Naura

34. Kapan Kamu akan Menikah?

Adam bekerja keras untuk membuat Danau Kenanga menjadi tempat bisnis berbasis alam. Dia bahkan lupa akan segala hal, Ibunya selalu mengingatkan kesehatannya yang sudah berangsur baik.

”Jangan terlambat makan, Adam.”

Ibunya, Halimah. Sang Ibu tak pernah berhenti untuk mengingatkan Adam soal makan Adam. Halimah mengerti, kesibukan Adam saat ini dilakukan Adam juga untuk membuat dirinya bisa sepenuhnya lupa pada lukanya.

Adam kini seolah tersenyum untuk semua orang dan ingin bermanfaat bagi orang lain. Dia terus berupaya untuk membuat orang lain bahagia. Namun, Halimah menyadari bahwa Adam butuh seorang pendamping hidup.

Halimah tentu tidak akan selamanya bersama Adam. Suatu hari, Adam harus mendapatkan seorang wanita yang mampu mengerti dan memperhatikannya. Halimah juga hanya memiliki kebahagiaan berupa senyuman Adam. Jika meliha Adam bersedih maka hatinya seperti disayat-sayat dan terluka.

Senyuman Adam adalah semangat Halimah untuk mempertahankan hidupnya sebelum Tuhan memanggilnya. Adam adalah segalanya bagi Halimah, dan Halimah pun hanya mengisi doanya untuk kebahagiaan anaknya tersebut.

Tak ada yang lain bagi Halimah kecuali melihat anaknya itu bahagia. Halimah tidak berani menyinggung soal pernikahan kepada Adam. Halimah tahu, Adam sangat dalam perasaannya. Dia tidak ingin menyinggung puteranya tersebut.

Soal siapapun yang akan dinikahi oleh Adam di kemudian hari, Halimah tak terlalu peduli hal itu. Biarkan hati yang akan memilih, puteranya itu sudah besar dan dewasa. Dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri soal memilih pasangan hidupnya. Halimah hanya bisa mendoakan dan mendukung langkah puteranya tersebut menjalani hidupnya.

Suatu hari, Halimah memberanikan diri bertanya dengan penuh kelembutan saat keduanya sedang makan bersama. Adam selalu menyempatkan untuk selalu makan bersama Ibunya tersebut.

Bagi Adam, makan bersama Ibunya dan melihat wajah Ibunya yang seperti malaikat itu adalah kenikmatan hidup itu sendiri. Makanan yang dimakan pun seolah makanan terlezat yang dimakannya setiap saat.

Halimah menyela pelan dan lembut, dia takut menyinggung perasaan puteranya tersebut.

”Kamu belum ingin menikah Puteraku?” Halimah bertanya tiba-tiba saat Adam hampir menyelesaikan makanannya.

Adam sedikit kaget, tidak biasanya ibunya kini bertanya soal pernikahan. Biasanya Ibu akan menahan hal itu dan menyerahkan segalanya padanya. Namun, Adam memang merasakan kalau Ibunya memang sudah menginginkan seorang cucu, mungkin itu yang menjadi alasan pertanyaannya barusan.

Sudah hampir setahun berlalu sejak dimulai semua program Mata Air Surga. Semua sudah berjalan baik dan bahkan beberapa bagian sudah berjalan dan memang sudah mampu menumbuhkan aset bagi Mata Air Surga. Sejak itu juga, Diandra juga selalu datang bahkan kini biasanya dia akan datang dari jumat hingga minggu. Banyak hal yang dilakukannya, dia juga belajar agama dan belajar bahasa asing.

Diandra sangat betah di Mata Air Surga, dia akan selalu berada di pinggir danau ketika ingin melihat pemandangan dan menyaksikan beberapa kupu-kupu terbang.

Tentang Naura, semenjak bertemu saat di danau, sudah 8 bulan lamanya dan tidak ada kabarnya lagi. Adam juga memaklumi itu, dia sudah memiliki keluarga maka pastilah dia akan sibuk dengan keluarganya. Adam mulai melakukan rutinitas biasanya, dia ingin memajukan dan mengembangkan Mata Air Surga dan dapat menginspirasi banyak orang.

Taman bermain tentu saja setiap sore ramai, Danau Kenanga pun menjadi tempat bermain yang banyak dikunjungi keluarga apalagi dari kota. Selain itu, taman bahasa juga menjadi favorit dan juga dibuat beberapa pelabuhan kecil untuk kapal kecil dinaiki mereka yang ingin menikmati hawa indah Danau Kenanga.

Selain itu, kebersihan tetap yang utama bagi Adam dan grup untuk dijaga. Siapapun yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan sanksi dan apalagi sampai membuang sampah di Danau Kenanga.

Mata Air Surga adalah program ambisius Adam dan didukung oleh Diandra. Masyarakat harus memulai kembali ke alam dan memperbaiki cara hidup mereka soal alam itu sendiri.

Menjaga kehidupan itu sama saja mempersiapkan kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu kita di kemudian hari.

Adam pun mencoba menjawab pertanyaan Ibunya tersebut dengan lembut, dia juga tidak ingin Ibunya tersinggung.

”Kenapa Ibu tiba-tiba bertanya soal pernikahan?” Adam ingin tahu lebih dalam, apa yang dimaksud Ibunya tersebut. Bisa jadi itu adalah isyarat kalau Ibunya ingin menimang cucu.

”Kamu sudah dewasa Adam, sudah waktunya bagimu memiliki seorang isteri yang akan menemani kamu dalam kesendirian dan juga akan mendengarkan curhatmu,” penjelasan ibunya itu tentu saja masih ambigu menurut Adam.

Adam tidak mau membuat Ibunya bersedih. Kebahagiaan Ibunya adalah kebahagiaan bagi Adam. Apapun yang diinginkan Ibunya, maka Adam akan sekuat tenaga untuk melakukannya.

”Apakah Ibu ingin menimang cucu Ibu?” Adam menaruh piringnya di sebelah kirinya, dia sudah selesai makan dan mengambil air minum dalam gelasnya.

”Bukan seperti itu Adam Anakku, kamu tahu Ibu sudah tua. Ibu tidak tahu sampai kapan ibu bisa menjagamu Nak.”

Halimah berkata seperti itu namun ada bulir bening yang tertahan di matanya. Mungkin, sudah cukup baginya melihat kesedihan puteranya itu terbaring pesakitan. Mungkin, hati seorang Ibu ingin agar Adam benar-benar bisa sembuh dan benar-benar melupakan Naura. Dengan memiliki seorang isteri, Adam secara alamiah akan bahagia dan melupakan segalanya tentang Naura.

Benar, Ibunya hanya tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi. Halimah takut kalau Adam akan kembali memikirkan soal Naura dan hidup dalam duka yang dalam karena masalah Naura. Dengan menikah, Halimah ingin agar Adam bisa bahagia dan tentu saja. Halimah pada akhirnya bisa pulang kepada Allah dengan tenang meninggalkan puteranya tersebut.

Adam berdiri, dia mendekati ibunya dan meraih tisu di meja. Dia mengambil tisu itu dan mengusap airmata Ibunya meskipun belum jatuh namun Adam mengetahui ada buliran yang tertahan dan sekuat tenaga dijaga ibunya agar tidak jatuh.

”Jika itu memang keinginan Ibu, maka Adam akan memikirkannya Bu. Karena, kini kebahagiaan dan tujuan hidup Adam adalah kebahagiaan Ibu.”

Ibunya sampai tersentuh dan memegang tangan puteranya itu dan kemudian menempelkan kepalanya yang sudah tua di perut puteranya yang tengah berdiri. Adam pun memeluk kepala Ibunya dan mengelus jilbab tua Ibunya. Cinta kasih ibu dan anak memang tidak akan lekang oleh waktu dan masa, keduanya meresapi makna keluarga dan kebahagiaan yang sudah mereka jalani selama ini.

Adam memikirkan baik-baik permintaan Ibunya tersebut. Namun yang lebih penting dari itu semua, Adam ingin menjalani hari-harinya terus bersama Ibunya dan dapat menjaganya ketika Ibunya sakit ataupun lainnya.

Adam ingin terus bersama Ibunya, bahkan hingga mereka semua akan dipanggil oleh Allah dan meninggalkan dunia ini. Adam ingin selalu bersama Ibunya, hingga ke surga nanti tentunya. Amin. Adam berdoa kepada Tuhan untuk terus menyatukan dirinya dan Ibunya kapanpun dan dimanapun berada.

Angin semilir masuk melalui celah rumah mereka dan udara pagi sangat sejuk, sesejuk hati manusia yang menjalani hidupnya dengan tulus ikhlas.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!