Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Latihan atau Penyiksaan
Lampu stadion menyala terang, membelah kegelapan pukul empat pagi. Udara dingin Bandung yang menusuk tulang biasanya membuat orang meringkuk di balik selimut, namun bagi Tegar, udara ini adalah musuh sekaligus kawan. Di tengah keheningan itu, hanya terdengar suara langkah kaki yang ritmis.
Tuk... srak... tuk... srak...
Suara itu berasal dari gesekan antara kaki karbon Tegar dengan permukaan lintasan. Wajahnya sudah pucat pasi. Bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi, meski ia baru saja menyelesaikan putaran kedelapan belas dalam sesi latihan daya tahan yang diperintahkan Coach Hendra.
"Lebih cepat, Tegar! Kamu lari seperti pengantin baru yang malu-malu! Fokus pada ayunan pinggulmu, bukan beban di kakimu!" Suara Coach Hendra memecah kesunyian, lebih dingin daripada embun pagi.
Tegar tidak menyahut. Lidahnya terasa kelu. Di pangkal pahanya, socket bionik itu mulai terasa seperti parutan baja. Keringat yang masuk ke dalam celah antara kulit dan silikon pelapis menimbulkan rasa perih yang tak tertahankan—seperti luka lama yang terus disiram air garam.
"Coach... sudah... sepuluh kilo..." Andre berbisik di samping Hendra, matanya penuh kekhawatiran melihat tubuh Tegar yang mulai oleng. Andre memegang botol air mineral yang sudah kosong di tangan kirinya.
"Diam, Andre! Jangan jadi perusak mental!" Hendra membentak tanpa menoleh. Matanya tetap tajam tertuju pada sensor di tabletnya. "Lihat ini. Irama jantungnya memang tinggi, tapi efisiensi langkahnya justru meningkat saat dia di ambang batas. Tegar bukan butuh istirahat. Dia butuh 'pecah' agar bisa dibentuk kembali."
Di lintasan, dunia Tegar mulai menyempit. Pandangannya mengabur, hanya menyisakan garis putih di depannya sebagai pemandu. Tiba-tiba, rasa sakit yang amat sangat menusuk dari pangkal paha kanannya. Itu bukan sekadar rasa pegal. Itu adalah rasa sakit tajam yang menandakan ada sesuatu yang tidak beres di jaringan parutnya.
Jleb!
Tegar tersungkur. Tubuhnya terseret beberapa meter di atas tartan yang kasar.
"Tegar!" Andre berlari kencang mendekat.
Namun, Coach Hendra lebih cepat. Ia menghalangi langkah Andre. "Jangan bantu dia! Biar dia bangun sendiri!"
"Coach, ini sudah keterlaluan! Dia bisa cedera permanen!" teriak Andre marah.
Tegar mengerang di atas lintasan. Siku dan lutut kirinya lecet, mengeluarkan darah segar yang kontras dengan warna merah tartan. Namun, fokusnya bukan pada luka itu. Fokusnya adalah pada kaki kanannya. Ia merasa socket itu melonggar.
"Kenapa diam?" suara Hendra terdengar di atas kepalanya. "Mau menangis? Mau mengadu pada Ibumu kalau latihan ini terlalu berat? Silakan pulang. Saya bisa cari atlet lain yang punya nyali lebih besar dari robot rongsokanmu itu."
Tegar mendongak. Matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena kemarahan yang meluap. "Saya... bukan... rongsokan..."
"Buktikan! Bangun dan selesaikan dua putaran lagi. Di bawah dua menit per putaran. Jika tidak, kamu tidak usah ikut kualifikasi ke Jakarta. Kamu membuang-buang uang negara dan waktu saya!"
Tegar mencengkeram permukaan lintasan hingga kuku-kukunya memutih. Dengan gemetar, ia mendorong tubuhnya bangkit. Saat berdiri, kaki bioniknya mengeluarkan suara krak yang mengkhawatirkan. Pak Bramantyo yang baru saja tiba di pinggir lapangan tampak panik melihat data di laptopnya.
"Hendra! Berhenti! Sensor torsinya melampaui batas keamanan! Engselnya bisa patah!" teriak Pak Bramantyo.
"Biarkan patah!" balas Hendra gila. "Kalau mesinnya patah, kita ganti yang baru. Kalau mentalnya yang patah, tidak ada onderdilnya di dunia ini!"
Tegar mendengar perdebatan itu. Kata "patah" memicu sesuatu dalam otaknya. Memori saat kecelakaan yang merenggut kakinya berputar cepat seperti film rusak.
“Mas Tegar... lari... lari yang kencang...”
Suara imajiner Budi itu seperti bensin yang dilempar ke dalam api. Tegar berteriak histeris, sebuah raungan primitif yang mengguncang keheningan stadion. Ia tidak lagi peduli pada sensor, tidak peduli pada rasa perih di pangkal paha, dan tidak peduli pada peringatan Pak Bramantyo.
Ia mulai berlari.
Tapi ini bukan lari biasa. Ini adalah amukan. Setiap kali kaki bioniknya menghantam tanah, suaranya terdengar seperti palu godam. DUM! DUM! DUM!
Kecepatannya terus meningkat. Andre terperangah melihat stopwatch-nya. "Dia lari di kecepatan sprint... padahal ini putaran keduapuluh!"
"Lihat langkahnya," bisik Hendra, kali ini dengan nada yang sedikit melunak namun penuh kekaguman. "Dia tidak lagi menyeret kaki kanannya. Dia menggunakannya sebagai senjata."
Di putaran terakhir, Tegar benar-benar melampaui batas manusia. Tubuhnya miring saat menikung dengan sudut yang ekstrem, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh pemakai protesa biasa tanpa terjatuh. Ia menantang fisika. Ia menantang rasa sakitnya sendiri.
Saat melewati garis finis imajiner di depan Hendra, Tegar tidak berhenti perlahan. Ia langsung ambruk, berguling-guling di rumput pinggir lapangan. Napasnya seperti mesin uap yang hampir meledak.
Pak Bramantyo segera berlari dan memeriksa kaki bionik itu. "Gila... engselnya panas sekali. Cairan hidroliknya hampir mendidih. Tegar, kamu hampir saja menghancurkan alat seharga ratusan juta ini!"
Tegar hanya terlentang menatap langit yang mulai membiru. Ia tersenyum tipis di tengah rintihannya. "Tapi... saya tidak... jatuh kan, Pak?"
Rahasia di Balik Kekejaman
Hendra mendekat, melemparkan handuk ke wajah Tegar. "1 menit 45 detik. Rekor pribadimu pecah total."
Tegar menarik handuk itu, menatap pelatihnya dengan tatapan bertanya. "Kenapa Coach harus sekejam itu? Coach hampir membuat saya mati tadi."
Hendra diam sejenak, lalu duduk di rumput di samping Tegar. Ia mengeluarkan sebuah ponsel tua dari sakunya dan menunjukkan sebuah foto. Di foto itu, Hendra tampak lebih muda, berdiri di atas podium dengan medali emas, namun di sampingnya ada seorang pria yang menggunakan kursi roda.
"Itu adik saya," kata Hendra pelan, suaranya kini penuh emosi yang jarang ia tunjukkan. "Dia atlet paratletik paling berbakat yang pernah saya kenal. Tapi dia kalah di kualifikasi nasional karena di tengah lomba, baut di kursinya longgar. Dia panik, dia menyerah, dan dia berhenti. Dia hancur bukan karena alatnya, tapi karena dia tidak siap menghadapi kegagalan alatnya."
Hendra menatap Tegar tajam. "Dunia ini kejam, Gar. Di Jakarta nanti, lawanmu bukan cuma manusia. Lawanmu adalah cuaca, sorakan penonton yang meremehkan, hingga kemungkinan kaki bionikmu mati total di tengah lintasan. Saya harus memastikan, saat kakimu mati, jiwamu tetap berlari."
Tegar tertegun. Rasa benci yang tadi membara di dadanya perlahan padam, berganti dengan rasa hormat yang mendalam.
"Sekarang, lepaskan kakimu. Pak Bram akan melakukan kalibrasi ulang," perintah Hendra. "Dan ada tamu untukmu di lobi."
Kejutan yang Menggetarkan
Dengan langkah terpincang-pincang dibantu Andre, Tegar menuju lobi stadion. Di sana, ia terkejut melihat sosok yang sangat ia kenal duduk di kursi tunggu.
Laras. Gadis itu membawa sebuah kotak kayu kecil.
"Laras? Kenapa subuh-subuh begini ke sini?" tanya Tegar bingung.
Laras berdiri, matanya berkaca-kaca melihat kondisi Tegar yang berlumuran keringat dan luka lecet. "Aku tidak bisa tidur, Gar. Aku mendengar dari orang desa kalau kamu latihan sampai gila-gilaan. Aku ingin memberikan ini."
Laras membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah jimat atau lebih tepatnya, sebuah tali pergelangan tangan yang dianyam dari benang halus berwarna merah putih, dengan sebuah logam kecil berbentuk pelari di tengahnya.
"Ini dibuat oleh anak-anak di panti asuhan tempat Budi dulu sering main," bisik Laras. "Mereka bilang, ini adalah 'kaki ketiga' untukmu. Mereka mengumpulkan uang jajan mereka untuk memesan ukiran logam ini."
Tegar menerima tali itu dengan tangan gemetar. Di logam kecil itu, ada ukiran nama yang sangat kecil: TEGAR & BUDI.
"Mereka percaya padamu, Gar. Seluruh warga desa yang tertindas oleh Kades itu sekarang melihatmu sebagai satu-satunya harapan untuk membuktikan bahwa keadilan dan martabat masih ada," lanjut Laras.
Tegar menggenggam tali itu erat-erat. Rasa lelah yang tadi seolah ingin membunuhnya, seketika menguap. Namun, momen emosional itu terganggu oleh kedatangan seorang pria berpakaian rapi dengan tas koper mahal di tangannya.
"Tegar Prasetya?" tanya pria itu dengan nada angkuh.
"Iya, saya sendiri. Siapa ya?"
"Saya pengacara dari firma hukum 'Global Tech'. Kami adalah sponsor utama dari rival terberatmu di kualifikasi Jakarta nanti, Salim Wijaya. Saya datang ke sini untuk memberikan penawaran."
Tegar mengernyitkan dahi. "Penawaran apa?"
Pria itu membuka kopernya, menunjukkan tumpukan uang tunai dan sebuah kontrak. "Mundurlah dari kualifikasi. Kaki bionikmu itu ilegal. Kami punya bukti bahwa prototipe Pak Bramantyo menggunakan komponen yang belum tersertifikasi internasional. Jika kamu tetap maju, kami akan menuntutmu dan Pak Bram ke jalur hukum. Tapi jika kamu mundur sekarang... uang ini dan beasiswa masa depan untuk adikmu, Tulus, akan menjadi milikmu."
Darah Tegar mendidih. Di satu sisi, ia melihat tumpukan uang yang bisa menjamin masa depan keluarganya. Di sisi lain, ia melihat tali pergelangan tangan dari anak-anak panti yang menaruh harapan padanya.
"Pilih mana, Tegar?" pria itu tersenyum licik. "Jadi pahlawan yang hancur di pengadilan, atau jadi orang kaya yang cerdas?"
Andre dan Coach Hendra yang menyusul ke lobi hanya terdiam, menunggu jawaban Tegar. Suasana menjadi sangat mencekam, lebih menegangkan daripada latihan 20 putaran tadi.
Tegar menatap uang itu, lalu menatap Laras, dan terakhir menatap kaki bioniknya.
"Sampaikan pada Salim Wijaya," suara Tegar terdengar rendah namun sangat tajam. "Simpan uang ini untuk membeli peti mati bagi harga dirinya. Karena di Jakarta nanti, saya tidak akan lari melawan dia. Saya akan lari melampaui keserakahan kalian semua."
Pria itu terperanjat. "Kamu akan menyesal, Tegar! Kami akan pastikan kualifikasimu menjadi neraka!"
"Saya sudah terbiasa dengan neraka setiap pagi," balas Tegar dingin. "Silakan keluar dari sini sebelum Coach saya melempar Anda dengan cakram."
Menuju Jakarta
Setelah pria itu pergi, Coach Hendra menepuk bahu Tegar. "Pilihan bagus. Tapi dia tidak main-main, Gar. Mereka akan mencari segala cara untuk menjatuhkanmu di lintasan nanti."
"Saya tahu, Coach," jawab Tegar mantap. "Tapi sekarang saya punya alasan lebih kuat untuk menang. Bukan cuma untuk Budi, bukan cuma untuk Desa, tapi untuk membungkam mulut-mulut mereka yang berpikir bahwa segalanya bisa dibeli dengan uang."
Malam itu, Tegar mengemasi tasnya. Kualifikasi Jakarta tinggal tiga hari lagi. Ia memakai tali pergelangan tangan dari Laras, merasakannya seperti pelukan hangat.
Namun, saat ia sedang mengecek kaki bioniknya untuk terakhir kali, ia melihat sesuatu yang aneh. Di bagian sensor tekanan, terdapat sebuah lampu indikator merah yang berkedip pelan. Sebuah pesan singkat muncul di layar monitor kecil di kakinya:
[CRITICAL ERROR: HIDRAULIC LEAK DETECTED. ESTIMATED LIFE: 5000 METERS]
Tegar tertegun. 5000 meter? Itu berarti kakinya hanya sanggup bertahan untuk beberapa sesi pemanasan dan satu kali lari final. Jika ia melakukan kesalahan sedikit saja, kaki itu akan hancur tepat di depan ribuan penonton.
Ia menutup rapat penutup sensor itu agar tidak terlihat oleh Pak Bramantyo atau Coach Hendra. Ia tidak ingin mereka menghentikannya.
"Cukup untuk satu kemenangan," bisik Tegar pada dirinya sendiri. "Hanya butuh satu kali lari lagi, lalu hancurlah jika kau mau."
Perjalanan menuju Jakarta bukan lagi sekadar kualifikasi. Itu adalah misi bunuh diri bagi sebuah kaki bionik, dan misi keabadian bagi seorang pemuda bernama Tegar.
Apakah kaki bionik Tegar akan bertahan hingga garis finis? Ataukah sabotase dan kerusakan teknis akan menghancurkan impiannya tepat di depan mata seluruh Indonesia?