Naura
35. Kisah Pak Gubernur
Sebuah mobil yang terlihat mewah datang ke Mata Air Surga. Dua mobil besar seperti mobil pengiring di belakangnya. Mobil itu berhenti di parkir depan dan beberapa orang keluar dari mobil itu. Plat merah, seorang pejabat?
Seorang lelaki muncul dari pintu mobil paling mewah dari kursi belakang. Dia memakai jas lengkap dan tersenyum melihat semua keindahan tempat itu. Dia takjub bahwa di tempat yang dalam seperti ini ada keindahan. Bahkan matanya menangkap ada Masjid dan juga hotel, juga ada sejenis bangunan yang aneh bentuknya dan futuristik.
Di ujung penglihatannya juga ada Danau Kenanga yang kini seperti dermaga kecil-kecil dan ada kapal. Tempat itupun ramai.
”Perlu saya carikan orangnya Pak?” seorang berjas biru tua dan tinggi tegap berbicara pada lelaki yang agak gemuk tadi.
”Tidak usah! Ayo jalan-jalan sambil mencari dia.”
Pengawal itu pun manggung-manggut saja dan dia membersamai tuannya itu. Mereka melangkah, sekitar ada 12 an orang yang menyertai lelaki berumur 50 an tahun itu yang dianggap tuan bagi mereka semua. Mereka berjalan begitu saja, dan banyak orang melihat mereka dan tersenyum pada orang itu. Orang itu pun menyapa mereka semua, sepertinya mereka semua tahu siapa yang tengah datang tersebut.
Lelaki dan pengawalnya itu terus berjalan, konstruksi bangunan itu benar-benar bagus dan tertata. Semua mata mereka takjub akan keindahan tempat ini. Tentu saja, pasti ini merupakan bangunan dan pemikiran dibuat dengan matang.
Lelaki itu terus berjalan, sebelumnya dia melewati sebuah perumahan yang juga seperti rumah-rumah minimalis namun seperti menyatu dengan alam dan futuristik pula. Apa ini yang dikerjakan pemuda itu selama ini? Begitu pikiran tuan itu, dia pun terus lanjut dengan berjalan, tak masalah baginya. Kakinya kuat untuk berjalan dan itu sangat menyenangkan.
Dia melihat sekeliling dan bahagia bukan main, ada tempat taman anak-anak, di sebelah kiri seperti water bomb yang ramai dengan suara anak-anak yang berteriak riang. Menurutnya, ini adalah tempat yang indah, suatu hari dia akan mengajak keluarganya berlibur kesini, dia janji dalam hatinya.
Seorang datang menyapa mereka dengan salam dan menanyakan keperluannya, lelaki yang bertanya itu adalah salah satu guide di Mata Air Surga yang memang sudah diajarkan untuk sopan santun dan untuk mengurusi semua tamu yang ingin mencari sesuatu disana.
”Kami ingin bertemu dengan Adam, Apakah dia ada?”
”Ooo Mas Adam, dia ada pak silakan saya antar ke Danau Kenanga. Dia sedang menikmati semilir angin disana Pak.”
Pemuda itu bernama Roni, dia dengan sopan mengantarkan barisan orang tersebut. Lelaki yang menjadi Tuan itu mengikuti pemuda itu, semakin takjub dia akan cara Adam mengajarkan kebaikan dan sopan santun. Bahkan, yang dia dengar bahwa Adamlah yang menciptakan tempat ini dan menjadikannya bermanfaat bagi siapapun disini. Sudah beberapa bulan dia mendengar tentang pembangunan Mata Air Surga, namun baru kali ini dia sempat datang.
Dia juga baru bisa datang agak sore karena harus menyelesaikan banyak urusan, kebetulan tadi juga ada urusan dan dekat dengan tempat ini maka dia mampir.
Pemuda, Roni itu mengantarkan mereka hingga ke sebuah pohon rindang, di sekitarnya banyak hiasan-hiasan indah yang membuat danau semakin hidup. Ornamen dan ukiran juga hiasan bunga semakin semarak. Pembangunan itu terus berlanjut dan menghasilkan karya indah yang luar biasa.
”Sepertinya saat ini kamu bahagia Mas Adam?” Lelaki yang merupakan Tuan bagi kelompok yang datang itu bahkan berdiri di sebelah Adam yang masih duduk dan memandangi danau dengan tenangnya. Lelaki kaya dan tuan itu juga tidak duduk dan masih berdiri.
Adam menengok lelaki berdiri yang tiba-tiba berkata itu. Dia melihat wajahnya sejenak, namun tidak kenal juga meskipun sudah mengingatnya.
”Duduklah dulu Tuan, saya tahu tempat ini kurang layak bagi Anda. Tapi..., inilah tempatku jika ada keperluan dengan saya. Silakan duduk,” Adam menengok kearah belakang, ramai orang, ”Kalian juga silakan duduk dimanapun kalian menemukan tempat duduk.”
Di sekitar mereka kini banyak tempat duduk, namun tempat duduknya adalah tempat yang sudah dirias dengan alam. Contohnya, kayu besar yang dipotong setengah meter kemudian dihiasi dan dijadikan tempat duduk. Orang yang duduk akan merasa mereka benar-benar menyatu dengan alam.
Lelaki si Tuan itu juga duduk dan dia menatap kedamaian Danau Kenanga.
”Begitu indah disini...,” ujar lelaki tuan itu, ”Pantas kamu betah disini selama kau sakit mas Adam. Setiap Ahad kamu akan disini dulu, bahkan aku sempat tak bisa bertemu denganmu karena aku datang pada saat Ahad sehingga saya kembali pada senin harinya.”
Adam menjadi penasaran dengan kata tuan itu, Adam melihatnya lagi dan ingin memastikan wajahnya. Wajah itu kini terlihat santai sambil menghembuskan napas perlahan dan memandangi danau.
”Apakah anda pak Lukman Hakim?”
Lelaki tuan itu tersenyum dan kini menatap Adam, ”Apakah kamu sering menonton televisi atau melihat media sosial mas Adam?”
Tidak salah lagi, Adam ingat sekarang. Dia adalah Gubernur terpilih setahun yang lalu karena memang ada pemilihan gubernur secara langsung setahun yang lalu. Dan, lelaki di sebelahnya itu adalah seorang gubernur. Dia datang langsung kesini dan ingin menemuinya dan juga melihat indahnya Danau Kenanga?
Namun, bukan Adam namanya jika harus kaget dan melakukan sesuatu tak terduga meskipun yang datang Gubernur. Baginya, dia sudah mempelajari hikmah ilmu sehingga dia bisa tenang berhadapan dengan siapapun. Hanya satu yang harus ditakutinya yaitu Allah, Tuhannya.
”Anda menikmati suasana damai disini pak Gubernur?” Adam menatap pak Lukman sekali lagi dan kembali menatap jernihnya air danau.
”Ya, saya benar-benar menikmati keindahan ini mas Adam. Tentu saja, staf-staf saya pasti juga merasakannya. Anda memang bisa membuat tempat ini menjadi hidup dan dapat membuat hati damai.”
Keduanya pun memandangi kembali air danau. Namun, ada sesuatu yang mengganjal pada Adam, untuk apa pak Gubernur datang ingin menemuinya?
”Saya datang untuk berterimakasih pada anda mas Adam. Dulu..., sebelum saya ikut dalam pemilihan Gubernur. Saat itu mendekati pemilihan, satu tahun sebelum pemilihan. Saya terserang sakit yaitu stroke. Saya putus asa padahal saya sudah mendaftar menjadi calon gubernur. Saya saat itu hampir mundur karena kesehatan saya tak memungkinkan untuk ikut dalam pemilihan.”
Pak Lukman berdiri dan mendekati danau, dia berdiri dan menghadap keindahan danau, ”Hingga, saya mendengar kalau disini ada airmata seorang pemuda yang tengah sakit yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Saya diantarkan oleh isteri dan anak saya kesini meskipun pada awalnya saya sudah menyerah.
Saat itulah keajaiban datang, meskipun saya tak melihat mas Adam namun bu Halimah yang memberikan air dalam sendok itu dan mengusap kedua kaki saya. Esok harinya, keajaiban terjadi. Saya sembuh tanpa ada penyakit lagi. Saya pun kembali dalam pemilihan dan akhirnya bisa menang,”
Pak Lukman kembali berbalik dan duduk di sebelah Adam, ”Aku belum sempat berterimakasih pada anda mas Adam. Seorang penyelamat dalam hidupku, bahkan tanpa saya melihat wajah anda. Tuhan telah menuntun saya hingga saat ini saya datang khusus untuk anda mas Adam.”
Tanpa di duga, pak Lukman mengambil tangan Adam dan mencoba mencium tangan itu sambil airmatanya hampir tumpah. Namun, Adam menolak hal itu dan memegang pundak lelaki nomor satu di provinsi itu.
”Segala sesuatu telah digariskan oleh Tuhan, pak Lukman. Sungguh, tidak ada yang bisa melakukan itu semua kecuali Tuhan yang sudah menuliskannya. Saya tak pantas menerima rasa terima kasih Bapak. Sekarang yang perlu Bapak lakukan adalah berterimakasih pada Tuhan dan gunakan jabatan bapak untuk kemakmuran rakyat semuanya.”
Pak Lukman semakin takjub dengan kepribadian Adam. Bahkan, para stafnya pun merasa rikuh dan juga kagum dengan sosok yang ingin ditemui pak Lukman kali ini karena sifatnya yang luas dan mendalam tersebut.
”Lihatlah danau disana itu Pak Lukman?” Adam mengarahkan telunjuknya ke arah danau, dan pandangan pak Lukman pun mengikutinya, lurus melihat air jernih dan alam yang indah.
”Danau ini luas pak, saya hanya ingin seperti air danau. Jika kita bisa menyebarkan kedamaian dan kesejukan bagi orang lain maka kita harus melakukan hal itu. Satu hal yang penting pak, bukan saya yang menyembuhkan penyakit Bapak, melainkan Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Saya ingin juga, Bapak menjadi samudera yang indah ini agar bapak akan diingat oleh semua orang bahwa bapak bisa menyejukkan hati setiap orang.”
Benar kata Adam, pak Lukman menyimpannya baik-baik dalam hatinya. Tidak kecewa dan tidak menghilangkan waktu sibuknya sama sekali dengan dia datang kesini. Sungguh, pencerahan itu membuat semangat barunya untuk memimpin dengan baik.
Mereka semua menikmati pemandangan itu hingga cukup lama, mereka sedikit berbincang dan lebih banyak menikmati keindahan yang terpancar dari danau. Hingga mereka pun akan segera pamitan pada Adam.
”Oya mas Adam, saya harus segera pamit. Katakan apa yang anda inginkan dari saya, saya akan memenuhinya untuk anda. Apakah anda ingin agar pembangunan ini semua ditalangi dan diselesaikan oleh saya sehingga anda bisa membangun apapun di tanah ini semuanya. Itu akan saya lakukan untuk anda.”
Adam tersenyum mendengar hal itu, ”Tidak perlu pak Gubernur. Selama anda menggunakan jabatan anda untuk kemaslahatan rakyat itu sudah merupakan hadiah terbaik bagi saya. Bapak akan menjadi panutan banyak orang, dan nantinya anak cucu kami akan menjadikan anda teladan dengan kebaikan anda untuk menjaga kehidupan rakyat yang bapak pimpin.”
Pak Lukman semakin ingin memberikan hadiah pada Adam. Rasa terima kasihnya memang tidak akan bisa mencukupi bagaimana lumpuhnya yang dulu bisa sembuh. Bahkan berapapun biaya bisa saja dikeluarkan, namun kesyukuran dengan kesembuhan itu tak bisa terbayarkan ketika dia bisa berjalan seperti biasa lagi dan menikmati perasaan indah saat kaki-kakinya bisa bergerak lagi.
”Mintalah sesuatu pada saya Mas Adam, saya tidak bisa pulang dengan tenang jika anda tidak meminta sesuatu kepada saya. Saya diutus juga oleh isteri dan anak-anak saya untuk memberikan anda hadiah karena dulu kami tidak memberi anda apa-apa saat kami datang kesusahan pada anda. Padahal..., anda saat itu sedang sakit dan tak juga sembuh.”
Adak kembali tersenyum dan berdiri, dia menghadap para staf yang mengikuti pak Lukman. Pak Lukman pun ikut berdiri, mungkin ada yang diinginkan oleh Adam setelah dipaksanya untuk meminta sesuatu.
”Kalian semua adalah saksi dalam pertemuan ini,” Adam seolah mengingatkan para staf pak Gubernur itu, ”Bahwa Adam, saya pribadi. Demi Allah, kalian semua harus membantu pak Lukman untuk menjaga para rakyat dan jangan sampai ada rakyat yang kesusahan maupun dipersulit urusannya oleh negara. Rakyat adalah tuan dan pejabat adalah pelayan. Saya hanya ingin rakyat tidak lagi kesusahan. Itu saja permintaan saya.”
Kini, mereka semua terbengong. Tak ada apapun yang diminta Adam untuk pribadinya. Semuanya adalah untuk orang lain, yang lebih susah adalah jabatan mereka adalah untuk kesejahteraan rakyat banyak. Dan, itu memang sumpah jabatan mereka.
Adam bersikukuh tak mau menerima hadiah, pak Lukman pun menyerah dan berjanji akan membuat jabatannya untuk kebaikan rakyatnya. Mereka pun pamit, Adam melihat kepergian mereka dan tersenyum. Semoga akan ada banyak kebaikan yang rakyat, begitu doa tulusnya.
Rombongan gubernur itu mulai berjalan meninggalkan Adam. Dia menuju mobilnya dan berbisik kepada salah satu stafnya.
”Tetap berikan hadiah pada mas Adam. Berusahalah untuk mendekati konsultan disini dan bangun sesuatu yang mereka butuhkan untuk kemajian Mata Air Surga. Saya tak tenang jika tak memberikan hadiah pada mas Adam. Ingat ya.”
Staf itu pun mengangguk dan pak Lukman meninggalkan tempat itu seraya dalam pikirannya, ketakjuban pada ketegaran Adam. Seorang yang telah merasakan sakit yang lama dan menemukan hikmah yang besar.