Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Berlari di Atas Luka
Suara langkah sepatu pantofel yang solnya sudah menipis namun melangkah angkuh itu menggema di lorong puskesmas. Tegar tersentak. Sosok laki-laki yang tadi meneriakinya adalah Pak Danu, ayah dari saingan terberatnya di sekolah, yang juga kebetulan menjabat sebagai kepala desa. Namun, sebelum Coach Hendra sempat membalas ucapan pedas itu, sebuah bayangan lain muncul dari pintu samping.
"Tegar! Pulang!"
Suara bariton itu bukan milik Pak Danu. Itu suara Bapak. Wajahnya merah padam, napasnya memburu, dan jemarinya yang kasar masih menyisakan sisa tembakau.
"Pak..." gumam Tegar lirih.
"Maaf, Pak. Tegar sedang saya tangani. Kakinya baru saja dijahit," potong Coach Hendra sambil berdiri, mencoba menjadi perisai bagi anak didiknya.
"Jahit atau tidak, dia harus pulang! Anak tidak tahu diri, lari dari rumah hanya untuk mengadu pada orang lain!" Bapak mencengkeram lengan Tegar, memaksa pemuda itu berdiri.
"Aduh! Sakit, Pak!" Tegar meringis, tumpuannya goyah. Darah mulai merembes tipis di balik perban putih yang baru saja dipasang perawat.
"Sakit? Sakitnya Tulus lebih besar dari sekadar jempol pecah begini! Ayo pulang!"
"Tunggu dulu, Pak," Coach Hendra menahan pundak Bapak. "Tegar ini aset desa. Dia mau ke provinsi. Pak Danu tadi cuma bicara sembarang, jangan dimasukkan hati. Tapi tolong, biarkan Tegar istirahat."
Bapak menoleh ke arah Pak Danu yang masih berdiri di pojok ruangan dengan senyum meremehkan, lalu kembali menatap Coach Hendra dengan mata menyala. "Aset desa? Anak saya bukan barang pajangan. Dia punya kewajiban di rumah. Masalah lomba, itu urusan orang yang punya uang buat beli sepatu baru!"
"Bapak, Tegar mohon... biarkan Tegar di sini sebentar," isak Tegar.
"Pulang atau Bapak anggap kamu bukan anak lagi!"
Perjalanan pulang terasa seperti siksaan abadi. Tegar dibonceng Bapak menggunakan motor tua yang mesinnya batuk-batuk. Setiap kali motor melewati lubang jalanan bukit yang berbatu, rasa nyut-nyutan di kakinya seperti aliran listrik yang menyengat sampai ke otak.
Sesampainya di halaman, Ibu sudah menunggu dengan wajah cemas, namun tangannya tetap memegang gayung kayu.
"Tegar, kamu itu dari mana? Gusti Allah... lihat itu perbannya merah!" seru Ibu.
"Jangan dimanja, Bu," potong Bapak sambil memarkir motor dengan kasar. "Dia sudah jago lari, biar dia belajar tanggung jawab. Tulus tadi kambuh lagi karena mikirin kembarannya yang hilang."
Tulus duduk di bale-bale bambu, wajahnya pucat pasi, namun matanya yang sayu menatap Tegar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gar... kamu nggak apa-apa?" suara Tulus lirih, hampir tenggelam oleh suara angin bukit.
Tegar hanya diam, menahan denyut di kakinya yang kini terasa panas.
"Sudah, jangan banyak tanya," bentak Bapak pada Tulus dengan nada yang jauh lebih lembut, lalu berbalik pada Tegar. "Tegar, bak mandi kosong. Air di gentong dapur juga habis. Sana, menimba ke sumur belakang."
Tegar terbelalak. "Pak? Kaki Tegar baru dijahit. Lima jahitan, Pak. Kata suster jangan buat tumpuan dulu."
"Menimba pakai tangan, bukan pakai kaki!"
"Tapi jalan ke sumur itu licin, Pak! Banyak batu kapurnya!"
"Tegar, tolonglah," sela Ibu dengan suara memelas. "Ibu tadi habis mijiti Tulus, tangan Ibu gemetar semua. Bapakmu capek habis dari pasar dan puskesmas nyari kamu. Cuma sebentar, Gar. Penuhi saja baknya."
"Harganya satu botol obat Tulus itu mahal, Gar," tambah Bapak sambil menyulut rokok. "Kamu bayar itu dengan kerja. Jangan cuma bisa lari-lari nggak jelas."
Tegar menatap Tulus. Saudara kembarnya itu hanya menunduk, meremas sarung yang menutupi kakinya yang kurus. Tak ada pembelaan. Tak ada suara.
"Iya, Pak. Tegar laksanakan," jawab Tegar pendek. Suaranya datar, sedatar tanah gersang di hadapannya.
KREK... KREK... KREK...
Suara katrol sumur tua itu terdengar seperti rintihan. Tegar berdiri dengan satu kaki sebagai tumpuan utama, sementara kaki kanannya yang diperban dibiarkan menggantung, sedikit berjinjit. Setiap kali ia menarik tali tambang yang kasar, otot betisnya menegang, dan luka jahitan itu terasa seperti ditarik paksa.
"Satu ember..." gumamnya.
Ia berjalan tertatih, menyeret kakinya menuju kamar mandi yang letaknya lima meter dari sumur.
"Arrgh!" Tegar jatuh terduduk. Air di ember tumpah separuh, membasahi perbannya. Perban yang tadinya putih kini berubah cokelat berlumpur dan merah tua.
"Tegar! Jangan malas! Airnya tumpah itu!" teriak Bapak dari dalam rumah.
"Iya, Pak!" jawab Tegar, suaranya serak.
Tulus muncul di pintu dapur, memegangi tiang kayu agar tidak jatuh. "Gar... sini, aku bantu dikit."
"Masuk, Lus! Nanti kamu pingsan lagi, aku yang disalahkan!" sentak Tegar tanpa menoleh.
"Tapi kakimu..."
"Kakiku masih ada dua, Lus. Masih bisa jalan. Jantungmu yang cuma satu itu, jaga baik-baik. Biar mimpiku saja yang mati, asal kamu tetap napas, kan begitu maunya Bapak?"
Tulus terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Maafin aku, Gar. Gara-gara aku, sepatumu..."
"Sepatu itu sudah jadi obat di dalam tubuhmu sekarang. Semoga obatnya manjur, biar aku nggak perlu menimba air sambil berdarah-darah begini setiap hari."
Tegar kembali ke sumur. Ia mengabaikan rasa perih yang kini berubah menjadi mati rasa. Di kepalanya, ia hanya membayangkan lintasan lari. Ia membayangkan Coach Hendra. Ia membayangkan tatapan meremehkan Pak Danu tadi di puskesmas.
Anak orang miskin sepertimu tidak pantas ikut lomba!
Kalimat itu terngiang-ngiang, lebih menyakitkan daripada tusukan jarum jahit suster.
Malam jatuh di perbukitan kapur. Suasana rumah sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali batuk kecil Tulus dari dalam kamar. Tegar duduk di ambang pintu dapur, membuka perbannya yang sudah hancur. Lukanya membengkak, membiru, dan beberapa jahitan tampak merenggang.
"Gusti... bagaimana aku bisa lari tiga hari lagi?" bisiknya pada kegelapan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan mendekat. Itu Ibu. Beliau membawa mangkuk kecil berisi parutan kencur dan daun jarak—ramuan tradisional yang biasa digunakan orang desa untuk memar memar.
"Sini, Ibu obati," bisik Ibu pelan, takut terdengar Bapak yang sudah mendengkur di depan TV tua.
"Nggak usah, Bu. Nanti tangan Ibu capek lagi habis mijiti Tulus," tolak Tegar dingin.
"Tegar... Ibu minta maaf. Ibu tahu ini tidak adil."
"Kalau tahu tidak adil, kenapa tetap dilakukan, Bu?"
Ibu terdiam, jemarinya mulai mengoleskan ramuan itu ke sekeliling luka Tegar. Dingin, namun sedikit perih.
"Bapakmu itu sayang kamu, Gar. Dia cuma takut. Dia takut kalau kamu sukses lari ke kota, kamu bakal lupa sama rumah ini. Dia takut kehilangan satu-satunya anak yang bisa diandalkan buat kerja kasar kalau Tulus sudah nggak ada nanti."
Tegar tertawa kecil, tawa yang menyakitkan. "Jadi aku disimpan di sini cuma buat jadi kuli? Buat jadi cadangan kalau Tulus mati? Begitu, Bu?"
"Bukan begitu, Le..."
"Sudahlah, Bu. Besok Tegar tetap akan latihan. Tanpa sepatu. Tanpa restu Bapak."
"Jangan, Gar! Kakimu bisa infeksi. Kamu bisa cacat!"