NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Cahaya Dibalik Debu
Bandara Soekarno-Hatta. Nurbaya, melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional. Aroma polusi asap kendaraan menyambutnya lebih dulu ketimbang siapa pun. Ia seperti dilempar kembali ke dimensi yang ia tahu pernah ia tinggali, tapi kini terasa ganjil.
Di pelataran bandara terminal kedatangan, seorang sopir dari universitas telah menjemputnya, membawa papan nama bertuliskan Ibu Nurbaya, Dosen UI - Departemen Sosiologi
Melihat huruf-huruf itu, Nurbaya sempat terpaku. Jabatan itu bukan hanya tentang akademik. Itu adalah bukti bahwa ia kembali bukan sebagai anak siapa-siapa, bukan sebagai mantan istri siapa, bukan sebagai perempuan yang kabur dari tanggung jawab adat. Ia kembali sebagai dirinya sendiri.
Mobil melaju membelah tol menuju Depok. Sepanjang jalan, iklan-iklan besar menjajakan "kehidupan modern" berupa perumahan syariah, apartemen premium, kredit tanpa bunga, dan kampus digital berbasis akhlak mulia. Nurbaya nyaris tertawa. Ironi tak pernah kehabisan panggung di negeri ini.
Setiba di rumah kontrakan kecil di Kukusan yang disediakan sementara oleh kampus, ia membuka koper, mengeluarkan satu persatu benda yang dibawanya. Buku-buku, album foto, selendang batik pemberian ibunya, dan sepasang cangkir keramik yang dulu ia dan Samuel beli di pasar seni. Ia menyusun semuanya pelan-pelan, seolah dengan itu ia bisa menyusun kembali hidup yang lama ia tinggalkan.
Sore itu, ia mengirim pesan pada Samuel.
Sudah di Jakarta. Rumah sempit, tapi cukup hangat. Rasanya seperti membaca buku lama tapi semua katanya berubah.
Pesan itu terkirim, dibaca, tapi tak dibalas hingga malam menjelang. Ia tahu Samuel mungkin sedang di lapangan, mengerjakan risetnya tentang masyarakat adat di Arnhem Land, atau menulis laporan untuk lembaga tempatnya bekerja. Tapi keheningan dari seberang samudera itu membuat Nurbaya bertanya-tanya apakah kedekatan mereka di Melbourne masih bermakna sama di sini?
***
Hari-hari awal di kampus terasa canggung. Meski ia sempat menjadi dosen kontrak sebelum kuliah ke Australia, banyak wajah baru yang kini menjadi kolega tetap, dan lebih banyak lagi yang bertanya-tanya, diam-diam mencibir. Perempuan lajang, Minang pula, berusia tiga puluh, bergelar doktor, kembali tanpa suami atau anak. Lalu ditugaskan mengampu mata kuliah Gender dan Masyarakat.
"Pak Syahrul, dosen senior kita itu, sempat nyeletuk," bisik dosen muda bernama Intan suatu hari di kantin. "Katanya, ‘perempuan macam Nurbaya ini jangan-jangan sudah terlalu liberal.’"
Nurbaya hanya tertawa pelan. "Kalau liberal berarti percaya bahwa perempuan punya hak untuk berpikir dan memutuskan hidupnya sendiri, ya aku terima label itu."
Tapi label tak pernah sekadar label. Label adalah cara masyarakat mengurung seseorang dalam kotak. Dan kotak itu kini mengepungnya dari segala arah.
Nurbaya tahu, label tak pernah berdiri sendiri. Label adalah pintu ke prasangka, ke stigma, ke penghakiman diam-diam yang menempel seperti bau lembap di ruang dosen yang usang. Ia bisa merasakannya dalam cara beberapa kolega pria memotong kalimatnya dalam rapat, atau bagaimana ketua departemen tampak selalu ragu saat memintanya menjadi pembicara. Ia tahu mereka tak percaya seseorang bisa pulang dari negeri asing dengan membawa ilmu tanpa membawa “pengaruh buruk”.
Ia mencatat semua itu dalam pikirannya, menyimpannya dalam folder-folder tak kasatmata. Mungkin suatu hari ia akan menuliskannya. Tapi untuk saat ini, ia hanya mengunci semuanya dalam senyum tipis dan kerja keras tanpa jeda.
***
Kepulangannya ke Padang ditunda hingga Lebaran. Ia ingin waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Bukan karena rindu, tapi karena takut melihat bagaimana kampung halaman bisa menghakimi lebih keras dari negeri orang.
Meski begitu, ia tak bisa menunda panggilan telepon dari sang ibu.
"Nak, kapan pulang? Engkau sudah sampai Jakarta, orang kampung sudah mulai bertanya-tanya."
"Ampun, Mak. Belum sempat. Ada banyak yang harus diurus di kampus."
"Sudah jadi doktor, tapi tetap saja terlalu sibuk untuk pulang?"
"Amak, bukan itu maksudnya."
"Tetangga sudah bilang macam-macam. Katanya kau sengaja lari ke luar negeri supaya tak perlu nikah lagi. Kau tahu itu bikin malu kami?"
Nurbaya terdiam. Telinganya mendengar, tapi jiwanya menolak. Dalam dunia ibunya, hidup adalah sebuah peta yang jalurnya sudah ditentukan. Sekolah, menikah, punya anak, sabar, mati. Apa pun di luar itu adalah penyimpangan.
Ia tahu ibunya bukan musuh. Ia adalah perempuan yang mencoba bertahan dalam dunia yang menolak memberinya pilihan. Bagi Nurbaya, menikah bukan pencapaian. Bukan pula takdir yang harus diterima. Tapi baginya juga, ibunya bukan musuh. Ia hanya perempuan lain yang tertawan adat dan berharap anaknya bisa selamat dengan cara yang sama. Meski definisi "selamat" itu diturunkan dari luka yang diwariskan.
"Mak, aku akan pulang."
Telepon ditutup tanpa salam. Hening mengendap di antara kata-kata yang tak selesai.
***
Di satu malam yang gerimis, ia menuliskan sebagian kekalutan itu dalam jurnal digitalnya.
26 Juni 2024
Indonesia ini rumit. Di sini, aku adalah Nurbaya anak Haji Zulkarnain yang dulu. Di sini, statusku selalu dilihat sebelum pendapatku didengar. Samuel bilang aku harus sabar. Tapi kesabaran itu ada batasnya.
Di Melbourne, aku merasa hidup sebagai manusia. Di sini, aku merasa seperti lembaran laporan yang hanya dibaca judulnya. Tapi aku tahu, aku tak bisa melarikan diri lagi. Aku harus menetap. Dan menetap berarti berakar meski tanah tempatku menanam ini keras, penuh batu, dan enggan menerima benih yang asing.
Aku ingin hidup tanpa menyembunyikan siapa diriku. Tapi setiap kali aku bicara, aku merasa seperti harus meminta maaf lebih dulu karena menjadi berbeda.
***
Di kampus, ia mulai merancang program kajian female gaze lokal. Ia tak ingin sekadar mengulang teori-teori yang tak pernah menyentuh tanah di mana mahasiswanya berpijak. Ia ingin membicarakan Kartini yang dibaca ulang, Roro Mendut sebagai simbol perlawanan, dan perempuan-perempuan penganyam rotan di Kalimantan atau petani garam di Madura yang menyuarakan hidup lewat kerja mereka sendiri.
Ia mengajak beberapa mahasiswa untuk membuat riset kolaboratif tentang perempuan adat, buruh migran, dan ibu-ibu kota yang tergabung dalam jaringan koperasi. Ia ingin membuktikan bahwa female gaze bukan barang impor, bukan warisan barat, tapi sudah lama tumbuh di bawah tanah yang sama, hanya saja jarang disebut sebagai famale gaze.
“Kalau kita tidak bicara tentang perempuan dari sudut pandang kita sendiri, kita hanya mengulang kolonialisme narasi,” katanya dalam satu seminar kecil yang diadakan LSO Sosiologi. Mahasiswa bertepuk tangan.
Seorang mahasiswi bahkan menangis dan berkata, “Bu, saya baru sadar selama ini ibu saya juga seorang feminis, hanya saja ia tak pernah diberi kata untuk menjelaskannya.”
Tapi tak semua menyambut dengan terbuka. Seusai acara, seorang dosen pria paruh baya menghampirinya.
“Ini kampus negeri, Bu Nurbaya,” katanya dengan nada mengingatkan. “Hati-hati kalau bicara tentang sistem adat. Kita ini masih Indonesia.”
“Justru karena kita Indonesia, saya bicara begini,” jawabnya. “Karena Indonesia ini bukan cuma Jakarta, bukan cuma bapak-bapak yang mengatur.”
Dosen itu tersenyum tipis, tak membalas. Tapi tatapannya membawa pesan: hati-hati, kau sedang mengusik tatanan.
***
Beberapa minggu kemudian, email dari Samuel akhirnya datang. Singkat saja.
Maaf lama tak membalas. Aku ikut tim lapangan ke Kimberley, tanpa sinyal selama dua minggu. Aku rindu obrolan kita. Dan aku bangga kau kembali ke negerimu sebagai perempuan yang bebas. Tapi aku tahu kebebasan di sana adalah perjuangan. Kalau kau butuh teman bicara, aku masih di sini.
Nurbaya membacanya di sela malam, di antara laporan yang belum selesai dan cucian yang belum dilipat. Ada kelegaan, tapi juga getir. Jarak bukan hanya soal geografi. Itu soal kemungkinan yang menipis. Ia tak yakin apakah hubungan mereka punya bentuk dalam ruang waktu yang sekarang. Tapi ia tahu, orang yang sepenuhnya memahami isi kepalamu tak datang dua kali dalam hidup.
Nurbaya memandang langit Jakarta. Ada bintang-bintang yang samar, redup tertutup asap dan lampu kota. Tapi ia percaya selalu ada cahaya, bahkan jika harus dicari di balik debu. Dan itu cukup untuk malam ini.
***