NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Utang Keluarga
Hujan deras mengguyur bumi Minang sore itu, seolah langit ikut menumpahkan kesedihan yang telah lama berdiam di dada Nurbaya. Setiap tetes air yang menari di atap seng rumah gadang membangkitkan melodi kenangan masa kecil yang hangat, namun kali ini, melodi itu terasa dingin, getir, dan asing.
Aroma lumut tua menyeruak, bercampur dengan bau asap kayu bakar dari dapur yang entah mengapa terasa lebih pekat dari biasanya. Panggilan telepon dari amak yang mengabarkan abak terkena serangan jantung ringan telah membatalkan seluruh jadwal mengajarnya dan mengosongkan agenda Nurbaya. Abak, Haji Zulkarnain, bukanlah sosok yang mudah sakit.
Meski punya riwayat hipertensi, ia selalu bersahabat baik dengan kondisinya itu, menjaga pola makan dan hidup dengan disiplin ketat. Hampir tidak pernah ada masalah serius yang muncul sebelumnya. Namun, kata "ringan" yang diucapkan amak terasa kontradiktif dengan kepanikan yang ia rasakan. Tidak ada yang ringan dari yang namanya serangan jantung, batin Nurbaya, rasa cemas mencengkeram hatinya.
Begitu mobil yang disewanya berhenti di depan halaman, Nurbaya segera keluar, tak peduli pada rintik sisa hujan yang membasahi rambutnya. Rumah gadang yang dulu megah, kini terlihat sedikit lapuk dimakan usia dan kurang terawat. Ukiran-ukiran indah di dindingnya tampak kusam, catnya mengelupas di beberapa bagian. Halaman yang biasanya bersih dan rapi, kini ditumbuhi beberapa gulma liar. Ada aura kesedihan yang menyelubungi seluruh bangunan, seolah rumah itu sendiri ikut merasakan beban yang ditanggung penghuninya.
Di beranda, abak duduk termangu di kursi rotan usang, bahunya terkulai, punggungnya sedikit membungkuk. Sorot matanya yang biasanya memancarkan wibawa dan kebijaksanaan seorang pemangku adat, kini kosong, menerawang jauh ke kebun di hadapannya yang digerus banjir kecil. Pemandangan itu bagai cermin dari kondisi keluarganya. Deretan pohon durian lebat yang dulu menjadi kebanggaan keluarga, sumber rezeki melimpah setiap musimnya, kini telah tiada. Digantikan ilalang liar dan tanah longsor yang kian melebar, mengikis pondasi kebun, sama seperti masalah yang kini mengikis pondasi kehidupan mereka. Sebuah gambaran rapuh dari warisan yang mulai retak.
"Abak baik-baik saja?" tanya Nurbaya sambil mendekat, suaranya dipenuhi keprihatinan yang mendalam. Ia berjongkok di samping kursi Abak, meraih tangan keriput itu dan menggenggamnya.
Abak tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, tatapannya masih kosong. Lalu, ia menunjuk ke dalam rumah. Isyarat itu sudah cukup. Ada yang ingin ia bicarakan, sesuatu yang sangat penting, tapi bukan di luar, bukan di tempat di mana telinga tetangga bisa mendengar dan menyebarkan berita buruk itu ke seluruh nagari.
Di ruang dalam, amak sudah menyiapkan teh manis panas dan sepiring singkong goreng. Aroma masa kecil menyapa Nurbaya, namun kali ini tak membangkitkan rasa nyaman, hanya memicu kegelisahan. Amak tersenyum samar, senyum yang tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang menggerogoti. Garis-garis kecemasan terukir jelas di antara kerutan-kerutan halus di keningnya. Ia duduk, memegangi cangkir teh dengan kedua tangan, seolah butuh kehangatan lebih dari sekadar minuman, butuh kekuatan untuk menahan beban yang tak terlihat.
Abak membuka pembicaraan dengan nada datar, suaranya berat, seolah setiap kata adalah beban yang harus ia angkat. "Kau tahu, Nur, sejak pandemi, semuanya berubah. Ekonomi lesu. Proyek-proyek pembangunan di nagari yang semula menjadi sumber pendapatan utama, yang abak kelola, semua terhenti. Daya beli masyarakat berkurang drastis. Dana bantuan yang dijanjikan pemerintah datang, tapi tak pernah cukup menutupi semua kerugian."
Nurbaya mendengarkan, diam. Ia tahu kondisi itu. Hampir semua sektor terdampak pandemi. Namun, ia juga tahu ada hal lain yang jauh lebih personal dan memberatkan Abak.
"Dan setelah dua kali pemilu terakhir, abak bukan siapa-siapa lagi," lanjut abak, mengakui kekalahannya dengan pahit, seolah setiap kata adalah pengakuan dosa. Nurbaya merasakan nyeri di dadanya. Kekalahan abak dalam pilkada bupati terakhir, menyusul kegagalan serupa lima tahun sebelumnya, telah menenggelamkan martabat politik dan finansial keluarga. Haji Zulkarnain, yang dulunya adalah sosok disegani, seorang pemimpin yang memegang kuat pengaruh di adat dan politik, kini tampak seperti reruntuhan.
Dua kali pilkada itu bukan hanya menguras tenaga dan pikiran abak, tetapi juga menguras habis harta keluarga. Dana kampanye yang membengkak, janji-janji manis kepada masyarakat yang tak terpenuhi, dan kemudian pandemi yang melumpuhkan bisnis-bisnis kecil keluarga—toko kelontong, usaha katering kecil, dan kebun durian yang menjadi andalan—semua itu menumpuk menjadi beban yang tak terperikan. Pemasukan dari sewa rumah gadang untuk acara adat pun berhenti total selama pandemi. Banyak pendukungnya menjauh. Lembaga adat yang dulu mendukungnya kini tak lagi mendengar suaranya, seolah kehilangan minat pada sosok yang tak lagi memiliki kekuasaan formal.
"Abak meminjam uang, Nur," lanjut abak pelan, sorot matanya menyiratkan rasa malu yang mendalam, rasa malu seorang pemimpin yang tak berdaya. "Awalnya hanya untuk gaji karyawan di toko-toko kita agar tidak tutup, lalu untuk pengobatan beberapa warga kampung yang membutuhkan bantuan. Abak merasa punya tanggung jawab sebagai pemimpin, meski tidak lagi di kursi jabatan resmi. Abak pikir, dengan dukungan penuh dari masyarakat dan keluarga besar, abak bisa menang di pilkada kemarin. Dengan kemenangan itu, abak bisa mengembalikan semua pinjaman. Tapi tidak... Tidak ada yang seperti yang abak harapkan." Suaranya pecah di akhir kalimat, menunjukkan betapa hancurnya harapannya.
Nurbaya menatap ayahnya dengan campuran iba dan curiga. Iba atas penderitaannya, namun curiga atas sumber pinjaman yang ia tahu pasti sangat besar dan berpotensi menjadi bumerang. "Dari siapa?" desis Nurbaya, suara ia tercekat di tenggorokan.
Hening sebentar, terasa sangat panjang. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar samar dari luar. Lalu, jawaban itu datang seperti petir di musim panas yang menggelegar, menghancurkan ketenangan yang tersisa.
"Dari Nur Firman."
Nama itu membuat darah Nurbaya terasa dingin, seolah ia baru saja mendengar nama setan yang nyata. Ia tak asing dengan lelaki itu. Nur Firman adalah seorang pengusaha berkedok dermawan yang mahir mencampurkan politik, bisnis, dan kekuasaan seperti racikan kopi pekat dan racun. Ia adalah tokoh yang paling sering diisukan terlibat dalam praktik KKN di Sumatera Barat, sebuah nama yang selalu disebut-sebut dalam bisikan, tidak selalu tampak di permukaan, tapi selalu ada di balik layar, mengendalikan banyak hal. Dan berbahaya. Nurbaya tahu, Nur Firman adalah manipulator ulung yang memanfaatkan kelemahan orang lain demi kepentingannya sendiri.
"Abak tahu siapa dia sebenarnya," ujar Nurbaya, suaranya menekan, dipenuhi kemarahan yang tertahan. "Kita semua tahu, abak. Dia bukan orang baik. Dia lintah darat berkedok penolong."
"Dia datang membawa solusi ketika semua orang menutup pintu, Nur!" balas abak dengan suara yang tiba-tiba meninggi, menunjukkan betapa frustrasinya ia saat itu. Ada keputusasaan yang mendalam dalam setiap kata. "Kau pikir abak bodoh? Abak tahu siapa dia, abak tahu reputasinya. Tapi waktu itu tak ada pilihan lain, Nak. Situasi sudah sangat genting. Kami butuh uang untuk membayar gaji karyawan agar toko tidak bangkrut, memperbaiki jembatan yang rusak di kampung yang menjadi tanggung jawab abak sebagai ninik mamak, membayar biaya kampanye yang membengkak di dua kali pilkada, menutupi operasional rumah gadang selama pandemi yang nyaris nol pemasukan, dan menyelamatkan nama keluarga dari kebangkrutan yang memalukan di mata kaum dan masyarakat adat."
Amak menangis pelan, isakannya pecah, memilukan. Tangannya bergetar saat meletakkan cangkir ke atas nampan, teh di dalamnya hampir tumpah. "Dia datang dengan mobil besar dan banyak janji, Nur. Katanya tak perlu bunga, cukup tanda tangan di atas materai. Dia bilang ingin membantu sesama anak nagari. Tapi setelah dua tahun, ia mulai menagih. Tidak hanya uang, tapi juga janji-janji yang tak tertulis dan sangat berat."
Nurbaya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu ini adalah masalah besar, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. "Berapa jumlahnya sekarang, Mak? Bak?" tanyanya, suaranya tercekat.
Abak tak langsung menjawab. Ia membuka laci kecil di lemari tua yang sudah usang, menarik keluar sebuah map cokelat yang terlihat tebal. Di dalamnya, lembaran-lembaran perjanjian dengan bahasa hukum yang rumit, kuitansi-kuitansi pembayaran, dan catatan bank yang ditulis tangan. Angka-angka yang tercetak di sana seperti menampar wajah Nurbaya, membuat napasnya tercekat, seolah udara tiba-tiba menipis di ruangan itu.
"Empat puluh miliar," bisik ibunya, suaranya nyaris tak terdengar, seolah jumlah itu terlalu besar untuk diucapkan, terlalu menakutkan untuk direnungkan.
Hening menggantung di udara, terasa semakin berat, menekan Nurbaya hingga dadanya sesak. Empat puluh miliar. Sebuah angka yang tak terbayangkan. Itu bukan hanya uang, itu adalah gunung es yang mengancam menenggelamkan seluruh keluarga, seluruh sejarah dan martabat yang telah dibangun berabad-abad.
"Itu bukan utang keluarga," kata Nurbaya akhirnya, suaranya bergetar namun tegas, ada kemarahan yang membuncah. "Itu utang yang dibuat abak tanpa persetujuan siapa pun, tanpa melibatkan mamak-mamak adat atau keluarga besar. Itu keputusan pribadi abak. Jangan bebani aku dengan ini, Bak. Aku tidak terlibat."
"Abak tak akan memaksamu, Nur," kata Abak lirih, tatapannya penuh penyesalan, seolah ia baru saja menyadari kesalahannya yang fatal. "Tapi Nur Firman bilang, dia bersedia 'menghapus' semuanya. Seluruh utang empat puluh miliar itu. Dia siap melupakan semuanya. Asal..."
Kalimat itu menggantung, tak perlu diselesaikan. Firasat terburuk Nurbaya kini menjadi kenyataan pahit. Ia sudah bisa menebaknya, dari sorot mata orang tuanya yang memohon sekaligus putus asa.
"Asal aku menikah dengannya?" tanyanya dengan mata tajam, menatap lurus ke arah abak, menuntut pengakuan yang jujur, betapa pun menyakitkannya.
Abak menunduk, tak sanggup membalas tatapan putrinya. Amak memalingkan wajah, mengalihkan pandangannya ke jendela yang basah oleh sisa hujan, isakannya semakin keras. Keheningan yang menyakitkan adalah jawaban yang paling jelas. Sebuah penyerahan yang tak terhindarkan.
Nurbaya beranjak, tubuhnya terasa kaku dan mati rasa. Ia melangkah gontai masuk ke dalam kamar, ke tempat persembunyiannya yang dulu ia gunakan untuk bermimpi. Ia ambruk di kursi belajar masa remajanya, kursi yang dulunya menjadi saksi bisu impian-impiannya untuk terbang jauh, meraih pendidikan tinggi, dan membangun kehidupan sesuai pilihannya. Di luar, hujan telah reda, meninggalkan bau tanah basah yang pekat. Namun pikirannya masih terjebak badai emosi.
Di meja, ia menyusun daftar di secarik kertas yang ia temukan. Di kolom pertama: apa yang akan hilang jika aku menolak. Kehancuran nama baik keluarga, kemungkinan Abak terjerat hukum dan kehilangan segala yang tersisa, ibu yang terus menerus menderita dalam kesedihan. Di kolom kedua: apa yang akan hancur jika aku menerima. Masa depannya, cintanya pada Samuel, kebebasannya, harga dirinya sebagai seorang perempuan, sebagai seorang individu yang mandiri. Tapi di bagian bawah kertas itu, ia menulis satu kalimat yang membelah dadanya seperti belati panas: Bagaimana mungkin pilihan ini adil jika semua sudah direkayasa sejak awal? Ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh tali-tali utang dan kekuasaan.
Samuel menelepon malam itu. Suaranya masih hangat seperti biasa, membangkitkan kerinduan yang mendalam, namun Nurbaya bisa merasakan ada jarak yang mulai terasa. Ia tahu, ia tak bisa menyembunyikan masalah ini lagi.
"Utang keluarga kami jadi alat tekan, Sam," ujarnya lirih, suaranya nyaris tak bisa dikendalikan, bercampur dengan isakan yang tertahan. "Empat puluh miliar. Tak ada bukti transfer ke rekening pribadi abak, semua dilakukan tunai. Semua di bawah tangan, di hadapan saksi-saksi yang entah bagaimana bisa ia kendalikan. Tapi jelas sekali, ini jebakan Nur Firman yang sangat rapi."
"Dan sekarang dia ingin menikah denganmu?" tanya Samuel pelan, suaranya berubah serius, menyadari betapa mengerikannya situasi itu. "Sebagai ganti pelunasan utang?"
"Ya," jawab Nurbaya, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah ruah membasahi pipinya. "Sebagai ganti nama baik keluarga dan kebebasan abak."
Di ujung telepon, Samuel menghela napas, napas berat yang terdengar seperti penyesalan mendalam. "Itu pemerasan, Nurbaya. Murni pemerasan. Ini bukan Minang yang kukenal, ini kejahatan. Kita bisa laporkan ini ke polisi, ke KPK."
"Benar. Tapi sayangnya, di sini, di kampung ini, di lingkungan yang terikat kuat oleh adat dan kekuasaan, tak semua orang melihatnya seperti itu, Sam," Nurbaya menjelaskan, mencoba menahan emosinya. "Bagi mereka, bagi Abak dan Amak, ini adalah satu-satunya solusi. Ini adalah cara untuk menjaga kehormatan keluarga, menutupi aib, dan melunasi utang yang menggunung. Ini adalah 'jalan keluar' yang paling mudah, meskipun harga yang harus kubayar adalah diriku sendiri. Dan Nur Firman punya pengaruh besar di kepolisian sini, Sam. Dia punya orang di mana-mana."
Samuel terdiam sejenak. Nurbaya bisa mendengar deru napasnya di seberang sana, seolah ia sedang berpikir keras. Ia tahu, Samuel, dengan latar belakangnya yang menjunjung tinggi keadilan dan hukum, pasti kesulitan memahami kerumitan adat dan intrik politik yang melingkupi situasi ini. Lalu dengan suara rendah, penuh tekad, ia bertanya, "Apa yang bisa kulakukan, Nurbaya? Aku akan datang. Aku bisa bantu bayar, berapa pun jumlahnya. Kita bisa mencari jalan keluar hukum, mencari pengacara yang jujur."
Pertanyaan itu menggantung lama, sebuah tawaran yang tulus namun terasa naif di tengah pusaran masalah ini. Nurbaya tahu Samuel berniat membantu dengan segala kemampuannya, dengan logikanya yang praktis dan menjunjung keadilan.
"Kau bisa tetap ada, Sam. Itu sudah cukup," katanya akhirnya, mencoba menahan isakannya, suaranya bergetar. "Tapi kau harus tahu, aku tak tahu seberapa jauh aku bisa bertahan dalam situasi ini. Mungkin saja, aku akan kalah. Mungkin saja, aku akan terpaksa menerima."
Esoknya, Nur Firman datang. Ia muncul di halaman rumah dengan mobil SUV hitam mewah, membelah kerumunan warga yang menatapnya dengan campuran segan dan takjub. Ia diiringi dua orang lelaki berbadan tegap berseragam sipil, bukan polisi, tapi cukup menyeramkan, dengan aura intimidasi yang kuat. Kedatangannya terasa seperti kedatangan seorang raja yang menagih upeti, seorang algojo yang datang untuk menjemput korban.
Ia tersenyum sinis ketika melihat Nurbaya berdiri di ambang pintu, menunggu dengan hati berdebar dan rahang mengeras. Senyum yang tak mengandung keramahan sedikit pun, hanya kepuasan seorang pemangsa yang telah menemukan mangsanya.
"Putri hebat keluarga Haji Zulkarnain. Akhirnya kita bertemu," katanya sambil menjabat tangan Nurbaya dengan terlalu erat, sebuah genggaman yang terasa seperti belenggu, mencoba mengunci kebebasannya. Nurbaya merasakan urat-urat di pergelangan tangannya menegang, namun ia menahan diri untuk tidak menariknya paksa.
Nurbaya hanya tersenyum tipis, matanya memancarkan perlawanan yang tak terucap, seolah ia sedang menantang takdir yang pahit. "Langsung saja, Pak Nur Firman. Apa yang Anda inginkan?" suaranya datar, tanpa emosi, mencoba menyembunyikan badai di dalam dirinya.
"Ayahmu sudah tahu jawabannya, Nurbaya," jawabnya santai, seolah berbicara tentang cuaca, tangannya masih belum melepas genggaman. "Ini bukan tentang uang semata. Ini tentang menjaga kehormatan keluarga. Aku bisa bantu keluarga besar ini keluar dari lubang utang yang dalam. Bahkan aku bisa memulihkan kembali nama baik ayahmu di kancah politik. Tapi tentu, setiap bantuan ada timbal balik, bukan begitu?" Ia menatap Nurbaya dengan tatapan merendahkan, seolah Nurbaya hanyalah salah satu aset yang bisa ia beli.
"Pernikahan bukan transaksi," tegas Nurbaya, mencoba menarik tangannya dari genggaman Nur Firman, namun pria itu semakin mengeratkan cengkeramannya, seolah ingin menunjukkan siapa yang berkuasa.
Nur Firman tertawa pelan, tawanya kering dan sinis, memuakkan. "Di dunia ini, segalanya bisa jadi transaksi, Nurbaya. Bahkan cinta dan kehormatan. Apalagi masa depan." Ia mengedipkan mata, sebuah isyarat menjijikkan yang membuat Nurbaya merinding, ingin muntah. Ia merasakan harga dirinya diinjak-injak, direduksi menjadi sekadar alat barter.
Saat lelaki itu pergi, setelah melepaskan genggaman tangannya yang berbekas merah di pergelangan Nurbaya, ia meninggalkan satu amplop tebal di atas meja ruang tamu. Di dalamnya, surat perjanjian penghapusan utang yang telah dicetak rapi, dengan stempel dan tanda tangan yang sah di mata hukum. Di bagian bawah, tanggal pernikahan sudah dicantumkan dengan tinta merah, sebuah tanggal yang terasa seperti hukuman mati. Satu bulan dari sekarang. Nurbaya berdiri di sana, mematung, menatap amplop itu seolah ia adalah racun. Utang yang tak sekadar uang, kini telah menuntut harga yang tak ternilai: dirinya sendiri.
***