Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Kandang Singa

Singapura menyambut mereka dengan kelembapan yang mencekik dan kemegahan yang dingin. National Stadium dengan atap kubah raksasanya berdiri angkuh. Bagi Tulus, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di luar negeri. Aroma stadion ini berbeda; tidak ada bau asap sate atau debu jalanan. Yang ada hanyalah bau karet sintetis kelas dunia dan ambisi yang pekat.

Di area pemanasan, atlet-atlet dari Jepang, Australia, dan tuan rumah Singapura menatap mereka dengan dahi berkerut. Tulus dan tim kecilnya tampak seperti rombongan yang tersesat. Mereka tidak memiliki pelapis otot medis yang canggih atau tim fisioterapi yang sibuk memijat kaki. Hanya ada Andreas yang memegang botol air mineral dan Tegar yang sibuk mencorat-coret grafik kecepatan di buku catatannya.

"Lihat itu, The Ghost Runner dari Indonesia," bisik seorang atlet Australia dalam bahasa Inggris yang cukup keras untuk didengar. "Pria yang menghancurkan karier pejabat federasinya sendiri. Apa dia pikir dia bisa menang tanpa sistem?"

Tulus sempat menoleh, namun tangan Tegar segera mencengkeram lengannya. "Jangan biarkan suara mereka masuk ke telingamu, Lus. Ingat apa yang kita pelajari di bawah lampu minyak. Lintasan ini panjangnya tetap 100 meter, baik di Jakarta maupun di Singapura. Fokus pada detak jantungmu sendiri."

Sore itu, kualifikasi dimulai. Tulus berada di Heat 4. Saat namanya dipanggil, tidak ada sorak-sorai meriah. Penonton di stadion hanya berbisik-bisik, mengenali wajahnya dari berita viral yang sempat mencapai media internasional.

"On your marks..."

Tulus meletakkan tangannya di garis putih. Ia bisa merasakan getaran dari lintasan yang begitu sempurna.

"Set..."

Pinggulnya naik. Otot-ototnya menegang seperti busur panah yang ditarik maksimal.

BANG!

Tulus melesat. Dunia di sekitarnya menjadi kabur. Ia tidak memikirkan rekor nasional. Ia tidak memikirkan Salim. Ia hanya memikirkan suara derit kursi roda Tegar yang selama bertahun-tahun menemaninya berlatih. Di meter ke-50, ia sudah memimpin dua badan di depan pelari Jepang. Di meter ke-80, ia merasa seperti terbang.

Ia menyentuh garis finish dengan catatan waktu 9.92 detik. Santai, tanpa tekanan penuh. Ia lolos ke final yang akan diadakan malam nanti.

Malam Penebusan

Malam hari, suasana stadion berubah menjadi teater drama yang megah. Lampu sorot berwarna-warni menari di atas lintasan. Tulus masuk ke lapangan untuk babak final. Kali ini, kejutan terjadi. Di tribun bagian barat, sekelompok mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Singapura membentangkan spanduk besar bertuliskan: "LARI TULUS, KAMI BERSAMAMU!"

Suara dukungan itu membuat dada Tulus bergetar. Ia melihat ke arah pinggir lapangan, di mana Tegar dan Andreas berdiri. Tegar mengangkat tinjunya ke udara. Itu adalah kode: Lepaskan semuanya.

Di lintasan sampingnya, berdiri seorang pelari asal Amerika Serikat yang mengikuti kejuaraan terbuka ini, seorang atlet dengan catatan waktu pribadi 9.82 detik. Pria itu menatap Tulus dan mengangguk hormat. "I heard about you, Kid. Show me that fire." (Aku dengar tentangmu, Nak. Tunjukkan api itu.)

Tulus tersenyum tipis. "With pleasure."

Suasana mendadak senyap. Ribuan pasang mata tertuju pada delapan pria tercepat di turnamen itu.

"On your marks..."

Tulus menutup matanya sejenak. Ia mencium aroma tanah basah desanya dalam ingatannya.

"Set..."

BANG!

Ini bukan sekadar lari. Ini adalah ledakan amarah, harapan, dan cinta yang terpendam selama sepuluh tahun sejak kecelakaan di sawah itu. Tulus tidak hanya menggerakkan kakinya; ia menggerakkan seluruh sejarah penderitaan keluarganya.

Pada 30 meter pertama, ia sejajar dengan pelari Amerika.

Pada 60 meter, ketegangan memuncak. Penonton berdiri dari kursi mereka. Suara Andreas yang berteriak "Sekarang, Lus!" tenggelam dalam gemuruh stadion.

Di 20 meter terakhir, Tulus merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah sensasi di mana tubuhnya terasa ringan, seolah-olah beban gravitasi telah hilang. Ia melihat garis finish bukan sebagai akhir, tapi sebagai pintu menuju kehidupan baru bagi ibunya dan kakaknya.

Ia menerjang garis finish dengan dada membusung.

Papan skor elektronik berkedip selama tiga detik yang terasa seperti selamanya.

1. TULUS (INA) - 9.78 (New Meet Record & Personal Best)

Stadion meledak. Tulus jatuh berlutut, mencium lintasan biru itu. Air mata jatuh tak terbendung. Ia telah melampaui batas yang ia janjikan pada Tegar.

Di Balik Layar Kemenangan

Di tengah kerumunan media yang mengerubungi Tulus, seorang pria paruh baya berpakaian rapi namun tampak lelah mendekat. Ia adalah perwakilan resmi dari badan atletik dunia (World Athletics) yang sengaja datang untuk memantau bakat-bakat baru.

"Mr. Tulus," ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Andreas. "Kami telah memantau kasus Anda di Indonesia. Kami ingin memberitahukan bahwa hasil tes hari ini akan kami validasi secara independen. Jika bersih, catatan waktu Anda akan masuk dalam rangkian kualifikasi Olimpiade, terlepas dari status domestik Anda yang sedang bermasalah."

Tulus terpaku. Olimpiade. Panggung tertinggi bagi setiap atlet di muka bumi.

Namun, perhatian Tulus teralih saat ia melihat sosok Salim berdiri di kejauhan, di luar pagar pembatas media. Pria itu tampak kuyu, jasnya tidak lagi rapi. Ia dikawal oleh dua orang petugas kepolisian Singapura. Rupanya, kerja sama kepolisian antarnegara telah menindaklanjuti laporan Andreas mengenai penyuapan dan pemalsuan dokumen publik yang melibatkan dana hibah internasional.

Salim menatap Tulus dengan tatapan kosong. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi kesombongan. Ia melihat mimpinya tentang kekuasaan hancur, sementara anak yang ia hina sebagai "pencium aroma kotoran kambing" kini sedang disalami oleh tokoh-tokoh dunia.

Tulus berjalan mendekati pagar. Polisi sempat menghalanginya, namun Tulus hanya ingin bicara satu hal.

"Pak Salim," ucap Tulus pelan. "Anda salah satu hal yang benar dalam hidup saya."

Salim mendongak, bingung.

"Karena tanpa kebencian Anda, saya mungkin tidak akan pernah belajar bagaimana cara mencintai impian saya sekeras ini. Terima kasih telah menjadi batu asahan bagi berlian yang Anda remehkan."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!