Merhaba Aisyah
Museum Yang Menyisakan Tangis
Aisyah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah oleh air wudhu. Dadanya sudah sedikit lebih ringan, meski sisa sesak itu belum sepenuhnya pergi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sebentar, menarik napas panjang, lalu melangkah kembali ke ruang pameran.
Namun langkahnya terhenti.
Arman tidak ada, awalnya Aisyah mengira Arman hanya berjalan lebih dulu, mungkin sudah menunggunya di depan salah satu lukisan. Ia melangkah perlahan, matanya menyapu ruangan dari sudut ke sudut, dari bangku panjang hingga pintu kaca besar yang mengarah ke halaman museum.
Kosong, beberapa peserta lain terlihat sibuk berbincang atau memotret karya seni, tapi sosok yang sedari tadi bersamanya itu menghilang begitu saja.
“Aneh…” gumam Aisyah pelan.
Ia merogoh tasnya, berniat mengirim pesan, namun layar ponselnya lebih dulu menyala. Sebuah notifikasi masuk.
*Arman
Aisyah, maaf banget. Aku harus pulang sekarang. Ibu tiba-tiba masuk rumah sakit. Aku nggak sempat pamit langsung. Kamu aman ya di museum. Nanti aku jelasin.
Jari Aisyah bergetar halus saat membaca pesan itu, seketika rasa bersalah menyusup ia teringat wajah Arman yang sempat menegurnya karena terlalu diam, sementara pikirannya sendiri tenggelam jauh ke masa lalu.
“Ibunya sakit,” gumam Aisyah menghela napas panjang, lalu membalas singkat.
*Aisyah
“Iya, kak Arman. Hati-hati di jalan, semoga ibumu cepat membaik.”
Ponsel itu perlahan diturunkan untuk sesaat, museum terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena sepi manusia, tapi karena ada ruang kosong yang mendadak tercipta di hatinya.
Namun di balik kesunyian itu, satu nama kembali teringat. Raka?
Pertemuan singkat tadi tatapan yang tak sempat lama, percakapan yang terputus oleh waktu masih menggantung di benaknya. Ada terlalu banyak hal yang belum sempat ia tanyakan, terlalu banyak perasaan yang hanya dipendam di balik senyum kaku.
Aisyah menoleh ke arah lorong tempat ia terakhir berdiri bersama Raka.
“Kalo sekarang aku nggak nyari… mungkin aku bakal nyesel,” bisiknya pada diri sendiri, dia melangkah.
Langkah Aisyah pelan, nyaris ragu seolah ia takut harapannya sendiri akan runtuh jika terlalu cepat, iya menyusuri ruang demi ruang, berhenti di depan lukisan yang sama tempat mereka berdiri saling berhadapan beberapa waktu lalu.
Kosong. Aisyah menunggu, satu menit, dua menit dan hampir setengah jam.
Ia berpura-pura mengamati detail lukisan, padahal matanya berkali-kali melirik ke pintu masuk, setiap suara langkah membuat jantungnya berdegup lebih cepat, setiap bayangan yang lewat menyalakan harapan kecil yang kemudian padam lagi.
Samar-samar dia mendengar ada yang memanggil namanya “Aisyah?” Tidak, bukan suaranya bukan pula dirinya tapi Aisyah yang lain.
Aisyah lanjut berjalan, memperlambat langkah, berharap waktu berbaik hati. Lorong artefak, tangga kecil, ruang patung semuanya ia lewati dengan perasaan yang semakin berat.
Sampai akhirnya ia tiba di pintu keluar museum.
Dari balik kaca besar itu, ia melihat halaman depan sebuah bus berwarna gelap baru saja menutup pintunya. Beberapa orang bergegas naik, sebagian melambaikan tangan pada teman mereka, Aisyah membeku.
Matanya mencari satu sosok di antara kerumunan itu dan ia menemukannya.
Raka berdiri di dekat pintu bus, ransel tersampir di bahu, wajahnya menoleh sekilas ke arah museum lalu berpaling. Bus itu mulai bergerak.
“Raka…” suara Aisyah nyaris tak terdengar, kalah oleh jarak dan waktu.
Langkahnya maju satu tapak lalu terhenti, kaca tebal itu seolah menjadi batas yang tak bisa ia lewati dadanya kembali sesak, kali ini lebih dalam, lebih perih.
Bus itu menjauh perlahan, lalu benar-benar pergi sedangkan Aisyah berdiri terpaku.
Tak ada air mata di detik pertama hanya rasa kosong yang menjalar dari dada hingga ujung jari, kehilangan ini terasa berbeda bukan karena perpisahan yang jelas, tapi karena kesempatan yang nyaris tergenggam lalu terlepas.
Air matanya akhirnya jatuh.
Bukan karena ia ditinggalkan melainkan karena ada begitu banyak kata yang belum sempat terucap begitu banyak tanya yang tak pernah mendapat jawaban.
Aisyah mengusap pipinya cepat, menunduk, membiarkan tangis itu luruh tanpa suara.
Museum itu tetap berdiri megah, menyimpan ratusan kisah dalam diam dan hari itu, satu kisah lain tertinggal di dalamnya kisah tentang rindu yang datang kembali, lalu pergi tanpa sempat dimiliki.
****
Air mata Aisyah masih membasahi pipinya ketika ia berdiri di depan pintu kaca museum. Bus itu telah menghilang dari pandangan, menyisakan halaman kosong dan cahaya sore yang perlahan meredup. Ia tidak langsung bergerak. Kakinya terasa berat, seolah hatinya masih tertinggal di sana di antara langkah-langkah yang tak sempat ia kejar dan kata-kata yang tak sempat terucap.
Ia mengusap wajahnya perlahan, mencoba menenangkan diri.
“Aisyah… kamu harus ikhlas,” bisiknya lirih, lebih seperti doa daripada kalimat.
Ia menoleh ke dalam museum sekali lagi. Ruang pameran itu tetap tenang, seolah tidak peduli bahwa ada hati yang baru saja runtuh dalam diam. Aisyah melangkah menjauh dari pintu, duduk di bangku panjang dekat dinding luar museum, tangannya gemetar saat ia menggenggam ponsel.
Beberapa detik berlalu dalam hening.
Lalu ponselnya bergetar, nama yang muncul di layar membuat dadanya menegang seketika.
“Ilham?” pekik Aisyah terkejut.
Dia menatap layar itu beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat telepon.
“Halo, Ilham…” suaranya pelan, masih terdengar basah.
Di seberang sana, suara Ilham terdengar tenang, tapi serius. “Aisyah… kamu baik-baik aja?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi langsung menembus pertahanannya.
Aisyah terdiam sesaat. “Aku… baik,” jawabnya, meski suaranya tak sepenuhnya meyakinkan.
Ilham menghela napas pelan. “Aku tau kamu baru saja ketemu Raka.”
Jantung Aisyah berdegup lebih cepat. Aisyah menunduk, air matanya kembali jatuh.
“Dia udah balik ke Mesir barusan,” lanjut Ilham. “Dia nggak sempat pamitan ke kamu, karena tadi dia mencari namun tidak ketemu jadi dia pikir kamu sudah pulang.”
Aisyah memejamkan mata. “Ternyata tadi Raka juga nyariin aku?" batinnya berucap.
Beberapa detik hening lalu Ilham bicara lagi, suaranya lebih dalam, lebih hati-hati.
“Aisyah… dia minta nomor kamu.”
Napas Aisyah tercekat, tangannya mengencang menggenggam ponsel.
“Dia bilang apa?” tanyanya lirih.
Ilham terdiam sejenak, seolah memilih kata. “Dia tadi cerita ketemu kamu dan mau ngobrol tapi terputus oleh waktu dia gak bisa lama-lama."
“Raka tidak menyinggung Arman dalam ceritanya, berarti…” Aisyah sibuk oleh pikiran dan perasaannya.
Ilham lalu bicara lagi, suaranya lebih lembut, seperti seorang abang yang sedang menenangkan adiknya.
“Aisyah… aku kenal Raka dari lama, aku juga kenal kamu, kalian itu sebenarnya punya perasaan yang sama cuma… takdir narik kalian ke arah yang beda.”
Aisyah terisak kecil. “Aku pikir aku udah kuat. Aku pikir aku sudah selesai dengan perasaan ini.”
“Rindu itu nggak selalu minta dicari,” jawab Ilham pelan. “Kadang dia cuma tidur, nunggu waktu buat bangun lagi.”
Aisyah terdiam. “Ilham… aku nggak tahu harus gimana,” katanya lirih. “Aku nggak mau ngejar dia, aku juga nggak nahan dia tapi rasanya sakit.”
Ilham tersenyum kecil, meski Aisyah tak bisa melihatnya. “Kamu gak salah, wajar kamu manusia, Aisyah. Dan manusia itu punya rasa.”
Aisyah mengusap pipinya. “Terus kenapa dia minta nomor aku?”
Ilham menjawab jujur, tanpa dramatisasi. “Karena dia nggak mau pertemuan hari ini jadi satu-satunya garis dan mungkin ada yang mau dibicarakan.”
Kalimat itu membuat Aisyah ragu, dia takut hatinya kembali merasakan sakit karena setahu dia kini Hawa dan Raka masih berhubungan baik entah bagaimana status mereka sekarang.
“Aku kirim nomor kamu ke dia,” lanjut Ilham. “Kalau kamu keberatan, bilang. Aku bisa jelasin ke dia.”
Aisyah menggeleng pelan, meski Ilham tak melihatnya. “Nggak apa-apa,” katanya. “Kalau tidak dikasih aku takut dia malah menganggap aku sombong.”
Ilham tersenyum. “Itu jawaban yang baik.”
Ia lalu menambahkan dengan nada lembut,
“Aisyah… apapun yang terjadi nanti, jangan paksa hatimu buat bertahan, masih banyak lelaki yang lebih baik dari Raka, aku akan selalu mendukungmu.”
Aisyah mengangguk, air matanya sudah mulai mengering.“Makasih, Ilham.”
“Sama-sama,” jawab Ilham. “Aku selalu di sini, karena aku adalah abangmu.”
Telepon itu berakhir dengan hening yang lebih tenang.
****
Di kamarnya yang masih terang oleh cahaya lampu belajar, Aisyah telah menunaikan ibadah salat isya, mulutnya terus berdzikir dengan sesekali matanya terpejam menikmati kedekatannya dengan sang pencipta.
Di dalam hatinya, tanpa suara, Aisyah melantunkan doa lirih.
“Ya Robb, jika pertemuan ini adalah takdir, maka jodohkanlah kami namun jika tidak, kuatkan aku untuk merelakan dengan ikhlas.”
Aisyah menyerahkan segalanya kepada Allah, dulu dia sering menyebut nama Raka dalam doanya namun kini dia sadar jodoh ada di tangan tuhan, dia tidak bisa memaksakan sesuatu yang bukan miliknya.