Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Identitas yang Terkuak
"TEGAR SATRIA MENANG! MUKJIZAT DI LINTASAN!"
Tulus terjatuh setelah melewati garis finis, dadanya naik turun dengan hebat. Oksigen masuk begitu melimpah ke paru-parunya. Ia menangis. Bukan karena sakit, tapi karena ia merasa benar-benar hidup.
Salim berdiri terpaku beberapa meter di belakangnya. "Tidak mungkin... perhitunganku tidak mungkin salah. Sarafnya seharusnya sudah hancur!"
Salim berjalan kasar menuju Tulus yang masih tersungkur. Ia menarik bahu Tulus dengan emosi. "Kau! Pakai doping apa kau, hah?! Tidak ada manusia yang bisa sembuh secepat itu!"
Coach Hendra, Laras, dan Pak Bramantyo berlari masuk ke lintasan. Petugas medis dan wartawan juga merubung.
Tegar Satria, dengan susah payah, turun dari tribun menggunakan tongkatnya, dibantu oleh Andre. Ia berjalan masuk ke tengah kerumunan yang sedang memanas.
"Dia tidak pakai doping, Salim," ucap Tegar dengan suara lantang yang membungkam semua orang.
"Lalu apa?! Jelaskan padaku bagaimana kau bisa lari secepat itu dengan kaki yang hancur!" teriak Salim frustrasi.
Tegar berdiri di samping adiknya. Ia membantu Tulus berdiri. Tulus perlahan melepas nomor dada yang bertuliskan nama Tegar.
"Karena yang mengalahkanmu bukan Tegar Satria," ucap Tegar sambil menatap kamera wartawan yang sedang menyiarkan secara langsung ke seluruh negeri.
Tulus menghapus keringat di wajahnya, lalu melepas ikat rambutnya, memperlihatkan identitas aslinya yang lebih segar dan tanpa beban masa lalu.
"Namanya adalah Tulus Satria," lanjut Tegar dengan bangga. "Adik kembarku. Pemilik jantung yang kau anggap lemah, tapi ternyata memiliki nyali yang lebih besar dari seluruh mesin Jermanmu."
Hening.
Seluruh stadion terdiam. Jutaan orang yang menonton di layar kaca ternganga.
"Apa?! Ini penipuan!" Salim berteriak ke arah panitia. "Diskualifikasi mereka! Dia bukan atlet yang terdaftar!"
"Silakan periksa aturannya, Salim," sahut Coach Hendra sambil menunjukkan dokumen di ponselnya. "Kami sudah mendaftarkan pergantian atlet di menit terakhir karena cedera permanen subjek utama. Federasi sudah menyetujuinya secara administratif satu jam sebelum lomba karena mereka memiliki DNA yang identik untuk kategori estafet keluarga yang baru disahkan. Kami hanya... membiarkanmu berasumsi."
Tegar merangkul bahu adiknya. "Kau lihat itu, Salim? Kau tidak dikalahkan oleh kaki bionik. Kau dikalahkan oleh seorang pemuda yang baru belajar lari tiga minggu lalu di sebuah bengkel tua yang kau segel."
Salim terduduk lemas di lintasan. Reputasinya hancur.
Tulus menatap ke arah kamera, lalu menatap kakaknya. "Mas, kita melakukannya."
"Bukan kita, Lus. Kau yang melakukannya," bisik Tegar haru. "Warisan kita selamat."
Namun, di tengah perayaan itu, Pak Bramantyo mendekat dengan wajah cemas, membisikkan sesuatu ke telinga Tegar.
"Tegar, orang-orang Salim tidak tinggal diam. Mereka baru saja membakar bengkel kita saat kita di sini. Segalanya... hangus."
Tegar tertegun. Senyumnya menghilang, berganti dengan tatapan sedingin es yang ditujukan pada Salim.
"Mas? Ada apa?" tanya Tulus.
Tegar mengepalkan tinjunya. "Permainan baru saja dimulai, Tulus. Mereka menghancurkan rumah kita, maka kita akan menghancurkan kerajaan mereka."
Tegar tidak membiarkan Tulus melihat kepulan asap imajiner yang kini memenuhi pikirannya. Ia hanya merangkul adiknya lebih erat, melindungi euforia Tulus dari kenyataan pahit bahwa tempat mereka pulang kini telah menjadi abu.
"Mas? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tulus mulai menyadari ketegangan di rahang kakaknya.
Tegar berpaling dari Salim yang masih terduduk tak berdaya, lalu menatap Pak Bramantyo. "Amankan Ibu. Sekarang. Jangan sampai mereka menyentuh rumah kami satu-satunya"
Pak Bramantyo mengangguk cepat dan menghilang di balik kerumunan. Tegar kemudian berbalik ke arah kamera wartawan yang masih menyala. Ia tidak lagi bicara sebagai atlet yang cedera; ia bicara sebagai seorang kepala keluarga yang baru saja dideklarasikan perang.
"Salim," suara Tegar rendah, namun menggema di sistem suara stadion.
Salim mendongak, wajahnya pucat pasi. "Apa lagi? Kalian sudah menang! Kalian sudah menghancurkanku!"
"Kau pikir ini tentang medali?" Tegar melangkah mendekat, bunyi tongkat penyangganya di atas lintasan lari terdengar seperti detak jam kematian. "Kau membakar bengkel kami karena kau takut pada apa yang bisa kami ciptakan di sana. Kau pikir dengan membakar kayu dan besi, kau membakar harga diri kami?"
Tegar menarik napas tajam, matanya berkaca-kaca namun tajam bagai sembilu. "Bengkel itu adalah satu-satunya peninggalan Kakek. Tempatku menempa diri dan bersembunyi saat aku lelah. Di sana, Tulus belajar bahwa jantungnya bukan beban. Di sana, aku belajar bahwa kaki yang hancur bukan akhir dunia."
Tulus yang baru menyadari arti kata-kata kakaknya, jatuh terduduk. "Bengkel... terbakar? Mas, semua alat kita... medali-medali lama Mas Tegar..."
"Harta kita tidak ada di sana, Lus," Tegar memotong dengan nada dingin yang baru. "Harta kita ada di sini." Ia menunjuk kepalanya, lalu menunjuk jantung Tulus.
Tegar membungkuk, menarik kerah jaket mahal Salim hingga pria itu terpaksa berdiri. Di hadapan jutaan penonton yang masih menyaksikan siaran langsung, Tegar berbisik namun cukup keras untuk ditangkap mikrofon terdekat.
"Besok pagi, saat membaca berita, namamu akan menjadi sampah di media. Dan saat kau mencoba merangkak kembali, aku akan ada di sana untuk memastikan tidak ada satu pintu pun yang terbuka untukmu. Kau tidak hanya kalah di lintasan, Salim. Kau kalah dalam hidup."
Tegar melepaskan Salim dengan kasar hingga pria itu tersungkur ke aspal lintasan yang panas. Ia berbalik, memunggungi musuhnya, dan menuntun Tulus berjalan keluar dari stadion. Mereka tidak menunggu upacara pengalungan medali. Bagi mereka, kemenangan sejati baru saja ternoda oleh api.