Naura
32. Nikmati Saja Keindahannya
Waktu memang berlalu dan berjalan, kadang seseroang bisa melupakan kejadian yang sudah berlalu tempo lalu. Ada orang yang memang ingin melupakan kisah kenangan masa lalunya karena mungkin pahit ketika dikenang. Namun, ada juga orang yang bahkan tak bisa melupakan kenangan masa lalunya karena sangat membekas dalam hatinya.
Adam meman berusaha bangkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan. Namun, bukan berarti dia melupakan sosok yang pernah ada di hatinya. Sosok Naura tidak bisa dilupakan untuk mengobati luka dalamnya.
Seseorang tidak harus melupakan orang yang membuat luka di hatinya lalu dia akan kembali dan bangkit dari keterpurukan. Adam masih mengenang dengan baik tentang Naura, apa saja yang disukainya dan apa saja yang bisa membuatnya tersenyum. Bahkan, langkah kakinya pun, Adam masih sangat hapal
Hanya saja, kondisinya dulu dan sekarang sudah berubah dan Adam menyadarinya. Naura sudah menjadi milik orang lain. Adam paham betul hal itu, maka Adam berusaha untuk bisa menjalani dan menghadapi kenyataan dengan senyuman. Meskipun, Adam tahu itu berat.
Di sisi lain, Naura datang dan mendekati pria yang pernah dicintainya itu. Dia sendiri hanya ingin mengucapkan ucapan permintaan maaf dan juga tidak menghancurkan hubungan mereka sebagai sesama manusia.
Cinta boleh hancur, tapi hidup terus berjalan dan mereka tidak mungkin hidup di dunia yang berbeda. Jadi ..., biarlah yang sudah berlalu dan Naura adalah sahabatnya, itu saja.
Naura kaget.
Entah bagaimana Adam menyadari kehadirannya. Padahal, dia merasa bahwa dirinya tidak membuat suara. Tadi, Naura ingin menyapanya dan mencoba memberanikan diri namun setelah Adam yang menyapa dirinya duluan, Kini di ragu kembali hendak mendekati Adam.
Tiba-tiba, Naura terbayang kisah lamanya bersama Adam di danau itu, waktu itu, tentu saja hari Ahad. Hari sakral bagi mereka berdua.
Dan, kenangan itu tiba-tiba berputar begitu saja dalam memori Naura.
***
”Adam,” Naura menatap wajah Adam dari samping, wajah itu teramat manis dan penuh keyakinan.
”Katakanlah Naura, tidak perlu ragu untuk berkata apapun padaku. Karena, aku sudah berjanji untuk ragaku. Bahwa kau, adalah separuh jiwaku yang melengkapi hidupku. Aku berjanji pada ragaku, bahwa kau adalah tulang rusukku yang terpisah dan tak akan lengkap hidupku tanpa rusuk yang terpisah itu.”
”Kau selalu begitu Adam, bagaimana kamu bisa membuat hatiku selalu tak bisa berhenti memikirkanmu. Itu yang membuat hatiku hanya terisi namamu.”
Keduanya kembali menatapi indahnya danau yang jernih.
”Adam, jika nanti suatu hari aku meninggalkanmu...”
”Jangan katakan hal itu Naura! Cukup, jangan katakan itu.”
”Tapi Adam..., bagaimaan jika itu...”
”Sudah kukatakan cukup Naura!”
Nada suara Adam kini agak keras. Naura pun tak berani melanjutkan ucapannya, dia pun menunggu Adam hendak mengatakan apa, dan angin semilir membelai pipinya yang kemerahan. Angin pun menerpa jilbabnya, ujungnya berkibar seperti ujung bendera merah putih yang di pasang di tiang bendera.
”Tidak perlu kamu katakan apapun Naura. Allah adalah penentu segala sesuatu, segala sesuatu bisa saja terjadi. Tapi ingatlah, bahwa ketulusanmu sudah cukup menemaniku. Jikapun suatu hari kamu meninggalkanku, maka itu pasti bukan keinginanmu dan jikapun itu terjadi. Aku, akan tetap mengingatmu sampai aku mati.”
Desis angin tiba-tiba kencang menerpa wajah Naura, tak menyangka bahwa kalimat itu begitu menusuk jantungnya saat itu.
Dan, kenangan memori itu kini teringat jelas dalam kegalauan Naura. Lama tak mengingat kalimat itu, tiba-tiba kalimat itu mewakili jawaban Adam bahwa dia benar-benar masih mengingatnya dan bahkan menyadari kehadirannya.
”Duduklah, dan nikmati saja pemandangan Danau. Kamu akan menemukan ketenangan disini.”
Kalimat kedua itu mengagetkan Naura. Dia menyadari bahwa Adam menangkap keraguannya.
Adam kembali berujar, tanpa menengok sedikitpun ke belakang. Dia tetap kukuh melihat air danau dan menikmati semilir angin. Kini, semenjak bangunnya dari tidur lamanya. Adam seolah menjadi seorang jiwa dan raga yang baru, yang hanya mementingkan kebahagiaan orang lain dan melupakan soal segala hal yang berkaitan dengan keinginan dirinya sendiri.
Naura merasa ragu, perasaan bersalah dan juga semua hal yang berkaitan dengan kenangannya bersama Adam semuanya muncul. Namun, dia perlu mengatakan maaf pada Adam. Hingga, dia melangkah perlahan dan mulai duduk di dekat Adam. Agak jauh dan berjarak, di ujung kursi.
Perlahan, Naura duduk dan melihat danau yang jernih. Dia mulai merasakan hawa segar dari danau dan perasaannya mulai tenang kembali. Mereka terdiam lama, namun kala Naura melihat Adam, Adam masih tersenyum kecil melihat danau dan menikmati indahnya danau.
”Adam..., aku ingin minta maaf atas...”
”Tak perlu Naura...,” Adam menghentikan kalimat yang hendak diucapkan Naura, Adam tak mau mendengar segala sesuatu yang mengingatkannya pada kelemahan dirinya sendiri. Kini, dia manusia yang berbeda, dan kini dia harus kuat dan tegar.
”Semua yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Kau cukup menikmati angin sepoi dari danau seperti biasanya. Datanglah kapanpun kamu inginkan kala mengharapkan ketenangan dan ketika kamu ingin melihat danau. Tak perlu sungkan, dan tak perlu kau merasa belas kasihan padaku.
Naura..., semua yang terjadi adalah suratan takdir. Kita manusia, hanya bisa menjalaninya dengan baik. Ketika kita menerima takdir itu, maka kita akan bahagia.”
Naura terdiam, betapa mulianya hati Adam. Naura pun merasa banyak hal berubah dari Adam yang dulunya selalu ramai berbicara kini berbicara penting dan hanya intinya saja. Dan, kata-katanya seolah adalah seorang bijak yang tengah memberi petuah dan nasehat.
Kini, Naura merasa lebih tenang dengan perkataan Adam. Seolah masalah yang lalu harus dilupakan dan menyongsong masa depan. Kini, yang ada di pikiran Naura hanyalah kenapa Adam disini dan apakah dia hanya ingin menemani danau hingga nanti dibangun industri disini?
”Angin apa yang membawamu kesini Naura? Apa kau mencari ketenangan?” Kini, Adam tak menengok sedetikpun pada Naura, dia hanya diam menatap lurus.
”Entahlah Adam, tiba-tiba hatiku tergerak untuk kesini. Dan, baru aku tahu dan aku terkejut kalau Danau Kenanga akan dibuat bangunan demi bangunan seperti ini. Aku takut nantinya kehilangan keindahan danau ini dan semua terganti menjadi tempat industri dan danau akan penuh limbah.”
Adam tersenyum kecil, ”Jangan khawatirkan soal keindahan danau ini Naura, aku berani janji kalau danau ini tidak akan tercemar. Bahkan, dia akan semakin indah nantinya.”
”Kenapa kamu bisa yakin Adam?” Naura pun menjadi penasaran.
”Karena aku kenal betul orang yang membangun tempat ini. Dia akan menjadikan tempat ini indah sebagai tempat yang akan dikenang manusia sebagai surganya dunia.”
Naura tak berani bertanya lagi soal itu, jika Adam yang mengatakan demikian maka dia bisa percaya sepenuhnya. Kini, dia fokus pada penenangan pikirannya, dia tak mau lagi mencoba memikirkan masalahnya di rumah. Dia ingin benar-benar fresh dan dapat menyelesaikan semua problematika hidupnya.
Danau Kenanga, danau yang diberi nama oleh Adam dan Naura sebagai Danau Cinta. Mereka hanya tahu bahwa itu adalah Danau Cinta.