Merhaba Aisyah

Kepulangan Kakaknya Aisyah

"Assalamualaikum Yah ini aku Aisyah," ujar Aisyah saat panggilannya sudah tersambung dengan ponsel Ayahnya.

 

"Waalaikumsalam iya ada apa Nak?" Terdengar suara barinton milik Ayahnya yang sepertinya sedang bersama banyak orang karena terdengar ramai.

 

Tidak mau basa-basi Aisyah akhirnya langsung berbicara ke intinya, "Yah aku sedang beres-beres pakaianku tapi lemarinya gak muat jadi bisa tidak Ayah belikan lagi lemari untuk pakaian ka Katya?" katanya seraya menggingit bibir bawahnya.

 

Aisyah anak kesayangan mana mungkin Haris tidak akan menuruti semua keinginannya ditambah lagi Aisyah adalah gadis yang patuh kepada orangtua dan selalu membanggakan.

 

"Ya sudah nanti Ayah belikan sebentar lagi Ayah akan pulang kirim saja fotonya lemari bagaimana yang kamu inginkan okey? Ayah tutup teleponnya ya!"

 

"Baik Ayah," sahut Aisyah yang langsung menekan tombol merah di layar ponselnya lalu dia pun mengimri gambar lemari yang sudah lama dia impikan setelah itu dia kembali meletakan ponselnya di atas kasur.

 

Setelah mendengar Ayahnya akan membelikan lemari lagi Aisyah pun mengatur strategi dia memandang sisi kamarnya seakan-akan sedang berpikir di mana tempat lemari yang satu laginya keadaan kamar seperti ini sudah membuatnya nyaman namun dia juga harus berbagi dengan kakaknya yang sudah lama tidak pulang.

 

"Aisyah! Kemari dulu Nak," pinta Adiba dengan berteriak.

 

Aisyah langsung menghampiri Bundanya ke dapur, "Iya Bunda ada apa?" tanyanya begitu sampai di dapur, betapa kagetnya dia saat melihat ada beberapa lauk berada di atas meja dapur.

 

"Bunda, sudah selesai memasak?" Aisyah mencium aroma dari tiga hidangan yang tersedia di atas meja tersebut.

 

Mencium aroma makanan yang begitu lezat membuat cacing-cacing dalam perut Aisyah berseru ria.

 

Adiba hanya tersenyum hangat menanggapi perkataan anaknya itu, "Sudah bawa sana ke meja makan sepertinya Bunda mendengar suara mobil Ayahmu tadi," ujarnya.

 

"Baik Bunda," sahut Aisyah sembari membawa hidangan makanan untuk malam ini.

 

Ketika selesai meletakannya di meja makan, Aisyah dikejutkan oleh supir pribadinya dan seorang laki-laki yang sedang membawa sebuah lemari.

 

"Neng ini ditaruh di mana ya?" tanya si Abang itu yang terlihat seperti kecapean.

 

Mengejutkan sekali padahal tidak sampai berapa jam setelah dia menelepon pesanannya sudah diantar, "Cepat banget ya sampainya," gumam Aisyah dalam hati. "Ah yaudah di situ aja Bang," sahut Aisyah dengan kelagapan.

 

Si Abang pun langsung meletakan lemari di pojong ruang tamu.

 

"Ayah!!!" teriak Aisyah begitu melihat sosok Ayahnya dibalik punggung Pak Ujang.

 

Aisyah menghambur memeluk sang Ayah dengan gembira karena hari ini keinginannya telah dikabulkan.

 

"Bagaimana, Aisyah suka?" tanya Haris begitu Aisyah melepas pelukannya.

 

"Makasih banyak Ayah, aku suka banget warnanya kesukaan aku banget lagi," kata Aisyah dengan tersenyum senang.

 

"Saya permisi pamit Tuan," kata si Abang yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Haris.

 

Kepergian si Abang diikuti oleh Pak Ujang yang akan menghantarkan kepulangannya di depan sana sedangkan Aisyah membawa Ayahnya untuk masuk ke rumah.

 

"Nak, Ayah mandi dulu ya," kata Haris sembari tersenyum kepada Aisyah.

 

Begitu pun dengan Aisyah yang langsung pergi ke kamarnya untuk merapihkan pakaiannya ke dalam lemari barunya.

 

Pintu kamar diketuk yang ternyata itu adalah ulah Bundanya.

 

"Aisyah, Bunda boleh masuk untuk membantu merapihkan?" ujar Bunda meminta izin kepada putrinya itu

 

Dengan senang hati Aisyah menganggukan kepalanya. "Iya Bun, silahkan masuk!"

 

Tidak hanya merapihkan baju saja Aisyah pun merubah keadaan kamarnya menjadi lebih luas dengan memindahkan semua barang-barang yang sudah tidak terpakai di gudang belakang rumah.

 

Tidak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang membuat Adiba harus pergi untuk menunaikan ibadah salat.

 

"Sayang, Bunda pergi salat dulu ya." Adiba berlalu pergi setelah membelai lembut kepala Aisyah.

 

Terdengar notif pesan dari seseorang yang ternyata kakaknya dan Fatimah.

 

*Fatimah

"Syah doain aku ya minggu depan aku akan tes masuk universitas."

 

*Kak Katya

"Dek, kakak sudah naik mobil nih menuju ke rumah."

 

Aisyah kaget mengetahui bahwa sahabatnya itu akan ikut tes masuk kuliah dia sendiri pun sudah tidak sabar menantikan hal itu.

 

Setelah membalas pesan Aisyah beranjak pergi menunaikan ibadah salat magrib tidak lupa pula dia selalu mengaji setelahnya kak Katya selalu berpesan untuk jangan tinggalkan salat serta bermurojaah hafalan biar tidak lupa.

 

"Assalamualaikum," ujar Katya begitu sampai di rumahnya.

 

Pak Ujang supir pribadi keluarganya membantu dirinya membawa barang-barang yang sengaja dia bawa sebagai oleh-oleh untuk keluarganya serta tetangganya.

 

"Waalaikumsalam masya Allah anak Bunda sudah sampai," sahut Adiba yang muncul dari kamarnya sambil membetulkan kerudung yang hendak dia gunakan, dia begitu kaget melihat putri sulungnya yang sudah sampai rumah.

 

"Stop Bun! Katya harus mandi dulu menghindari virus covid ini." Katya menghentikan langkah Adiba yang ingin memeluk dirinya.

 

Mendengar penjelasan dari anaknya itu Adiba langsung cemberut dia pun mengambil tas yang dibawa oleh Katya. "Ya sudah sana mandi dulu."

 

"Aisyah, sayang kakakmu sudah pulang nih," teriak Adiba yang seketika suaranya menjadi pelan sebab Katya menahannya dia ingin mengejutkan Aisyah di kamar.

 

"Baiklah ya sudah sana cepetan mandi nanti ke sini lagi kita makan bersama," ujar Adiba dengan menghela napasnya.

 

"Hehehe makasih banyak Bunda." Katya berlalu menuju kamarnya.

 

Saat di depan pintu samar-samar dia mendengar suara orang mengaji yang tidak lain itu adalah suara adiknya Aisyah Salsabila, terharu dirinya mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan oleh adiknya itu dan ketika Aisyah mengakhiri bacaannya dengan segera Katya pun mengetuk pintu kamarnya.

 

Tok, tok, tok

 

"Masuk saja Bun, tidak dikunci kok!" sahut Aisyah dari dalam kamar.

 

"Assalamualaikum." Katya berlalu masuk ke dalam kamarnya yang begitu rapih dan sedikit berubah.

 

"Waalaikumsalam, Bun ka Katya belum sampai ya?" tanya Aisyah dia tidak mengetahui siapa yang datang ke kamarnya kali ini karena dia sibuk melipat mukena serta sejadahnya.

 

"Bun." Aisyah bingung karena Bundanya tidak kunjung menjawab pada saat menoleh "Ah ka Katya!!" teriaknya dengan menutup mulutnya.

 

"Surprise!" Katya melentangkan tangannya hendak memeluk kakanya yang baru pulang dia tersenyum senang.

 

"Kakak mau mandi dulu Dek gerah banget," ungkap Katya memberitahu kepada Aisyah yang masih diam terpaku.

 

"Ah malas banget aku meluknya, ya sudah sana mandi dulu aku ambilkan handuknya," kata Aisyah dengan berlalu ke depan lemari pakaiannya untuk mengambilkan handuk yang baru untuk kakaknya.

 

Katya sudah mengira bahwa Aisyah akan memeluknya maka dari itu dia mengatakan bahwa dia ingin mandi.

 

"Nih ka handuknya, sini tasnya aku taruh," kata Aisyah sambil memberikan handuk serta baju kaos panjang untuk sang kakak.

 

Katya pun mengambilnya dengan tersenyum, "Tesekur ederim," ujarnya.

 

Aisyah tertawa mendengar kakaknya mengunakan bahasa Turkey sedangkan Katya langsung berlalu pergi dari kamarnya.

 

"Ah bangga sekali aku punya kakak yang bisa bahasa Turky semoga aku pun segera menyusul Aamiin ya Allah," lirih Aisyah penuh harap dia pun berlalu dari kamarnya untuk bergabung di ruang makan bersama ke dua orang tuanya.

 

Tidak lama kemudian Katya datang bergabung di meja makan, dia kaget begitu melihat banyak hidangan di sana.

 

"Wellcome back my sister!" seru Aisyah dengan tersenyum menunjukan gigi putihnya.

 

"Makasih banyak Ayah, Bunda dan Adek sudah menyiapkan semua ini untuk aku," ujar Katya terharu selama ini dia selalu merasa bersyukur karena hadir di dalam keluarga yang begitu menyayanginya.

 

"Kita hanya mengadakan acara syukuran dengan makan bersama keluarga kecil kita." Haris memberikan penjelasan mengenai apa yang dilakukannya.

 

"Masakan bunda selalu aku rindukan, akhirnya sekarang bisa merasakan masakan bunda lagi setelah sekian lama, jujur saja makanan di Turki enak-enak cuma lidah Katya belum bersahabat jadi masih asing gitu," ungkap Katya menceritakan pengalamannya di Turki.

 

"Kalau pagi kamu biasanya makan apa nak?" sahut Adiba ingin tahu kebiasaan anaknya.

 

"Roti sama susu Bun," jawab Katya sambil tersenyum manis.

 

Ya Adiba dan Haris sangat senang dengan kedatangan anak sulungnya dari negara Turky, karena sedang libur Katya memutuskan untuk pulang ke rumah apalagi dia sangat merindukan ke dua orangtuanya serta adiknya ini.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!