Naura
12. Aku Meminta Ikhlasmu
Perasaan iba dan kasihan pada Diandra membuat hati Halimah terenyuh. Seorang wanita yang masih muda, dengan ujian berat namun dia masih terlihat begitu ikhlas terhadap kehidupannya.
Itu menjadi pelajaran berharga bagi Halimah. Bagaimana seorang belajar dari orang lain tentang arti kesabaran dan keikhlasan.
Halimah tak kuasa melihat harapan dari wanita cantik di depannya tersebut. Dirinya yang tak bisa bergerak dan juga matanya yang tak bisa melihat. Sungguh, itu adalah dua karunia paling besar yang dimiliki manusia. Namun, ketika ada manusia yang memiliki ujian tersebut dan dia tetap sabar. Maka, mereka adalah orang-orang terpilih di antara yang terpilih.
Halimah bingung akan menjawab apa pada wanita cantik tersebut, kepalanya yang kesana kemari seolah memahamkan dirinya bahwa wanita itu tak bisa melihat. Senyum kecilnya demikian indah.
”Sebentar..., saya akan meminta izin pada Adam,” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Halimah. Seolah, dia terhipnotis dengan kecantikan dan ketulusan wanita yang tengah duduk di kursinya tersebut.
Halimah tak bisa menjawab apapun lagi dan kemudian dia masuk ke kamar puteranya. Disana, Adam masih meneteskan airmatanya, percakapan tadi yang membuat Adam merasa bersalah karena tak berdaya dan menjadi beban ibunya itu membuatnya merasa sedih berlarut-larut.
Halimah perlahan mendekati ke arah Adam kembali. Kesedihan tentu masih merasuki jiwa Halimah. Namun, dia juga merasakan bagaimana pedihnya perasaan yang sedang dihadapi oleh puternya tersebut.
Ketidakberdayaan puteranya itu, seolah dia menanggung beban bagi Ibunya. Namun, di sisi lain, ketidakberdayaannya akan cinta dan bangkit dari keterpurukan pastilah sedang dia perjuangkan. Halimah memahami Adam, cintanya untuk Naura melebihi dunia dan seisinya.
Pada akhirnya, Halimah akan menunggu dengan sabar sampai kapanpun hingga Adam bangun dari tidurnya, tidur karena cinta. Kini, Halimah tetap harus mengatakan maksud dari wanita yang sedang menunggu di luar, apapun jawaban Adam maka itu yang akan dilakukan oleh Halimah. Jika dia menolak, maka Halimah pasti akan menolak tamunya kali ini.
”Bolehkah seorang wanita buta berbicara pada Adam? Dia seorang wanita cantik yang malang hidupnya. Selain itu, dia juga lumpuh kakinya.”
Hening sejenak, Halimah paham bahwa pastilah Adam mendengarnya dan dia sedang memikirkan apa yang akan dijawabnya. Halimah hanya takut jika Adam berpikir bahwa Ibunya membebaninya. Seorang Ibu tidak akan bisa membebani anak-anaknya, apapun yang terjadi. Namun sebaliknya, seorang Anak memang menjadi beban bagi ibunya, dan itulah cinta seorang Ibu.
Tak ada sahutan, tapi hanya anggukan kepala Adam yang terlihat. Adam sendiri merasa tak berdaya dan bersedih, dia hanya ingin Ibunya senang. Perasaan tak berdaya karena cintanya pada Naura yang membuatnya hancur, lebih dari itu sebenarnya dia hanyalah tak berdaya bangkit dari keterpurukan cintanya itu.
Halimah pun menuju ke ruang tamu kembali, dia menemui tiga orang tersebut. Dia sudah mendapatkan jawaban dari Adam dan hanya menjalankan amanah semata.
”Kamu boleh masuk tapi hanya bersama Ibumu,” begitu ucap Halimah, dan mereka pun masuk ke kamar Adam sedangkan Fandi menunggu di kursi. Sarah sedikit kurang nyaman, rumah yang amat kecil dan tentunya jauh dari rumah mereka di kota. Namun, dia hanya menginginkan kesembuhan bagi puterinya itu, apapun dan bagaimanapun caranya.
Saat masuk itu, Sarah melihat lelaki yang kurus sedang tertidur miring, dan ada bening yang masih mengalir di kedua matanya. Keadaan itu amat membuatnya terenyuh hatinya dan merasakan bagaimana tersiksanya perasaan seorang Ibu. Seperti dirinya yang selama ini melihat kondisi puterinya, Diandra. Dia yakin, Halimah juga sangat sedih dengan puteranya yang kondisinya demikian.
”Kita sudah sampai Ibu?” Ucapan lembut Diandra itu membuyarkan lamunan Sarah. Tentu saja, Diandra tidak bisa melihat sehingga dia tidak bisa merasakan apakah mereka sudah dekat dengan pemuda yang bernama Adam tersebut.
”Iya puteriku, dia sedang tidur dan airmatanya mengalir,” jawab Sarah, dia ingin menunjukkan pada Diandra soal airmatanya yang memang mengalir. Namun, Sarah tidak menceritakan kondisi pemuda yang tidur tersebut. Itu semua karena siapapun yang melihat kondisi pemuda itu maka hanya kasihan saja yang akan dipikirkan.
Diandra semakin penasaran, bagaimana pemuda itu bisa sakit dan menderita serta airmatanya terus mengalir. Seperti kesedihan yang dipendamnya terlalu dalam, seperti dirinya juga, yang setiap kali sendiri tentu akan merasa sedih dan ingin rasanya bisa melihat indahnya dunia.
Diandra meraba tangannya dari kursi roda dan menyentuh pinggir dipan tempat pemuda itu terbaring.
”Apakah Pemuda bernama Adam itu masih tertidur di kamarnya, Ibu?” tanya Diandra pada Ibunya.
Sarah menjawab pelan pada puterinya itu, ”Benar, pemuda itu masih tertidur seperti yang diceritakan. Dia sakit dan airmatanya selalu mengalir.”
Mendengar penjelasan dari Ibunya, Diandra berhenti sejenak. Dia menghirup udara dalam dan menghembuskannya perlahan dari hidungnya. Dia hendak memulai percakapannya dengan pemuda itu. Dia menenangkan dirinya dan dia harus mengatakan apa yang menjadi kegelisahan di hatinya.
”Wahai Adam,” suara Diandra lembut terdengar, dia sudah tahu cerita tentang Adam dan sudah mengkoreksi nama itu berulangkali lewat penjelasan Fandi.
Adam agak membesarkan matanya, ada yang aneh terdengar di telinganya, ”Apakah kamu Naura?”
Adam merasakan ada yang aneh, dia merasakan ada kehadiran yang sangat hangat mendekati dirinya. Perasaan hangat saat sedang bersama dengan Naura, perasaan nyaman dan membuatnya bisa meneruskan hidupnya.
Adam mencari kehangatan itu, sayangnya semuanya musnah dan hancur!
Hening suasana. Ruangan kamar Adam itu seolah tertiup angin yang sangat lembut, Diandra pun merasa jantungnya berdebar-debar. Suara itu demikian melekat di dadanya, suara yang bisa menggetarkan jiwanya. Jika orang yang melihat, tentu mereka akan terpesona ketika melihat wajah seseorang. Namun bagi Diandra dengan ketajaman telinganya dia merasakan bahwa suara itu berasal dari orang yang punya kharisma.
”Aku bukan Naura, aku adalah Diandra,” jawab Diandra.
Diandra merasa bahwa dia sudah melalui perjalanan jauh hingga mencapai tempat ini, maka dia pun memberanikan diri untuk mengatakan maksud tujuannya.
”Adam, Maukah kamu mengikhlaskan airmatamu untukku?” nada suara Diandra terlihat agak ragu. Namun, dia bicara tulus untuk mengatakannya.
Hening lagi, Halimah pun menjelaskan perlahan pada Diandra bahwa Puteranya itu selalu diam saja dan hanya meneteskan airmatanya seperti mayat hidup. Halimah juga berharap pada Diandra dan Ibunya agar tak terlalu berharap bahwa ucapan mereka akan dijawab oleh Adam. Menurut Halimah, tubuh Adam memang di sini tapi jiwanya seolah entah dimana. Mungkin, suatu hari dia akan sadar sendiri dengan kemauannya sendiri.
Tapi, Diandra tak peduli. Dia hanya ingin keikhlasan pemuda sakit itu untuk airmatanya, jika tak diizinkan dia pun tak mau menerima air itu. Itu adalah tekad yang kuat dari Diandra. Dia paham bahwa pemuda itu mengalami rasa kesedihan yang sangat tinggi. Tidak mungkin dia akan meminta airmata pemuda itu, sedangkan pemilik airmata tidak mau memberinya dengan ikhlas.