rindu itu muncul, dia sangat merindukan sahabat-sahabatnya di Jakarta
Beberapa hari kemudian, organisasi mengadakan rapat besar untuk persiapan acara budaya. Aula kampus dipenuhi kursi yang disusun setengah lingkaran. Aisyah duduk bersama timnya, mencatat poin-poin penting. Arman berdiri di depan, memimpin rapat dengan bahasa Turki dan Inggris yang bergantian, lancar dan tegas.
Di tengah rapat, Arman tiba-tiba memanggil namanya.
“Aisyah, kamu bisa jelaskan konsep publikasi yang sudah kamu susun?”
Aisyah mengangkat kepala, banyak pasang mata tertuju padanya. Ia berdiri, menarik napas pelan. “Konsep publikasi kami fokus pada pengalaman mahasiswa internasional bagaimana mereka menemukan ruang aman untuk berdiskusi.”
Arman mengangguk, lalu menimpali dengan bahasa Turki.
“Bunu Türkçe anlatabilir misin? Kısa saja.”
(Bisa kamu jelaskan dalam bahasa Turki? Singkat saja.)
Ruangan mendadak terasa lebih hening, Aisyah merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ini pertama kalinya ia diminta menjelaskan konsep di forum menggunakan bahasa Turki. Biasanya ia hanya mendengar, mencatat atau berbicara singkat dalam percakapan informal.
“Biz, uluslararası öğrencilerin kendilerini ifade edebilecekleri bir alan yaratmak istiyoruz. Bu etkinlik, farklı kültürleri bir araya getiriyor.”
(Kami ingin menciptakan ruang bagi mahasiswa internasional untuk mengekspresikan diri. Kegiatan ini mempertemukan berbagai budaya.)
Nada suaranya mungkin belum sempurna, struktur kalimatnya belum sehalus penutur asli, tapi pesannya sampai.
Beberapa peserta rapat mengangguk, ada yang tersenyum kecil.
“Cukup jelas,” kata Arman, kembali ke bahasa Indonesia. “Terima kasih.”
Aisyah duduk kembali, dadanya terasa hangat. Zehra yang duduk di sebelahnya menepuk lengannya pelan. “Keren,” bisiknya.
Aisyah tersenyum kecil, bukan karena merasa hebat tapi karena ia sudah berani.
Usai rapat, Aisyah membereskan kertas-kertas di meja ketika Arman menghampirinya.
“Kamu tadi bagus,” katanya singkat.
“Masih banyak salahnya,” jawab Aisyah jujur.
Arman menggeleng pelan. “Kesalahan itu bagian dari belajar. Kalau kamu nunggu sempurna, kamu nggak akan pernah mulai.”
Kalimat itu tertanam dalam benak Aisyah, hari-hari berikutnya, mereka semakin sering terlibat dalam agenda yang sama. Diskusi singkat di koridor, pesan singkat soal teknis acara atau rapat kecil yang tak terencana. Arman kadang sengaja menyelipkan bahasa Turki dalam percakapan mereka.
“Bugün çok yoğunsun mu?” tanya Arman melihat Aisyah yang selalu aktif tanpa mengeluh. (Hari ini kamu sibuk sekali?)
“Lumayan,” jawab Aisyah sambil tersenyum. “Ama iyiyim.” (Tapi aku baik-baik saja.)
Percakapan itu ringan, tidak ada perhatian lebih dari Arman yang perlu Aisyah curigai, tidak ada tuntutan untuk lebih dari sekadar rekan kerja namun Aisyah tetap menjaga jarak emosionalnya, ia menyadari adanya kenyamanan yang tumbuh tapi ia juga sadar, ia tidak ingin menafsirkan sesuatu terlalu jauh. Ia menikmati proses ini apa adanya.
Suatu malam, setelah menyelesaikan laporan, Aisyah duduk sendirian di balkon apartemen, udara dingin menyentuh kulitnya. Ia membuka ponsel, membaca ulang pesan-pesan dari Arman, semuanya tentang pekerjaan, tidak ada satupun yang melampaui batas. Ia tersenyum pelan.
Beginilah seharusnya, dekat tapi tidak melekat. Nyaman, tanpa tuntutan.
Beberapa hari kemudian, acara budaya berhasil digelar dengan lancar. Dalam evaluasi kecil, Arman menyampaikan apresiasi.
“Terima kasih atas kerja kerasnya,” ucapnya. “Tim literasi dan media solid.”
Aisyah menunduk sedikit, menerima pujian itu dengan tenang.
Saat semua orang mulai beranjak pergi, Arman menghampirinya. “Kalau suatu hari kamu merasa terlalu penuh, bilang saja. Di organisasi ini, kamu tidak harus menanggung semuanya sendiri.”
Aisyah menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih, Kak.”
Aisyah menyadari jika Arman begitu memperhatikan, beberapa kali temannya juga bertanya terkait perasaannya, Aisyah berharap itu hanya kepedulian yang disampaikan dengan cara yang dewasa.
Malam itu, Aisyah menyadari satu hal penting ia bisa dekat dengan seseorang tanpa harus melibatkan perasaan terlalu dalam dan itu, untuk saat ini sudah lebih dari cukup.