Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Tekad yang Tumbuh Kuat
Lampu mobil travel yang membawa mereka membelah kegelapan jalanan desa yang berkelok. Di dalam kabin, suasana hening, hanya deru mesin dan napas teratur Tulus yang tertidur pulas dengan medali emas masih melingkar di lehernya. Tegar menatap keluar jendela, jarinya mengetuk-ngetuk tongkat penyangga yang ia pangku.
"Masih memikirkan bengkel itu, Gar?" suara Coach Hendra memecah kesunyian.
Tegar menarik napas panjang, aroma minyak kayu putih di dalam mobil terasa menyesakkan. "Itu bukan cuma tempat kerja, Coach. Itu saksi bisu waktu saya menangis sendirian saat dokter bilang saya tidak akan bisa lari lagi. Sekarang, semuanya rata dengan tanah."
"Besi bisa ditempa ulang, Tegar. Kayu bisa dipahat lagi," Coach Hendra menepuk bahu atlet kesayangannya itu. "Tapi nyali adikmu? Itu tidak bisa dibeli dengan alat secanggih apa pun di bengkelmu yang lama."
Mobil melambat saat memasuki gapura desa. Tegar mengernyit. Ia mengharapkan kegelapan yang sama seperti saat ia berangkat, namun yang ia lihat justru sebaliknya. Obor-obor bambu tertancap di sepanjang pinggir jalan menuju rumahnya.
"Loh, Mas? Kita sudah sampai?" Tulus terbangun, mengusap matanya yang masih sembap.
"Bangun, Juara. Lihat ke luar," bisik Tegar.
Di depan sana, sebuah rumah tembok minimalis berdiri kokoh. Cat putihnya bersih, kontras dengan bayangan rumah bambu reyot yang ada di ingatan mereka sebulan lalu. Ini adalah rumah yang dibangun dari cinta para penggemar Tegar, sebuah tanda bahwa dunia tidak melupakan perjuangan sang atlet meskipun kakinya tak lagi utuh.
Begitu pintu mobil terbuka, kerumunan warga desa bersorak. Namun, Tegar tidak mencari sorakan itu. Matanya mencari dua sosok di ambang pintu.
"Ibu..." suara Tegar tercekat.
Seorang wanita paruh baya berlari tertatih, memeluk Tegar bahkan sebelum kaki palsunya menapak sempurna di tanah. Di belakangnya, seorang laki-laki berwajah keras yang biasanya jarang bicara—Bapak—berdiri dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah pulang, Nak? Sudah... sudah, jangan lihat ke arah bengkel," ucap Ibu sambil terisak, mencoba menghalangi pandangan Tegar ke arah puing-puing hitam di samping rumah.
"Ibu tidak apa-apa? Mereka tidak menyentuh Ibu?" tanya Tegar protektif.
Bapak melangkah maju, tangannya yang kasar merangkul bahu Tegar dan Tulus secara bersamaan. "Bapak ada di sini. Tidak ada yang berani menyentuh Ibu kalian. Mari masuk, udara malam tidak baik untuk jantung Tulus dan kaki kamu."
Di dalam rumah, aroma sambal terasi dan pepes ikan menyambut mereka. Suasananya begitu hangat, sangat kontras dengan dinginnya aspal lintasan lari atau ketegangan di ruang pers.
"Duduk, Gar. Di sini, di kursi yang empuk ini," ucap Bapak, menarikkan kursi khusus untuk Tegar.
"Tulus juga, duduk di sebelah Kakakmu," tambah Ibu.
Mereka melingkar di meja makan kayu yang sederhana namun penuh dengan hidangan. Coach Hendra duduk di sisi meja, tersenyum menyaksikan pemandangan yang jarang terjadi ini.
"Ibu masak sayur lodeh kesukaan kalian berdua," kata Ibu sambil menyendokkan nasi ke piring Tegar, lalu—tanpa jeda—melakukan hal yang sama ke piring Tulus.
Tegar tertegun. Biasanya, Ibu akan memberikan porsi terbesar atau lauk terbaik hanya untuk Tulus, karena "Tulus butuh gizi untuk kesehatan jantungnya". Tapi malam ini, potongan ikan gurame yang paling besar justru dibagi dua dengan adil.
"Kenapa diam, Gar? Ayo makan. Kamu butuh banyak asupan gizi untuk pemulihan kakimu," ujar Ibu lembut, mengelus rambut Tegar. Mata wanita itu berkaca-kaca.
Tulus menunduk, air matanya jatuh ke atas nasi hangat. "Bu... aku minta maaf. Aku membohongi semua orang. Aku bukan Mas Tegar."
"Ibu tahu," bisik Ibu.
Tegar dan Tulus serentak mendongak. "Ibu tahu?"
"Seorang ibu tidak butuh nama di dada untuk mengenali langkah kaki anaknya," Ibu tersenyum tipis, meski matanya basah. "Sejak hari pertama kamu lari di TV, Ibu tahu itu kamu, Tulus. Cara bahumu bergerak, cara kamu mengambil napas... itu anak bungsu Ibu yang selalu merasa tidak berguna."
Bapak berdehem, mencoba menutupi getaran di suaranya. "Bapak juga minta maaf. Selama ini Bapak terlalu keras pada Tegar karena Bapak pikir dia harapan satu-satunya keluarga. Dan Bapak terlalu protektif pada Tulus karena Bapak takut jantungmu akan berhenti jika Bapak terlalu menuntutmu."
"Pak..." Tegar meletakkan sendoknya. "Tulus lebih hebat dari saya. Dia melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan dengan teknologi jutaan dolar."
"Tidak, Mas," potong Tulus cepat. "Aku lari karena bayangan Mas Tegar ada di depanku. Aku cuma mengikuti jejak yang sudah Mas buat."
Bapak memegang tangan Tegar yang ada di atas meja, lalu tangan Tulus yang lain. "Mulai malam ini, tidak ada lagi 'si atlet' dan 'si sakit'. Di rumah ini, hanya ada dua anak laki-laki Bapak. Yang satu punya kaki baja, yang satu punya jantung singa."
Tegar merasakan beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dadanya mendadak luruh. Rasa iri yang dulu sempat bersembunyi di balik rasa sayangnya pada Tulus, kini menguap. Ia tidak lagi merasa harus memikul beban keluarga sendirian.
"Coach," Tegar menoleh pada Hendra. "Apa kita punya rencana untuk besok?"
Coach Hendra menelan suapan terakhirnya. "Rencana? Besok kita akan santai dulu dan bersenang-senang di gubuk. Kamu rindu gubuk kan?"
Tegar mengangguk. "Kita bawa bekal dan makan di gubuk ya, Coach. Aku mau menikmati udara sawah sambil menghalau burung yang makan padi!"
Coach Hendra tersenyum. "Tentu. Lusa kita akan menghadapi konferensi pers besar. Salim akan mencoba menyerang lewat jalur hukum, tapi pengacara Pak Bramantyo sudah siap. Namun, ada satu hal yang lebih penting."
"Apa itu?" tanya Tulus penasaran.
"Permintaan dari akademi atletik nasional," Coach Hendra tersenyum misterius. "Mereka ingin Tegar menjadi kepala pelatih divisi sprint, dan Tulus mendapatkan beasiswa penuh untuk persiapan olimpiade."
Suasana meja makan mendadak hening. Tulus tersedak air minumnya. "O-olimpiade? Tapi jantungku..."
"Dokter tim sudah memeriksa data medismu saat lomba kemarin, Lus," Coach Hendra menjelaskan. "Keajaiban itu nyata. Latihan intensif yang diberikan Tegar di bengkel tua itu ternyata memperkuat otot jantungmu secara bertahap. Kamu bukan lagi pasien, kamu adalah fenomena medis."
Tegar tertawa, suara tawa yang lepas dan tulus. "Jadi, aku akan jadi bosmu sekarang?"
"Sepertinya begitu, Mas," Tulus ikut tertawa, meski matanya masih berkaca-kaca.
Setelah makan malam, saat orang tua mereka sudah beristirahat, Tegar dan Tulus duduk di teras depan. Di samping mereka, puing bengkel yang menghitam masih menyisakan bau sangit.
"Mas, maafkan aku soal bengkel. Semua peninggalan Mas..."
"Sudahlah, Lus," Tegar menatap langit desa yang penuh bintang. "Lihat rumah ini. Tembok ini dibangun oleh orang-orang yang mendukung kita. Bengkel itu boleh terbakar, tapi ilmu yang Mas ajarkan ke kamu sudah berpindah ke kaki kamu."
Tulus terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara rendah. "Apa Mas masih dendam pada Salim?"
Mata Tegar menyipit, menatap sisa-sisa kayu yang hangus. "Dendam tidak akan membangun kembali bengkel itu, Lus. Tapi keadilan harus tetap tegak. Dia membakar sejarah kita, maka kita akan membangun masa depan yang tidak akan bisa dia sentuh."
Tulus mengangguk mantap. Ia merasa bukan lagi Tulus yang lemah dan selalu bersembunyi di balik bayang-bayang.
"Mas Tegar," panggil Tulus.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku saat aku hampir menyerah pada diriku sendiri di bengkel itu."
Tegar merangkul adiknya, menariknya ke dalam pelukan persaudaraan yang kuat. "Kita bersaudara, Lus. Satu darah, satu napas. Kalau kamu berhenti, aku juga berhenti. Tapi sekarang..."
Tegar menunjuk ke arah jalanan aspal yang membelah desa.
"Sekarang kita akan lari lebih jauh lagi. Kamu di lintasan, dan aku di sampingmu. Selamanya."
Di kegelapan malam, di antara puing yang masih berasap, sebuah tekad baru lahir. Mereka kehilangan sebuah bangunan, namun mereka menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah keluarga yang utuh dan identitas yang tidak lagi perlu disembunyikan.