Naura
24. Antara Adam dan Syarif (2)
Langit kembali cerah, awan sedikit terbuka dan sinar matahari kembali menerangi dunia dan menyorot bagian manapun yang tak ada pelindung dan penghalang.
”Sebenarnya Adam..., aku sudah tahu yang menimpa dirimu. Kau hanya butuh waktu untuk bangkit,” Syarif juga menghembuskan napasnya perlahan, ”Aku sangat mengenalmu. Jika kamu sudah memiliki kemauan maka kamu akan mengejarnya bahkan sampai mati sekalipun, Hm...,” Syarif tersenyum kecil, dia mengenal Adam dari mereka kecil.
”Kamu akan terbangun pada waktunya, aku tahu itu. Kau tidak bisa dipaksa, tidak bisa dinasehati dengan keras. Kau akan bangun pada saatnya, hanya saja butuh waktu. Aku dan Ibumu yakin hal itu. Makanya, kami hanya membantumu selama ini, kami hanya menunggu bagimu untuk bangun dari tidur panjangmu.
Hufff..., dasar kau ini Adam. Tak bisakah kau sakit bukan karena cinta, kau memang orang paling aneh di dunia ini. Orang lain sakit karena terjadi masalah kesehatan atau kecelakaan. Namun, kamu sakit karena cinta. Kau benar-benar parah Adam.”
”Ha.. ha... ha..,” Adam jadi tertawa mendengarkan bercandaan sahabatnya itu, namun dalam hatinya dia membenarkan hal itu. Dirinya terlalu lemah untuk bangkit dari ketidakberdayaan masalah cinta.
”Baiklah Syarif, aku menyerah sekarang. Kau memang sudah menjadi sahabatku sejak lama, dan semua yang kamu katakan semua benar. Sekarang ayo kita bahas hari pernikahanmu dengan Aisyah. Apapun yang kamu butuhkan, aku akan menjadi yang terdepan untuk pernikahanmu.”
”Kenapa kau mengalihkan pembicaraan dan mengkambinghitamkan aku lagi Adam?” Syarif tak terima, baru saja membicarakan Adam sekarang dia mengalihkan ke pembahasan pernikahannya lagi.
”Bukan begitu Syarif, pernikahanmu adalah penting. Setelah aku sembuh jangan menunda lagi. Aku akan menjadi saksi pernikahanmu,” Adam menepuk pundak sahabatnya itu, Syarif pun hanya menggeleng pelan.
”Dasar Adam! Baiklah, kalau begitu. Secepatnya akan aku urus besok, dan kamu harus janji segera sehat dan jadi saksi pernikahanku,” senyum Syarif menantang Adam kini.
Adam menaruh tangan kanannya di kening atas sebelah kanan, seperti hormat prajurit, ”Siap komandan, akan saya laksanakan.”
Tawa renyah mereka terdengar lagi. Tawa mereka mengiringi semilirnya angin di Danau Kenanga. Seperti tak pernah ada duka, kini mereka tertawa bersama.
”Oya Adam, sekarang kau sudah sadar dari tidurmu. Buatlah sebuah puisi indah, aku lama tak mendengar pujanggaku lagi bergaya.”
Adam tersenyum kecil, dasar Syarif masih ingat saja soal dirinya yang sering berkidung puisi. Ah! Benar saja, dulu selalu saja Syarif dipaksanya mendengarkan dirinya membacakan puisi. Saat di pesantren bahkan Syarif sampai menyerah dan bosan dan tak mau mendengarnya.
Kini, dirinya ingin mendengarnya lagi dari Adam. Tentu saja, Syarif hanya bercanda, ”Kamu meledekku lagi Syarif? Bukankah kamu tak suka mendengar aku berceloteh setiap saat?”
”Aih! Biarlah, aku memang bosan mendengarnya. Tapi kali ini aku ingin mendengarnya sekali sebelum aku menikah. Nanti, aku tak akan mendengarkan puisimu lagi karena aku akan selalu bersama isteriku nanti.”
”Ah, kau ini memang Rif. Baiklah..., tunggu sejenak sampai ada semilir angin mengipasiku, biasanya akan ada inspirasi kalau aku sudah menyatu dengan alam.”
”Tuh kan? Benar-benar ya, kamu memang sudah kembali hidup seperti dulu. Belum apa-apa sudah menyatu dengan alam. Hm....”
Tawa kecil mereka bertemu lagi, angin semilir menemani kedua sahabat lama itu, sahabat yang tak terpisahkan bahkan dengan apapun, bahkan maut sekalipun.
Adam berdiri menatap Danau yang bening, semilir angin menerpa wajahnya dan kulitnya. Seperti dulu, kini dia akan mengoceh agar orang lain dapat mendengarkan kidung indahnya, tak seperti dulu ketika Syarif tak sudi mendengarnya kini dia ingin mendengarnya. Mungkin, itulah karena kangennya pada Adam.
Air yang menggelitik, tak secantik indah cahayamu
Buah yang ranum dan emas yang berkilau
Tak sebanding dengan paras lentikmu
Jika terkumpul semua pertama dan intan dalam genggaman
Aku menolak, dan lebih menginginkan senyumanmu
Cukup senyumanmu
Tapi..., apalah daya, kini senyummu telah tergantikan duri
Bunga indahmu hanya cukup ku pandang
Dan kau menusukku meskipun aku memuji indahmu
Di sebelah ujung barat sana, ada pinus yang menakutkan
Tapi, dia siap memberi keteduhan
Dengan sabar..., dengan penantian, dengan cinta yang tulus
Aku salah menilai
Kukira bunga indah namun menusuk
Aku salah menilai
Kukira pinus penuh bahaya namun dia melindungiku...
Angin sepoi menerpa kulit Adam. Syarif paham makna puisi yang disyairkan Adam. Dulu, dia selalu tak paham dengan puisi-puisi Adam karena dirinya tak mau mendengar. Kini, setelah meresapinya memang indah kata-kata itu, bahkan itu juga menjadi makna dalam bagimana Adama menyadari bahwa keindahan belum tentu menenteramkan. Hanya ketulusan yang bisa menenangkan.
Mereka berdua terdiam, Adam masih berdiri membiarkan angin sepoi mengipasi dirinya dan Syarif masih duduk pula menatap danau.
”Puisi yang indah Adam,” sebuah suara lembut dari arah belakang mereka, tak lain adalah suara Diandra.
Adam dan Syarif agak kaget, sejak kapan Diandra di belakang mereka? Kenapa mereka tak menyadarinya?
”Nona, sejak kapan anda disitu?” Syarif menengok kearah suara itu, wanita yang cantik dan berambut sebahu dan terkena angin semilir. Wajahnya demikian bersih dan jernih, seperti kejernihan air danau.
”Aku cukup lama disini, setidaknya aku cukup mendengarkan semua puisi dari Adam,” senyum Diandra mengembang lagi.
Senyuman itu manis, bahkan membuat Adam tak kuasa menahan dirinya untuk takjub pada Diandra. Wajah yang bagaimana pualam yang belum tersentuh apapun, begitu murni.
”Maaf Diandra, kamu harus mendengarkan puisi asal yang kubuat. Setidaknya, lupakan saja itu,” Adam agak gugup, namun dia segera dapat menutupinya. Tak terasa, beberapa waktu lalu, wanita itu datang begitu saja dalam hidupnya. Adam paham bahwa Diandra menemaninya setiap Ahad dalam kesendiriannya ketika dia menatap Danau dan menatap sesuatu yang tak ada.
Entah kenapa, hati Adam masih melekat pada ingatan Naura. Mungkin, itu adalah cinta pertamanya atau bahkan menjadi cinta matinya. Hingga kini pun, Adam masih tak bisa melupakan wajah Naura, dan bagaimana dia masih ingin bertemu Naura meskipun hanya untuk berbincang saja.
”Kamu memang selalu begitu Adam, puisimu itu bagus tapi terkadang aku saja yang tak mau mendengarnya,” Syarif menimbrung, tak ingin ada keheningan diantara mereka. Dia harus membuat suasana dapat kondusif dan dapat melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Semua harus dimulai dari hal baru dan semangat baru, karena waktu terus berjalan.
”bi Jamilah mana Nona Diandra?” kembali, Syarif bertanya pada Diandra.
”Ohh..., bi Jamilah sedang di rumah membantu bu Halimah. Pak Fandi sedang di toko bangunan dan aku langsung kesini untuk melihat Adam.”
Lagi-lagi, tatapan Diandra tertuju pada Adam. Adam pun menunduk sejenak dan mengalihkan pandangannya ke arah Danau Kenanga.
”Baiklah kalau begitu, saya akan menemui pak Fandi. Banyak yang harus dikerjakan dan dipantau di toko bangunanmu Adam. Kau pasti tahu bahwa itu adalah toko yang kami bangun untukmu. Kalian disini untuk mengobrol.”
”Tunggu Syarif!” Sepertinya ada yang mengganjal di pikiran Adam, ”Toko itu kamu yang urus saja, hasilnya buat kamu dan keluargamu nanti. Aku bisa mencari usaha lain karena aku tak cocok kalau harus mengurusi toko bangunan itu.”
Syarif merasa heran, ”Tapi Adam, aku menghabiskan sekitar 5 Miliar untuk usaha itu, itu semua adalah uangmu. Aku tak bisa menerimanya begitu saja, karena aku hanya dipercayakan bu Halimah untuk mengurusi dan mengembankan usahamu dan untuk kebutuhanmu di masa depan.”
Adam kemudian berdiri, ”Baiklah, begini saja. Kita nisbah bagi hasil saja, kamu dapat 80 persen dari keuntungan dan beri aku 20 persen saja.”
”Bukannya itu...”
”Tak apa-apa Syarif,” Adam langsung memotong perkataan Syarif, ”Anggap itu sebagai hadiah untuk pernikahanmu nanti. Kamu harus bekerja dan mendapatkan uang agar Aisyah nanti bisa tenang dan bahagia.”
Syarif tak bisa berkata lagi, ”Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak sobat.”
Syarif pun pamitan kepada Adam dan Diandra. Dia menaiki motornya dan meninggalkan Adam dan Naura yang masih berdiri menatap kepergiannya.
”Jadi..., Syarif akan segera menikah?”
Mata lentik itu menatap Adam, Adam pun menatap wajah Diandra. Angin semilir menerpa pandangan mereka, dan langit menjadi saksi bagaimanakah kisah cinta mereka ke depannya. Karena, takdir bisa berubah seperti kilat yang menyambar dan cinta bisa ditemukan dengan ketekunan atau bisa hilang sekejap mata. Tak ada yang tahu rahasia hati, kecuali yang Maha menciptakan hati.