Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Diserbu Calon Murid
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti sawah, namun ketenangan di depan rumah kayu Tegar dan Tulus terusik oleh suara deru mesin motor yang silih berganti. Bukan hanya satu atau dua, melainkan belasan motor terparkir rapi di pinggir jalan setapak. Para pria dewasa dengan jaket lusuh dan helm yang masih terpasang tampak berkumpul di depan pagar, beberapa di antaranya menggendong anak laki-laki yang masih mengantuk, sementara yang lain memegang tangan anak perempuan mereka erat-erat.
Berita tentang "Lari Gembira" di halaman belakang rumah Tulus kemarin ternyata menyebar lebih cepat daripada angin tenggara. Lewat grup WhatsApp warga, obrolan di pasar, hingga cerita dari mulut ke mulut para penjual sayur, kabar itu sampai ke desa tetangga—Desa Sukamaju dan Desa bakti—bahwa sang juara dunia tidak hanya pulang untuk pamer medali, tapi juga untuk bermain dan mengajar anak-anak.
Tulus, yang baru saja hendak melakukan pemanasan rutinnya, tertegun di ambang pintu. "Kak Tegar... sepertinya kita punya tamu. Banyak sekali."
Tegar mendorong kursi rodanya ke teras, matanya membelalak melihat kerumunan itu. Di barisan paling depan, seorang pria paruh baya dengan kaos partai yang sudah pudar warnanya maju melangkah.
"Maaf mengganggu pagi-pagi, Mas Tegar, Mas Tulus," ujar pria itu sambil menyalami mereka dengan takzim. "Saya dari Desa Sukamaju. Anak saya ini, si Rian, kemarin menangis minta ke sini setelah dengar cerita temannya kalau di sini ada sekolah lari yang seru. Apa benar kami boleh mendaftarkan anak kami?"
Tegar terdiam sejenak, memandang wajah-wajah penuh harap di depannya. "Waduh, Pak... sebenarnya kemarin itu cuma main-main biasa saja."
"Tapi bagi kami, itu bukan main-main, Mas," sahut seorang bapak lain yang berdiri di belakang. "Anak-anak kami butuh kegiatan positif. Daripada mereka main game seharian atau keluyuran tidak jelas, lebih baik mereka belajar disiplin dari Mas Tulus. Kami rela bayar, Mas, berapapun asalkan anak-anak ini punya semangat seperti kalian."
Mendengar kata "bayar", Tulus segera menggelengkan kepala sambil tersenyum ramah. "Jangan bicara soal bayar dulu, Pak. Kami di sini pulang memang ingin berbagi. Mari, silakan masuk dulu ke halaman. Ibu sedang menyeduh teh di dalam."
Halaman yang kemarin baru saja dibersihkan kembali penuh. Kali ini suasananya lebih formal namun tetap hangat. Tegar segera mengambil selembar kertas dan pulpen, bukan untuk mencatat beban latihan, melainkan untuk mendata nama-nama calon "murid" dadakan ini.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Tegar pada seorang bocah kecil yang tampak malu-malu bersembunyi di balik kaki bapaknya.
"Fajar, Kak," jawabnya lirih.
"Fajar suka lari?"
Bocah itu mengangguk mantap. "Suka sekali. Saya ingin bisa lari cepat supaya bisa bantu Bapak antar pesanan kelapa ke pasar."
Tegar merasakan sesuatu yang berdesir di dadanya. Motivasi anak-anak ini begitu murni. Bukan tentang sponsor besar atau kontrak iklan, tapi tentang membantu orang tua dan bermain.
"Oke, Fajar masuk daftar. Tapi syaratnya satu: sekolah tidak boleh bolos dan harus patuh sama Ibu-Bapak di rumah. Kalau ketahuan nakal, Kak Tegar coret dari latihan lari. Setuju?"
"SETUJU!" seru anak-anak itu serempak, membuat burung-burung di pohon mangga beterbangan karena kaget.
Ibu dan Bapak keluar membawa baki berisi gorengan dan minuman hangat. Melihat halaman rumahnya berubah menjadi "kantor pendaftaran" dadakan, Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum bangga.
"Pak, sepertinya kita harus beli tikar lebih banyak lagi kalau begini ceritanya," bisik Ibu pada Bapak.
"Biar saja, Bu. Rumah ini memang harusnya jadi rumah bagi semua orang. Lagipula, lihat itu Tegar... dia terlihat sangat hidup saat bicara dengan bapak-bapak itu," balas Bapak sambil menunjuk Tegar yang sedang asyik menjelaskan pentingnya alas kaki yang benar kepada para orang tua.
Revan tiba satu jam kemudian, membawa beberapa kardus air mineral dan roti. Melihat keramaian itu, ia langsung turun dari mobilnya dengan mata terbelalak.
"Tulus! Ini ada demonstrasi atau apa?" tanya Revan heran.
"Bukan, Van. Ini namanya gelombang pendaftar. Sepertinya rencana kita buat akademi harus dipercepat," jawab Tulus sambil tertawa, ia baru saja selesai memperagakan cara start jongkok di depan sepuluh anak yang antusias.
Revan langsung mengeluarkan ponselnya. "Aku akan hubungi kontraktor. Kita harus buat area berteduh yang layak di pinggir lintasan desa. Kita tidak bisa biarkan anak-anak ini kepanasan saat menunggu giliran."
"Tunggu dulu, Van. Jangan terlalu mewah," potong Tegar. "Biarkan mereka belajar dari kesederhanaan dulu. Seperti Tulus dulu, yang penting adalah kemauan, bukan fasilitasnya."
Siang itu, halaman belakang rumah mereka benar-benar berubah menjadi arena latihan perdana yang semi-formal. Ada sekitar tiga puluh anak dari tiga desa berbeda. Tulus membagi mereka menjadi kelompok-kelompok kecil berdasarkan usia.
"Hari ini kita tidak akan lari cepat," ujar Tulus di depan barisan. "Hari ini kita akan belajar bagaimana caranya jatuh tanpa terluka, dan bagaimana caranya bangun lagi setelah jatuh. Karena pelari yang hebat bukan pelari yang tidak pernah jatuh, tapi pelari yang paling cepat bangun."
Para bapak yang menunggu di pinggir halaman tampak terkesima. Mereka mengeluarkan ponsel mereka, merekam momen saat Tulus memperagakan teknik koordinasi tangan dan kaki. Beberapa dari mereka tampak berkaca-kaca. Selama ini, bagi warga desa, atlet tingkat dunia adalah sosok yang hanya bisa dilihat dari layar kaca, namun kini sosok itu sedang membetulkan posisi tangan anak mereka dengan penuh kesabaran.
"Mas Tulus itu rendah hati sekali ya, Pak," bisik salah satu orang tua kepada Bapak.
"Dia tahu rasanya jadi mereka, Pak. Makanya dia tidak ingin sombong," jawab Bapak singkat namun penuh makna.
Kegiatan berakhir saat matahari mulai merayap turun. Sebelum pulang, anak-anak itu diberikan "tugas rumah" oleh Tegar: lari santai lima menit setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan melaporkannya minggu depan.
Satu per satu motor mulai meninggalkan halaman rumah. Suara klakson bersahutan sebagai tanda pamit. Halaman kembali tenang, menyisakan jejak-jejak kaki kecil di atas rumput.
Tulus menyandarkan tubuhnya di tiang teras, menyeka keringat di dahinya. "Capek juga ya, Kak, mengurus tiga puluh anak sekaligus. Lebih capek daripada lari 200 meter."
Tegar tertawa, ia sedang merapikan daftar nama yang kini sudah berjumlah tiga halaman. "Tapi kamu lihat mata mereka tadi, Lus? Itu mata yang sama dengan matamu sepuluh tahun lalu. Penuh binar, penuh mimpi."
Revan duduk di lantai teras, melonggarkan sepatunya. "Aku sudah putuskan. Aku akan mendanai seragam untuk mereka. Sederhana saja, kaos jersey dengan logo 'Akademi Tunas Desa'. Biar mereka bangga saat memakainya."
"Asal jangan ada logo perusahaanmu yang besar-besar ya, Van," goda Tegar.
"Tenang, Kak. Ini murni dari kantong pribadiku. Anggap saja investasiku untuk masa depan atletik kita," jawab Revan sambil tersenyum.
Malam itu, di bawah temaram lampu teras, mereka bertiga bersama Bapak dan Ibu makan malam dengan suasana yang lebih ramai dari biasanya. Mereka mulai merancang jadwal rutin setiap Sabtu dan Minggu. Desa yang tadinya hanya dikenal sebagai desa lumbung padi, kini mulai dikenal sebagai desa pencetak pelari.
Harapan itu kini bukan lagi milik Tulus dan Tegar saja. Harapan itu sudah menular, menyebar ke desa-desa tetangga, melalui setiap langkah kecil anak-anak yang tadi berlari dengan penuh tawa di halaman belakang mereka.