NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA

Strategi Baru

Pria itu berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. "Anda punya waktu tiga hari untuk memutuskan. Jika tidak ada jawaban, atau jika Anda menolak kedua pilihan ini, Tuan Nur Firman akan memastikan hidup Anda dan keluarga Anda hancur total. Abak Anda akan dipenjara, semua aset keluarga akan disita, dan nama baik kalian akan tercoreng selamanya. Tidak ada lagi jalan keluar."

Setelah menyampaikan ultimatum itu, pria itu pergi, meninggalkan Nurbaya terpaku di tempatnya. Amplop di meja terasa seperti bom waktu yang siap meledak, menghancurkan sisa-sisa kehidupannya.

Nurbaya berada di persimpangan jalan yang paling mengerikan. Dua pilihan yang sama-sama kejam. Membayar utang yang mustahil, yang berarti kehancuran total bagi keluarganya, Abak dipenjara, dan mereka kehilangan segalanya. Atau menikah dengan Nur Firman, mengorbankan harga dirinya, kebebasannya, dan cintanya pada Samuel, demi menyelamatkan keluarganya.

Samuel, yang mendengar ultimatum itu, tampak putus asa. Ia mencoba mencari celah hukum untuk melawan gugatan pencemaran nama baik, namun ia tahu waktu sangat sempit. "Nur, ini gila. Dia mencoba menghancurkanmu. Kita tidak bisa membayar sebanyak itu."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Sam?" Nurbaya bertanya, suaranya bergetar. "Apakah aku harus melihat Abakku masuk penjara? Apakah aku harus melihat Amakku menderita lebih lama lagi?"

Samuel memeluk Nurbaya erat, namun ia tidak bisa memberikan jawaban. Ia tahu, ini adalah keputusan yang harus Nurbaya ambil sendiri. Ia telah mencoba segalanya, namun kekuasaan Nur Firman terlalu besar. Ia tidak bisa lagi "menyelamatkan" Nurbaya, ia hanya bisa "mendukung"nya, betapapun pahitnya keputusan itu.

Fajar dan Ibu Ratna juga tertekan. Mereka telah berjuang keras, namun putusan pengadilan dan ultimatum ini menunjukkan betapa sulitnya melawan sistem yang korup. "Nur, kami akan terus mendukungmu, apa pun keputusanmu," kata Ibu Ratna, matanya penuh simpati. "Tapi kamu harus memikirkan dirimu sendiri juga."

Tekanan dari Amak dan keluarga besar semakin mencekik Nurbaya. Mereka melihat ultimatum ini sebagai satu-satunya jalan keluar.

"Nur, kamu harus menerima lamaran itu!" Amak memohon, suaranya putus asa. "Demi Abakmu! Dia sudah sekarat, Nur! Kalau kamu tidak mau, dia bisa meninggal!"

Mak Piah dan kerabat lainnya juga datang, membujuk Nurbaya dengan segala cara. "Pikirkan nama baik keluarga kita, Nur! Kita tidak punya uang sebanyak itu! Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua!"

Nurbaya merasakan hatinya tercabik-cabik. Ia melihat wajah Abak yang pucat di rumah sakit, mendengar tangisan Amak yang tak henti-hentinya, dan merasakan beban kehormatan keluarga yang kini ada di pundaknya. Ia tahu, jika ia terus melawan, ia akan menghancurkan keluarganya.

Konflik batin Nurbaya mencapai puncaknya. Ia mencintai Samuel, ia ingin bebas, ia ingin mempertahankan harga dirinya. Namun, ia juga sangat mencintai keluarganya, dan ia tidak bisa melihat mereka hancur.

Samuel tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba mencari bantuan dari koneksi internasionalnya lagi, mencari celah hukum untuk gugatan pencemaran nama baik. Ia menghubungi beberapa pengacara hak asasi manusia yang berani, mencoba mencari tahu apakah ada preseden kasus serupa yang bisa mereka gunakan.

Namun, setiap upaya terasa seperti memukul tembok. Waktu terus berjalan, dan ultimatum tiga hari semakin mendekat. Samuel tahu, ia tidak bisa lagi menemukan solusi ajaib. Ia telah melakukan yang terbaik, namun kekuatan Nur Firman terlalu besar.

Ia menatap Nurbaya, melihat kelelahan dan keputusasaan di matanya. Ia tahu, Nurbaya berada di ambang kehancuran. Ia tidak bisa membiarkan Nurbaya menderita lebih lama lagi.

Dua hari berlalu dalam siksaan bagi Nurbaya. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada.

Pada malam terakhir sebelum batas waktu ultimatum, Nurbaya pergi ke rumah sakit. Ia duduk di samping Abak, yang terbaring tak berdaya. Ia menggenggam tangan Abak yang dingin, merasakan denyut nadi yang lemah. Ia melihat wajah Abak yang pucat, penuh penderitaan.

Air mata Nurbaya mengalir deras. Ia teringat masa kecilnya, bagaimana Abak selalu melindunginya, bagaimana Abak selalu menjadi pahlawannya. Ia teringat semua pengorbanan yang telah Abak lakukan untuk keluarga mereka. Dan ia tahu, ia tidak bisa membiarkan Abak menderita lebih lama lagi.

"Abak..." Nurbaya berbisik, suaranya serak. "Nur akan melakukannya, Bak. Nur akan menerima lamaran itu. Demi Abak. Demi keluarga kita."

Meskipun Abak tidak merespons, Nurbaya merasakan sebuah beban berat terangkat dari dadanya, digantikan oleh rasa sakit yang lebih dalam. Ia telah membuat keputusan. Keputusan yang paling pahit dalam hidupnya.

Keesokan paginya, Nurbaya menghubungi Nur Firman. Ia menyampaikan keputusannya. Ia akan menerima lamaran itu.

Di ujung telepon, Nur Firman tertawa pelan, tawa kemenangan yang kejam. "Bagus, Nurbaya. Anda membuat keputusan yang bijak. Saya akan segera mengatur semuanya. Pernikahan ini akan menjadi pernikahan termegah di nagari ini."

Nurbaya menutup telepon, tubuhnya gemetar. Ia telah menjual dirinya, bukan untuk kemewahan, melainkan untuk menyelamatkan kehormatan dan kebebasan keluarganya. Namun, ia bertanya-tanya, apakah harga yang ia bayar sepadan dengan apa yang akan ia dapatkan? Apakah ia akan kehilangan dirinya sendiri dalam proses ini?

Bayangan Nur Firman, sang penguasa gelap, kini terasa semakin nyata, mengintai di setiap sudut kehidupannya. Nurbaya telah membuat pengorbanan terbesar dalam hidupnya. Ia telah menyerah pada ultimatum terakhir. Namun, ia tahu, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya, babak yang penuh dengan ketidakpastian, penderitaan, dan mungkin, sebuah harapan kecil untuk menemukan kembali dirinya di tengah kehancuran.

***

Keputusan Nurbaya untuk "menyerah" kepada Nur Firman, yang ia sampaikan dengan berat hati kepada Samuel melalui telepon, adalah titik terendah. Malam itu, setelah percakapan pahit dengan Samuel dan ultimatum kejam dari Nur Firman, Nurbaya pergi ke rumah sakit. Ia duduk di samping Abak, yang terbaring tak berdaya, menggenggam tangan Abak yang dingin, merasakan denyut nadi yang lemah. Ia melihat wajah Abak yang pucat, penuh penderitaan, dan air matanya mengalir deras.

"Abak..." Nurbaya berbisik, suaranya serak. "Nur akan melakukannya, Bak. Nur akan menerima lamaran itu. Demi Abak. Demi keluarga kita."

Meskipun Abak tidak merespons, Nurbaya merasakan sebuah beban berat terangkat dari dadanya, digantikan oleh rasa sakit yang lebih dalam. Ia telah membuat keputusan. Keputusan yang paling pahit dalam hidupnya. Ia menghabiskan sisa malam itu di samping Abak, membiarkan air matanya mengering di pipi, jiwanya terasa kosong.

Namun, saat fajar menyingsing, sebuah kekuatan aneh muncul dari dasar jiwanya yang paling dalam. Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kamar rawat Abak seolah menyinari kembali akal sehatnya. Ia menatap wajah Abak, yang meskipun pucat dan lemah, masih memancarkan wibawa yang dulu ia kenal. Ia teringat bagaimana Abak selalu mengajarkannya tentang integritas, tentang harga diri, tentang keberanian untuk berdiri tegak.

Apakah Abak akan benar-benar bahagia jika putrinya mengorbankan diri, hidup dalam pernikahan tanpa cinta, dan kehilangan semua yang ia perjuangkan? Apakah ini yang Abak inginkan? Atau apakah Abak, dalam ketidakberdayaannya, hanya melihat ini sebagai satu-satunya jalan keluar yang disodorkan oleh Nur Firman?

***

Tiba-tiba, Nurbaya merasa mual. Bukan mual karena takut, melainkan mual karena jijik pada dirinya sendiri yang hampir menyerah. Ia telah berjuang begitu keras, mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman, dan kini ia akan menyerahkan dirinya begitu saja? Mengapa ia harus membiarkan seorang pria kejam seperti Nur Firman menang? Mengapa ia harus membiarkan dirinya menjadi pion dalam permainan kekuasaan yang kotor ini?

Ia teringat kata-kata Samuel: "Itu pemerasan, Nurbaya. Murni pemerasan." Dan kata-kata Samuel yang lain: "Kita tidak bisa menyerah. Setiap orang punya kelemahan, setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak."

Nurbaya bangkit dari kursinya. Ia menatap Abak sekali lagi, tatapannya kini dipenuhi tekad, bukan lagi keputusasaan. Ia tidak akan membiarkan Nur Firman menghancurkan Abak, atau dirinya, atau keluarga mereka. Ia akan menemukan cara lain. Ia tidak akan menjadi milik Nur Firman. Ia tidak akan menjadi milik siapa-siapa, kecuali dirinya sendiri.

Keesokan paginya, Nurbaya tidak menghubungi Nur Firman. Ia membiarkan batas waktu ultimatum tiga hari itu berlalu begitu saja. Ia tahu konsekuensinya akan sangat berat, namun ia siap.

Tidak lama setelah batas waktu itu terlewati, ponsel Nurbaya berdering. Nomor tak dikenal. Ia tahu itu Nur Firman. Dengan jantung berdebar, ia mengangkatnya.

"Nurbaya," suara Nur Firman terdengar dingin dan penuh kemarahan. "Saya sudah menunggu jawaban Anda. Sepertinya Anda memilih untuk tidak merespons. Apakah Anda sudah memikirkan konsekuensinya?"

Nurbaya menarik napas dalam-dalam. "Saya sudah memikirkannya, Tuan Nur Firman," katanya, suaranya mantap dan jelas, tanpa sedikit pun keraguan. "Dan jawaban saya tetap sama. Saya tidak akan menikah dengan Anda. Dan saya tidak akan membayar ganti rugi yang tidak masuk akal itu."

Ada keheningan singkat di ujung telepon, keheningan yang lebih menakutkan daripada teriakan. Lalu, tawa Nur Firman meledak, tawa kering dan sinis yang membuat Nurbaya merinding.

"Oh, Nurbaya. Anda benar-benar keras kepala, ya?" suaranya berubah menjadi desisan tajam. "Anda pikir Anda bisa lari dari saya? Anda pikir Anda bisa melawan saya? Anda akan menyesal, Nurbaya. Anda akan melihat bagaimana saya bisa menghancurkan hidup Anda dan keluarga Anda sampai ke akar-akarnya. Abak Anda akan membusuk di penjara, dan keluarga Anda akan kehilangan segalanya. Saya akan pastikan tidak ada satu pun yang tersisa dari nama besar Haji Zulkarnain!"

Sambungan telepon terputus. Nurbaya menjatuhkan ponselnya ke sofa, tubuhnya gemetar. Ancaman itu nyata, lebih nyata dari sebelumnya. Namun, di tengah ketakutan itu, ada rasa lega yang aneh. Ia telah memilih. Ia telah memilih harga dirinya.

Konsekuensi dari penolakan kedua Nurbaya datang dengan cepat dan brutal. Nur Firman, yang merasa harga dirinya diinjak-injak, melancarkan serangan total.

Gugatan pencemaran nama baik yang menuntut ganti rugi ratusan miliar rupiah mulai berjalan dengan sangat cepat. Nur Firman menggunakan koneksinya untuk memastikan proses hukum dipercepat. Nurbaya dan keluarganya tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar ganti rugi, yang berarti semua aset keluarga akan disita.

Beberapa hari setelah penolakan itu, Abak, yang masih terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba dijemput paksa oleh aparat kepolisian. Mereka membawa surat perintah penangkapan atas tuduhan penipuan dan penggelapan dana, yang telah diputarbalikkan oleh Nur Firman. Amak menangis histeris, mencoba menghalangi, namun tidak berdaya. Nurbaya hanya bisa melihat Abak dibawa pergi, hatinya hancur berkeping-keping.

Dalam hitungan hari, semua aset keluarga Haji Zulkarnain disita. Rumah gadang yang megah, kebun durian yang menjadi kebanggaan, toko kelontong yang menjadi mata pencarian, semuanya diambil alih. Keluarga Nurbaya kini tidak punya apa-apa. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang jauh, yang juga menerima mereka dengan tatapan kasihan bercampur celaan.

Amak, yang menyaksikan kehancuran keluarganya, jatuh dalam depresi berat. Ia tidak mau makan, tidak mau bicara. Matanya kosong, tubuhnya semakin kurus. Nurbaya mencoba menghiburnya, namun Amak hanya bisa menangis, terus-menerus menyebut nama Abak.

Keluarga besar dan komunitas adat, yang dulunya menekan Nurbaya untuk menerima lamaran Nur Firman, kini sepenuhnya berbalik melawannya. Mereka menyalahkan Nurbaya atas semua yang terjadi. "Sudah kubilang! Kamu terlalu keras kepala! Sekarang lihat! Semua hancur karena kamu!" teriak Mak Piah di depan Nurbaya, tanpa sedikit pun simpati. Nurbaya diasingkan, dianggap sebagai pembawa sial, pencoreng nama baik keluarga. Ia benar-benar sendirian.

Media, yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Nur Firman, melancarkan serangan yang lebih brutal terhadap Nurbaya. Ia digambarkan sebagai wanita egois, anak durhaka, penyebab kehancuran keluarganya. Detail-detail pribadi yang memalukan disebarkan, nama baiknya dihancurkan di mata publik. Kariernya sebagai dosen di Jakarta pun resmi diakhiri, ia dipecat dengan tidak hormat.

Nurbaya merasakan sakit yang luar biasa. Ia telah kehilangan segalanya: Abak, Amak, rumah, aset, reputasi, karier, dan bahkan dukungan dari keluarga besar. Ia benar-benar sendirian, terperangkap dalam kehancuran total.

Samuel, yang mendengar kabar tentang Abak yang ditangkap dan penyitaan aset keluarga Nurbaya, segera menghubungi Nurbaya. Suaranya penuh kemarahan dan keputusasaan.

"Nur, aku tidak percaya ini terjadi! Ini tidak adil! Kita harus melakukan sesuatu!" teriak Samuel di telepon.

"Apa lagi yang bisa kita lakukan, Sam?" Nurbaya bertanya, suaranya datar, tanpa emosi. "Semua sudah hancur. Abak sudah di penjara. Kita tidak punya apa-apa lagi."

Samuel mencoba menenangkan Nurbaya, memberikan dukungan moral dari jauh. Ia menghubungi kenalannya di lembaga hukum dan HAM, mencoba mencari cara untuk membantu Abak, namun ia tahu, dengan kekuatan Nur Firman, itu akan sangat sulit.

"Aku akan terus berusaha, Nur," kata Samuel. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan mencari pengacara yang berani, yang tidak takut pada Nur Firman. Kita akan mengajukan banding untuk Abakmu."

Nurbaya tahu Samuel tulus, namun ia juga tahu bahwa Samuel tidak bisa berada di sisinya secara fisik. Ia harus menghadapi badai ini sendirian. Jarak fisik dan emosional antara mereka semakin terasa. Samuel adalah satu-satunya yang masih percaya padanya, namun ia terlalu jauh untuk bisa memberikan perlindungan yang nyata.

Di tengah kehancuran total, Nurbaya menemukan kekuatan yang aneh. Ia telah kehilangan segalanya, namun ia tidak kehilangan dirinya sendiri. Ia telah memilih harga dirinya, kebebasannya, di atas segalanya. Dan dalam kehancuran itu, ia menemukan sebuah kebebasan yang brutal.

Ia tidak lagi peduli dengan omongan orang. Ia tidak lagi peduli dengan tatapan menghakimi. Ia tidak lagi peduli dengan fitnah yang disebarkan. Ia telah mencapai titik nol, dan dari titik itu, ia bisa membangun kembali.

"Aku tidak milikmu, Nur Firman," bisik Nurbaya pada dirinya sendiri, menatap kosong ke langit-langit. "Aku tidak milik siapa-siapa. Aku hanya milik diriku sendiri."

Ini adalah mantra barunya. Sebuah deklarasi kemerdekaan di tengah kehancuran.

Ia tahu, ia harus berjuang untuk Abak. Ia harus berjuang untuk Amak. Ia harus berjuang untuk membersihkan nama baik keluarganya. Tapi ia akan melakukannya dengan caranya sendiri, tanpa mengorbankan dirinya.

Nurbaya memutuskan untuk meninggalkan Minang. Ia tidak punya apa-apa lagi di sana. Ia pergi ke Jakarta, tempat di mana ia pernah membangun kariernya, tempat di mana ia memiliki beberapa teman yang masih setia.

Ia tidak punya uang, tidak punya pekerjaan. Ia menjual beberapa barang pribadi yang tersisa untuk bertahan hidup. Ia mencari pekerjaan serabutan, apa pun yang bisa memberinya penghasilan. Ia tidak malu. Ia telah kehilangan segalanya, dan ia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.

Ia menghubungi Fajar dan Ibu Ratna. Mereka adalah satu-satunya yang masih percaya padanya.

"Nur, kamu baik-baik saja?" tanya Fajar, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Abakmu."

"Aku baik-baik saja," kata Nurbaya, suaranya mantap. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus berjuang untuk Abakku. Dan aku butuh bantuan kalian."

Fajar dan Ibu Ratna mengangguk. Mereka tahu, Nurbaya telah melewati neraka, dan ia telah kembali dengan semangat yang lebih kuat.

Mereka mulai menyusun strategi baru. Mereka tahu, melawan Nur Firman melalui jalur hukum formal akan sangat sulit. Mereka harus mencari cara lain, cara yang lebih tidak konvensional, cara yang bisa menjerat Nur Firman tanpa harus melewati sistem yang korup.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!