Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Pemalsuan Dokumen Domisili
Dunia seakan runtuh bagi Salim. Wajahnya pucat pasi, bibirnya gemetar, tangannya terkepal erat menahan amarah dan kekecewaan. 9.89 detik. Rekor nasional baru. Jauh meninggalkan rekor Andreas, dan jauh melampaui waktu Revan yang bahkan tidak berhasil masuk dalam tiga besar.
Sorakan penonton meledak, memekakkan telinga. Coach Hendra berlari ke tengah lintasan, air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya, memeluk Tulus dengan erat. "Kamu monster, Lus! Kamu monster!"
Tegar memutar kursi rodanya ke pinggir lintasan, air mata bangga membasahi pipinya. "Lus, kamu melakukannya! Kamu melakukannya untuk kita semua!"
Andreas berdiri di samping Tegar, senyum tipis terukir di wajahnya yang keras. "Utang lunas, Tulus. Sekarang kamu bukan lagi berlian kasar. Kamu adalah berlian yang paling bersinar di langit malam ini."
Di tengah kerumunan, Tulus berdiri tegak, napasnya tenang, matanya menatap langit malam Jakarta yang penuh bintang. Ia tidak lagi melihat bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Ia hanya melihat masa depan yang cerah, garis finish yang tak lagi menakutkan, dan janji yang telah ditepatinya: berlari sampai mereka tak lagi bisa melihat punggungnya. Kemenangan malam ini bukan hanya tentang medali atau rekor, tapi tentang kemenangan sebuah jiwa yang menolak untuk menyerah pada takdir, yang memilih untuk berlari dengan sayap harapan dan api tekad yang tak pernah padam.
***
Suara gemuruh di Stadion Madya Senayan belum juga surut, namun di area mixed zone—lorong tempat atlet bertemu media dan ofisial—suasana terasa mencekam. Bau keringat bercampur parfum mahal yang menyesakkan. Salim berdiri di sana, dikelilingi oleh tiga pria berbadan tegap yang mencoba menghalangi akses siapa pun.
Tulus berjalan masuk dengan handuk tersampir di lehernya. Langkahnya yang tadi ringan di lintasan, kini terasa berat saat melihat sosok pria yang telah menghancurkan kaki kakaknya itu berdiri menghalangi jalan.
"9.89 detik," Salim bertepuk tangan pelan, suaranya parau namun penuh racun. "Rekor yang luar biasa untuk seorang anak yang besar di antara aroma kotoran kambing."
Tulus berhenti. Ia mengatur napas, menatap tajam mata pria di depannya. "Lintasan tartan tidak peduli dari mana saya berasal, Pak Salim. Dia hanya peduli siapa yang paling cepat sampai ke garis finish."
"Sombong sekali," Salim terkekeh, mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. "Kamu pikir angka di papan skor itu tiket emasmu menuju kebebasan? Kamu lupa siapa yang memegang kendali di federasi ini?"
"Jangan sentuh dia, Salim!"
Suara kursi roda yang berderit memecah ketegangan. Tegar muncul dari balik lorong, didorong oleh Andreas. Wajah Tegar memerah, tangannya mencengkeram sandaran kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ah, si cacat yang keras kepala," Salim menoleh remeh. "Masih punya nyali menatapku setelah apa yang terjadi di sawah?"
"Aku tidak butuh kaki untuk melihat betapa kotornya tanganmu, Salim," desis Tegar. "Tulus sudah membuktikan semuanya. Revan? Dia bahkan tidak terlihat di spion Tulus tadi."
"Revan hanya kurang beruntung! Alat pacu jantungnya sedikit bermasalah karena tekanan!" Salim membentak, urat lehernya menonjol. "Tapi dengar ini, Tegar. Kemenangan adikmu ini... ilegal."
Andreas maju satu langkah, menutupi posisi Tulus. "Apa maksudmu, Salim? Jangan coba-coba bermain kotor di depan publik."
"Ilegal?" Andreas mengulang dengan nada dingin. "Hasil tes doping keluar besok, dan semua mata melihat Tulus bersih."
Salim merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah map biru dan melemparkannya ke dada Tulus. "Buka. Lihat halaman tiga."
Tulus menangkap map itu. Dengan tangan gemetar, ia membacanya. Matanya membelalak.
"Pemalsuan dokumen domisili?" Tulus bergumam, suaranya nyaris hilang.
"Benar," Salim tersenyum licik. "Statusmu sebagai atlet daerah asalmu sudah dicabut karena pelanggaran administrasi yang aku 'temukan' pagi ini. Secara hukum, catatan waktumu malam ini dianggap tidak sah untuk seleksi Nasional. Kamu dianggap peserta gelap, Tulus. Kamu lari untuk hampa."
"Binatang kau, Salim!" Tegar mencoba bangkit dari kursi rodanya, namun ia jatuh tersungkur di aspal lorong. "Kamu yang memalsukan itu semua! Kamu yang menjebak kami!"
"Tegar!" Tulus menjatuhkan map itu dan memeluk kakaknya yang merayap di lantai. "Kak, bangun, Kak... jangan dengarkan dia."
"Sakit, Lus... hatiku lebih sakit dari kakiku," isak Tegar di pelukan adiknya. "Dia ingin membunuh mimpi kita lagi."
Salim berjongkok di samping mereka, berbisik tepat di telinga Tulus yang sedang mendekap kakaknya. "Aku punya penawaran. Akui di depan pers bahwa kamu menggunakan suplemen terlarang dan hasil lari tadi adalah kesalahan teknis. Sebagai imbalannya, aku akan membiayai operasi saraf kakakmu di Jerman. Dia bisa jalan lagi, Tulus. Kamu mau dia seumur hidup di kursi roda karena egomu?"
Tulus membeku. Ia menatap wajah Tegar yang basah oleh air mata, lalu menatap Salim.
"Operasi... di Jerman?" suara Tulus bergetar.
"Ya. Fasilitas terbaik. Dokter terbaik. Kakakmu kembali normal, dan kamu hanya perlu menghilang dari dunia atletik selama dua tahun. Setelah itu, aku bisa 'membersihkan' namamu kembali," goda Salim.
"Jangan, Lus... jangan dengarkan dia!" teriak Tegar, suaranya serak. "Aku rela lumpuh selamanya asal kau tetap jadi juara! Jangan jual kehormatanmu!"
"Diam kau, rongsokan!" bentak Salim.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Salim. Bukan dari Tulus, bukan dari Tegar. Tapi dari Andreas.
Suasana mendadak hening. Para pengawal Salim hendak merangsek maju, namun Andreas mengangkat tangannya. "Sentuh aku, dan rekaman pembicaraan ini yang sedang terhubung langsung ke streaming kanal pribadiku akan meledak di seluruh Indonesia."
Andreas menunjukkan ponsel di kantong kemejanya yang sedari tadi menyala. Salim pucat pasi.
"Kau... kau menjebakku?" suara Salim bergetar karena amarah.
"Aku bukan pelari bodoh, Salim. Aku monster yang kau ciptakan sendiri sepuluh tahun lalu saat kau membuangku," Andreas meludah ke samping. "Dunia sudah mendengar tawaran kotor-mu."
"Tulus," Andreas menatap Tulus yang masih memeluk Tegar. "Pilih. Menjadi pahlawan yang hancur karena kejujuran, atau menjadi pemenang yang hidup dalam kebohongan. Kakakmu tidak butuh kaki baru untuk bangga padamu. Dia hanya butuh adiknya yang jujur."
Tulus menghapus air mata di pipi Tegar. Ia berdiri, membantu kakaknya kembali ke kursi roda dengan gerakan lembut namun penuh kekuatan. Ia kemudian berbalik menghadap Salim yang kini dikerumuni wartawan yang mulai menyadari keributan di lorong itu.
"Pak Salim," suara Tulus menggema di lorong yang sempit itu. "Anda bilang kaki kakak saya bisa dibeli dengan kebohongan saya?"
Salim hanya diam, wajahnya tertunduk mencoba menghindari sorotan kamera ponsel Andreas.
"Kaki kakak saya mungkin mati, tapi jiwanya adalah mesin yang menggerakkan kaki saya malam ini," Tulus mendekat, suaranya kini tenang namun menghunus. "Silakan cabut status domisili saya. Silakan hapus nama saya dari papan skor. Tapi Anda tidak akan pernah bisa menghapus memori ribuan orang di stadion itu yang melihat anak desa ini meninggalkan putra Anda di belakang debu."
"Kamu akan menyesal, bocah! Kamu akan hidup melarat!" ancam Salim dengan sisa keberaniannya.