Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Menuju Gelora

Suara decit logam yang beradu dengan sirkuit hidrolik itu terdengar semakin parau, cmseperti rintihan penderita asma yang dipaksa mendaki gunung. Di lintasan latihan yang mulai temaram, Tegar masih memacu langkahnya. Setiap kali kaki kanan bioniknya menghantam lintasan, getaran tak wajar merambat hingga ke tulang panggulnya.

"Satu putaran lagi, Tegar! Jaga stabilitasmu!" teriak Coach Hendra dari pinggir lapangan.

Tegar tidak menjawab. Fokusnya terpecah antara mengatur napas dan merasakan "kematian" yang merayap di kaki kanannya. Cairan hidrolik berwarna hitam kental mulai merembes tipis dari celah segel socket-nya, menetes di atas tartan merah. Tegar tahu, setiap tetes itu adalah detik-detik terakhir bagi kaki "ajaib" yang telah membawanya kembali ke dunia atletik.

Duar!

Sebuah bunyi letupan kecil terdengar saat Tegar melakukan transisi langkah terakhir menuju garis finis. Kaki bioniknya mendadak kaku, mengunci di posisi lurus. Tegar kehilangan keseimbangan dan tersungkur hebat, bahunya menghantam tanah lebih dulu sebelum terguling beberapa kali.

"Tegar!" Andre dan Pak Bramantyo berlari serempak.

Tegar berusaha bangkit, namun kaki kanannya terasa berat seperti balok semen mati. Ia melihat ke bawah dan jantungnya mencelos. Lutut bionik itu mengeluarkan asap tipis. Oli panas melumuri kulit pahanya, menimbulkan rasa pedih yang menyengat.

Pak Bramantyo berlutut, memeriksa mesin tersebut dengan tangan gemetar. Ia membuka penutup panel sensor dan seketika wajahnya pucat pasi. "Logam penyangganya... retak mikro. Dan katup hidroliknya jebol total karena beban torsi yang melampaui batas saat kamu melakukan loncat kotak kemarin."

"Bisa diperbaiki, Pak?" tanya Tegar dengan suara bergetar.

Pak Bramantyo menggeleng lemah. "Ini bukan soal perbaikan ringan, Gar. Komponen intinya sudah mencapai titik jenuh material. Jika kupaksa, kaki ini bisa patah di tengah lari dan merobek otot pahamu. Aku harus mencetak ulang rangka intinya dengan bahan titanium yang lebih kuat. Tapi itu butuh waktu... paling cepat dua hari."

"Dua hari?" Coach Hendra mendekat, wajahnya mengeras. "Besok adalah sesi latihan transisi terakhir sebelum kita berangkat ke Jakarta. Jika dia tidak latihan besok, otot-ototnya akan kaku dan dia akan kehilangan ritme."

Tegar mengepalkan tinju. Dua hari terasa seperti keabadian. "Saya tidak bisa menunggu, Pak. Tubuh saya baru saja mulai terbiasa dengan kecepatan 11 detik. Kalau saya berhenti sekarang, mental saya akan jatuh lagi."

"Tapi kamu tidak punya kaki, Tegar!" bentak Coach Hendra. "Kamu mau lari pakai apa? Melompat dengan satu kaki seperti pocong?"

Hening sejenak. Tegar menatap kaki kirinya yang asli—kaki yang selama ini ia "manjakan" dan ia lindungi. Kemudian ia menatap sepasang kruk penyangga yang bersandar di bangku pemain.

"Iya," ucap Tegar lirih namun tegas. "Saya akan latihan dengan satu kaki."

Sunyi yang Menyiksa

Malam itu, di asrama atlet, Tegar duduk di tepi tempat tidur. Kaki bioniknya tergeletak di atas meja seperti bangkai robot yang tak berdaya. Pak Bramantyo sudah membawanya ke bengkel laboratorium tengah malam tadi.

Tegar menatap pangkal pahanya yang memerah dan bengkak akibat gesekan socket yang rusak. Ia mengoleskan salep dengan perlahan. Rasa nyeri itu nyata, namun rasa takut akan kegagalan jauh lebih menyiksa.

Ia teringat kata-kata pengacara suruhan Salim Wijaya. Kaki bionikmu itu ilegal.

"Mereka ingin aku menyerah karena mesin," bisik Tegar pada kegelapan kamar. "Tapi mereka lupa, mesin tidak punya nyali. Manusia yang punya."

Pukul empat pagi, saat embun masih menyelimuti kompleks olahraga, sebuah sosok terlihat bergerak di tengah lapangan. Bukan dengan suara mesin, melainkan suara dentang logam kruk yang menghantam semen.

Tegar berada di sana. Tanpa kaki kanan. Hanya dengan kaki kiri dan sepasang kruk aluminium yang biasa ia gunakan di rumah sakit.

"Apa yang kamu lakukan, Gar?"

Tegar tersentak. Coach Hendra sudah berdiri di sana, mengenakan jaket parasit hitam, memegang jam sukat di tangannya.

"Latihan keseimbangan, Coach. Saya tidak mau otot paha kiri saya melemah saat Pak Bram memperbaiki kaki satunya," jawab Tegar sambil terengah-engah. Ia baru saja melakukan single-leg hop sejauh 50 meter.

Hendra memperhatikan muridnya. Keringat Tegar sudah membasahi kaosnya meski udara sedang membeku. Wajah Tegar menunjukkan tekad yang hampir gila.

"Kamu tahu, atlet difabel legendaris bukan mereka yang punya alat tercanggih," Hendra berjalan mendekati Tegar, mengambil kruk kiri dari tangan Tegar.

"Eh, Coach? Kenapa diambil?"

"Kruk itu membuatmu manja. Kamu hanya mengandalkan kekuatan bahu," Hendra melemparkan kruk itu jauh-jauh ke arah rumput. "Sekarang, berdiri dengan satu kaki di atas balok keseimbangan itu. Lakukan squat satu kaki. Lima puluh kali."

Tegar melongo. "Tanpa pegangan? Saya bisa jatuh, Coach!"

"Kalau jatuh, bangun lagi! Kamu bilang mau melampaui batas logam? Ini saatnya. Buktikan kalau kamu tetap seorang atlet bahkan tanpa mesin di tubuhmu!"

Tegar menarik napas panjang. Ia melompat ke atas balok kayu sempit setinggi 30 sentimeter. Tubuhnya goyah hebat. Kaki kirinya gemetar mencari titik gravitasi.

"Fokus pada perutmu! Kunci otot inti! Bayangkan ada akar yang keluar dari telapak kaki kirimu menuju inti bumi!" teriak Hendra.

Tegar memejamkan mata. Ia mulai menurunkan tubuhnya. Satu... dua... pada hitungan ketiga, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap di atas aspal.

"Lagi!"

Tegar bangun. Lututnya berdarah lagi. Ia naik ke balok. Jatuh lagi.

"Lagi!"

Hampir dua jam Tegar disiksa oleh gravitasi. Paha kirinya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Asam laktat menumpuk hingga ia merasa ingin muntah. Namun, di tengah penderitaan itu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Tegar mulai merasakan koneksi yang lebih dalam dengan tubuh aslinya. Ia tidak lagi mencari tumpuan pada kaki kanan yang hilang. Ia belajar untuk menjadi utuh dengan apa yang tersisa.

"Bagus. Sekarang, ambil krukmu. Kita lakukan latihan akselerasi tangan," perintah Hendra.

Di ujung lapangan, diam-diam Laras dan Ibu Tegar memperhatikan dari balik pagar. Ibu Tegar menutup mulutnya dengan kerudung, menahan tangis melihat anaknya jatuh bangun dengan satu kaki.

"Dia keras kepala seperti ayahnya, ya?" bisik Ibu.

Laras mengangguk, matanya berkaca-kaca namun penuh kekaguman. "Bukan keras kepala, Bu. Tegar sedang membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bukan cacat. Dia hanya... berbeda cara berlarinya."

Ujian Mental

Di saat Tegar sedang berada di titik nadir kelelahannya, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang stadion. Salim Wijaya, sang rival utama, turun dari mobil didampingi oleh pelatihnya dan beberapa kru media pribadi. Salim mengenakan setelan atletik bermerek luar negeri yang sangat mahal. Di kaki kanannya, melingkar sebuah kaki bionik generasi terbaru buatan Jerman yang tampak sangat ramping dan futuristik.

Salim berjalan mendekat ke arah lintasan, memperhatikan Tegar yang sedang kepayahan berdiri dengan satu kaki.

"Jadi ini saingan terberatku?" Salim tertawa sinis, suaranya cukup keras untuk didengar Tegar. "Menyedihkan. Kamu terlihat lebih seperti pengemis di lampu merah daripada seorang atlet, Tegar."

Tegar berhenti berlatih, ia bertumpu pada kruknya, menatap Salim dengan tatapan dingin.

"Setidaknya saya berdiri dengan kaki saya sendiri, Salim. Bukan dengan kaki yang dibeli dari hasil menindas orang lain," balas Tegar tenang.

Salim mendengus, ia mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Dengar, anak desa. Di Jakarta nanti, aku akan membuatmu malu di depan seluruh kamera televisi. Kaki rongsokanmu itu akan hancur dalam sepuluh detik pertama. Menyerahlah sekarang sebelum kamu menjadi bahan tertawaan nasional."

Salim kemudian sengaja menendang kruk Tegar hingga terjatuh, membuat Tegar oleng dan nyaris jatuh jika tidak segera ditangkap oleh Coach Hendra.

"Jaga bicaramu, Nak," suara Coach Hendra rendah dan mengancam. "Atau saya pastikan di Jakarta nanti, kamu akan melihat punggung 'pengemis' ini saat dia melewati garis finis lebih dulu darimu."

Salim hanya tertawa meremehkan dan berlalu pergi. "Kita lihat saja. Teknologi tidak pernah berbohong."

Kelahiran Kembali

Sore harinya, Pak Bramantyo datang ke stadion dengan kotak besar yang digotong oleh dua orang asisten. Wajahnya tampak lelah, matanya merah karena tidak tidur, namun ada senyum kemenangan di bibirnya.

"Sudah jadi?" tanya Tegar dengan antusiasme yang meledak.

"Bukan sekadar jadi, Tegar," Pak Bramantyo membuka kotak itu. "Ini adalah 'Garuda-02'. Rangkanya menggunakan aerospace grade titanium. Aku mengganti sistem hidroliknya dengan pneumatic actuator yang lebih responsif. Dan yang paling penting..."

Pak Bramantyo mengeluarkan sebuah sensor kecil berwarna emas. "Aku memasang sensor saraf sensorik di ujung socket. Ini akan mengirimkan impuls getaran ke kulitmu. Jadi, kamu akan bisa 'merasakan' setiap kali kaki ini menyentuh tanah. Kamu tidak perlu lagi melihat ke bawah untuk tahu posisi kakimu."

Tegar menyentuh permukaan kaki baru itu. Terasa dingin, kuat, dan jauh lebih ringan.

"Pakai sekarang," ujar Coach Hendra. "Kita lihat apakah latihan satu kakimu tadi pagi ada gunanya."

Dengan bantuan Andre, Tegar memasangkan kaki baru itu. Saat koneksi socket terkunci, Tegar merasakan sensasi aneh. Ada getaran halus yang merambat ke pahanya. Untuk pertama kalinya dalam setahun sejak kecelakaan itu, ia merasa "memiliki" kaki kanan kembali.

Ia berdiri. Ia mencoba melompat kecil. Stabil. Sangat stabil.

Tegar menatap Coach Hendra, lalu menatap lintasan yang membentang di depannya. Matahari terbenam memberikan cahaya jingga yang membakar semangatnya.

"Coach... saya merasa siap," bisik Tegar.

Hendra tersenyum, lalu meniup peluitnya dengan keras. "Kalau begitu, tunjukkan pada dunia bahwa logam ini bukan beban, tapi sayap! Lari, Tegar! LARI!"

Tegar melesat. Langkah pertamanya menciptakan bunyi dentuman yang solid. Kecepatannya meningkat dengan drastis, jauh lebih stabil dari sebelumnya. Keseimbangan yang ia pelajari dengan susah payah saat latihan satu kaki tadi pagi kini terintegrasi sempurna dengan kekuatan mesin barunya.

Ia bukan lagi seorang manusia yang dibantu mesin. Ia dan mesin itu telah menjadi satu kesatuan yang utuh.

Di garis finis, Tegar berhenti dengan napas teratur. Ia menoleh ke arah Coach Hendra dan Pak Bramantyo.

"Jakarta... kami datang," ucap Tegar dengan tatapan mata setajam elang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!