Merhaba Aisyah

Susah Untuk Jujur

Dengan cepat Aisyah menggelengkan kepalanya untuk hal ini dia tidak akan bercerita kepada kakaknya terlebih dahulu, biarkan dia sembunyikan sampai kakaknya yang akan mengetahuinya sendiri itu akan lebih baik.

 

"Kak Katya tidur saja dulu ya, aku belum ngantuk." Aisyah menyuruh Katya untuk segera tidur, "Kakak pasti lelah hari ini jadi lekaslah tidur nih ambil selimutnya!"

 

Apa yang dikatakan oleh Aisyah memang benar Katya sudah merasa ngantuk dan ingin segera beristirahat perjalanannya pulang begitu melelahkan.

 

"Baiklah aku akan tidur duluan yah kamu juga harus segera tidur nanti Bunda akan marah jika kamu bergadang," ujar Katya sambil merebahkan tubuhnya serta menarik selimut yang diberikan oleh Aisyah.

 

Aisyah menganggukan kepalanya kini pandangannya sudah tertuju pada ponsel miliknya, sudah sejak tadi dia meniggalkan ponselnya sudah banyak pesan yang masuk di sana Aisyah memang sengaja meninggalkan whattapp menghindari Raka dan beberapa orang.

 

*Raka

"Syah, bagaimana kabarmu? aku mau ngomong sebentar sama kamu tentang perkataan kamu di acara ulang tahun Fatimah waktu itu."

 

*Amel

"Aisyah jangan lupa ya besok kamu harus kasih laporan ke Pak Bambang mengenai ketua rohis tadi aku diberi tahu Raka katanya lo di chat tidak aktif makanya dia bilang ke gue."

 

Seketika Aisyah menepuk jidatnya dia merasa tidak enak hati kepada Raka bagaimana pun cowok itu adalah ketua osisi dan sampai sekarang masih ada tangung jawabnya namun saat dia melihat isi pesan Raka cowok itu juga meminta penjelasan akan keributan yang dia timbulkan di acara ulang tahun Fatimah kemarin.

 

"Alhamdulillah aku baik-baik saja, untuk laporannya akan segera aku kirim ya dan aku tidak ingin membahas soal itu jadi maafkan aku Raka." Akhirnya Aisyah membalas pesan dari Raka dia tidak ingin menghindar begitu saja dari cowok itu.

 

Untuk sekarang Aisyah masih sulit untuk menghindar dari Raka sebab cowok itu masih menjabat sebagai ketuanya hingga kelulusan nanti.

 

"Syah ada apa?"

 

Mendengar suara kakaknya Aisyah langsung menoleh dan menutup ponselnya sebab kaget, "Hah?"

 

"Kamu kenapa kok bingung gitu wajahnya?" Katya duduk kembali melihat raut wajah sang adik yang nampak bingung dan sedih.

 

Aisyah menghela napasnya pelan, "Tidak ada ka kok kakak belum tidur sih?" Dia heran karena mengetahui sang kakak belum tertidur pulas.

 

"Kakak curiga deh sama kamu kayanya ada yang kamu sembunyiin deh dari kakak ya?" tebak Katya dia sungguh penasaran.

 

"Aku tidak sedang menyembunyikan sesuatu ka, percaya deh tadi aku baca pesan dari seseorang dan aku merasa bersalah banget karena baru bisa balas pesan dia yang ternyata penting."

 

Untuk masalah cowok tentu saja Aisyah belum bisa ceritakan semuanya, dia tidak ingin kakaknya tahu masalah hatinya.

 

"Apa kamu sedang menghindar dari seseorang?" tebak Katya seakan-akan sedang mengintrograsi Aisyah.

 

Sebagai seorang kakak, Katya tentu tahu bagaimana sikap adiknya saat jatuh cinta, kecewa atau saat sedang sedih, sejak tadi dia memperhatikan wajah Aisyah yang cemas namun ada kesedihan di sana.

 

"Hemm memang benar tapi bukan dia yang kumaksud, sudahlah mataku sudah mengantuk ka mari kita tidur!" ajak Aisyah akhirnya.

 

Aisyah merebahkan tubuhnya serta menarik selimut miliknya diikuti oleh Katya kakaknya itu begitu mempercayai Aisyah sebagai sosok orang yang kuat dan mandiri.

 

"Kak adek mau nyalakan sholawat ya? karena biasanya adek suka tidur pulas jika mendengar sholawat," ungkap Aisyah.

 

"Boleh, kakak juga suka loh mendengarkan sholawat kala hendak tertidur." Katya menyetujui usulan Aisyah.

 

Tidak percaya ternyata dua adik kakak ini mempunyai kebiasaan yang sama, dua-duanya tumbuh menjadi gadis remaja yang sholehah.

 

Keesokan harinya Katya terbangun dari tidurnya kaget karena mendengar bunyi alarm yang berada di atas kepalanya berbeda dengan Aisyah yang masih terpejam pulas.

 

"Dek bangun kita salat subuh dulu yuk!" ajak Katya sambil mengguncangkan tubuh Aisyah.

 

"Hemm." Aisyah hanya bergumam dengan membelakangi tubuh kakaknya.

 

"Aisyah bangun kita salat subuh dulu nanti tidur lagi juga gak apa-apa," kata Katya dia terpaksa berkata seperti itu agar sang adik mau bangun untuk menunaikan ibadah salat.

 

"Jam berapa sih emang ka? adek ngantuk banget nih," sahut Aisyah dengan mata yang masih terpejam erat dengan kedua tangan yang masih memeluk bantal guling.

 

Katya melihat jam yang menunjukan pukul jam setengah lima. "Setengah lima dek yuk kita shalat!"

 

"Ya sudah kakak duluan saja nanti aku nyusul." Dengan mudahnya Aisyah menjawab, rasa kantuk yang dia rasakan sangatlah berat membuat tubuhnya agak sulit untuk diajak bangun.

 

"Kakak wudhu dulu nanti setelah selesai kamu harus sudah bangun," kata Katya sembari beranjak dari tempat tidur.

 

Biasanya Katya bangun lebih awal dari sekarang mungkin karena kelelahan membuatnya tertidur pulas sampai tidak mendengar suara adzan berkumandang.

 

Air keran terasa begitu dingin Katya tebak bahwa semalam hujan turun hingga meninggalkan sensasi dingin sampai Aisyah pun tidak kunjung bangun setelah dibangunkan beberapa kali.

 

Saat Katya kembali dia menemukan Aisyah yang sudah duduk dengan mata yang masih terpejam ingin rasanya dia tertawa melihatnya dan keisengannya mulai dia mengambil ponselnya dan menyalakan kamera untuk memotret Aisyah.

 

Ckek ... ckekk

 

"Kakak apaan sih makai segala di foto," gerutu Aisyah kaget saat mendengar bunyi kamera.

 

"Hahaha lagian kamu susah banget bangun buruan sana wudhu nanti waktunya habis duluan."

 

"Okey aku mau wudhu dulu, tapi hapus ya fotonya awas aja kalau kakak masih menyimpannya," ancam Aisyah sebelum meninggalkan kamarnya.

 

Katya menghiraukan ancaman itu dua dengan segera melaksanakan salat subuh sendirian ke dua orang tuanya pasti sudah bangun mereka shalat di ruang shalat kamar mereka sendiri.

 

"Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." (HR. Muslim 725).

 

Sangat sulit untuk kita bangun di kala subuh atau pun menghilangkan rasa malas kita untuk mengerjakannya meski salat subuh hanya dua rakaat saja.

 

Setelah salat Katya membaca surat ar-rahman seperti kebiasaannya di Turky, sedangkan Aisyah melaksankaan salat subuh di sampingnya.

 

"Assalamualaikum warahmatullah." Aisyah mengakhiri salatnya dengan mengusap lebar mulutnya.

 

Mendengar lantunan ayat suci yang keluar dari mulut sang kakak membuat Aisyah terharu suara itu sangat dia rindukan sejak kecil Aisyah memang selalu mengaji, dirinya dan kakaknya selalu berlomba-lomba untuk hatam al-quran.

 

Suara lantunan mengaji dirinya dan kakaknya tidak jauh berbeda namun kak Katya suaranya lebih lembut dari Aisyah begitulah kata Guru ngajinya.

 

"Sodaqollahu adzim." Katya mengakhiri bacaan al-qurannya sedangkan Aisyah masih mengaji.

 

Katya bangun dari duduknya untuk merapihkan alat salatnya dan kembali ke tempat tidur.

 

"Sodaqollahu adzim, Allahumar hamnna bil.." Aisyah bersolat terlebih dahulu setelah selesai mengaji.

 

Lalu dia pun ikut beranjak merapihkan mukenanya untuk diletakan di atas meja.

 

"Kak, apa ka Katya sering melaksanakan ibadah puasa di sana?" ujar Aisyah dia ingin akan hal itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!