Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Lintasan Warisan

"Ambil map itu kembali, Coach. Berikan pada Tulus."

Suara Tegar membelah keheningan fajar di bengkel tua Pak Bramantyo. Bau oli dan karat yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan. Coach Hendra tertegun, tangannya yang memegang kontrak Federasi Nasional menggantung di udara.

"Tegar, jangan bercanda. Tulus? Dia memang kembaranmu, tapi dia tidak pernah berlatih secara profesional!" seru Coach Hendra dengan nada tinggi.

"Tapi dia punya jantung yang baru, Coach," sahut Tegar tenang, matanya menatap lurus ke arah tumpukan besi tua. "Jantung yang jauh lebih kuat dari milikku. Dan dia punya dua kaki yang utuh."

"Kau gila, Gar!" Andre membanting kunci inggris ke lantai. Prang! "Kita semua berdarah-darah di sini untukmu! Laras, Pak Bram, warga desa... kami mendukung Tegar Satria, bukan orang lain!"

Laras, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, mendekat dengan langkah gemetar. "Tegar, lihat aku. Apa ini karena kau takut kalah dari Salim di final nanti? Apa karena 'Tulang Belalang' itu membuatmu gentar?"

Tegar menoleh, menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia perlahan mengangkat kain celananya, memperlihatkan pangkal pahanya yang membiru, lebam karena gesekan paksa pneumatic yang meledak kemarin.

"Ini bukan soal takut kalah, Ras. Ini soal sadar diri," bisik Tegar. "Kalau aku memaksakan diri lari di final dengan 'Tulang Belalang', aku mungkin menang, tapi aku akan kehilangan sisa saraf di kakiku selamanya. Aku akan benar-benar lumpuh. Permanen."

"Bukankah itu harga dari sebuah mimpi?" tanya Laras, air mata mulai menggenang.

"Mimpiku bukan sekadar berdiri di podium, Ras," Tegar beralih menatap adiknya, Tulus, yang sejak tadi duduk meringkuk di pojok ruangan, tampak syok. "Mimpiku adalah melihat nama keluarga kita ada di sana. Dan untuk saat ini, Tulus adalah satu-satunya cara."

Pak Bramantyo menghela napas panjang, asap rokoknya mengepul lambat. "Tegar benar, Hendra. Aku sudah memeriksa rontgen terakhirnya. Saraf paha Tegar mengalami inflamasi hebat. Dia butuh operasi rekonstruksi saraf, bukan lari sprint."

"Tapi Tulus tidak punya teknik!" Coach Hendra memijat pelipisnya. "Dia hanya seorang pemuda yang baru sembuh dari penyakit jantung menahun. Bagaimana mungkin dia melawan Salim Wijaya dalam tiga minggu?"

Tegar bangkit, menyeret kakinya yang pincang mendekati Tulus. Ia memegang bahu adiknya yang kurus namun kini tampak lebih segar.

"Tulus, ingat saat kita kecil? Saat kau hanya bisa menontonku lari dari balik jendela karena jantungmu lemah?"

Tulus mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ingat, Mas. Mas Tegar selalu bilang, suatu hari aku akan lari lebih cepat darimu."

"Hari itu adalah sekarang," ucap Tegar mantap. "Kau punya jantung yang sehat sekarang. Kau punya paru-paru yang mampu menghirup seluruh oksigen di dunia ini. Aku akan memberimu rahasia napasku. Aku akan memberimu teknikku. Kau adalah kaki-kakiku yang utuh, Lus."

"Aku tidak bisa, Mas... aku takut," isak Tulus.

"Kau tidak akan lari sendirian!" Tegar mengguncang bahu adiknya. "Aku akan ada di pinggir lintasan. Coach Hendra akan ada di sana. Pak Bram akan melatih fisikmu. Kita punya waktu tiga minggu untuk mengubahmu menjadi monster!"

"Ini gila... benar-benar gila," gumam Coach Hendra, namun matanya mulai berbinar. Sebagai pelatih, ia melihat potensi drama yang luar biasa, namun lebih dari itu, ia melihat sebuah pengorbanan murni. "Federasi tidak akan setuju. Kontrak ini atas nama Tegar Satria!"

"Maka ubah namanya!" seru Tegar. "Katakan pada mereka, Tegar Satria mengalami cedera permanen, tapi dia memiliki 'senjata rahasia' yang jauh lebih mematikan. Tulus Satria. DNA yang sama, ambisi yang sama, tapi dengan mesin biologis yang sempurna."

Malam itu, di bawah temaram lampu bengkel, latihan neraka dimulai. Tegar duduk di kursi kayu, memegang peluit. Di depannya, Tulus berdiri mengenakan sepatu lari lama milik Tegar.

"Angkat lututmu lebih tinggi, Tulus! Kau bukan sedang berjalan di sawah!" teriak Tegar.

Tulus terengah-engah, keringat membanjiri kaosnya. "Mas... dadaku sesak..."

"Itu bukan jantungmu yang sakit, itu mentalmu yang lemah!" Tegar melempar handuk kecil ke arah adiknya. "Jantung barumu sudah kuat! Kau sudah diperiksa dokter! Berhenti merasa jadi orang sakit!"

Laras datang membawa botol-botol nutrisi, wajahnya masih menyiratkan keberatan. "Tegar, kau terlalu keras padanya. Dia baru seminggu keluar dari masa pemulihan total."

"Salim Wijaya tidak akan memberi kita ruang untuk bernapas, Ras," sahut Tegar dingin. "Dia punya laboratorium di Jerman. Tulus hanya punya aku dan bengkel ini. Jika dia tidak melewati batasnya malam ini, dia akan dipermalukan di Jakarta."

Tegar kemudian memberi isyarat agar Tulus mendekat. Ia memegang kaki adiknya, memijat otot betisnya dengan tangan yang kasar.

"Dengar, Lus," suara Tegar melembut. "Saat kau lari nanti, jangan bayangkan kau sedang mengejar garis finis. Bayangkan kau sedang berlari menjauh dari kematian. Bayangkan setiap langkahmu adalah detak jantung yang dulu kau dambakan. Gunakan rasa sakit itu sebagai bahan bakar."

Tulus mengangguk, mencoba mengatur napasnya. "Mas... kenapa Mas rela memberikan ini padaku? Ini panggung Mas. Ini saatnya Mas jadi pahlawan."

Tegar tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kepedihan sekaligus kelegaan. "Menjadi pahlawan bukan berarti harus berdiri di depan lampu sorot. Kadang, pahlawan adalah orang yang memastikan lampu itu tetap menyala untuk orang lain. Aku ingin sembuh, Lus. Aku ingin berjalan normal lagi suatu hari nanti. Dan caraku sembuh adalah dengan melihatmu menang."

Dua minggu berlalu dalam keheningan yang intens. Kabar tentang mundurnya Tegar Satria mulai terendus media. Tagar #TegarMundur mulai viral, diikuti dengan spekulasi bahwa mentalnya hancur setelah kakinya meledak di semifinal.

Salim Wijaya bahkan mengunggah video di akun media sosialnya, tertawa meremehkan sambil memamerkan kaki bionik terbarunya, Titanium-X.

"Cuma satu kali lari dan dia sudah rongsok," ejek Salim dalam video itu. "Kasihan. Ternyata pahlawan kampung itu cuma kembang api. Sekali meledak, lalu hilang ditelan kegelapan."

Tegar menonton video itu di ponsel Andre. Ia tidak marah. Ia justru memberikan ponsel itu kepada Tulus yang sedang melakukan squat dengan beban berat.

"Lihat itu, Lus. Dia menghina keluarga kita. Dia menghina perjuangan Pak Bram."

Tangan Tulus mencengkeram besi beban hingga buku jarinya memutih. "Dia akan menyesal, Mas. Aku bersumpah."

"Bagus. Simpan amarah itu untuk 100 meter terakhir," ucap Tegar.

Tiba-tiba, Pak Bramantyo masuk dengan wajah pucat. Ia membawa sebuah amplop cokelat besar.

"Ada apa, Pak?" tanya Coach Hendra cemas.

"Orang-orang Salim... mereka benar-benar melakukan ancamannya," suara Pak Bram bergetar. "Surat penyegelan bengkel. Mereka menuntut ganti rugi atas 'pencemaran nama baik teknologi medis' dan menuduh alatku berbahaya bagi keselamatan publik. Kita harus mengosongkan tempat ini dalam tiga hari."

"Apa?!" Laras berteriak tidak percaya. "Tapi ini rumah kita! Ini satu-satunya tempat Tulus berlatih!"

Tegar berdiri dengan bantuan tongkatnya. Matanya berkilat tajam, lebih tajam dari sebelumnya. Kehancuran Garuda-02 ternyata belum cukup bagi Salim; dia ingin menghabisi mereka sampai ke akar-akarnya.

"Biarkan mereka segel," ucap Tegar pelan namun penuh penekanan.

"Kau bicara apa, Tegar?" Andre emosi. "Kita akan kehilangan segalanya!"

"Kita tidak akan kehilangan apa-apa selama kita punya lintasan lari," balas Tegar. "Coach, hubungi Federasi. Katakan Tulus Satria siap untuk registrasi ulang. Kita akan berangkat ke Jakarta besok. Kita tidak butuh bengkel ini lagi untuk menang. Senjatanya sudah siap."

Tegar menunjuk ke arah Tulus yang kini berdiri tegak. Tubuh Tulus tidak lagi tampak ringkih. Ada otot-otot baru yang terbentuk dari siksaan latihan dua minggu terakhir, dan di matanya, ada api yang sama dengan milik Tegar.

"Lus," panggil Tegar.

"Iya, Mas?"

"Besok, saat kau berdiri di blok start, jangan gunakan namamu sendiri. Di depan dunia, kau tetaplah 'Tegar Satria'. Biarkan mereka mengira aku melakukan mukjizat dengan sembuh secara ajaib. Biarkan Salim ketakutan melihat 'orang cacat' yang ia hina kembali berdiri tanpa mesin."

"Tapi itu pembohongan, Tegar!" potong Coach Hendra.

"Bukan pembohongan, Coach. Ini strategi. Salim akan hancur mentalnya jika dia merasa teknologinya dikalahkan oleh orang yang seharusnya sudah tamat. Setelah finis, baru kita buka identitas aslinya. Biar dunia tahu, bahwa nyali keluarga Satria tidak bisa dibeli dengan titanium."

Malam itu, mereka mengemasi barang-barang seadanya. Bengkel yang penuh kenangan itu akan segera sunyi, namun semangat di dalamnya telah berpindah ke dalam raga yang lebih tangguh.

Tegar berdiri di depan pintu bengkel untuk terakhir kalinya, menatap sisa-sisa Garuda-02 yang tergeletak di meja. Ia mengusap rangka yang hangus itu, membisikkan janji yang hanya bisa didengar oleh angin malam.

Langkah kaki Tulus terdengar mendekat, mantap dan bertenaga, sebuah kontras yang menyakitkan sekaligus membanggakan bagi Tegar yang kini harus bergantung pada kayu penyangga.

Di bawah naungan bintang-bintang Jakarta yang mulai terlihat di ufuk, mereka melangkah pergi meninggalkan masa lalu yang hancur, menuju sebuah pertaruhan identitas yang akan menentukan apakah kehormatan sebuah keluarga bisa ditebus hanya dengan sepuluh detik kecepatan murni.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!