Naura
38. Perasaan Diandra
Tidak ada Mata Air Surga tanpa Diandra. Diandra sudah menjadi bagian dari Mata Air Surga. Dia selalu datang setiap jumat hingga Ahad. Dia merasa tenang dapat sekalian berlibur dan menikmati keindahan alam yang ada disana.
Namun, benar saja jika dia mau jujur maka lelaki yang hanya mengisi jiwanya adalah Adam. Meskipun banyak anak rekan dari ayahnya, meskipun mereka kaya dan tampan bahkan terkesan memiliki segalanya. Mereka berusaha mendekati dan melamar Diandra, namun Diandra menolak mereka semua.
Salah satu anak rekan bisnis ayahnya yang selalu mendekatinya adalah Rendra. Dia jatuh cinta pada Diandra ketika bertemu dengannya saat ada pesta. Saat itu, Diandra bersama dengan ayah dan ibunya.
Rendra mendekati keluarga pak Hamid dan memperkenalkan diri. Pak Hamid pun mengenal Rendra yang merupakan pemimpin baru dari perusahaan Indomakmur Semesta Tbk. Orangtua Rendra sudah menyerahkan perusahaan itu pada anaknya karena sakit.
Rendra langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Diandra. Dia sudah mendengar kalau banyak lelaki yang sudah melamar Diandra namun sudah banyak yang ditolak.
Rendra juga mengetahui kalau Diandra dulunya menderita sakit dan kini sudah sembuh. Kecantikannya sungguh luar biasa dan bagaikan bidadari yang turun dari langit. Pak Hamid memperkenalkan isteri dan juga puterinya tersebut.
Rendra mencoba berbincang akrab dengan pak Hamid dan meminta kerjasama dengan beliau di kemudian hari. Pak Hamid menyambut baik, siapa tahu ada kerjasama bisnis yang bisa dilakukan.
Diandra terus menempel pada Ibunya, dia kurang suka dengan keramaian pesta. Ibunya terlihat asyik mengobrol dengan para ibu-ibu lainnya. Diandra pun mencoba untuk berada di pinggir tempat lain dan melihat pemandangan malam dan bintang sedikit terlihat.
Indah sekali, bintang dan bulan sabit yang terlihat.
”Sendirian, Nona,” seorang lelaki mengagetkan Diandra. Dia adalah Rendra yang tadi mengenalkan dirinya kepada ayahnya.
Diandra tersenyum, ”Iya, terlalu bising di sana,” Diandra sedikit menoleh ke arah keramaian yang terjadi.
”Anda sangat cantik, Nona Diandra,” kata Rendra mencoba menyanjung Diandra.
Diandra hanya sedikit tersenyum dan tidak terlalu menanggapi. Dia sudah menyadari bahwa orang hanya tertarik pada wajah cantik semata, dulu saat dia dalam kondisi sakit tidak ada yang mendekatinya.
”Terima kasih atas pujiannya. Apakah anda tidak memiliki teman sehingga menyendiri di sini juga?” tanya Diandra balik.
”Tidak juga, aku kesini untuk menghampiri anda dan semoga kita bisa berteman ke depannya. Jika ada keperluan kita bisa saling berhubungan bukan?”
”Iya, tidak masalah.”
”Apakah Nona punya waktu di minggu-minggu ini, kita bisa bertemu dan makan bersama?”
”Maafkan aku tuan Rendra, sepertinya aku sibuk untuk akhir-akhir ini. Aku harus pamit dulu, Ibuku memanggilku.”
Diandra pun pamitan dan meninggalkan Rendra. Dari kejauhan, Rendra mulai melihat Diandra dari belakang. Dia sudah terpesona dengan kecantikan Diandra. Dia akan berusaha untuk mengejarnya.
Diandra sendiri sulit melihat siapa yang tulus dan bukan padanya. Jika hanya kecantikan maka itu akan hilang dengan berjalannya waktu. Namun, mereka yang menyukai seseorang dengan hati, itu akan berbeda nantinya.
Dulu, sewaktu dirinya memiliki kecacatan, tidak ada orang manapun yang datang menemuinya dan memujinya. Kecuali keluarganya, Diandra melihat ketulusan kebanyakan orang adalah kekayaan dan kecantikan. Dan, Diandra tidak mau menikah hanya karena alasan dunia yaitu fisik dan kekayaan.
Dia ingin menikmati hidupnya, seumur hidupnya bersama orang yang memiliki ketulusan di dalam dirinya.
Hari sabtu tiba dan Diandra kembali ke proyek Mata Air Surga. Bertemu dengan Adam memberikan dia energi baru, seolah dia melihat lautan yang indah dan betah untuk berada di sana.
Meskipun, Diandra tahu bahwa dia sangat nyaman dan ingin selalu dekat dengan Adam. Sepertinya, Adam masih belum bisa menerimanya. Dan, dengan itu Diandra merasa tertantang untuk mengetahui segala sesuatu tentang Adam dan jika bisa dia akan mendapatkan hati Adam untuknya.
Diandra juga mengetahui, bahwa secara batin Adam memang masih menyisakan cinta dan kenangannya untuk Naura. Namun, Adam memang tak pernah mengatakan hal itu namun dari sikapnya yang memang tidak tertarik pada wanita manapun memang dia masih menyimpan perasaan itu dalam-dalam.
Seolah, Adam tak peduli bahwa Naura sudah menjadi isteri dan milik orang lain. Adam juga tidak tahu sepertinya bahwa Naura sudah dimadu oleh suaminya. Biarkan Adam untuk menyelami perasaannya sendiri, mungkin itu yang dibutuhkannya. Namun, di sisi lain Diandra melihat bahwa Adam merupakan tipikal pekerja keras. Dia bahkan membuat banyak terobosan dan proyek Mata Air Surga kini terkenal hingga ke pelosok daerah.
Banyak pengunjung yang datang ingin melihat pusat Air Mata Surga, mereka menjadikannya destinasi untuk liburan mereka dan melihat keindahan Danau Kenanga.
Pemerintah juga mensupport apa yang menjadi kepentingan Mata Air Surga sebagai tempat destinasi pariwisata dan juga kampung untuk belajar bahasa bagi mereka yang ingin terampil berbahasa asing.
Pemerintah membangun jalan di sekitar Mata Air Surga dan membangun jalan dari setapak di kampung-kampung di sekitarnya. Jalanan itu juga dibuat dengan baik menuju areal Mata Air Surga dari berbagai arah sehingga memudahkan mereka yang dari jauh untuk dapat menemukan Mata Air Surga dan dapat menikmati masa-masa liburan mereka dengan menyenangkan.
Secara cepat dan massif, media memberitakan dan pemerintah setempat mempromosikan apalagi pak Gubernur selalu datang dengan support dan sering berlibur kesana ketika bersantai bersama keluarga. Saat itulah, Mata Air Surga benar-benar membuat tempat itu disulap seperti surga.
Perkembangan semakin besar, projek bahan bangunan juga memesan dari toko bangunan yang dikelola Syarif. Toko itupun melejit menjadi toko yang super besar dengan aset yang bahkan sudah mencapai puluhan Milyar sekarang.
Adam sendiri sudah menjadi seorang milyader baru, namun dia tetap sederhana dan tetap bersahaja. Dia mulai dikenal orang banyak dan menjadikan dirinya pusat bertanya dan dia juga memiliki ilmu hikmah yang banyak.
Adam juga selalu mengumpulkan orang-orang tak mampu untuk dilibatkan dalam usaha-usahanya, dia ingin memperbanyak orang lain mendapatkan kemudahan dalam hal kehidupannya. Untuk klinik yang direncanakan Adam malah menjadi Rumah Sakit besar dengan membebaskan lahan kembali sebesar 5 hektar khusus untuk Rumah Sakit.
Adam pun memindahkan rumahnya di dekat Mata Air Surga. Ibunya, Halimah awalnya tak setuju namun Adam ingin Ibunya dapat melihat orang ramai dan anak-anak bermain. Sedangkan rumah yang lama tidak akan digusur atau dijual, dibiarkan saja namun tetap dijaga. Ibunya boleh pulang seminggu sekali untuk melihat rumah itu dan juga menginap disana, bahkan misalnya Ibunya kangen dengan rumah itu bisa kapan saja pulang.
Halimah pun menurut, Adam membuat rumah biasa saja. Namun, Diandra tak membolehkannya. Dia yang membuatkannya dari keuntungan yang didapatkan Mata Air Surga itu sudah besar, konstruksinya pun ditata Diandra.
Namun, Adam juga meminta rumah itu untuk tidak berlebihan, cukup biasa saja. Dan, Diandra membuat rumah dengan biaya 1,5 (satu koma lima) Milyar. Itupun, Adam sempat protes namun Diandra merayunya bahwa dia menjadi salah satu contoh. Jika rumahnya cukup bagus maka usahanya juga akan semakin maju.
Adam menurut saja, namun rumah itu akhirnya dia sediakan yang sebagian untuk tempat anak-anak mengaji dan bahkan ada ruang tamu dimana siapapun yang ingin bermalam bagi orang yang tidak mampu yang terlantar juga diberikan beberapa kamar untuk mereka hingga mereka mampu untuk memiliki rumah sendiri atau mengkontrak.
Pintu Adam pun selalu terbuka untuk siapapun.