Merhaba Aisyah
Hari Perpisahan Itu Akan Tiba
Setelah pertemuan singkat Aisyah dengan Ameera, seperti yang sudah dia janjikan atau katakan sebelumnya malam ini Raya akan bermalam di rumah Aisyah setelah mendapat izin dari Mamahnya.
Begitu banyak hal yang harus Aisyah katakan sebelum dia akan meninggalkan semua orang yang baginya terasa sangat sulit baginya tanpa harus memberitahunya sekarang dan tentu saja mereka akan mengira bahwa Aisyah telah berubah dan melupakan mereka, mengapa Aisyah harus melakukan itu? karena butuh waktu bagi Aisyah melepaskan Raka untuk sahabatnya sendiri, butuh waktu untuk Aisyah pokus dengan pendidikannya, butuh waktu untuk Aisyah melupakan Raka dari dalam hati dan pikirannya.
"Yah, terima kasih buat semuanya!" ujar Aisyah sembari memeluk Ayahnya yang baru pulang dari luar kota dan memberikannya kejutan yang begitu luar biasa dan membuat Aisyah sangat senang.
Haris membalas pelukan putri kesayangannya, "Ini Ayah lakukan untuk kamu semata dan ini juga karena kamu sudah melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh dan 2 hari lagi Katya akan sampai di Indonesia dan berkumpul bersama kita semua Ayah mendapat informasi dari pihak sana," jelas Haris dengan begitu tenang.
"Aku sangat senang sekali mendengar kabar itu Yah," sahut Aisyah dengan mata yang berbinar-binar, sudah lama dia menunggu kakaknya itu pulang dan kembali berkumpul bersamanya.
"Ya sudah sana berangkat ke sekolah nanti kamu telat lagi." Adiba datang menganggetkan dua orang yang sedang berbicara itu. "Nih bawa untuk bekal di sana!"
Aisyah menghampiri Bundanya lalu memeluknya sebentar, "Terima kasih Bunda," ujar Aisyah seraya mencium tangan Bundanya dengan patuh.
"Hati-hati di jalan ya," seru ke dua orangtua Aisyah secara bersamaan.
Lalu Aisyah pun tersenyum dan berlalu pergi ke sekolah hari ini dia harus menyelesaikan tugasnya dan akan membahas pergantian ketua Rohis, begitu cepatnya dia menjalankan masa-masa organisasi itu yang telah mempertemukan dirinya dengan mereka yang begitu dia sayangi karena telah melakukan banyak hal bersama dalam masa suka maupun duka dan di sana juga dia tempatnya bertemu dengan Raka hingga hubungannya bisa sedekat ini.
"Non Aisyah, senang banget kelihatannya," seru Pak Ujang yang kadang memperhatikan Aisyah tersenyum sendiri.
"Ah begitukah? aku hanya perlu bersiap-siap untuk melakukan banyak hal, Pak Ujang apakah Bapak punya seorang putri?"
Selama ini Aisyah memang tidak pernah melihat keluarga Pak Ujang meski supir pribadi keluarganya itu sudah bekerja lebih dari 10 tahun, Pak Ujang tersenyum mengingat bahwa dirinya pun sudah merindukan keluarganya itu di kampung.
"Pak Ujang punya anak tiga satu orang putra yang sudah bekerja dan dua orang putri yang masih sekolah, ada apa memangnya Non Aisyah? Kok tiba-tiba bertanya tentang keluarga Bapak?" tanya Pak Ujang merasa heran dengan pertanyaan majikannya yang tidak biasanya.
"Ah tidak aku hanya ingin tahu saja Pak karena selama ini kan aku belum pernah melihatnya." Aisyah menggeleng sembari tersenyum.
Jarak sekolah tidak jauh dari rumahnya, apalagi jalanan tidak begitu macet jadi Aisyah bisa dengan cepat sampai di sekolahannya yang sudah ramai, orang pertama yang Aisyah lihat saat itu adalah Ilham yang sedang bersama Aqila dan satu orang lagi yang dia tidak tahu namanya.
Dengan santainya Aisyah berjalan menuju taman sekolah dia ingin menunggu bel masuk dari sana sambil memakan sarapan pagi yang dibuatkan oleh Bundanya sendiri selagi makan dia juga bisa membaca buku ilmiah yang baru dia beli dari gudang buku untung saja saat itu Raka tidak datang karena cowok itu masih mencoba menghubungi untuk berbicara entah apa yang ingin cowok itu katakan, saat ini Aisyah merasa malu sebagai wanita pada umumnya yang telah ketahuan menyukai ketua rohis.
Sembari mendengarkan musik islami Aisyah menikmati buku bacaannya, tanpa dia sadari ada seseorang yang sedang mengintainya dari balik pohon dia orang yang dekat dengan Aisyah sedang memperhatikan dan mencari tahu tentang Aisyah.
"Syah nanti tolong berikan ini kepada Bu Maya ya dari Raka tapi sebelumnya kau baca terlebih dahulu," seru Rian saat menemukan orang yang dia cari sejak tadi.
Dengan heran Aisyah memandang map yang dipegangnya, "Oh baiklah nanti akan kuberikan," katanya sembari tersenyum.
"Ya sudah gue duluan ya!" Rian langsung pergi setelah memberikan map itu kepada Aisyah.
Aisyah pun menutup buku yang dia baca lalu beralih dengan map yang sedang dipegangnya perlahan namun pasti Aisyah membuka map tersebut yang berisi tentang acara pergantian rohis dan pelantikan ketua rohis.
"Ah aku jadi sedih melihat ini," gumamnya dengan nelangsa. Dia memikirkan siapa calon ketua yang akan menggantikan posisi Raka apakah dia mampu mengemban amanah sebagai ketua rohis dan apakah dia seseorang yang dapat dipercaya dan bijak dalam mengambil keputusan sama seperti Raka dalam menjalankan tugasnya.
Saat bel masuk Aisyah pun langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi ke kelasnya dengan satu kali embusan Aisyah melangkah dengan penuh keyakinan dan penuh keteguhan.
Terlihat Hawa yang sedang bersama dengan Raka namun saat Aisyah berjalan di depan mereka Raka langsung menatap Aisyah dengan tajam dan tulus.
"Syah," seru Raka dengan lirih wajahnya begitu nelangsa.
Namun Aisyah pergi begitu saja saat Hawa menarik Raka untuk jangan menoleh ke arah dirinya lagi, sakit tentu saja akan tetapi dia sudah ikhlas dan merelakan Raka untuk sahabat baiknya itu.
Selama jalan di lorong sekolah Aisyah terus tersenyum dan mendudukan pandangannya dia baru saja mendengar bahwa hafalan seseorang akan hilang jika dia berbuat maksiat atau berzina, Aisyah akui jika selama ini dia telah berbuat maksiat dengan terus memandang Raka secara diam-diam bahkan menangisi cowok yang selalu membuatnya sakit hati itu.
"Selamat pagi anak-anak?" ujar Bu Maya membuka mata pelajaran pada pagi hari ini dengan begitu antusias.
"Selamat pagi Bu," seru anak murid dengan serempak.
"Hari ini Ibu mau ngasih tahu kalian bahwa ujian akan dilaksanakan hari selasa besok dan dikerjakan di rumah, jangan lupa belajar di rumah dan tetaplah menjadi anak yang baik dan selalu menebar kebaikan di mana pun kalian berada karena kalian adalah muda-mudi penerus bangsa ini." Bu Maya memberikan petuah di pagi hari yang sangat cerah.
Ya kelas 12 akan melaksanakan ujian kelulusan membuat Bu Maya sebagai Guru yang mengajar paling banyak di kelas itu merasa sedih dan dia berharap anak didikannya selalu mengingat kata-kata atau nasehat yang para Guru berikan untuk menjadi bekal mereka setelah lulus.
"Bu maafin kita ya jika selama ini kita selalu berbuat salah sama Ibu," ujar Jaka yang terkenal anak nakal dan suka mendapatkan hukuman dari Bu Maya karena tidak pernah mengerjakan tugasnya.
"Iya Bu, saya juga minta maaf karena selalu tidur di pelajaran Ibu," timpal Fasya mengaku akan kesalahannya.
Dengan rendah hati Bu Maya memaafkan anak muridnya yang memang selalu membuat dirinya naik darah tinggi, "Ibu sudah memaafkan kalian semua sebelum kalian meminta maaf sama Ibu," terang Bu Maya sembari tersenyum manis.
Raya memeluk Bu Maya, layaknya anak dengan seorang Ibu karena dimata Raya Bu Maya adalah guru terbaik yang pernah dia kenal, beliau juga sudah banyak membantu dirinya ketika belum membayar uang sekolah, Raya menangis sedih tidak mau berpisah dengan Bu Maya.
"Kita bisa bertemu lagi kok dilain waktu atau kamu boleh main ke rumah Ibu diwaktu libur," ujar Bu Maya sambil memandang wajah Raya yang memerah akibat menangis.