Naura
14. Kaget
Ahad tiba lagi.
Waktu seperti biasa bagi Adam untuk memandangi indahnya Danau Kenanga, Syarif mengantarkannya dengan motor. Di sepanjang jalan pun, Adam hanya terus menerus tersenyum. Di rumah Adam, Halimah bersih-bersih rumah karena setiap orang sudah mengetahui bahwa hari Ahad adalah hari spesial bagi Adam dengan kenangannya dan di rumah tidak melayani tamu.
Akhir-akhir ini, warga desa di sekitar desa Adam juga terus terlihat antre pada hari senin hingga sabtu. Bahkan, ketika mereka hanya sakit pegal dan gatal saja mereka datang karena itu lebih praktis dan tak perlu ke dokter. Sakit sepela pun kadang mereka datang, terlebih Halimah selalu melayani siapapun yang datang meminta pertolongan dengan terapi airmata tersebut.
Halimah hanya tak mau mengecewakan mereka yang datang ke rumahnya untuk meminta pengobatan. Dan, Adam pun mengizinkan hal itu dengan anggukan kepalanya, tak peduli rasa sakitnya yang teramat dalam tersiksa karena cinta namun dia masih seolah memberi kebaikan pada siapapun yang membutuhkan pertolongannya.
Wajah Adam terlihat gembira, duduk di kursi kayu itu dan kakinya terkadang melenggang ke depan dan ke belakang bergantian. Dia menatap air yang jernih tertimpa sinar matahari yang menyilaukan, disana ada sebentuk wajah dalam ingatan Adam. Wajah yang dicintainya, Naura.
***
Di sisi lain.
Naura tiba-tiba bersin, seolah ada debu yang tiba-tiba menyesak begitu saja memasuki hidungnya sehingga dia tak tahan.
Hatchih!
Aneh! Bukannya ini bukan musim hujan, kenapa tiba-tiba bersin. Apakah? Pikiran Naura melayang entah kemana, dan dia menemukan ujung imajinasinya dan itu adalah wajah lelaki yang pernah melekat di hatinya, bahkan mungkin hingga sekarang dia masih mengingatnya. Adam.
Naura meletakkan baju yang sudah dilipatnya dengan rapih dan menatanya dengan stelan baju yang sesuai. Beberapa tumpuk sudah diselesaikannya, dia pun mulai memindahkan baju dengan bagian tertentu sesuai tempatnya di rak lemari. Tiba-tiba dia teringat dengan seorang yang amat dicintainya dulu, dia Adam. Entah kenapa, seperti namanya tengah dipanggil.
Meski sudah menjadi isteri dari Sandi, dua tahun lebih pernikahan mereka namun perasaan untuk Adam belum hilang sepenuhnya. Meskipun, dalam urusan uang dia selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya dari Sandi.
Cinta yang sedari kecil sudah tertanam dan mereka selalu tersenyum bersama. Cinta yang terlanjur tumbuh itu sulit dilupakan. Keadaannya kini sudah berubah, Naura sudah menikah dengan Sandi. Awalnya, dia sama sekali tak mencintai Sandi hingga sampai sekarang dia berusaha sekeras mungkin untuk melupakan Adam dan menerima Sandi. Tapi, itu sulit bagi Naura.
Selesai menaruh baju-baju yang sudah dilipat, Naura terduduk di pinggir spring bed. Dia menatap jendela yang terbuka, pemandangan alam; langit yang biru, awan yang berarak, pepohonan, rumah tinggi semuanya mengingatkannya kembali pada kehidupannya dulu di desa, tentu saja kisah indahnya dengan Adam yang selalu langsung teringat.
Mata Naura terus menerawang hingga menembus ke langit yang berwarna biru. Dia, meskipun hidup di kota, dia selalu mendapatkan kabar berita soal Adam di kampungnya. Adam yang pesakitan dan menjadi icon para orang sakit untuk datang ke rumahnya dan meminta obat dari airmatanya untuk menyembuhkan sakit mereka. Sungguh, kisah Adam viral dan menjadi pembicaraan, bahkan Naura selalu mengikuti beritanya dan selalu bertanya pada siapapun yang mengetahui kisahnya.
Di sisi terdalam hati Naura, dia masih mencintai Adam. Itu tak bisa dibohongi oleh Adam.
Saat itu...
Ada airmata yang tiba-tiba menetes dari mata Naura. Ya, waktu itu saat dia meninggalkan Adam adalah saat dimana dirinya harus berkorban untuk keluarganya. Dia harus menjadi orang yang ditumbalkan dalam keluarganya. Kenapa demikian? Tentu saja, karena hutang ayahnya pada keluarga Rodin, yang merupakan ayah dari Sandi.
Terlilit hutang, usaha pabrik padi milik Hasan yang merupakan ayah Naura bangkrut. Hutangnya dimana-mana, mereka pun meminjam uang pada Rodin hingga 500 juta rupiah. Uang itu pun dapat menyelamatkan mereka dari hutang dan ancaman penjara. Namun, semuanya tidak gratis dan tentu saja memiliki kompensasi bunga yang besar.
Sandi yang sudah lama mencintai Naura meminta izin pada ayahnya agar dirinya dapat menikahi wanita yang diinginkannya. Jika Naura tidak menuruti maka mereka akan menagih uang dan pasti Hasan akan hancur dengan utang tersebut. Saat itulah, Hasan memohon pada puterinya, dia tak memiliki jalan keluar lagi apalagi Hasan juga tak menyukai Adam.
Pada akhirnya, Naura pun menjadi tumbal bagi keuangan keluarganya. Demi keberlangsungan keluarganya, dia mau menikah dengan Sandi. Lambat laun, Naura pun membuat keputusan untuk dapat memulai mencintai suaminya itu dengan sepenuh hati.
Sayang seribu sayang, hingga sekarang dia masih belum mampu mencintai dengan tulus dan sepenuhnya pada suaminya itu. Di samping, kebiasaan buruk suaminya yang memang buruk. Kadang pulang malam, dan kerjaannya sering ke bar malam dan pulang dengan bau alkohol.
Awal menikah, Naura merasa seperti ratu dan dilayani dengan baik oleh suaminya. Merasa dicintai dan diberikan apapun yang diminta, namun lambat laun ada perubahan pada suaminya. Ya, apakah cinta suaminya itu bisa luntur begitu saja karena sudah memilikinya. Bukankah, banyak wanita cantik di dunia ini yang bisa ditemuinya dimanapun juga?
Naura pun menepis keraguan pada suaminya itu, dia sudah berkomitmen untuk menjadi seorang isteri yang setia dan harus bisa mencintai Sandi sepenuhnya apapun yang terjadi. Sedangkan untuk Adam, biarlah tersimpan di palung terdalam di samudera jiwanya dan tak lagi akan diungkitnya kenangan bersama Adam. Biarlah, dan biarlah hanya menjadi cinta yang suci yang tersimpan indah dalam kenangan terdalamnya.
Huffff. Naura menghembuskan dalam dan cepat, seperti ingin melepaskan semua beban berat yang menghimpitnya atau seperti ingin membuang segala masalah yang membelitnya.
Tapi, semakin ingin melupakan Adam, wajahnya malah semakin membekas dalam. Dia mendengar kabar, bahwa Adam juga kini memiliki uang yang banyak karena banyak orang yang tertolong karenanya. Selain itu, Adam terus menjadi pesakitan dan terluka. Apakah itu hanya karena dirinya? Naura merasa sangat bersalah, namun untuk sekedar datang dan menjenguknya itu seperti rembulan yang ingin mengalahkan sinar matahari, itu tak mungkin.
Dirinya sudah menjadi isteri orang lain, dan dalam tradisi masyarakat dan agama, hal itu terlarng baginya keluar menemui lelaki lain tanpa izin suaminya. Ingin rasanya, Naura melihat kondisi Adam walau hanya untuk melihatnya semata. Tapi, dirinya juga tidak berdaya.
Selain memikirkan Adam, Naura juga susah untuk memikirkan bagaimana suaminya, Sandi. Rasa sayangnya sudah berbeda jauh dengan pertama kali mereka bersama. Kini, Sandi seolah hanya sekedar basa-basi ketika pulang ke rumah, bahkan sekedar hanya ingin memenuhi nafkah lahirnya semata sebagai pasangan suami isteri. Selain itu, jarang sekali Sandi mau menemaninya mengobrol dan juga berjalan jalan keluar seperti dulu.
Ada apa gerangan dengan suaminya?
Ah! Mungkin masalah pekerjaan saja yang membuat Sandi melakukan hal itu, karena kepenatan pekerjaan sehingga pikirannya terkuras untuk hal-hal pekerjaan dan melupakan urusan dengannya. Jelasnya, Naura kini harus fokus menjadi isteri yang mencintai suaminya, apapun yang terjadi, dan dia harus bisa melupakan Adam.
”Non!”
Suara dari pintu kamar itu membuat Naura kaget, ya, itu adalah suara bi Fatma yang mengurusi rumahnya dan suaminya, Sandi. Jika suaminya tak di rumah, Naura hanya bisa curhat dan berkeluh kesah pada bi Fatma, beliau dapat menggantikan peran ibu bagi Naura di rumahnya itu. Sesekali, Ibu dan Ayah Naura juga berkunjung ke rumahnya itu.
”Ada apa Bi?”
Naura bergegas dan membukakan pintu dan melihat bi Fatma menatapnya dan sedikit membungkuk.
”Dipanggil Aden di ruang tamu, sepertinya ada sesuatu Non.”
Naura tersenyum menatap bi Fatma. Mungkin suaminya, Sandi akan memulai hubungan baik dengannya lagi. Dia yakin, Sandi tetaplah seorang suami yang baik, Naura juga sudah memutuskan untuk menjadi cintanya sepenuhnya dan mencintainya dengan sungguh sungguh.
”Baiklah Bi, Naura akan segera keluar. Naura ganti baju dulu ya Bi,” Naura bergegas lagi masuk ke kamarnya dan membuka lemarinya untuk mencari baju yang terbaik menurutnya. Dia memilih-milih baju, tentu saja itu untuk menyenangkan suaminya. Saat itu, bi Fatma berpamitan duluan.
Ketemu!
Naura segera berganti dengan pakaian yang terbaik, tentu saja yang disukai suaminya. Dia memakai kerudungnya yang terbaik juga, lalu bersiap keluar. Naura menuruni tangga dengan antusias, senyumnya merekah menyambut suaminya. Beberapa kelokan ruangan, dia akan segera sampai. Rumahnya terbilang mewah dengan tiga lantai.
Sesampainya di ruang tamu, mata Naura agak kaget karena suaminya tidak sendirian melainkan bersama sosok lain di sebelahnya. Seorang wanita. Dan, wanita itu berambut sebahu serta cantik dengan make-up yang menggoda.
Naura sejenak terpatung berdiri di hadapan suaminya dan seorang wanita yang duduk di sebelahnya tersebut.
”Isteriku..., duduklah disini,” Sandi mengisyarakatkan tangan kirinya ke sofa yang berada di sebelahnya. Sedikit agar ragu dan bingung, Naura pun perlahan mendekati suaminya dan duduk di sebelah kirinya.
Sekira beberapa detik setelah Naura duduk, keheningan itu pecah dan menghentak keheningan ruangan tersebut.
”Naura..., Mas akan menikah lagi, dan kamu harus menyetujuinya?”
Bagai halilintar yang menghantam bumi sekaligus dengan kehancuran totalnya, meledak-ledak tanah dan menggelegar seluruh mayapada. Itu yang dirasakan oleh Naura saat itu. Jiwanya tersetrum begitu saja mendengar kabar tersebut langsung dari mulut suaminya yang dulu bicara setia sampai mati dan mencintainya seumur hidupnya.
Ada apa dengan janjinya dulu dan ucapan setianya dulu?
Bibir Naura pun kaku dan kelu, tak bisa bersuara meskipun dia ingin menjerit dan alam menyaksikan bagaimana dirinya juga kini akan disiksa dengan wanita yang akan menemani tidur suaminya, berbagi suami merupakan hal yang tidak pernah terpikirkan dalam lintasan pikiran Naura sebercikpun.
Namun, takdir tetaplah takdir, kenyataan adalah kenyataan, sepahit apapun semua adalah kenyataan yang harus dihadapi.