Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Perlindungan dari Tetangga
"Lari, Tulus! Jangan menoleh ke belakang!"
Tegar membentak sambil berusaha berdiri tegak dengan tumpuan tongkatnya. Matanya yang tajam mengunci sosok pria berjas hitam yang mulai melompati parit pembatas sawah.
"Tapi Mas, kaki Mas—"
"Aku bilang lari! Cari bantuan ke kampung! Sekarang!"
Tulus tidak punya pilihan. Ia menyambar rantang kosong dan berlari sekuat tenaga menyusuri pematang yang sempit. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lemah, melainkan karena amarah yang membakar. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap mulai mengejar, sementara satu orang lagi—yang tadi menelepon—berjalan tenang menuju Tegar.
"Tegar, Tegar... Harusnya kau tetap di kota daripada membusuk di sawah ini," ujar pria berkacamata hitam itu, suaranya sedingin es.
Tegar menyeringai, meski pelipisnya basah oleh keringat dingin. "Gubuk ini memang reot, tapi udaranya jauh lebih bersih daripada bau busuk mulut Salim."
Di ujung jalan setapak, Tulus hampir menabrak Kang Dadang yang sedang memikul gabah.
"Tulus! Kenapa kamu lari kesetanan begitu, Nak?"
"Kang! Tolong! Ada orang asing... mereka mengejar Mas Tegar di gubuk tengah!" teriak Tulus terengah-engah.
Kang Dadang tidak bertanya dua kali. Ia menjatuhkan pikulannya begitu saja. "Apa?! Berani-beraninya mereka mengganggu pahlawan kampung kita? WOI, SEMUANYA! ADA YANG MAU MACAM-MACAM SAMA KELUARGA PAK YANTO!"
Teriakan Kang Dadang seperti aba-aba perang. Dari balik rimbunnya pohon pisang, dari dalam warung kopi, dan dari pintu-pintu rumah panggung yang terbuka, warga desa keluar membawa apa saja. Cangkul, arit, hingga balok kayu.
"Mana orangnya, Lus?!" tanya Pak RT yang muncul dengan wajah merah padam.
"Di sawah, Pak! Mereka pakai mobil hitam!"
"Berani sekali mereka menyentuh Tegar. Ayo, semuanya! Jangan biarkan mereka lolos!"
Di tengah sawah, Tegar sudah terpojok. Tongkatnya ditendang hingga terlempar ke lumpur. Ia terduduk di amben, menatap nyalang ke arah anak buah Salim yang sudah mengepungnya.
"Tuan Salim ingin kau menandatangani surat pengunduran diri Tulus dari pelatnas secara resmi. Jika tidak, bengkelmu yang terbakar itu hanya awal dari kehancuran keluargamu," ancam pria itu sambil menyodorkan secarik kertas.
"Aku tidak akan pernah menjual mimpi adikku," desis Tegar.
"Kalau begitu, mungkin kaki kirimu juga perlu dibuat lumpuh—"
"LANGKAHI DULU MAYAT KAMI, BANGSAT!"
Suara gemuruh itu bukan datang dari langit, melainkan dari puluhan warga desa yang berlari menuruni jalan setapak. Kang Dadang memimpin di depan, mengacungkan sabitnya ke arah pria berjas hitam itu.
"Siapa kalian?!" teriak anak buah Salim, mulai panik melihat massa yang mengepung mereka.
"Kami? Kami ini tanah yang kalian injak!" sahut Pak RT garang. "Pergi dari sini sekarang, atau mobil mewah kalian itu akan jadi rongsokan di dasar sungai!"
Warga mengepung ketiga orang asing itu dengan barikade manusia. Tidak ada celah untuk lari. Para tetangga yang dulu sering mencibir Tegar sebagai 'cacat', kini berdiri paling depan sebagai perisai.
"Maaf, Mas Tegar. Dulu kami sering salah paham," bisik salah satu pemuda desa sambil membantu Tegar berdiri. "Sekarang, biar kami yang jaga Mas dan Tulus."
Anak buah Salim yang melihat situasi tidak kondusif itu segera mundur perlahan. "Kalian akan menyesal! Tuan Salim tidak akan tinggal diam!"
"Sampaikan pada Tuanmu itu," teriak Tegar dengan suara menggelegar, "di kota dia mungkin raja, tapi di sini, dia hanya sampah yang mencemari desa kami!"
Mobil hitam itu menderu, pergi meninggalkan kepulan debu yang disambut sorak sorai kemenangan warga.
Sore harinya, suasana rumah Tegar berubah total. Tidak ada lagi kesunyian yang mencekam. Ibu sibuk menyuguhi kopi dan gorengan untuk para tetangga yang berkumpul di teras.
"Ayo, dimakan pisangnya. Terima kasih sudah membantu anak-anak saya tadi," ujar Ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Bu. Kami bangga punya Tulus yang bisa masuk TV, dan kami bangga punya Tegar yang kuat mendidik adiknya," sahut seorang ibu tetangga yang dulu sering menggunjing mereka.
Bapak duduk di samping Tegar, tangannya gemetar saat memegang bahu putranya. "Maafkan Bapak, Gar. Bapak baru sadar, selama ini Bapak hanya melindungi ketakutan Bapak sendiri, bukan melindungi kalian."
Tegar tersenyum tipis. "Sudah, Pak. Yang penting sekarang kita aman."
Setelah para tetangga pulang, Tegar menatap Tulus yang sedang duduk di tangga rumah. "Lus, ganti bajumu. Pakai sepatu lari yang baru Bapak belikan tadi."
Tulus tertegun. "Sekarang, Mas? Ini sudah hampir maghrib."
"Dunia tidak akan menunggumu sampai matahari terbit, Tulus. Salim tidak akan berhenti hanya karena warga desa mengusirnya. Dia akan menyerang lewat jalur hukum atau birokrasi di Jakarta. Satu-satunya caramu melawan adalah dengan menjadi tak terkalahkan di lintasan."
Tulus mengangguk mantap. Ia masuk ke rumah dan keluar dengan setelan olahraga lengkap.
Halaman belakang rumah mereka yang luas dan berbatu menjadi saksi bisu dimulainya latihan perdana itu. Tegar duduk di kursi bambu, memegang stopwatch tua milik ayahnya.
"Lakukan drill kaki pendek. 50 repetisi. Sekarang!" perintah Tegar tegas.
Tulus mulai bergerak. Keringat mulai membasahi kaosnya.
"Lebih tinggi lagi lututmu! Jangan manjakan jantungmu, Tulus! Dia harus tahu siapa tuannya!"
"Mas... capek..." rintih Tulus di repetisi ke-30.
"Capek itu hanya di pikiran! Ingat wajah pria di sawah tadi? Ingat bagaimana mereka menghina Bapak? Gunakan amarah itu untuk menggerakkan kakimu!"
Tegar terus berteriak, memberikan instruksi teknis yang tajam. Ia tidak lagi bertindak sebagai kakak yang lembut, melainkan sebagai pelatih yang haus akan kemenangan. Setiap kali Tulus melambat, Tegar akan memukul sandaran kursinya, mengingatkan Tulus pada kerasnya aspal kota.
"Cukup!" teriak Tegar setelah satu jam latihan fisik yang menyiksa.
Tulus tumbang di atas rumput, napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya terasa remuk, tapi ada kilat yang berbeda di matanya.
"Mas..."
"Hmm?"
"Terima kasih sudah tidak mengasihaniku lagi."
Tegar menatap langit yang mulai jingga. "Aku tidak mengasihanimu karena aku tahu kau mampu. Besok subuh, kita mulai lari di jalan tanjakan menuju bukit. Jangan telat sedetik pun."
Tegar memutar kursi rodanya menuju pintu rumah, namun langkahnya terhenti. Ia melihat sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintu depan. Dengan susah payah, ia mengambilnya.
Saat ia membuka isinya, wajah Tegar berubah pucat. Di dalamnya bukan surat ancaman dari Salim, melainkan foto Ibu dan Bapak yang sedang belanja di pasar tadi siang, dengan tanda silang merah besar di atas wajah mereka.
Di balik foto itu tertulis sebuah pesan singkat:
Sawah punya banyak warga, tapi pasar adalah tempat yang sepi bagi orang tua yang sendirian.
Tegar meremas foto itu hingga hancur. Genggamannya pada tongkat mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, menyadari bahwa kemenangan di sawah tadi barulah babak pemanasan dari perang yang sesungguhnya.