NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Yang Hilang 2
"Tapi Nur Firman bilang, dia bisa memutarbalikkan fakta, Nur! Dia bilang dia punya saksi-saksi yang akan bersaksi melawan abak! Dia bahkan mengancam akan menyebarkan berita buruk tentang keluarga kita ke seluruh nagari, menghancurkan nama baik kita!" isak Amak. "Abakmu sekarang sakit lagi, Nur. Dia tertekan sekali. Dia bilang, kenapa kamu tidak mau saja? Kenapa kamu harus membuat masalah ini semakin besar?"
Kata-kata amak menusuk hati Nurbaya. Ia tahu orang tuanya berada di bawah tekanan yang luar biasa. Rasa bersalah mulai merayapi hatinya, namun ia segera menepisnya. Ini bukan salahnya. Ini adalah ulah Nur Firman.
"Mak, dengarkan aku," Nurbaya mencoba menenangkan. "Aku tidak bisa menikah dengan orang seperti itu. Itu bukan solusi. Itu hanya akan membuatku menderita seumur hidup. Biarkan aku mencari jalan lain. Aku akan bicara dengan Samuel, dia akan membantu."
"Samuel? Apa yang bisa dia lakukan, Nur? Dia tidak tahu apa-apa tentang adat kita, tentang bagaimana Nur Firman bekerja di sini!" Amak terdengar putus asa. "Dia hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Nur, tolong, pikirkan lagi. Demi abakmu, demi nama baik keluarga kita."
Percakapan itu berakhir dengan amak yang terus merengek dan Nurbaya yang merasa semakin terpojok. Ia tahu, tekanan dari keluarga akan menjadi salah satu rintangan terberatnya. Mereka tidak memahami perlawanannya, mereka hanya melihat satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan Nur Firman.
Nurbaya tahu ia tidak bisa hanya diam. Ancaman Nur Firman sangat nyata. Ia harus bertindak. Langkah pertamanya adalah mencari informasi. Ia mulai menggunakan koneksinya di Jakarta, teman-teman lama dari kampus atau rekan kerja yang mungkin memiliki jaringan di bidang hukum atau investigasi.
Ia menghubungi seorang teman lamanya, Risa, yang bekerja di sebuah firma hukum besar di Jakarta. Mereka bertemu di sebuah kafe. Nurbaya menceritakan seluruh masalahnya, mulai dari utang abak, pengaruh Nur Firman, hingga lamaran paksa dan ancaman yang diterimanya.
Risa mendengarkan dengan serius, sesekali mengernyitkan dahi. "Ini kasus yang rumit, Nur. Terutama karena melibatkan adat dan pengaruh lokal yang kuat. Tapi ini jelas pemerasan. Kita bisa mencoba melaporkannya ke polisi, tapi seperti yang kamu bilang, kalau Nur Firman punya koneksi, itu akan sulit."
"Ada cara lain?" tanya Nurbaya penuh harap.
"Kita bisa mencoba mencari celah dalam bisnisnya," saran Risa. "Orang seperti Nur Firman, yang bermain di balik layar dengan politik dan bisnis, pasti punya banyak rahasia. Mungkin ada praktik KKN yang bisa kita buktikan, atau pelanggaran hukum lain yang bisa kita gunakan sebagai alat tawar."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Aku punya beberapa kenalan yang bisa membantu. Mereka adalah investigator swasta, atau jurnalis investigasi yang berani. Tapi ini akan butuh waktu, dan mungkin biaya," jelas Risa. "Dan yang paling penting, ini sangat berisiko. Nur Firman bukan orang sembarangan. Kalau dia tahu kita mengorek-ngorek masa lalunya, dia bisa bertindak lebih jauh."
Nurbaya mengangguk. Ia tahu risikonya. Tapi ia tidak punya pilihan lain. "Aku siap mengambil risiko itu, Risa. Aku tidak bisa membiarkan dia menguasai hidupku."
Risa menghela napas. "Baiklah. Aku akan coba hubungi mereka. Sementara itu, kamu harus berhati-hati. Jangan sendirian, dan jangan mudah percaya pada siapa pun."
Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka bagi Nurbaya. Tekanan dari Nur Firman semakin intens. Selain ancaman melalui telepon, ia mendengar kabar dari amak bahwa bisnis toko kelontong keluarga mulai mengalami kesulitan pasokan. Beberapa pemasok tiba-tiba membatalkan kerja sama, tanpa alasan yang jelas. Kebun durian yang tersisa juga dikabarkan akan menghadapi masalah perizinan yang rumit. Ini jelas ulah Nur Firman, yang mulai menggerakkan jaring-jaring kekuasaannya untuk mencekik keluarga Nurbaya secara finansial.
Amak terus-menerus menelepon, menangis, memohon agar Nurbaya menyerah. "Nur, abakmu semakin parah. Dia tidak mau makan, tidak mau bicara. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Kalau begini terus, dia bisa sakit keras, Nak. Apa kamu tega melihat abakmu seperti itu?"
Kata-kata amak mengikis pertahanan Nurbaya. Rasa bersalah dan keputusasaan mulai merayapi hatinya. Apakah ia terlalu egois? Apakah kebebasannya sepadan dengan penderitaan keluarganya?
Ia teringat Samuel, dan janji-janji cintanya. Bagaimana jika ia menyerah? Apakah Samuel akan mengerti? Apakah ia akan tetap mencintainya jika ia terpaksa menikah dengan Nur Firman? Bayangan masa depan yang gelap mulai menghantuinya. Ia membayangkan dirinya terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta, hidup dalam bayang-bayang seorang pria kejam yang hanya melihatnya sebagai properti.
Di malam hari, Nurbaya sering terbangun dengan keringat dingin, setelah mimpi buruk tentang abak yang dipenjara, Amak yang meratap, dan dirinya sendiri yang berdiri di pelaminan dengan Nur Firman, wajahnya kosong tanpa ekspresi.
Ia mulai meragukan keputusannya. Apakah penolakan ini adalah keberanian atau kebodohan? Apakah ia punya kekuatan untuk melawan seorang pria sekuat Nur Firman?
Suatu sore, Nurbaya merasa mencapai titik terendah. Ia duduk di lantai apartemennya, bersandar pada dinding dingin, air mata mengalir tanpa henti. Ia merasa sendirian, terperangkap, dan tak berdaya. Semua jalan seolah tertutup.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Risa.
Nur, aku sudah bicara dengan kenalanku. Dia bersedia membantu. Dia bilang, Nur Firman memang punya banyak kasus gelap di masa lalu, terutama terkait proyek-proyek pemerintah dan pengadaan lahan. Ada beberapa jurnalis yang pernah mencoba menguak, tapi selalu terhenti di tengah jalan. Dia butuh lebih banyak informasi darimu tentang bagaimana Nur Firman berinteraksi dengan Abakmu, detail utang itu, dan siapa saja saksi-saksi yang dia sebutkan. Ini akan jadi pertarungan panjang, tapi setidaknya, ada harapan.
Pesan itu bagai setetes air di padang gurun. Harapan. Kata itu terasa begitu asing, namun begitu melegakan. Nurbaya menyeka air matanya. Ia memang sendirian, tapi ia tidak sepenuhnya sendiri. Ada Samuel, ada Risa, dan sekarang ada kenalan Risa yang bersedia membantu. Namun, jauh di lubuk hatinya, terbersit secercah ketakutan yang cukup mengganggu. Ada juga keraguan. Bagaimana mungkin teman-temannya mampu mendukung sedangkan Nurbaya tahu, mereka tidak punya kekuatan apa-apa.
Ia tahu, pertempuran ini akan sangat sulit. Nur Firman adalah lawan yang tangguh, dengan kekuasaan dan koneksi yang luas. Namun, Nurbaya tidak akan menyerah. Ia telah menolak lamaran yang bukan cinta itu, dan ia akan berjuang untuk kebebasannya, untuk masa depannya, dan untuk keluarganya. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi boneka yang digerakkan oleh tali-tali utang dan kekuasaan. Ia akan melawan.
Entah dengan bentuk perlawanan yang seperti apa. Membayangkannya saja Nurbaya tak mampu. Dia bukan siapa-siapa sedangkan lawan yang akan dihadapinya adalah Nur Firman. Bukan orang sembarangan. Nurbaya harus punya strategi luar biasa jka ingin menang. Atau minimal berimbang.
***