Naura
20. Kisah dari Naura
Syarif tak tahu lagi harus menceritakan yang baru ditemuinya itu kepada sahabatnya Adam atau tidak. Namun, dia kini menyadari bahwa Allah memang Maha Adil. Hal itu dapat dilihatnya, kesengsaraan yang sudah dirasakan Adam, kini harus pula dirasakan oleh Naura.
Syarif mengenal betul siapa Naura. Sejak kecil, Adam sudah mencintai Naura. Syarif pun mengenal Naura sebagai wanita yang baik. Namun, sejak peristiwa di Danau Kenanga dan Naura meninggalkan Adam. Saat itu juga, Syarif menyadari bahwa cinta Adam memang sangat besar kepada Naura.
Naura yang meninggalkan Adam dan menikah dengan seorang yang kaya, yaitu Sandi. Syarif tidak mengetahui apa alasan sebenarnya Naura meninggalkan Adam. Namun, hal itu sudah meninggalkan luka bagi Adam hingga menjadi manusia pesakitan.
Jika memang Naura memiliki hati, setidaknya dia akan datang dan mencoba untuk memberikan semangat bagi Adam untuk sembuh. Setelah kunjungan pertamanya dahulu bersama Sandi suaminya, dia tak pernah datang lagi dan tak ada kabar apapun darinya.
Suami Naura menikah lagi, dan mungkin itu adalah balasan Tuhan untuk Naura. Syarif tidak mau memikirkan masalah itu lagi. Dia membiarkan saja dengan tidak memberitahukannya pada Adam soal pernikahan kedua Sandi.
Biarlah, waktu yang akan membuat segalanya terungkap dengan sendirinya. Itupun, jika takdir akan membuat Adam dapat mengetahuinya sendiri. Syarif hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya tersebut.
***
Senin sampai jumat, Diandra belajar banyak hal tentang segala macam. Ibunya selalu perhatian padanya, sedangkan ayahnya yang sibuk juga malam berbincang menyempatkan waktu untuk Diandra.
Kakaknya, Elfan Hamid beserta isteri dan kedua anaknya juga datang dan kaget begitu melihat adik satu-satunya itu bisa berjalan dan melihat seperti tak pernah terjadi buta sebelumnya. Elfan pun memuji metode pengobatan alternatif tersebut, kedua anaknya langsung bermain dan akrab dengan Tantenya yaitu Diandra.
Keluarga itu terasa lengkap bahagianya, dan hari Sabtu pun tiba. Diandra pamitan pada kedua orangtuanya untuk pergi ke kampung dimana Adam berada. Jiwanya terus terpanggil entah kenapa harus datang kesana, seperti magnet yang begitu kuat membuat jiwanya tak bisa melawan.
Diandra berangkat bersama bi Jamilah. Fandi masih di desa tersebut karena harus mencarikan informasi tentang Naura kepada Diandra. Diandra berangkat dan segera dijemput oleh pak Fandi yang sudah menunggu di Bandara. Mereka pun menuju rumah Adam pada sabtu siang menjelang sore.
Mereka pun mengobrol bersama Halimah yang merupakan ibu dari Adam. Ada keakraban yang sudah tercipta cukup lama karena Diandra selalu setia datang pada Sabtu dan Ahad. Hubungan mereka kini bahkan seperti anak dan Ibu saja, Diandra juga nyaman bertanya apa saja pada bu Halimah di samping selalu bertanya perkembangan Adam.
Halimah bercerita antusias menceritakan kalau Adam sudah sering menjawab ucapannya. Tak seperti dulu yang hanya mengigau nama Naura.
Begitu mendengar nama Naura, jantung Diandra ikut bergetar. Seperti apa Nauraitu sehingga Adam tergila-gila padanya? Apakah seperti bidadari yang sangat cantik? Apakah dirinya bisa disandingkan kecantikannya pada Naura?
”Oya Nak,” Halimah membuyarkan lamunan sejenaknya soal Naura, ”Soal janji dan sumpahmu itu, tak harus dilakukan Nak. Itu adalah sumpah yang berat karena kamu tahu Adam mungkin hanya lelaki desa dan tak bisa memberikanmu apa-apa.”
”Cukup Bu,” Diandra memegang tangan kanan Halimah dengan kedua tangannya, ”Takdir akan ditentukan oleh Allah, soal nanti itu biarlah nanti saja. Tugas saya adalah menemani Adam hingga dia sembuh. Tak peduli sampai kapan, dialah yang memberiku kehidupan baru, maka aku akan membuatnya juga memiliki kesempatan kedua untuknya.”
Halimah tak kuasa menahan dirinya, dia mengelus rambut Diandra, ”Kau seorang yang sangat perhatian dan sabar Diandra, semoga Allah selalu melindungimu dan memberikan kebahagiaan untukmu.”
”Amin.”
Diandra membalas doa itu, dalam hatinya bahwa doa bu Halimah sudah merupakan doa terbaik dimana kebahagiaan adalah yang paling dicari oleh manusia. Ada orang kaya yang tidak bahagia dan itu tak sedikit jumlahnya dan ada juga orang yang miskin namun hidupnya bahagia.
Kebahagiaan tak bisa dibeli dengan harta berapapun jumlahnya. Diandra pun izin undur diri, dia bertemu dengan Fandi. Mereka pun berbincang di sebuah rumah makan di dekat rumah Adam bersama bi Jamilah.
”Ceritakan soal Naura pak Fandi?” Diandra menutup menu pesanan dan memesan jus.
Fandi dan Jamilah juga memesan jus buah, mereka pun memilih sesuai dengan buah sesuai keinginan mereka. Pelayan pun pergi dan menyiapkan pesanan mereka.
”Suami Naura sudah menikah lagi seminggu yang lalu Non.”
Kalimat pertama yang diucapkan Fandi cukup mengagetkan Diandra. Wanita yang dicintai Adam dan meninggalkannya dan menikah dengan orang kaya di desanya dan juga dari kehidupannya yang baik, kenapa suaminya menikah lagi?
”Ceritakan detail semua yang kamu ketahui pak Fandi,” Diandra semakin penasaran dan siap mendengarkan kisah Naura yang sangat dicintai Adam hingga menjadi orang linglung.
Fandi pun menceritakan apa yang didapatkannya, dari mulai cerita percintaan tulus Adam dan Naura yang sejak awal memang mencintai namun tidak mau menodai sedikitpun cinta mereka. Mereka hanya bertemu pada hari Ahad di Danau Kenanga, itupun mereka tak pernah bersentuhan karena ingin menjaga kesucian cinta.
Bersentuhan akan mengotori cinta namun jika sudah menikah maka barulah cinta itu berubah sah menjadi memiliki sedangkan sebelum menikah itu belum memiliki dan belum ada hak dan kewajiban.
Mereka adalah pasangan yang sangat mencintai. Hingga, usaha yang dikelola orangtua Naura, Hasan yang merupakan pedagang yang membeli hasil tanaman dari para petani menjadi bangkrut dan memiliki banyak hutang. Banyak orang yang berbondong-bondong menagih hutangnya pada Hasan namun Hasan belum punya uang untuk membayarnya.
Hasan hanya terus berjanji dan siap membayar hutang namun harus diberi waktu untuk mengumpulkan uangnya. Setelah sekian lama, nyatanya Hasan tak bisa mengumpulkan uang itu dan dia pun terancam penjara jika tak bisa menyelesaikan hutang-hutangnya.
Saat itu, Rodin pun datang ingin membantu dan bersama puteranya Sandi ikut serta. Mereka akan membantu Hasan membayar hutang-hutang mereka dan memberikan mereka pinjaman Rp 500 juta, asalkan Sandi dapat menikahi wanita yang dicintainya yaitu anak dari Hasan, Naura orangnya.
Begitulah awalnya, Naura meninggalkan Adam dan meminta Adam untuk melupakannya dan jangan pernah mencari dan mengejar Naura lagi. Namun, yang terjadi justru hal itu membuat Adam menjadi pesakitan. Tak berdaya mengejar cinta namun juga tak berdaya menghadapi hari-hari tanpa Naura.
Satu hal juga yang diketahui Fandi adalah bahwa setelah lebih dari dua setengah tahun menikah, Naura belum hamil dan belum mempunyai anak. Itu menjadi alasan bagi Sandi suaminya untuk menikah lagi agar bisa memiliki keturunan dan agar usaha keluarga nantinya bisa diteruskan.
Ada juga kabar yang didapatkan oleh Fandi dimana di hari pernikahan kedua Sandi, Naura tidak hadir dan hanya berdiam di rumah ditemani keluarganya. Tentu, hal itu menunjukkan kalau mereka tak setuju.
Diandra pun meminta kejelasan tempat dan seluruh hal tentang Naura. Kali ini, dia ingin melihat lebih dekat siapa itu Naura dan awal mula kejadian yang menimpa Adam. Seperti apa wanita bernama Naura itu, itu membuatnya sangat penasaran dengan kisah mereka.
Entah kenapa, penasaran Diandra sangat berlebihan. Dulu, saat masih buta dan lumpuh tak ada keinginan kecuali hanya mendengar kisah dari Ibunya dan bi Jamilah soal dunia. Kini, semuanya sudah tercapai dengan dapat berjalan dan melihat kembali. Namun, hatinya juga kini seolah ingin hal yang lebih lagi dan semakin matanya terbuka lebar untuk dunia, banyak keinginan yang ingin diraih dan didapatkannya.
Kisah Naura dan Adam juga membuatnya sangat penasaran, dia bertekad akan melihat Naura wanita seperti apa.
Minuman yang mereka pesan pun datang, mereka minum sambil terus berbincang. Diandra juga meliburkan pak Fandi dan besok bisa pulang ke kota untuk berkumpul bersama keluarganya lagi dan juga ucapan terimakasih sudah menjalankan tugas dengan baik.
***
Diandra langsung menuju rumah Adam lagi, dia tak mengapa dengan kondisi rumah sederhana milik Adam. Bersama bi Jamilah mereka membantu pekerjaan Halimah dengan tulus.
Halimah merasa kini lebih bahagia karena ada sosok wanita di rumahnya yang mau membantu. Biasanya dulu, dia selalu teringat kalau Adam sebelum sakitnya selalu membantunya mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya. Baru setelah pesakitan, semua pekerjaan rumah selalu dikerjakan sendirian dengan ikhlas.
Meski kesusahan, Diandra membantu pekerjaan Halimah apa saja yang bisa dikerjakannya. Baik itu; menyapu, membersihkan perkakas hingga mencuci piring. Halimah melarang nona Diandra untuk membantunya tapi namanya Diandra semakin dilarang dia akan semakin ingin melakukan hal itu karena memang selama ini dia seolah hanya terkurung di dalam kegelapan dan tak bisa kemana-mana.
Halimah pun tak bisa melarang Diandra, malah dia merasa bahwa memiliki anak perempuan memang sangat menyenangkan. Mungkin juga, nantinya jika Adam telah sadar dan menikah maka isterinya akan bisa membantunya melakukan apa saja yang dikerjakannya.
Lalu..., dengan siapakah Adam nanti akan menikah? Benarkah Diandra akan mau menikah dengan Adam dan apakah Adam juga sebaliknya mau ketika menikah dengan Diandra? Padahal selama ini Adam sangat mencintai Naura bahkan sampai kondisinya seperti itu.
Biarlah! Halimah tak lagi memikirkan hal itu, dia tahu Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk Adam.
”Ibu melamun lagi?” Halimah seolah terbangun dari lamunannya, ternyata Diandra sudah mengetahui kalau dia melamun.
”Tidak apa-apa Diandra, Ibu hanya selalu teringat kebahagiaan Adam karena kebahagiaannya adalah segalanya bagi Ibu.”
”Benar, orang sebaik dia tentunya harus sembuh dan dapat bahagia. Dia tidak boleh berlama-lama dalam pesakitan. Tenang saja Bu, Diandra tak pergi meninggalkan Adam hingga dia benar-benar sembuh.”
”Kamu memang seorang bidadari yang didatangkan Allah ke rumah kami Diandra. Sepertinya memang semua sudah dituliskan oleh Allah agar kami kesini untuk menyembuhkan Adam yang sakit.”
”Tuhanlah yang mengirim Adam untuk saya Ibu, tak bisa Diandra bayangkan bagaimana bisa dunia yang begitu luas ini kini saya bisa melihatnya sendiri. Dulu tidak pernah terbayangpun bagaimana warna dan rupa manusia.”
Keduanya pun saling tersenyum, dari agak jauh bi Jamilah yang selalu membersamai Nonanya itu juga tersenyum sambil mengelap meja. Dia merasa bahagia karena Diandra juga bahagia. Dari kecil, dialah yang selalu menjaga Diandra, jadi susah senang Diandra saat buta dan lumpuh dia paling tahu bagaimana keingintahuan Diandra melebihi apapun dan selalu bertanya padanya soal apapun.
”Oya Bu, bolehkah malam Ahad ini saya dan bi Jamilah menginap disini?”
Halimah pun kaget mendengar hal itu, Diandra adalah anak orang yang sangat kaya menurutnya. Lalu, rumahnya begitu sederhana dan hanya ada dua kamar dan satunya lagi Cuma di ruang tamu yang hanya ada dipan. Lalu bagaimana Diandra dan Jamilah hendak tidur di rumah itu juga?
”Jangan Anakku Diandra, kamu kan tahu ruangan rumah ini sangat sempit. Lalu, bagaimana kamu bisa tidur disini?”
Diandra pun tersenyum lagi, ”Tidak apa-apa Bu, nanti kami akan memesan dipan dan kamar tidur disini. Jadi kami bisa tidur di ruang tamu ini.”
”Tapi Nak...”
”Tidak apa-apa Bu, Ibu tenang saja,” Diandra tak mau membuat Halimah terlalu lama berpikir dan tidak enak. Diandra sudah memesan spring bed pada Fandi dan mengantarkannya ke rumah Adam. Kemungkinan sore diantar ke rumah Adam dan Halimah.
Halimah pun sekali lagi tak bisa melarang Diandra untuk menginap. Meskipun dalam hatinya dia merasa senang dan bahagia ada orang yang bisa menemaninya mengobrol di malam hari. Karena, biasanya dia hanya mengobrol dengan Adam meskipun Adam hanya menjawabnya satu satu dan kadang tak menjawabnya.