Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Gemuruh di Lintasan Ibu Kota

"Kau dengar itu, Tegar? Itu suara ribuan orang yang menunggu untuk melihatmu jatuh, bukan untuk melihatmu menang."

Laras membisikkan kalimat itu tepat di telinga Tegar saat mereka berdiri di lorong gelap menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di luar sana, lampu sorot raksasa membelah langit malam Jakarta, dan gemuruh penonton terdengar seperti suara ombak yang siap menggulung apa saja.

Tegar mengepalkan tinjunya, merasakan getaran halus dari sensor 'Garuda-02' di pangkal pahanya. "Biarkan saja, Ras. Mereka membayar tiket untuk sebuah pertunjukan. Aku di sini untuk sebuah pembuktian."

"Tegar! Sini sebentar," panggil Pak Bramantyo dari sudut ruang ganti. Wajah pria tua itu tampak pucat di bawah lampu neon. "Aku sudah memeriksa sinkronisasi sensor sarafnya. Semuanya hijau. Tapi ingat, ini titanium, bukan tulang. Jika kau merasakan panas berlebih di area socket, kau harus melambat. Mengerti?"

Tegar menatap Pak Bramantyo lekat-lekat. "Kalau saya melambat, Salim akan menang, Pak."

"Kalau kau memaksanya hingga terbakar, kau bisa kehilangan sisa kakimu secara permanen!" suara Pak Bramantyo meninggi, bergetar karena cemas.

"Saya sudah kehilangan segalanya setahun yang lalu, Pak," jawab Tegar lirih namun tajam. "Hari ini, saya tidak akan membiarkan rasa takut mencuri sisanya."

Tiba-tiba, pintu ruang ganti terbuka kasar. Salim Wijaya masuk dengan gaya angkuh, dikelilingi oleh dua orang pengawal. Kaki bionik Jermannya berkilat perak, memantulkan cahaya dengan sempurna.

"Masih sempat untuk mengundurkan diri, Anak Desa," sindir Salim sambil merapikan jerseynya yang penuh logo sponsor. "Media sudah menyiapkan judul berita untukmu: Pahlawan Pincang yang Menyerah pada Realita."

Tegar hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Salim menghentikan tawa ejekannya.

"Kau banyak bicara untuk seseorang yang takut pada sebuah kaki buatan bengkel rumahan, Salim," balas Tegar tenang.

"Takut? Aku?" Salim tertawa hambar. "Lihat teknologi ini! Ini masa depan. Kau hanyalah artefak masa lalu yang dipaksa hidup kembali."

"Teknologi tidak punya jantung, Salim," Coach Hendra tiba-tiba muncul di belakang Tegar, meletakkan tangan di bahu atletnya. "Dan di lintasan nanti, jantunglah yang menentukan siapa yang akan sampai duluan di garis finis."

"Cukup omong kosongnya," Salim meludah ke lantai. "Sampai jumpa di garis finis. Itu pun kalau kau tidak tersungkur di tengah jalan."

Saat nama Tegar dipanggil oleh penyiar stadion, suasana mendadak riuh. Ada sorakan, namun tak sedikit pula cemoohan. Di tribun VIP, Salim tampak melambai ke arah kamera dengan percaya diri.

Tegar berjongkok di balok start. Ia bisa merasakan suhu aspal Jakarta yang masih menyimpan panas matahari siang tadi.

"Tegar!"

Tegar menoleh. Di pinggir lintasan, ibunya berdiri sambil memegang tasbih kayu. Wanita itu tidak berteriak, ia hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara: Bismillah.

"Ingat latihan satu kakimu, Gar!" teriak Coach Hendra dari kejauhan. "Cari titik gravitasinya! Jadilah angin!"

Duar!

Bunyi pistol start menggelegar.

Tegar melesat. Detik pertama, ia merasa seperti terlempar ke depan. Kaki Garuda-02 bekerja dengan presisi yang menakutkan. Setiap hentakan menghasilkan daya dorong yang jauh lebih besar daripada kaki aslinya.

Di sampingnya, Salim memimpin tipis. Gerakan Salim sangat aerodinamis, efisien, dan dingin. Seperti mesin yang diprogram untuk menang.

"Ayo, Tegar! Jangan menyerah!" suara Laras terdengar sayup-sayup di antara histeria massa.

Memasuki meter ke-50, Tegar mulai merasakan sensasi itu. Rasa panas yang diperingatkan Pak Bramantyo. Socket di pahanya mulai bergesekan hebat. Kulitnya yang belum pulih benar dari luka latihan kemarin terasa seperti disayat sembilan pisau sekaligus.

Satu kaki di atas bara, batin Tegar. Aku sudah terbiasa dengan ini.

"Kau mulai melambat, pecundang!" Salim berteriak sambil melewatinya di tikungan.

Tegar tidak membalas. Ia memejamkan mata sejenak, mengunci otot intinya seperti yang diajarkan Coach Hendra di balok keseimbangan. Ia berhenti mengandalkan kekuatan mesin, dan mulai menyelaraskan ritme napasnya dengan detak hidrolik di kakinya.

Bum! Bum! Bum!

Setiap langkah kini terasa seperti dentuman jantung raksasa. Jarak antara dia dan Salim mulai menipis. Penonton di stadion mulai berdiri dari kursi mereka. Mereka tidak percaya melihat seorang atlet dengan kaki buatan lokal mampu menempel ketat produk Jerman senilai miliaran rupiah.

"Mustahil!" umpat Salim saat melihat bayangan Tegar mulai merayap di sampingnya.

Sepuluh meter menuju finis. Paru-paru Tegar terasa hampir meledak. Keringat bercampur oli tipis merembes keluar, namun ia tidak peduli. Baginya, lintasan ini bukan lagi aspal, melainkan jembatan menuju harga dirinya yang sempat hancur.

Tepat sebelum garis finis, Tegar melakukan dorongan terakhir yang eksplosif. Sebuah lonjakan kekuatan yang melampaui batas batas aman sistem pneumatiknya.

Krak!

Suara retakan kecil terdengar dari arah kaki bioniknya, namun Tegar tidak berhenti. Ia melemparkan dadanya ke depan tepat saat sensor garis finis menyala merah.

Hening seketika. Seluruh stadion menahan napas saat layar raksasa menunjukkan tayangan ulang photo finish.

Tegar tersungkur di atas tartan, kakinya berasap hebat. Ia menoleh ke arah papan skor elektronik dengan jantung yang seolah berhenti berdetak, menunggu angka-angka itu menentukan takdirnya di depan jutaan pasang mata yang menonton melalui layar televisi di seluruh negeri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!