Naura

37. Membalas Budi

Adam berkeliling dan mengadakan pemeriksaan di semua sisi. Hidupnya kini harus bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang lain. Dia harus membayar rasa sakitnya beberapa tahun kemarin dengan produktifitas.

Setelah mengumpulkan semua orang untuk berdiskusi dan melihat apa saja yang kurang dalam proses pembentukan proyek Mata Air Surga. Adam kemudian menyalin setiap ide dan pendapata dalam buku kecilnya.

Dia tak segan untuk menerima saran dari siapapun. Rapat pun selesai dan mereka kembali bekerja.

Setelah bubar, Adam kembali ke tempat yang lain. Kunjungannya kali ini adalah perumahan yang berada di luar dan sebelah kanan Mata Air Surga. Banyak pemesan yang sudah menempati rumah-rumah itu, bahkan ada yang membeli namun belum menempati karena mereka berpikir bahwa ketika liburan bisa disana. Juga, ada yang memang untuk investasi melihat alam di sekitar Danau Kenanga beberapa tahun ke depan pasti akan ramai.

Setelah kepergian Adam menuju tempat perumahan dan memantau langsung dengan Firlan yang merupakan pengelola dan penanggungjawab semua aktivitas di perumahan. Ya, Firlan dipercaya untuk mengelola bagian perumahan karena memang jurusan kuliah dan keahliannya adalah di bidang usaha properti dan juga arsitek bangunan.

Adam mempercayakan tugas itu pada Firlan.

Seperginya Adam dan Firlan, seorang staf nampak mengeluarkan hanphone nya, dia berada di belakang base camp utama tempat kumpul semua pengelola Mata Air Surga. Dia memencet nomor salah satu daftar di nomor teleponnya.

Panggilan berdering dan dari ujung sana ada tanggapan.

Star itu bernama Ranu, dia memberi salam pada orang yang ditelponnya dan orang di seberang pun menjawab salamnya.

”Ada yang dibutuhkan Adam saat ini, dan beliau antusias untuk mendirikannya di salah satu tempat di Mata Air Surga.”

Di seberang lelaki yang menerima telepon dari Ranu pun segera memanggil tuannya dan tuannya pun berbicara pada Ranu. Ranu menjelaskan perihal rapat itu dan menceritakan pula bahwa Adam sangat antusias dengan klinik yang ingin dibangun untuk dapat mempermudah masyarakat untuk berobat.

Lelaki di seberang sana adalah pak Lukman. Dia memang mengawasi Adam hingga saat ini. Dia berjanji akan memberikan hadiah dengan tulus meskipun Adam menolaknya awal dulu namun dia tetap berusaha agar dirinya tidak memiliki beban selama hidupnya pada orang yang membantunya.

”Mas Adam membutuhkan seorang investor pak, dan dia pasti tidak mau kalau itu sesuatu yang dibantu begitu saja.”

Penjelasan dari Ranu menunjukkan bahwa Ranu sangat mengenal dengan baik bosnya itu. Lukman selaku Gubernur pun manggut-manggut dan berterima kasih banyak pada Ranu atas informasinya. Kini, tugas Lukman adalah bagaimana caranya agar Adam mau menerima hadiahnya.

Lukman berbicara dengan staf terbaiknya yang selalu menemaninya. Dia memiliki pandangan yang luas dan Lukman tak segan menerima usul darinya. Usulnya kali ini pun diterima oleh Lukman.

Lelaki itu bernama Ardo, dia akan datang dan menawarkan investasi dengan menjadi investor atas klinik yang tengah direncanakan Adam. Bahkan, Ardo diperintah oleh Lukman agar tidak klinik yang akan dipercayakan pada bisnisnya yaitu Rumah Sakit dan perizinan akan dibantu langsung dengan cepat.

 Benar, Lukman takut kalau Adam akan menolaknya lagi dan akan membuatnya semakin tak bisa tenang. Maka, dia setuju dengan saran Ardo dan Ardo yang akan mengurusnya dan akan menawarkan investasi untuk mendirikan rumah sakit di sekitar Mata Air Surga.

Ardo pun diberikan wewenang penuh oleh pak Lukman untuk melakukan negosiasi dan membuat semuanya berjalan lancar. Adam harus diberikan suntikan dana namun dalam bentuk kerjasama. Lukman Hakim paham bahwa Adam tidak akan mau jika dirinya memberikan hibah kepadanya.

Ardo pun siap menjalankan tugas. Dia pun mempersiapkan segala sesuatu demi dapat mempercepat proses kerjasama dengan Adam.

Ardo memang sudah berpengalaman, esoknya dia pun menghubungi Adam dan ingin berbicara empat mata dengannya. Adam menyanggupi dan mengajak bertemu dengannya di Mata Air Surga di pinggir danau Kenanga.

Pertemuan itu terjadi. Ardo menyebutkan dengan penuh percaya diri bahwa tempat ini akan menjadi tempat yang sangat potensial untuk usaha dan kebaikan orang banyak. Secara tegas, Ardo menawarkan investasi secara total untuk pendirian Rumah Sakit dan bukan klinik.

Sempat tak percaya, Adam menanyakan dari siapa Ardo mengetahui soal keinginan semua orang di Mata Air Surga untuk mendirikan klinik atau tempat untuk pengobatan?

Ardo menyebutkan kalau orang-orang di belakang Adam yang memberitahunya. Bahwa, Adam sedang tertarik dengan pembuatan klinik berobat. Ardo mengaku ditawari dengan pendirian Rumah Sakit di Mata Air Surga. Setelah meninjau lokasi, Ardo pun menyatakan setuju dan siap berinvestasi tanpa melulu mengharapkan keuntungan melainkan untuk dapat membantu orang lain.

Adam setuju dengan cara kerjasama dan bijaknya Ardo berbicara. Mereka pun membuat kesepatakan-kesepakatan soal bagaimana sistem operasional Rumah Sakit yang akan berjalan itu.

Mereka berdua menyatukan idenya, membuat catatan untuk pengoperasian dan juga perizinan akan diurus langsung oleh pak Ardo. Salah satu yang membuat Adam setuju adalah bahwa Ardo di masa tua mungkin bisa menempati dan berada di Mata Air Surga. Dia membeli salah satu aset properti berupa perumahan. Dia ingin menikmati udara dan melihat air jernih di danua setiap sore.

Adam senang mendengarnya, di hari tua juga Ardo ingin dapat dengan mudah jika harus berobat karena masih seolah di rumahnya sendiri.

Mereka pun sepakat. Butuh budget berapa dan bagaimana pembangunan untuk rumah sakit. Adam pun tak terlalu memikirkan hal itu, nanti kata Adam kita akan bekerjasama dengan konsultan agar lebih detail dalam pembangunannya nanti.

Sistem bagi hasil, Ardo mengaku mengalah dan setuju dengan ketentuan usaha Mata Air Surga. Adam tidak mau seperti itu, dia menawarkan fifti fifti, yaitu separuh separuh dari keuntungan bersih setelah dipotong biaya, termasuk biaya-biaya yang dikeluarkan dalam periode tersebut ditambah biaya pengeluaran zakat.

Ardo setuju. Adam pun tersenyum ternyata Allah Maha cepat mengabulkan doa. Meskipun tak semua doa akan dikabulkan dengan cepat, bahkan ada yang disimpan hingga nanti diberikan di akhirat.

Semua ada kebaikannya.

Adam pun membuat map kembali dan dimana letak lahan yang masih luas sehingga bisa tepat untuk rumah sakit. Hal itu akan membuat Mata Air Surga semakin nyaman buat siapapun.

Sementara Ardo berpamitan dan akan menggunakan dananya setelah berhubungan dengan konsultan dan merencanakan bersama bagaimana menjadikan rumah sakit di Mata Air Surga dapat benar-benar bermanfaat.

Adam mengantarkan kepergian Ardo untuk beberapa langkah dan dia tetap diam sambil melihat langkah pulang Ardo. Masalah satu selesai lagi, semoga semua menjadi lancar dan dirahmati Allah. Begitu doa Adam seperginya Ardo dengan mobilnya.

Kali ini, mungkin Adam akan memindahkan ibunya, Halimah ke Mata Air Surga. Dia akan menempati salah satu perumahan dan itu idenya dimana ibunya dapat menikmati masa tuanya dan selalu melihat keindahan dan keindahan.

Matahari mulai meninggi kembali, Adam menatapnya sejenak. Sangat silau, dia pun bergegas kembali dan melihat secara langsung semua operasional dalam hal kemajuan Mata Air Surga.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!