NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA

Percikan Api 1

Penolakan Nurbaya terhadap lamaran Nur Firman melalui telepon bagai percikan api yang menyulut bara. Suasana di rumah gadang di Minang, yang sudah tegang karena masalah utang, kini memanas hingga ke titik didih. Abak, Haji Zulkarnain, yang mendengar langsung penolakan putrinya, dilanda amarah yang meluap-luap. Ia merasa dipermalukan, martabatnya sebagai kepala keluarga dan pemangku adat diinjak-injak.

"Apa yang kamu lakukan, Nur?!" teriak abak di telepon, suaranya parau dan bergetar, memecah kesunyian malam di Jakarta. Nurbaya bisa mendengar kemarahan dan keputusasaan yang bercampur aduk dalam setiap kata. "Beraninya kamu menolak Nur Firman begitu saja? Kamu tidak tahu apa yang sudah abak korbankan untuk keluarga ini! Kamu tidak tahu seberapa besar utang yang menimpa kita!"

Nurbaya mencoba menjelaskan, mencoba menenangkan. "Abak, dengarkan aku. Aku tidak bisa menikah dengan orang seperti itu. Dia pemeras, Bak! Dia hanya ingin menguasai."

"Menguasai?! Dia ingin menyelamatkan kita, Nur! Dia ingin menyelamatkan nama baik keluarga kita dari kehancuran! Kamu ini terlalu egois! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, tanpa memikirkan nasib abak, amak, dan seluruh keluarga besar!" Suara abak semakin meninggi, diiringi batuk-batuk keras yang membuat Nurbaya cemas.

"Abak, abak baik-baik saja?" tanya Nurbaya panik.

"Tidak! abak tidak baik-baik saja! Kamu membuat abak sakit, Nur! Kamu membuat abak malu!" Dan kemudian, sambungan telepon terputus.

Nurbaya menjatuhkan ponselnya, hatinya hancur berkeping-keping. Kata-kata abak menusuknya lebih dalam dari ancaman Nur Firman. Ia tahu abak sangat mementingkan kehormatan dan nama baik keluarga. Penolakannya pasti dianggap sebagai tamparan keras bagi martabat abak.

Tak lama setelah itu, amak menelepon lagi, suaranya penuh tangis dan keputusasaan. "Nur, abakmu... Abakmu jatuh sakit lagi. Dia pingsan setelah bicara denganmu. Sekarang dia di rumah sakit. Dokter bilang jantungnya kambuh lagi karena tekanan pikiran yang terlalu berat."

Dunia Nurbaya terasa runtuh. Air matanya tumpah ruah. Ini adalah konsekuensi yang paling ia takutkan. Abak sakit karena dirinya, karena keputusannya. Rasa bersalah yang amat sangat mencengkeramnya.

Kabar tentang abak yang jatuh sakit, ditambah dengan desas-desus penolakan Nurbaya terhadap lamaran Nur Firman, menyebar dengan cepat di seluruh nagari. Di Minang, kabar burung bergerak lebih cepat dari angin. Dalam hitungan jam, Nurbaya menjadi pusat perhatian, namun bukan dalam arti yang baik.

Ponsel Nurbaya tak henti-hentinya berdering. Bukan dari teman atau kerabat yang mendukung, melainkan dari anggota keluarga besar dan tokoh-tokoh adat yang merasa perlu ikut campur.

"Nurbaya, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menolak lamaran Nur Firman?" Suara Mak Piah, bibi dari pihak abak, terdengar marah di telepon. "Kamu tahu betapa susahnya abakmu mencari uang untuk menutupi utang itu? Nur Firman adalah satu-satunya yang mau membantu kita! Kamu malah menolaknya? Kamu mau melihat abakmu masuk penjara?"

"Ini bukan soal uang saja, Mak Piah. Ini soal harga diri," Nurbaya mencoba membela diri, meskipun suaranya bergetar.

"Harga diri apa?! Harga diri itu bisa dibeli dengan uang, Nur! Dan sekarang, karena kamu, harga diri keluarga kita malah hancur! Abakmu sakit parah karena ulahmu!" Mak Piah membentaknya, lalu menutup telepon.

Panggilan lain datang dari Pak Malin, salah satu mamak kepala waris yang sangat dihormati di kaum mereka. Nada suaranya lebih tenang, namun penuh kekecewaan. "Nurbaya, kami semua tahu kamu perempuan cerdas dan berpendidikan tinggi. Tapi dalam masalah ini, kamu harus melihat gambaran besarnya. Nur Firman itu orang kuat, Nur. Kalau dia sudah mengancam, dia tidak main-main. Kamu menolak dia, itu sama saja kamu menantang seluruh kekuasaannya. Dan itu akan berdampak buruk bagi kita semua, bagi nama baik kaum kita."

"Tapi, Mamak, apakah saya harus mengorbankan diri saya untuk itu?" Nurbaya bertanya, suaranya hampir menyerupai rintihan.

"Pengorbanan itu bagian dari kehidupan, Nur. Terutama untuk keluarga," jawab Pak Malin datar. "Pikirkan lagi. Demi abakmu, demi nama baik keluarga kita. Kami semua berharap kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan bijak."

Nurbaya merasa tercekik. Kata-kata "pengorbanan" dan "demi keluarga" terus-menerus diulang, seolah itu adalah mantra yang harus ia terima tanpa bantahan. Ia merasa seolah seluruh komunitas adat, yang dulu ia banggakan, kini berbalik melawannya, menuntutnya untuk tunduk pada kehendak seorang tiran.

Di media sosial, desas-desus mulai beredar. Meskipun tidak menyebut nama secara langsung, Nurbaya tahu bahwa cerita tentang "putri seorang pemangku adat yang menolak lamaran pria kaya dan membuat ayahnya sakit" adalah tentang dirinya. Komentar-komentar pedas mulai bermunculan, menyudutkannya sebagai anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih. Ia merasa seperti dikuliti hidup-hidup di depan umum.

Samuel, yang mendengar kabar tentang Abak dari Nurbaya, segera bertindak dengan menemani Nurbaya pulang ke Minang. Mereka tiba dengan wajah cemas, langsung menuju rumah sakit tempat abak dirawat. Nurbaya merasa sedikit lega karena ada Samuel, namun ia tahu kehadiran Samuel mungkin tidak akan banyak membantu dalam menghadapi tekanan adat.

Di rumah sakit, abak terbaring lemah, wajahnya pucat pasi. Alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya. Melihat kondisi abak, hati Nurbaya semakin teriris. Amak duduk di samping abak, matanya sembab karena terus menangis.

"Abak..." Nurbaya berbisik, mendekat ke ranjang.

Abak membuka matanya perlahan, menatap Nurbaya dengan tatapan kosong, penuh kekecewaan. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun tatapan itu lebih menyakitkan daripada seribu kata.

Samuel mencoba bicara dengan amak, menawarkan bantuan hukum, mencari pengacara yang bisa mengatasi masalah utang ini. Namun, amak hanya menggelengkan kepala.

"Tidak ada gunanya, Nak Samuel," kata Amak lirih. "Nur Firman itu punya banyak koneksi. Dia bisa memutarbalikkan fakta. Lagipula, abakmu tidak mau lagi membahas ini. Dia hanya ingin semuanya selesai. Dia hanya ingin nama baik keluarga kita tidak hancur."

Samuel mencoba mendekati abak, namun abak hanya memalingkan wajah. Ia tidak ingin bicara, tidak ingin melihat Nurbaya, apalagi Samuel. Bagi abak, Samuel adalah simbol dari penolakan Nurbaya, simbol dari masalah yang semakin membesar.

Di luar kamar rawat, Samuel mencoba bicara dengan beberapa mamak adat yang datang menjenguk abak. Ia menjelaskan bahwa ini adalah kasus pemerasan, bahwa ada cara hukum untuk melawannya. Namun, mamak-mamak itu hanya mendengarkan dengan skeptis.

"Nak Samuel, kami mengerti niat baikmu," kata salah satu mamak, Haji Rasyid. "Tapi kamu tidak tahu bagaimana adat kami bekerja. Di sini, kehormatan itu segalanya. Dan Nur Firman, dia punya cara untuk menghancurkan kehormatan itu tanpa perlu melibatkan hukum secara langsung. Dia bisa membuat masyarakat memandang rendah keluarga Haji Zulkarnain. Dan itu lebih buruk dari penjara."

Samuel merasa frustrasi. Ia terbiasa dengan sistem hukum yang jelas, dengan bukti dan saksi. Namun di Minang, ia dihadapkan pada sistem yang lebih kompleks, di mana reputasi, adat, dan pengaruh pribadi seringkali lebih dominan daripada keadilan formal.

Nurbaya merasa terjebak di antara dua dunia. Di satu sisi, ada Samuel yang menawarkan logika dan keadilan, sebuah jalan keluar yang menjunjung tinggi hak-haknya sebagai individu. Di sisi lain, ada keluarganya dan komunitas adat yang menuntutnya untuk tunduk, mengorbankan dirinya demi nama baik dan kelangsungan hidup keluarga.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!